Enam Praktik Pendahuluan mengandung semua poin penting dari ajaran Mahayana. Tidak hanya itu, praktik ini adalah tradisi yang datang dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti yang mempunyai koneksi dengan orang-orang Indonesia.
—Guru Dagpo Rinpoche
ENAM PRAKTIK PENDAHULUAN (Tib.: Jorchö, Jorchoy; Ing.: Six Preparatory Practices) adalah praktik yang dapat diandalkan oleh para praktisi, bahkan Bodhisattva tingkat akhir untuk mencapai Kebuddhaan. Praktik ini menyatukan semua elemen kunci yang diperlukan untuk mengakumulasi kebajikan dan memurnikan ketidakbajikan.
Dalam jangka pendek, praktik ini juga dapat mendorong praktisi untuk meningkatkan kualitas dan kondisi baik sekaligus mengurangi kualitas dan kondisi buruk sehingga kebahagiaan dapat diraih dan penderitaan dapat berkurang.
Enam Praktik Pendahuluan bersumber dari Sutra Prajnaparamita yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni di Rajagraha. Sang Buddha mengajarkan praktik ini kepada Maitreya dan Manjusri yang kemudian diteruskan turun-menurun oleh Guru ke murid hingga tiba pada Guru Suwarnadwipa Dharmakirti, Guru Buddhis termasyhur pada zaman kerajaan Sriwijaya.
Enam Praktik Pendahuluan pernah dipraktikkan secara masif di Nusantara, tepatnya pada zaman kerajaan Sriwijaya di bawah bimbingan Guru Suwarnadwipa.
Bukti keberadaan Enam Praktik Pendahuluan di Nusantara bisa ditemukan pada relief Gandavyuha di Borobudur. Pada relief tersebut, terukir 10 tekad Bodhisattva Samantabhadra. Intisari dari tekad ini adalah Doa Tujuh Bagian, salah satu bagian dari Enam Praktik Pendahuluan.
Sutra Bhadracari yang terukir di relief teratas Candi Borobudur
Guru Suwarnadwipa juga mengajarkan Enam Praktik Pendahuluan kepada Guru Atisha, pandit agung dari Nalanda yang datang ke Nusantara untuk berguru pada Guru Suwarnadwipa.
Saat Kerajaan Buddha runtuh, Enam Praktik Pendahuluan menghilang dari Nusantara. Beruntungnya, Guru Atisha telah membawa praktik ini ke India dan melestarikannya di Tibet. Setelah dipraktikkan dan dilestarikan di Tibet, kini Enam Praktik Pendahuluan kembali dipraktikkan di Indonesia.
Jika kita mengundang tamu kehormatan untuk datang ke rumah, kita pasti memastikan rumah kita bersih. Begitu pula, sebelum mengundang Buddha dan Bodhisattva datang, kita perlu memastikan rumah kita bersih.
Lima manfaat khusus bersih-bersih: (1) batin seseorang menjadi jernih; (2) batin orang lain menjadi jernih; (3) menyenangkan dewa-dewa; (4) seseorang menghimpun karma yang indah; dan (5) setelah meninggal, seseorang terlahir di alam suci.
Dalam kisah Culapanthaka diceritakan manfaat luar biasa dari bersih-bersih ini. Culapanthaka adalah seorang biksu yang terlahir bodoh dan lamban dalam belajar. Ia bahkan tak bisa menghafal satu bait Dharma pun.
Buddha menyuruhnya untuk membersihkan sepatu para biksu dan kemudian menyapu halaman. Buddha mengajarkannya untuk melafalkan bait ketika sedang menyapu: "Saya sedang membersihkan debu, saya sedang dengan melafalkan bait membersihkan kotoran.”
Setelah membersihkan segala halangannya, Culapanthaka meraih tingkat arahat dan murid termahir dalam menghasilkan perubahan bermanfaat bagi batin makhluk hidup.
Ketika kita sedang membersihkan ruang meditasi, yang harus kita pikirkan adalah pada kenyataannya sedang membersihkan klesha dan karma buruk diri kita dan semua makhluk yang menyebabkan aneka kesakitan dan masalah. Setelah kita menyelesaikan pembersihan, kita harus membayangkan bahwa semua klesha dan karma buruk ini juga hilang. Aktivitas ini juga bertindak sebagai penyebab untuk purifikasi yang menghasilkan tanah Buddha kita sendiri.
Jika motivasi kita untuk membersihkan adalah untuk memuaskan keinginan agar dapat hidup dalam lingkungan yang nyaman dan menarik, kita tidak akan mendapatkan manfaat spiritual apa pun. Sebaliknya, kita akan menuai manfaat-manfaat besar dengan membersihkan ruangan meditasi kita berdasarkan keinginan untuk melayani dan menghormati ladang kebajikan sebagai persiapan untuk memeditasikan topik-topik ajaran Lamrim, dan dengan tujuan tertinggi untuk mencapai Kebuddhaan demi kebaikan semua makhluk.
