Tara

Tara

Skt: Tārā
Tib: སྒྲོལ་མ་ Drolma

Kelas Tantra: Kriyā Tantra, Caryā Tantra, Anuttarayoga Tantra

“Tara memiliki kekuatan untuk memanggil semua Pelindung dari 10 penjuru mata angin beserta para pengikutnya. Semua Pelindung tersebut membantu Tara untuk melakukan aktivitas menolong semua makhluk sebanyak mungkin.”

—Penjelasan Ritual Aspek 21 Tara oleh Guru Dagpo Rinpoche

Siapakah Tara?

Arya Tara, perlambang aktivitas tercerahkan adalah sesosok makhluk agung dengan kemampuan membebaskan semua makhluk dari ketidaktahuan, kemelekatan, dan kebencian yang membuat mereka terjebak dalam pola negatif yang berulang terus-menerus. Beliau melakukan ini dengan mengajarkan cara untuk menumbuhkembangkan cinta kasih, welas asih, kesabaran, kebijaksanaan, dan semua kualitas positif lainnya yang diperlukan dalam keseharian kita. 

Tara merupakan manifestasi dari aktivitas Buddha yang mengambil wujud perempuan. Selain itu, Tara juga dikenal sebagai ibu para Buddha, sang pembebas, dan penolong yang tangkas.

Tara disebut lahir dari air mata Avalokitesvara yang sempat berputus asa dan meratapi banyaknya makhluk yang terjatuh ke neraka. Dari sebutir tetes air matanya, Tara muncul dan kemudian berkata: “Jangan putus asa. Aku akan membantumu untuk membebaskan semua makhluk.”

Arti Nama Tara

Nama Tara berasal dari akar kata bahasa Sanskerta "Tar" yang berarti menyeberangkan. Dengan kata lain, Arya Tara membantu menyeberangkan semua makhluk keluar dari lautan penderitaan (samsara).

Dalam bahasa Tibet, Arya Tara disebut Jetsun Drolma yaitu "Ibu Sang Pembebas” atau Pagma Drolma yang berarti “Sang Pembebas Nan Mulia”.

Dalam bahasa Mongolia, Arya Tara disebut Dara Eke yang berarti Ibu Suci Tara, yaitu Ibu dari semua Buddha dan Bodhisattva. Dalam bahasa Jepang dikenal sebagai Tarani Bosatsu dan dalam Buddhisme China dikenal dengan sebutan Tuo Luo.

Tara di Indonesia

Tara di Indonesia

Di Indonesia, Tara sudah dikenal ratusan tahun lalu sejak Buddhisme mengalami masa kejayaan di bumi nusantara. Dalam masyarakat petani di pulau Jawa, Dewi Sri yang terkenal sebagai Dewi Padi dan menjadi objek pemujaan agar hasil panen padi selalu berlimpah setiap tahunnya juga diyakini sebagai salah satu perwujudan Arya Tara.

Baca Selengkapnya

Selain itu, banyak peninggalan arca-arca prasasti-prasasti, naskah-naskah kuno, dan juga Candi yang menunjukan keberadaan Arya Tara di Nusantara. Arca Tara banyak ditemukan di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang di masa lampau merupakan pusat wilayah kekuasaan Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya. Selain itu, banyak pula ditemukan di wilayah Jawa Timur yang dulunya pernah berdiri beberapa kerajaan besar seperti Kerajaan Panjalu, Kediri, Singasari, dan Majapahit.

Candiu Kalasan

Candi Kalasan terletak di Yogyakarta dan dibangun pada 778 Masehi. Candi ini menjadi mandala untuk Arya Tara, sekaligus menjadi objek perlindungan bagi kerajaan, khususnya dari ancaman bencana alam, makhluk-makhluk jahat, binatang-binatang buas, maupun penyakit epidemis.

Candi Kalasan. Foto: Crisco 1492/Wikimedia Commons
Candi Kalasan. Foto: Crisco 1492/Wikimedia Commons

Candiu Jago

Candi Jago terletak di Jawa Timur. Candi ini dibangun pada abad ke-13 oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari sebagai pelimpahan kebajikan untuk ayahnya yang telah meninggal, Raja Jaya Wisnuwardhana. Di dalam Candi Jago, dapat dijumpai arca Ksamatara dan Brkutitara yang merupakan perwujudan Arya Tara.

