Namaskara

Tindakan melakukan penghormatan menghasilkan kebajikan 1.000 kali lebih besar daripada kebajikan yang memungkinkan Anda untuk terlahir sebagai Cakravartin, tidak hanya sekali, tapi sebanyak jumlah atom di bumi yang ditutupi tubuhmu ketika melakukan namaskara.

—Sutra Pembedaan Karma

Namaskara

Kita melakukan penghormatan dalam bentuk namaskara dengan dua tujuan, yaitu:

  1. menghimpun kebajikan dan menghapus penghalang-penghalang;
  2. menghapus karma buruk dan penghalang-penghalang yang berkaitan dengan tubuh, ucapan, dan batin.

Dalam Karmavibhaṅga, disebutkan juga manfaat-manfaat namaskara, sebagai berikut:

  1. memiliki suara yang indah dan kata-kata akan dipercaya;
  2. menarik pengikut;
  3. disenangi para dewa dan manusia;
  4. menjadi terkenal mempunyai kekuatan yang hebat;
  5. bertemu dengan orang yang dikenal mempunyai kekuatan hebat;
  6. bertemu Para Buddha dan murid-murid mereka;
  7. memiliki kekayaan yang berlimpah;
  8. terlahir di alam yang lebih tinggi; dan
  9. dengan cepat mencapai Nirvana.

Manfaat lain dari melakukan penghormatan adalah kita akan mendapatkan tubuh yang indah dengan warna bagaikan emas. Sutra-sutra juga menyebutkan bahwa tindakan melakukan penghormatan menghasilkan kebajikan seribu kali lebih besar daripada kebajikan yang memungkinkan Anda untuk terlahir sebagai Cakravartin—tidak hanya sekali, tapi sebanyak jumlah atom di bumi yang ditutupi tubuhmu ketika melakukan namaskara.

Cara Bernamaskara yang Benar

  1. Beranjali
  2. Beranjali dengan menyatukan dua telapak tangan secara rapat ketika melakukan penghormatan adalah kebiasaan non-Buddhis. Jadi, kita seharusnya menghindari ini dan sebaliknya menyatukan telapak tangan kita sedemikian rupa seperti ibu jari ke dalam ruang kosong di antara dua telapak tangan.

  3. Menyentuh 4 titik
  4. Kedua telapak tangan yang dirangkupkan tadi disentuhkan ke 4 titik:

    1. Di atas mahkota kepala: bayangkan kita membuat jejak yang akan menuntun kita untuk mendapatkan usnisha Buddha.
    2. Di antara alis mata: mendapatkan urna Buddha;
    3. Di tenggorokan: mendapatkan enam puluh kualitas ucapan Buddha; dan
    4. Di hati: mendapatkan batin Buddha
  5. Bernamaskara
  6. Ada 2 jenis namaskara:

    1. namaskara pendek dengan lima bagian tubuh menyentuh tanah, yaitu: kepala, dua tangan, dan dua lutut.
    2. namaskara panjang dengan seluruh tubuh menyentuh tanah.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan

  1. Hindari melekukkan jari-jari ketika menyentuhkan diri ke tanah dan bangkit kembali, dikatakan ini akan menyebabkan kita terlahir sebagai binatang dengan kaki berjari pendek dan tertekuk. Dengan >menjaga jari-jari tetap menekan bersama dan terbuka sepenuhnya. berfungsi untuk mendapatkan selaput jari tangan dan kaki Buddha.
  2. Ketika membungkuk turun yang merupakan bagian pertama dari namaskara, tangan dan dahi harus menyentuh tanah.
  3. Ketika naik, kita seharusnya bangkit dengan cepat bagaikan seekor rubah. Poin terakhir ini memiliki kualitas keberuntungan yakni membantu mempercepat keluar dari samsara. Bila kita gagal untuk bangkit dengan cepat dan tetap berdiam selama beberapa waktu, kita akan terlahir sebagai binatang [melata] yang yang berjalan dengan perutnya. Jadi, setelah menyentuhkan kepala Anda ke tanah, hindari kecenderungan untuk berhenti di sana seolah-olah beristirahat.
  4. Setelah kita menyelesaikan satu namaskara atau berniat melakukan namaskara berikutnya, pastikan untuk kembali ke posisi tegak. Kita akan terlahir sebagai binatang yang berjalan dengan tubuh membungkuk.

Perlukah Menghitung Jumlah Namaskara?

Mengingat namaskara bertujuan untuk menghimpun kebajikan, maka perlu dilakukan dengan sikap yang benar. Hindari melakukannya dengan cepat untuk menyelesaikan jumlah namaskara sebanyak mungkin.

Je Tsongkhapa tidak menekankan pada jumlah namaskara, seperti dalam tradisi seratus ribu namaskara yang merupakan salah satu dari praktik persiapan. Bahkan, bila kita tidak menyelesaikan jumlah namaskara yang banyak, namaskara tersebut seharusnya sedapat mungkin dilakukan dengan cara yang paling tepat.

Menyelesaikan keempat praktik persiapan dengan sengaja melakukan seratus ribu namaskara dengan upaya yang paling sedikit tidaklah tepat. Sebabnya, kita harus terus menghimpun kebajikan dan menghapus penghalang untuk bisa meraih Kebuddhaan.

Khususnya bagi praktisi pemula, menghimpun kebajikan dan menghapus penghalang bahkan lebih penting dari meditasi. Menyelesaikan praktik persiapan bukan alasan untuk mengendurkan upaya kita dan berpuas diri. Sikap ini tidak akan mengantarkan kita pada kemajuan spiritual.

Bila kita berhasil dalam upaya-upaya kita untuk menghimpun kebajikan dan menghapus penghalang-penghalang, tidaklah perlu untuk melelahkan diri kita secara fisik dan mengkhawatirkan tentang pencapaian target namaskara seratus ribu kali.

Kita dapat mengingat kisah tentang empat orang yang tinggal bersama pada suatu tempat pengasingan diri. Ketika salah satu dari mereka masih belum menyelesaikan jumlah namaskara yang dibutuhkan, tiga lainnya bertanya berapa banyak yang telah ia dapat. Ia menjawab, “Apakah menghitung jumlah adalah yang paling Anda pedulikan?”

Idealnya, kita seharusnya melakukan namaskara dengan baik dan jumlah yang banyak. Tujuan dari menghitung namaskara adalah agar kita juga bisa mempraktikkan kebajikan bermudita cita.

Kapan Kita Perlu Bernamaskara?

Secara umum, tindakan melakukan penghormatan, seperti bernamaskara dan beranjali dapat dilakukan sewaktu-waktu di antara upaya-upaya lain. Sebagai contoh, ketika sedang berpergian dan secara tidak sengaja melihat lambang tubuh, ucapan, atau batin Buddha, kita dapat menghormat dengan beranjali atau bernamaskara dalam sikap yang penuh hormat. Pada kenyataannya, seorang praktisi yang berpengetahuan bisa mengubah semua gerakan tubuhnya menjadi aktivitas-aktivitas Dharma.

Pelajari lebih lanjut

Sudah
Punya
Altar?

Undang Ladang Kebajikan ke rumahmu!

Altar Buddha

Rekomendasi panduan kebajikan lain


Share