Tindakan melakukan penghormatan menghasilkan kebajikan 1.000 kali lebih besar daripada kebajikan yang memungkinkan Anda untuk terlahir sebagai Cakravartin, tidak hanya sekali, tapi sebanyak jumlah atom di bumi yang ditutupi tubuhmu ketika melakukan namaskara.
—Sutra Pembedaan Karma
Kita melakukan penghormatan dalam bentuk namaskara dengan dua tujuan, yaitu:
Dalam Karmavibhaṅga, disebutkan juga manfaat-manfaat namaskara, sebagai berikut:
Manfaat lain dari melakukan penghormatan adalah kita akan mendapatkan tubuh yang indah dengan warna bagaikan emas. Sutra-sutra juga menyebutkan bahwa tindakan melakukan penghormatan menghasilkan kebajikan seribu kali lebih besar daripada kebajikan yang memungkinkan Anda untuk terlahir sebagai Cakravartin—tidak hanya sekali, tapi sebanyak jumlah atom di bumi yang ditutupi tubuhmu ketika melakukan namaskara.
Beranjali dengan menyatukan dua telapak tangan secara rapat ketika melakukan penghormatan adalah kebiasaan non-Buddhis. Jadi, kita seharusnya menghindari ini dan sebaliknya menyatukan telapak tangan kita sedemikian rupa seperti ibu jari ke dalam ruang kosong di antara dua telapak tangan.
Kedua telapak tangan yang dirangkupkan tadi disentuhkan ke 4 titik:
Ada 2 jenis namaskara:
Mengingat namaskara bertujuan untuk menghimpun kebajikan, maka perlu dilakukan dengan sikap yang benar. Hindari melakukannya dengan cepat untuk menyelesaikan jumlah namaskara sebanyak mungkin.
Je Tsongkhapa tidak menekankan pada jumlah namaskara, seperti dalam tradisi seratus ribu namaskara yang merupakan salah satu dari praktik persiapan. Bahkan, bila kita tidak menyelesaikan jumlah namaskara yang banyak, namaskara tersebut seharusnya sedapat mungkin dilakukan dengan cara yang paling tepat.
Menyelesaikan keempat praktik persiapan dengan sengaja melakukan seratus ribu namaskara dengan upaya yang paling sedikit tidaklah tepat. Sebabnya, kita harus terus menghimpun kebajikan dan menghapus penghalang untuk bisa meraih Kebuddhaan.
Khususnya bagi praktisi pemula, menghimpun kebajikan dan menghapus penghalang bahkan lebih penting dari meditasi. Menyelesaikan praktik persiapan bukan alasan untuk mengendurkan upaya kita dan berpuas diri. Sikap ini tidak akan mengantarkan kita pada kemajuan spiritual.
Bila kita berhasil dalam upaya-upaya kita untuk menghimpun kebajikan dan menghapus penghalang-penghalang, tidaklah perlu untuk melelahkan diri kita secara fisik dan mengkhawatirkan tentang pencapaian target namaskara seratus ribu kali.
Kita dapat mengingat kisah tentang empat orang yang tinggal bersama pada suatu tempat pengasingan diri. Ketika salah satu dari mereka masih belum menyelesaikan jumlah namaskara yang dibutuhkan, tiga lainnya bertanya berapa banyak yang telah ia dapat. Ia menjawab, “Apakah menghitung jumlah adalah yang paling Anda pedulikan?”
Idealnya, kita seharusnya melakukan namaskara dengan baik dan jumlah yang banyak. Tujuan dari menghitung namaskara adalah agar kita juga bisa mempraktikkan kebajikan bermudita cita.
Secara umum, tindakan melakukan penghormatan, seperti bernamaskara dan beranjali dapat dilakukan sewaktu-waktu di antara upaya-upaya lain. Sebagai contoh, ketika sedang berpergian dan secara tidak sengaja melihat lambang tubuh, ucapan, atau batin Buddha, kita dapat menghormat dengan beranjali atau bernamaskara dalam sikap yang penuh hormat. Pada kenyataannya, seorang praktisi yang berpengetahuan bisa mengubah semua gerakan tubuhnya menjadi aktivitas-aktivitas Dharma.
Back:
Panduan Kebajikan
Next:
Pelafalan Mantra