Secara historis, istilah "Buddha" merujuk pada Pangeran Siddhartha dari suku Sakya yang hidup di abad VI SM. Kisah Beliau sungguh menginspirasi: seorang pangeran meninggalkan segala kenikmatan duniawi demi menunjukkan penderitaan sesungguhnya (lahir, sakit, tua, dan mati) dan cara terbebas darinya. Beliau mencukur habis rambutnya, hanya menggunakan sehelai kain untuk menutupi tubuh, serta menyerahkan seluruh perhiasan pada kusirnya, lalu pergi bertapa hingga mencapai penerangan sempurna dan disebut sebagai 'Buddha'.
Makna dari kata "Buddha" sendiri secara harfiah adalah "yang tersadarkan". Siapapun yang telah berhasil menyingkirkan semua kotoran batin, menyempurnakan kebajikan dan kebijaksanaan, hingga mampu melihat semua fenomena sebagaimana adanya dengan welas asih tanpa batas adalah seorang Buddha. Lebih hebatnya lagi, semua makhluk (termasuk kita) bisa dan perlu mencapai tingkatan tersebut agar dapat mengakhiri penderitaan kita sendiri dan semua makhluk.
Sebelum kita mencapai Kebuddhaan, kita masih akan terus mengalami penderitaan: mulai dari penderitaan karena munculnya emosi negatif, berpisah dengan orang yang kita sayangi, dan berbagai penderitaan lainnya yang senantiasa hadir.
Buddha menyadarkan kita akan penderitaan tersebut dan menuntun kita untuk mencapai tingkatan yang sama dengan Beliau. Jalan yang Beliau tunjukkan adalah Dharma. Murid-murid Beliau, mulai dari para Bodhisattva hingga sesama praktisi Dharma adalah Sangha atau komunitas yang menemani kita di sepanjang perjalanan spiritual. Buddha, Dharma, dan Sangha adalah Triratna atau Tiga Permata yang mampu membebaskan kita dari penderitaan.
Dunia mengenal Buddha Sakyamuni sebagai seorang filsuf. Pandangan Beliau tentang nilai-nilai kehidupan, moral, pengetahuan, materi, akal budi, dan pikiran terbukti membantu umat manusia mengatasi berbagai persoalan hidup selama lebih dari dua milenium.
Ketika banyak orang terjebak dalam dua pandangan ekstrem, eternalisme dan nihilisme, Buddha menawarkan pandangan Jalan Tengah yang berlandaskan pada kesadaran bahwa tak ada satu pun hal di dunia ini yang berdiri sendiri. Semuanya saling bergantung. Pemahaman akan kesalingbergantungan ini kemudian menjadi landasan untuk merasakan kedekatan antara diri kita sendiri dengan semua makhluk dan seluruh elemen dalam semesta. Kita disadarkan bahwa kita selama ini tidak pernah sendiri dan senantiasa menerima kebaikan dari semua makhluk. Sebaliknya, kita pun mampu memberi manfaat kepada semua makhluk sehingga hidup kita dapat memiliki makna yang lebih luas dan dalam dibanding persoalan materi saja.
Dengan segala keagungan dan kemahatahuan yang dimiliki seorang Buddha, Beliau bukanlah sosok nan jauh di atas langit yang memandangi kita yang bak semut di dasar samsara dengan kasihan dan sesekali memberikan mukjizat untuk meringankan kesengsaraan kita. Dengan segala kecerdasan penalaran Beliau yang menginspirasi dunia dari masa ke masa, Beliau juga lebih dari cendekiawan historis yang cukup dikenal lewat dokumen dan diskusi.
Jika kita mau membuka hati, Buddha bisa menjadi Guru kita yang benar-benar menuntun kita selangkah demi selangkah hingga kita mencapai tingkatan yang sama dengan-Nya. Setiap ajaran Beliau adalah instruksi untuk dipraktikkan. Beliau juga mendampingi kita melalui Guru-Guru Spiritual yang memperhatikan kita dengan penuh welas asih, mengajarkan kita tentang apa yang harus ditinggalkan dan apa yang harus dikembangkan berdasarkan kondisi dan kapasitas kita.
Dalam pemahaman yang lebih dalam lagi, Buddha dapat kita pandang sebagai diri kita di masa depan. Artinya, Kebuddhaan bisa diraih oleh semua makhluk dan kisah hidup Buddha sendiri adalah teladan bagi diri kita.
Semua makhluk bisa menjadi Buddha karena semua makhluk menyimpan benih Kebuddhaan dalam batinnya. Faktanya, pada rangkaian kelahiran lampau yang tak terhingga, Buddha Sakyamuni adalah manusia biasa seperti kita.
Untuk bisa meraih Kebuddhaan, Beliau mencari Guru Spiritual, memperoleh ajaran Tahapan Jalan dan mempraktikkannya hingga kualitas Tahapan Jalan tumbuh dalam batin Beliau. Beliau kemudian mengatasi kemelekatan, baik menyangkut kehidupan saat ini ataupun samsara secara keseluruhan. Pada tahap ini, calon Buddha Sakyamuni telah meraih penolakan samsara.
Setelah memperoleh pemahaman akan penderitaannya sendiri, Beliau juga merenungkan penderitaan makhluk lain dan membangkitkan niat murni untuk menolong semua makhluk. Pada tahap inilah, batin pencerahan (Bodhicitta) tumbuh dalam batin calon Buddha Sakyamuni. Terakhir, calon Buddha Sakyamuni juga melatih diri dalam Enam Paramita demi mencapai Kebuddhaan demi menolong semua makhluk.
Back:
Menjadi Murid yang Baik
Next:
Suwarnadwipa Dharmakirti