Avalokitesvara

Avalokitesvara

Ind.: Awalokiteswara, Kwan Im Pho Sat, Kuan Im Phu Sa
Skt.: Avalokiteśvara
Tib.: སྤྱན་རས་གཟིགས་ Avalokitesvara
Chi.: 观世音, 觀世音 Guānshìyīn, Guānyīn

Siapakah Avalokitesvara?

Avalokitesvara merupakan sosok yang melambangkan welas asih agung semua Buddha. Kebaikan hati Avalokitesvara begitu besar sehingga banyak orang berdoa kepada-Nya. Tidak hanya itu, banyak pula seniman yang terinspirasi dan memasukkan sosok Avalokitesvara dalam karya mereka.

Avalokitesvara mengajarkan kita agar mengembangkan welas asih kepada diri sendiri dan semua makhluk. Dengan demikian, tidak akan ada lagi peperangan dan kebencian di dunia sehingga kebahagiaan pun bisa diraih.

Baca Selengkapnya

Dalam Karuṇā­puṇḍarīka­nāma­mahāyāna­sūtra (The White Lotus of Compassion Sutra), Tathagata Ratnagarbha mengatakan:

“Engkau, Oh Avalokitesvara, akan membebaskan ratusan ribu juta miliar banyaknya makhluk hidup dari penderitaan. Putra silsilah, sebagai seorang Bodhisattva, Engkau akan melakukan aktivitas seorang Buddha.

Putra silsilah, setelah Sang Tathagata Amitabha memasuki Nirvana, ajaran Dharma-Nya akan berakhir pada suatu senja di akhir dari paruh kedua kalpa yang tak terhitung, yang mana terdapat jumlah tahun yang sebanyak butiran pasir di Sungai Gangga.

Ketika fajar berikutnya tiba, Engkau akan mencapai Kebuddhaan yang Lengkap Sempurna sembari duduk di atas dudukan vajra, di di bawah sebuah pohon Bodhi, dalam tatanan yang beraneka ragam.

Engkau akan menjadi seorang Tathagata, Arhat, Samyaksambuddha, dengan nama Saman­tarasmya­bhyudgatasrikuta­raja.”

Baca: Ratapan Permohonan kepada Avalokitesvara oleh Guru Chandrakirti

Arti Nama & Berkah Avalokitesvara

Dalam Ārya­sarva­dharma­guṇavyūharāja­nāma­mahāyāna­sūtra (Sutra of the Noble King of the Qualities of All Dharmas) diceritakan makna nama Avalokitesvara:

Vajrapani bertanya pada Buddha, “Bhagavan, mengapa Avalokitesvara disebut Avalokitesvara?”

Baca Selengkapnya

Buddha menjawab, “Ia disebut Avalokitesvara karena Ia memandang, memahami, memuaskan, melindungi, memberikan kepastian pada seluruh dunia; karena pikirannya penuh welas asih, kegembiraan, cinta kasih, dan kasih sayang; dan karena Ia memenuhi semua keinginan.”

Dalam Karuṇā­puṇḍarīka­nāma­mahāyāna­sūtra (The White Lotus of Compassion Sutra), Buddha menjelaskan bagaimana mendengar nama Avalokitesvara, dan memikirkannya, atau memanggilnya, akan menyelamatkan makhluk hidup dari segala jenis bahaya, seperti api, tenggelam, ular, dan kekerasan. Jika seseorang memberi penghormatan kepada Avalokitesvara, mereka akan terbebas dari keinginan, kemarahan, dan ketidaktahuan.

Kebajikan orang-orang yang memberi penghormatan kepada Avalokitesvara sekali saja sama dengan orang-orang yang memberi penghormatan dan memiliki nama-nama Buddha Bhagavan yang banyaknya seperti butiran pasir di enam puluh dua Sungai Gangga, atau orang-orang yang memberikan pakaian, sedekah, tempat tidur, obat-obatan pada saat sakit, dan peralatan yang diperlukan untuk Buddha Bhagavan yang masih hidup, yang sekarang, dan yang tersisa yang banyaknya seperti butiran pasir di enam puluh dua Sungai Gangga. Keutamaan memiliki nama Bodhisattva Mahasattva Avalokitesvara tidak terukur, keutamaan tersebut tidak akan mudah habis bahkan dalam seratus ribu kuintiliun kalpa.

Avalokitesvara di Indonesia

Avalokitesvara di Indonesia

Avalokitesvara, perwujudan welas asih yang selalu melihat dan mendengar semua makhluk menderita di samsara ini sangat dikenal baik di Nusantara.