Candi Jago. Foto: Anandajoti/Wikimedia Commons
Candi Jago. Foto: Anandajoti/Wikimedia Commons

Asal Usul Tara

Menurut legenda, Arya Tara lahir dari air mata Avalokitesvara yang menangis karena sedih melihat neraka kembali penuh hanya sesaat ketika Ia beristirahat dari upaya menolong semua makhluk dari neraka. 

Tara terlahir sebagai Putri Raja, Yeshe Dawa yang tak terpikat dalam kehidupan samsara, bertekad untuk lahir terus menerus dalam tubuh wanita dan hingga akhirnya mencapai pencerahan juga dalam tubuh wanita.

Kisah Pertolongan Tara

Ada banyak sekali kisah pertolongan Arya Tara baik kepada para praktisi Dharma maupun pada orang biasa. Berikut hanya dikisahkan beberapa diantaranya.

Arya Tara memberkahi dan melindungi Guru Atisha Dipankara. Perjalanan Guru Atisha Dipankara dalam mencari ajaran Bodhicitta ke Nusantara dan perjalanan ke Tibet untuk memurnikan kembali ajaran adalah salah satu gambaran bagaimana Arya Tara mewujudkan aktivitasnya untuk membantu semua makhluk.

Arya Tara mampu melindungi dari 16 ketakutan, yaitu ketakutan dari musuh jahat, binatang buas, setan jahat, bencana alam, wabah penyakit, dan banyak lainnya.

Lukisan Arya Tara hidup dan memberikan perhiasannya pada Guru Chandragomin untuk membantu ibu miskin yang memohon pertolongan untuk menikahkan anaknya.

Arya Tara mampu membebaskan kita dari 8 bahaya kekotoran batin (klesha), antara lain: kesombongan, ketidaktahuan, kemarahan, kecemburuan, pandangan salah, kekikiran, kemelekatan, dan keragu-raguan.

Perwujudan Tara

Ada banyak perwujudan Tara untuk menolong semua makhluk, yaitu 21 Tara, 108 Tara, 1.008 Tara. Perwujudan yang paling banyak dikenal adalah Tara Hijau yang merupakan penolong yang tangkas bagi mereka yang memanjatkan permohonan kepadanya dan Tara Putih yang menganugerahkan umur panjang.

Green Tara

Tara Hijau atau Tara Khadiravani (Tara Hutan Akasia) menampakkan diri pada Arya Nagarjuna di hutan Khadiravani di India selatan dan kadang-kadang dirujuk sebagai perwujudan Tara yang kedua puluh dua;

Warna: Hijau, dengan ekspresi damai
Keistimewaan: menolong dengan cepat & pengabul semua harapan

Mantra: OM TARE TUTTARE TURE SOHA

Tara Putih juga dikenal sebagai Roda Pengabul Keinginan (Skt.: Cintachakra). Beliau berkaitan dengan kedamaian dan keharmonisan, khususnya welas asih agung, umur panjang, penyembuhan dan ketentraman.

Tara Merah yang melambangkan kekuatan atau penaklukan.

Tara Kuning yang berkaitan dengan kemajuan, kesejahteraan, kekayaan dan kemakmuran.

Tara Biru yang melambangkan kemurkaan atau kehebatan.

Tara Hitam yang berkaitan dengan kekuatan atau kekuasaan.

Cittamani Tara yang merupakan wujud Tara yang dipraktikkan secara meluas pada tingkat Tantra Yoga Tertinggi (Skt.: Anuttara Yoga Tantra) di Buddhisme Tibet aliran Gelug.

Palden Lhamo adalah emanasi Tara dalam bentuk pelindung Dharma yang ganas dan menyeramkan.

Perwujudan 21 Tara bisa dilihat di sini

Puja kepada Tara

Puja kepada 21 Tara sebaiknya dilakukan secara teratur setiap pagi sebelum memulai aktivitas apapun atau pada peristiwa khusus maupun untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya untuk menghalau bahaya atau untuk kesembuhan seseorang.

