Pencapaian Kebuddhaan yang lengkap sempurna dijelaskan secara persis dan gamblang melalui ajaran Tantra. Melalui metode yang tercakup dalam ajaran Tantra, rintangan yang teramat halus untuk mencapai kemahatahuan dapat diatasi. Pentingnya ajaran ini, ditambah kenyataan akan langkanya Guru Tantra autentik serta praktisi yang tulus dan siap mempraktekkan Tantra, membuat nalar kita tidak bisa tidak untuk memanfaatkan kesempatan berharga ini segera, dan setepat-tepatnya.
—Y.M. Biksu Bhadra Ruci
Berbagai jalan yang tercantum dalam Sutra tidaklah bertentangan satu sama lain ataupun terhadap praktik Tantra. Sebelum memulai praktik Tantra, kita harus melakukan semua tahapan, mulai dari bertumpu pada Guru hingga memeditasikan kesunyataan, terutama ketiga latihan utama—penolakan samsara, Bodhicitta, dan pemahaman kesunyataan.
Mengenai ajaran Tantra, perlu untuk direnungi betapa perlunya mempraktekkan ajaran tersebut. Dikatakan bahwa pencapaian Kebuddhaan yang lengkap sempurna dijelaskan secara persis dan gamblang melalui ajaran Tantra; lalu, melalui metode yang tercakup dalam ajaran Tantra, rintangan yang teramat halus untuk mencapai kemahatahuan dapat diatasi. Pentingnya ajaran ini, ditambah kenyataan akan langkanya Guru tantra otentik serta praktisi yang tulus dan siap mempraktekkan Tantra, membuat nalar kita tidak bisa tidak untuk memanfaatkan kesempatan berharga ini segera, dan setepat-tepatnya.
Untuk mencapai Kebuddhaan, ada 2 jalan yang bisa ditempuh, yaitu Paramitayana dan Tantrayana (Vajrayana). Paramitayana atau Jalan Kesempurnaan, juga disebut sebagai “kendaraan penyebab”, sedangkan Tantrayana juga disebut sebagai “kendaraan penghasil”.
Buddha mengajarkan Tantra untuk pertama kalinya setahun setelah Beliau mencapai Pencerahan Agung. Ketika itu, beliau mengajarkan Prajna Paramita Sutra di Puncak Gunung Nasar di India Utara dekat Rajagriha dan pada saat yang bersamaan di India Selatan beliau juga mengajarkan Tantra.
Nama lain untuk Tantrayana adalah Vajrayana, di mana kata vajra berarti “tak terpisahkan.” Hal yang tak terpisahkan adalah kedua aspek jalan yaitu metode dan kebijaksanaan dalam Tantrayana.
Untuk mencapai Kebuddhaan, ada 2 jalan yang bisa ditempuh, yaitu Paramitayana dan Tantrayana (Vajrayana). Paramitayana atau Jalan Kesempurnaan, juga disebut sebagai “kendaraan penyebab”, sedangkan Tantrayana juga disebut sebagai “kendaraan penghasil”.
Dalam Paramitayana, kita akan menumbuhkan paramita kemurahan hati, kesabaran, konsentrasi, kebijaksanaan, dan sebagainya. Sang praktisi membangkitkan kebajikan-kebajikan ini di dalam dirinya dan mengembangkannya melalui meditasi.
Sedangkan dalam Tantrayana, praktisi akan “langsung” memeditasikan kesunyataan dan setelah menghasilkan kebijaksanaan tersebut dalam pikirannya, dia akan memeditasikan pemahaman kesunyataan itu muncul dalam wujud seorang Buddha yang berbentuk agung, yaitu disebut juga sebagai Istadewata.
Kemudian paramita lainnya (dana dan sebagainya) dimeditasikan sebagai berbagai bentuk atribut seorang Buddha, seperti perhiasan, dan seterusnya. Sebelum benar-benar mencapai tujuan akhirnya yaitu Kebuddhaan, praktisi Tantra ketika berlatih di jalan ini “seolah- olah” telah mendapatkan aspek hasil dari tujuan akhirnya yaitu Kebuddhaan. Oleh karena itu, Tantrayana juga disebut sebagai “kendaraan penghasil”.
Di kemudian hari saat kita telah menjadi Buddha, kita akan memiliki bentuk seorang Buddha, tubuh dan semua atribut, iring-iringan serta aktivitas-aktivitasnya. Dalam Tantra kita menerapkan hasil tersebut pada saat kita masih berada pada jalan menuju hasil itu. Meskipun kita belum mencapai baik tubuh maupun atributnya, kita bermeditasi seolah-olah kita telah memiliki semua atribut-atribut tingkat Kebuddhaan yang kita tuju.