Sosok Avalokitesvara ditemukan beragam dalam wujud, seperti Padmapani, Mahakaruna Lokesvara, Khasarpana, Cintamanicakra, Lokesvara atau Penguasa Dunia, dan Amoghapasa yang dapat kita jumpai melalui arca, relief, dan teks.

Kisah-Kisah Avalokitesvara

Ada begitu banyak cerita tentang Avalokitesvara menolong semua makhluk. Berikut kisah beberapa diantaranya.

Avalokitesvara adalah pemuda berusia enam belas tahun yang lahir dari sebuah teratai di wilayah barat bernama Pema Chöling. Ia berpikir untuk memberi manfaat bagi makhluk hidup dengan membangkitkan Bodhicitta.

Biksuni Lakshmi sembuh dari penyakit kusta berkat mempraktikkan yoga kepada Avalokitesvara.

Arya Tara lahir dari air mata Avalokitesvara yang menangis karena sedih melihat neraka kembali penuh hanya sesaat ketika Ia beristirahat dari upaya menolong semua makhluk dari neraka.

Wujud lain Avalokitesvara

Terkadang kita membutuhkan ibu atau ayah yang lembut untuk membimbing kita, sahabat untuk menghibur, menepuk punggung kita, menyemangati kita, dan menginspirasi kita untuk bekerja lebih keras. Di lain waktu, kita butuh sosok yang tegas untuk mengembalikan kita ke jalan Dharma. Karena itu, Avalokitesvara mewujud dalam banyak bentuk yang sesuai untuk menolong semua makhluk. Dalam Sutra Avatamsaka, Sang Buddha pernah mengatakan:

“Ketika bulan muncul, pantulan tak terhitung jumlahnya muncul di mana terdapat air di dunia ini. Begitulah cara Avalokitesvara terwujud. Tanpa usaha, secara alami, Avalokitesvara terwujud dalam berbagai bentuk, bahkan sebagai obat, jembatan, atau air. Avalokitesvara, akan mewujud ke dalam bentuk apapun yang bermanfaat bagi semua makhluk, melakukan pekerjaan yang tak terbayangkan bagi makhluk hidup.”

Kisah Avalokitesvara 11 Wajah 1000 Tangan

Avalokitesvara 11 Wajah 1000 Tangan

Salah satu perwujudan paling terkenal Avalokitesvara muncul dalam 11 wajah dan 1.000 tangan (Skt. Avalokiteśvara Ekadasamukha Sahasrabhuja Sahasranetra). Diceritakan Avalokitesvara adalah anak laki-laki berusia enam belas tahun yang berpikir untuk memberi manfaat bagi makhluk hidup dengan membangkitkan Bodhicitta. Ketika Ia mulai merasa putus asa dan terbersit pikiran untuk menyerah, kepalanya pecah menjadi sepuluh bagian. Buddha Amitabha kemudian datang mengumpulkan pecahan kepala dan menyatukannya. Buddha Amitabha kemudian memberkati 11 wajah tersebut.

Selengkapnya

Nama Gambar

Avalokitesvara 1 Wajah 4 Tangan

Avalokitesvara juga hadir dalam wujud 1 wajah dan 4 tangan (Skt.: Caturbhuja Lokeśvara). Dua tangan pertama beranjali depan jantung hati. Tangan kanan kedua memegang mala kristal. Tangan kiri kedua memegang teratai putih mekar yang dari satu akarnya terdapat tiga batang, yang merupakan simbol Buddha di ketiga masa.

Dzambhala Putih

Dzambhala Putih

Avalokitesvara juga hadir dalam bentuk Dzambhala, Istadevata kekayaan untuk membantu kita dalam berpraktik Dharma. Diceritakan di India, dekat Bodhgaya, Guru Atisha Dipankara melihat seorang pria sekarat karena kelaparan. Guru Atisha ingin memotong daging dari tubuh sucinya untuk diberikan kepadanya, tetapi pria yang kelaparan itu berkata, "Saya tidak ingin memakannya karena itu berasal dari tubuh seorang bhikkhu."Guru Atisha kemudian berkata, "Engkau benar, terutama bukan daging dari seseorang yang telah mengaktualisasikan jalan arya."

Guru Atisha, kecewa, kemudian berbaring di tanah. Tiba-tiba cahaya putih muncul, dan ketika Lama Atisha mendongak, dia melihat Avalokitesvara. Dia menjelaskan situasinya kepada Avalokitesvara, yang mengatakan kepadanya, "Jangan khawatir. Aku akan bermanifestasi sebagai Jambhala. Anda kemudian dapat menggunakan berbagai metode seperti mempersembahkan air di Jambhala, serta mempersembahkan torma dan membuat vas kekayaan, untuk membebaskan orang ini dari kemiskinan."