Dalam Tantra Asal Mula Segala Ritual Arya Tara yang Terberkahi (Skt.: Sarvatathāgata­mātṛtārāviśvakarma­bhava­tantranāma) disebutkan bahwa Buddha memberikan instruksi kepada para murid, Bodhisattva Maitreya, Manjushri, serta para Bodhisattva lain untuk memeditasikan Tara, Sang Ibu dari Buddha di ketiga masa.

Cara Puja Tara

Cara puja kepada Tara dapat dilakukan dengan membaca mantra berulang-ulang atau dengan melakukan ritual pujian kepada perwujudan 21 Tara:

  1. Melafalkan mantra Tara

    1. Versi pendek: OM TARE TUTTARE TURE SOHA
      Lafalkan sebanyak-banyaknya sambil terus berlindung dan mempercayakan semua aktivitas kita sehari-hari kepada Tara. Cara melafalkan mantra yang benar dapat dibaca di sini.

    2. Versi panjang mantra Tara dapat dibaca di sini.
      Mantra ini dianugerahkan Arya Tara kepada Guru Atisha yang sedang sakit.

  2. Membacakan pujian kepada 21 Tara dalam bahasa Tibet atau Sanskerta.

  3. Melakukan ritual Puja kepada 21 Tara, dimulai dengan berlindung, membangkitkan Bodhicitta, Doa Tujuh Bagian, melafalkan Pujian kepada 21 Tara, hingga ditutup dengan Doa Dedikasi. Selengkapnya

  4. Melakukan ritual Penghaturan 4 Mandala kepada Arya Tara bersama-sama dengan komunitas. Ritual baru bisa dilakukan jika ada minimal 4 orang. Untuk mengikuti ritual ini, kita diwajibkan melakukan vegan murni.

Baca juga Pujian kepada Tara yang ditulis oleh Guru Atisha Dipankara


Manfaat Puja Tara

Memeditasikan Arya Tara melalui mempelajari kualitas, menghaturkan persembahan, melafalkan mantra, serta melantunkan pujian kepada Arya Tara, dapat membuat kita mencapai Kebuddhaan.

Selain itu, Buddha juga menyebutkan banyak sekali manfaat puja pada Arya Tara, antara lain:

  • terlahir sebagai manusia dengan penampilan yang menarik
  • terhindar dari kelahiran di alam rendah
  • terhindar dari kelahiran di tempat terpencil sebagai orang barbar
  • memiliki indera yang sempurna
  • terhindar dari makhluk halus, wabah, racun, dan berbagai macam penderitaan lainnya
  • meningkatkan kecerdasan
  • memperoleh kejayaan dan berkembang terus hingga pencapaian Kebuddhaan 
  • semua permintaan mereka akan dikabulkan tanpa penghalang 
  • setiap halangan yang muncul akan dihancurkan.

Pelajari cara menghaturkan puja pada Tara di sini.


Kembalinya Tara di Indonesia

Kembalinya Tara di Indonesia

Kembalinya Tara di Indonesia

Sejak 2002, Kadam Choeling Indonesia telah menjadikan Puja kepada 21 Tara sebagai salah satu praktik utama. Berbagai kegiatan,  baik puja harian hingga puja 7 x 24 jam telah dilakukan bersama-sama.

Semakin dikukuhkan dengan pemberian Abhiṣeka Aṣṭamahābhaya Tārā oleh Drepung Trisur Rinpoche pada 2016. Abhiseka ini merupakan izin untuk mempraktikkan meditasi Tantra kepada Arya Tara. Melalui praktik ini, kita berusaha mengembangkan welas asih secara bertahap dan mencapai tingkatan kesempurnaan yang sama dengan Arya Tara.

Mari Bergabung Bersama
Keluarga Besar
Kadam Choeling Indonesia

untuk melakukan
ritual Puja kepada 21 Tara
atau Pengaturan 4 Mandala
kepada Arya Tara

Temukan jadwal kegiatan atau hubungi
Call Center KCI untuk info lebih lanjutnya.

Tara

Rekomendasi bacaan
untuk memeditasikan Tara

Kenalan dengan Buddha & Bodhisattva lain

Avalokitesvara

Back:
Tim Pengajar

Next:
Puja

Share