Jadi, di Paramitayana kita memeditasikan keenam paramita secara langsung. Kita mencoba untuk mengembangkan berbagai kualitas dalam pikiran kita dan menstabilkannya. Sebaliknya, di Tantrayana, kita memeditasikan berbagai kualitas paramita tersebut dan mengembangkannya dalam batin kita sebagai bentuk tubuh seorang Buddha dan atributnya yang akan membuat meditasi kita tentang kesunyataan lebih kuat. Secara efektif kita mengikis akar samsara yaitu upaya meraih suatu keakuan sejati sebenarnya tidak ada.
Buddha mengajarkan Tantra untuk pertama kalinya setahun setelah Beliau mencapai Pencerahan Agung. Ketika itu, beliau mengajarkan Prajna Paramita Sutra di Gunung Puncak Nasar di India Utara dekat Rajagriha dan pada saat yang bersamaan di India Selatan beliau juga mengajarkan Tantra.
Alasan utama memasuki Tantra haruslah dilandasi oleh welas asih, sebuah perhatian mendalam pada orang lain, serta tekad Bodhicitta yang sangat, sangat kuat, untuk tidak hanya mendapatkan kelahiran kembali yang lebih baik, namun, lebih dari itu, pembebasan dari kelahiran kembali yang tak terkendali dan tingkat pencerahan seorang Buddha agar mampu menolong makhluk lain untuk juga meraih pembebasan dan pencerahan.
Welas asih kita, perhatian kita kepada makhluk lain, begitu kuatnya sehingga kita mau melakukannya dengan cara paling efisien. Tak peduli seberapa sulitnya cara yang paling efisien itu, kita mau melakukannya agar bisa selekas-lekasnya memberikan pertolongan terbaik bagi makhluk lain, dengan sepenuh-penuhnya viriya, yang disebut viriya baju zirah, untuk menjalani kesukaran dalam mempraktekkan yoga tertinggi.
Tantra itu ibarat teknik, ibarat cara masak. Cara masak bisa dipanggang atau dibakar. Tetapi ketika batinmu dimasukkan ke dalam tungku atau oven Tantra tanpa level persiapan tertentu, maka semua itu omong-kosong. Keluarnya hanya sakti, merasa ini, merasa itu. Habis itu nothing! State of mind masih sama, tidak pernah berubah. Tïdak ada bodhicitta, tidak ada pemahaman, apapun tidak ada.
—Y.M. Biksu Bhadra Ruci
Untuk dapat menjalankan Tantra kita harus mendapatkan ajaran dari seorang guru Tantra yang berkualifikasi dan benar-benar memenuhi syarat.
Inisiasi (abhiseka), yang merupakan pintu masuk ke jalan Tantra. Inisiasi bukan hanya berkaitan dengan ritual dan sebagainya, yang sebenarnya hanyalah merupakan perlengkapan dari inisiasi itu sendiri. Yang menjadi pokok dari inisiasi adalah suatu kebijaksanaan utama yang timbul dalam batin kita melalui inisiasi tersebut.
Persiapan sebelum menerima dan mempraktikkan Tantra adalah melatih diri dalam makhluk dengan kapasitas kecil, menengah dan agung, sebagaimana diajarkan oleh Guru Atisha. Latihan-latihan ini juga dirangkum oleh Je Tsongkhapa menjadi Tiga Prinsip Utama Sang Jalan, yaitu: membangkitkan sebuah sikap hendak meninggalkan kemelekatan terhadap tumimbal lahir samsara; melatih Bodhicitta, yaitu membangkitkan keinginan untuk mencapai pencerahan demi menolong para makhluk, serta berupaya mendapatkan pandangan benar tentang kesunyataan.
Pencapaian Kebuddhaan yang lengkap sempurna dijelaskan secara persis dan gamblang melalui ajaran Tantra. Melalui metode yang tercakup dalam ajaran Tantra, rintangan yang teramat halus untuk mencapai kemahatahuan dapat diatasi. Pentingnya ajaran ini, ditambah kenyataan akan langkanya Guru Tantra autentik serta praktisi yang tulus dan siap mempraktekkan Tantra, membuat nalar kita tidak bisa tidak untuk memanfaatkan kesempatan berharga ini segera, dan setepat-tepatnya.
—Y.M. Biksu Bhadra Ruci
Ajaran Tantra memiliki akar sejarah yang sangat kuat di bumi Nusantara ini. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peninggalan-peninggalan Tantra di Indonesia.
Beberapa peninggalan Tantra di Indonesia dapat dilihat di Candi Mendut (abad 9 M) memiliki arca utama Maitreya (terkadang diidentifikasi sebagai Vairocana) dan diapit oleh Avalokiteshvara dan Vajrapani. Candi Sewu (abad 8 M), terdapat Manjusri-Grha, yang berarti Rumah Manjusri. Manjusri adalah sosok Buddha Kebijaksanaan. Candi Borobudur yang berkonsep mandala, inti ajaran dari praktik Yoga Tantra. Candi Kalasan (abad 8 M) merupakan sebuah bangunan kerohanian yang didedikasikan secara khusus kepada Bhagavati Tara.