Simbol-simbol tubuh, ucapan, dan batin (dari Gurumu, Buddha, dan Istadewata lainnya) seharusnya diatur dengan urutan yang sama sebagaimana mereka muncul pada Ladang Kebajikan (kumpulan Guru, Istadewata, Buddha, Bodhisattva, Arahat, Pahlawan/Vira, Dakini, dan Pelindung Dharma).
Sebagai syarat minimum, kita harus memiliki gambar/arca Buddha Sakyamuni di tengah sebagai representasi tubuh Buddha. Kita juga harus memiliki teks Sutra Prajna-paramita/teks Lamrim di sebelah kanan Buddha sebagai representasi ucapan Buddha. Kita juga harus memiliki stupa di sebelah kiri Buddha sebagai representasi batin Buddha. Tetapi, jika misalnya ada kemungkinan bahwa orang lain atau keluarga akan keberatan atau merasa tidak nyaman jika kita memiliki altar di rumah kita, hal terbaik adalah tidak secara terbuka menampilkan altar kita dan menjaganya agar tetap tersembunyi.
Baca lebih lanjut: Panduan Membuat Altar
Walaupun hanya perlu sekali saja mengatur simbol-simbol ini dalam susunan yang teratur di atas altar kita, kita tetap perlu memandang mereka dengan penuh hormat setiap hari dan menganggap mereka sebagai objek nyata yang mereka representasikan. Arya Sariputra tidak pernah meninggalkan sisi Sang Buddha disebabkan karena di kehidupan lampaunya beliau pernah melihat figur Buddha dengan penuh kekaguman.
Ketika menyusun persembahan, kita harus memastikan bahwa persembahan yang kita haturkan adalah "Tanpa-noda" yaitu tidak adanya dua jenis kesalahan: kesalahan sumber dan kesalahan motivasi.
Kesalahan sumber mengacu pada cara yang tidak tepat dalam memperoleh persembahan. Untuk kasus seorang biksu, ini berarti memperoleh persembahan melalui salah satu dari lima jenis penghidupan yang salah. Dalam kasus perumah tangga, ini berarti memperoleh persembahan dengan tindakan-tindakan jahat, seperti mengambil keuntungan dari daging makhluk hidup atau menggunakan timbangan dan alat ukur secara curang, dan sejenisnya.
Ada lima jenis cara hidup yang salah:
Kesalahan motivasi mengacu pada persembahan yang dicemari oleh pikiran-pikiran seperti hasrat untuk meningkatkan reputasi kita atau semata-mata untuk membuat susunan yang menarik. Kita bisa belajar dari kisah Geshe Ben yang melempar debu ke persembahannya.
Motivasi kita bahkan seharusnya bukan untuk mencapai tujuan seperti terlahir di alam yang lebih tinggi atau kebaikan tertinggi hanya untuk diri kita sendiri, apalagi untuk delapan dharma duniawi. Penting bahwa kita berupaya untuk menumbuhkan Bodhicitta dalam kesinambungan mental kita.
Kita tidak boleh menyusun persembahan secara sembrono di atas altar. Bentuk dan susunan persembahan seharusnya seindah mungkin, karena tindakan menyusun persembahan secara menarik menjadi sebab agar kita mendapatkan tanda fisik utama dan sekunder seorang Buddha.
Kita juga seharusnya menyusun persembahan dengan tangan Anda sendiri. Bila Anda menyuruh seorang murid atau pelayan untuk menyusunnya, Anda tidak akan menerima potensi kebahagiaan yang diperoleh dengan secara langsung menyusun persembahan tersebut.
Berbagai jenis persembahan yang dapat dibuat adalah persembahan air, 7 persembahan, dan persembahan pelita.
Sebelum kita memulai meditasi, kita perlu duduk bersila dengan nyaman dalam delapan kualitas postur tubuh Vairocana:
Setelah memeriksa motivasi, apabila sudah baik kita bisa lanjutkan praktik kita. Namun apabila motivasi yang kita miliki saat itu kurang baik seperti keterpaksaan maka kita perlu membangkitkan motivasi yang lebih positif. Jenis motivasi yang mengawali suatu perbuatan bajik akan sangat memengaruhi sifat dasar dan luasnya akibat yang ditimbulkan. Tidak cukup hanya mengembangkan pikiran bajik biasa, praktik kita harus dipenuhi dengan batin pencerahan (Bodhicitta) untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan dan membawa mereka memperoleh kebahagiaan sejati.
Visualisasikan di angkasa di hadapan kita, terdapat Buddha duduk di atas takhta emas yang besar yang diatasnya terdapat teratai warna-warni serta cakram bulan dan matahari berada sedikit lebih tinggi dari alis kita. Bayangkan bahwa beliau memadatkan semua objek perlindungan ke dalam dirinya, sehingga beliau memiliki kemampuan untuk melindungi kita dari penderitaan samsara secara umum dan penderitaan alam-alam rendah secara khusus. Tokoh di hadapan kita seharusnya tidak dianggap datar seperti gambar atau tidak juga kaku seperti rupang. Mereka hidup dan beraktivitas demi semua makhluk. Kita tidak boleh memvisualisasikan Buddha di dalam kegelapan namun harus dalam luapan cahaya yang menerangi alam semesta.