Raja Krtanegara dari Singosari (abad 13 M) diketahui adalah seorang praktisi Tantra yang sangat mumpuni, khususnya Kalachakra Tantra, dan ini dikatakan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan beliau sanggup menandingi Kubilai Khan dari Mongol yang waktu itu hendak menginvasi Jawa. Amogaphasa Lokeswara (yang masih dapat dilihat di Candi Jago) yang merupakan Avalokiteshvara bertangan delapan. Selain itu juga banyak ditemukan arca-arca istadewata Tantra lainnya seperti Bhagawati Tara, Bhairawa dan sebagainya dari era ini.
Penemuan arca-arca istadewata Tantra di Sumatera, arca Bhairawa, Mahakala dan juga Heruka. Candi Bahal di Sumatera hingga saat ini pun sangat terkenal sebagai tempat ziarah para praktisi Tantra (khususnya Heruka Tantra), dari berbagai pelosok dunia.
Istadewata Heruka juga muncul di dalam salah satu bait dari Kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular (abad 14 M) dari era Majapahit. Selain Sutasoma, yang terkenal karena Bung Karno mengambil semboyan bangsa kita, Bhinneka Tunggal Ika, dari kitab ini, ada beberapa kitab yang juga sangat penting dan bisa menunjukkan jejak-jejak karakter Buddhadharma di Nusantara pada zaman lampau, antara lain Negarakrtagama, Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya dan Sang Hyang Kamahayanan. Secara khusus, kedua kitab yang terakhir disebutkan ini juga dikenal sebagai kitab ajaran Tantra Jawa Kuna. Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya adalah kitab yang berisikan syair-syair Sanskrit dan kemudian menyertakan pula penjelasannya dalam bahasa Jawa Kuna. Kitab ini pada dasarnya adalah berisi panduan untuk memberikan abhiseka kepada para (calon) murid ke dalam praktik Tantra.
Mengapa Buddha muncul dalam bentuk berbeda-beda? Alasannya adalah kebutuhan murid yang berbeda-beda. Jika seseorang memiliki kebutuhan khusus akan Sutrayana, Budha akan muncul dalam bentuk di mana para siswa dapat merasakan keyakinan dan merasa terhubung, misalnya sebagai seorang biksu. Bagi mereka yang memiliki keyakinan pada berbagai Istadewata dan memilki koneksi dengan Tantra, Buddha akan muncul sebagai Istadewata. Karena bentuk inilah yang paling mudah membuat mereka merasakan keyakinan dan paling bermanfaat bagi mereka.
—Guru Dagpo Rinpoche
Setelah kita menyelesaikan semua tahapan yang dibutuhkan sebelum memulai praktik Tantra, kita akan menerima Abhiṣeka atau ritual inisiasi yang mengizinkan kita untuk melakukan meditasi Tantra.
Ketika guru yang menganugerahkan Abhiṣeka (Vajra-Acarya) kepada para murid, Beliau akan menjelaskan segala yang berkaitan dengan ritual tersebut dan para murid melakukan meditasi-meditasi yang wajib dilakukan. Bila persiapan mereka sudah matang para murid akan mampu membangkitkan kebijaksanaan utama (yang merupakan inisiasi yang sesungguhnya) dalam batin mereka.
Saat menerima inisiasi, sang murid berjanji untuk menjalankan sejumlah komitmen atau ikrar yang berupa praktik-praktik sesuai dengan petunjuk Vajra-Acarya. Kemudian bila kita terus berlatih dengan semua upaya, maka satu per satu, semua klesha, akan terhapuskan hingga akhirnya kita mencapai tingkat penyucian yang lengkap sempurna, dan kita dikatakan berhasil mencapai tingkat Vajradhara, yaitu Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna.
Kriya Tantra
Inisiasi ekstensif untuk dapat memeditasikan Avalokiteśvara, perwujudan welas asih semua Buddha. Welas asih – intisari Avalokiteśvara – merupakan ajaran yang banyak dipraktikkan di Indonesia ketika zaman kerajaan Sriwijaya.
KRIYA TANTRA
Inisiasi pendek (jenang) untuk dapat memeditasikan Tara, perwujudan aktivitas semua Buddha yang mengambil wujud perempuan. Tara memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Nusantara.
Retret is about changing our mental. Changing our mind. Mengubah batin menjadi lebih serius dalam mengobati masalah
—Y.M. Biksu Bhadra Ruci
Kriya Tantra
Mendekatkan diri pada Avalokitesvara, Sang Maha Welas Asih dengan memeditasikan karakteristik dan kualitas Avalokitesvara, khususnya batin welas asih, sekaligus senantiasa mengingat Guru Spiritual.
Kriya Tantra
Memurnikan batin dan mengembangkan kualitas dengan memeditasikan Arya Tara, Sang Penolong yang Cepat.
Back:
Tim Pengajar
Next:
Puja