Visualisasikan bahwa kita dikelilingi oleh semua makhluk, termasuk secara khusus adalah orang tua kita pada kehidupan ini. Di sisi kanan kita terdapat ayah kita di kehidupan saat ini dan seluruh makhluk laki-laki di samsara; di sisi kiri kita terdapat ibu di kehidupan saat ini dan seluruh makhluk wanita di samsara; di depan kita terdapat semua makhluk yang tidak kita sukai; dan di belakang kita terdapat semua makhluk yang kita sayangi.
Kita dan semua makhluk yang mengelilingi kita menghadap ke Buddha dan kita harus melihat mereka dalam bentuk manusia. Namun, meskipun dalam bentuk manusia, mereka mengalami penderitaan yang berbeda-beda sesuai dengan alam kehidupan mereka. Kita juga melihat mereka semua tidak bahagia karena merasakan penderitaan di alam kehidupan mereka masing-masing.
Ketika kita melafalkan dengan lantang kata-kata Trisarana, bayangkan kita adalah pemimpin pelafalan dan semua makhluk Trisarana bersama-sama dengan kita.
Ladang kebajikan berarti ladang dimana kebajikan dihimpun. Seperti halnya ladang yang menghasilkan panen yang baik dihargai tinggi dalam kehidupan duniawi, perhatian yang besar harus diberikan dalam membayangkan ladang spiritual ini, yang memiliki kekuatan yang besar untuk membantu seseorang menghimpun kebajikan, menghapus penghalang-penghalang, dan mendapatkan berkah- berkah melalui permohonan.
Pada awal praktik, kita memang telah mengundang ladang kebajikan, tetapi kita sering merasa ragu bahwa Buddha dan semua objek perlindungan benar-benar hadir di hadapan kita. Oleh karena itu, kita mengundang kembali ladang kebajikan untuk memperkuat kembali keyakinan kita. Di sini, kita membayangkan semua Buddha datang dari sepuluh penjuru dan menjadi satu dengan ladang kebajikan yang kita bayangkan di awal praktik.
Doa Tujuh Bagian merangkum seluruh praktik pengumpulan/akumulasi kebajikan & pemurnian/purifikasi ketidakbajikan yang dibutuhkan untuk mencapai Kebuddhaan dengan cepat.
Praktik ini perlu dilakukan bahkan oleh para Bodhisattva tingkat akhir yang wajib melakukannya hingga menyelesaikan akumulasi dan purifikasi yang diperlukan untuk mencapai Kebuddhaan. Dikatakan bahwa para Bodhisattva saat pergi ke tanah Buddha, alih-alih memberikan hadiah materi, mereka mempersembahkan Doa Tujuh Bagian.
Doa Tujuh Bagian terdiri dari:
Pelajari selengkapnya di Doa Tujuh Bagian.
Setelahnya, kita mengaturkan persembahan Mandala. Persembahan mandala merupakan metode yang sangat ampuh untuk mengumpulkan banyak kebajikan dan mendapatkan realisasi (pemahaman) Dharma seperti bodhicitta dan kesunyataan dengan cepat.
Metode terunggul untuk membangkitkan realisasi spiritual adalah membuat permohonan kepada guru kita yang tidak terpisahkan dari para Buddha. Bangkitnya realisasi spiritual kita tergantung pada penerimaan kita akan berkah Para Penakluk dan para putra spiritual mereka, sedangkan penerimaan berkah tersebut tergantung pada permohonan kita kepada mereka.
Visualisasi & penjelasan lebih detil dapat dipelajari di buku Pembebasan di Tangan Kita Jilid 1, Permata Hati Bagi yang Beruntung, atau Awali Hari dengan Ini.
Karena namanya, Enam Praktik Pendahuluan sering disalahartikan sebagai latihan untuk pemula saja. Enam Praktik Pendahuluan harus dilakukan tidak hanya di awal tetapi juga di sepanjang tahapan sang jalan, hingga tahap akhir dari bumi Bodhisattva kesepuluh.
Jika kita mengambil langkah memaksimalkan waktu yang tersisa dalam hidup kita dengan membiasakan diri melakukan 6 Praktik Pendahuluan, maka tumpukan kumpulan karma negatif dan kekotoran batin selama kelahiran kembali yang tak berawal dapat dimurnikan. Dengan kondisi demikian, maka kita bukan hanya akan membawa kebahagiaan bagi diri kita sendiri, tapi juga bisa memberikan manfaat bagi banyak makhluk dengan membebaskan mereka dari penderitaan dan sebab-sebabnya akan terlaksana.
Back:
Puja
Next:
Persembahan Air