Nama Gambar

Hayagriva

Avalokitesvara juga bisa muncul dalam wujud murka demi menolong semua makhluk. Hayagriva adalah penguasa yang paling berkuasa di dunia. Ia berwarna merah dengan kepala kuda menonjol dari mahkotanya. Tak ada satupun makhluk yang bisa melawan perintah-Nya.

Nama Gambar

Mahakala

Di zaman kemerosotan ini, cara-cara damai tidak cukup untuk menundukkan kita. Avalokitesvara muncul dalam bentuk Pelindung Dharma. Mahakala bertangan enam memegang kartika dan kapala yang menyimbolkan kehancuran akan “aku”. Tangan lainnya memegang damaru yang bunyinya bergema dengan kebajikan dan mengusir kejahatan, laso mengikat dan mengendalikan kekuatan negatif. Ia merentangkan kulit gajah yang melambangkan kalahnya ketidaktahuan, trisula yang melambangkan hancurnya 3 racun (kebencian, keserakahan, dan kebodohan).

Baca: Pujian kepada Mahakala

Nama Gambar

Dalai Lama

Y.M.S. Dalai Lama I hingga Y.M.S. Dalai Lama XIV diyakini sebagai emanasi atau perwujudan manusia dari Avalokitesvara. Demi menolong semua makhluk, Sang Avalokitesvara lahir menjadi dalam sosok seorang biksu, guru, pemimpin spiritual bagi bangsa Tibet.

Selengkapnya

Dharani & Mantra Avalokitesvara

Dharani Panjang:

NAMO RATNATRAYĀYA, NAMAḤ ĀRYA JÑĀNA-SĀGARA VAIROCANA VY HA-RĀJĀYA TATHĀGATĀYA ARHATE SAMYAK-SAMBUDDHĀYA, NAMAḤ SARVA-TATHĀGATEBHYAḤ ARHATEBHYAḤ SAMYAKSAṂBUDDHEBHYAḤ, NAMAḤ ĀRYA-AVALOKITEŚVARĀYA BODHISATTVĀYA MAHĀSATTVĀYA MAHĀKĀRUṆIKĀYA, TAD YATHĀ OṂ DHARA DHARA, DHIRI DHIRI, DHURU DHURU, IṬṬE VAṬṬE, CALE CALE, PRACALE PRACALE, KUSUME KUSUME VARE, ILI MILI, CITI-JVĀLAṂ ĀPANĀYA SVĀHĀ

Saya bersujud kepada Triratna. Saya bersujud kepada samudra kebijaksanaan agung sang Arya, raja perwujudan luar biasa dari Vairocana, yang telah menyeberang, penghancur musuh, Buddha yang lengkap sempurna. Saya bersujud kepada semua yang telah menyeberang, penghancur musuh, Buddha yang lengkap sempurna. Saya bersujud kepada Arya Avalokitesvara, sang Bodhisattva, makhluk agung, yang penuh welas asih. Kemudian: OṂ (engkau) yang memegang, akan memegang; memegang, memegang; pegang, pegang! (Saya) memohon kekuatan, bertindaklah, bertindaklah! Bertindaklah dengan sepenuhnya, bertindaklah dengan sepenuhnya! (Engkau) memegang sekuntum bunga, menghaturkan persembahan bunga; metode dan kebijaksanaan, Oh Guru Teragung; dengan batin yang membara, semoga semua halangan dihilangkan; mohon aturlah sedemikian rupa!

Mantra Enam Suku Kata:

OM mewakili tubuh, ucapan, dan batin Avalokitesvara

MANI berarti “permata” dan menunjukkan sisi metode atau welas asih dari sang jalan, serta eksistensi yang saling bergantungan.

PADME berarti “teratai” dan mengacu pada sisi kebijaksanaan dari jalan (sunyata).

Semua realisasi jalan Sutra dan Tantra termasuk dalam 2 kata ini.

HUM mengacu pada batin Buddha, batin yang ingin kita raih.

Dengan melafalkan dua mantram ini, kita memanggil maha welas asih yang menyatu dengan kebijaksanaan, muncul dalam wujud mengungkapkan aspirasi kita untuk mewujudkan kualitas welas asih & kebijaksanaan di dalam batin kita.

Penjelasan arti mantra Avalokitesvara : Part 1 » Part 2


Kembalinya Avalokitesvara di Indonesia

Kembalinya Avalokitesvara di Indonesia

Berkat kebaikan hati dari Guru Dagpo Rinpoche dan Drepung Trisur Rinpoche yang menganugerahkan Maha-abhiṣeka Avalokiteśvara Ekadasamukha Sahasrabhuja Sahasranetra pada tahun 2013, 2017, dan 2019 lalu, Indonesia kembali memeditasikan Sang Avalokitesvara.

Melalui praktik ini, kita berharap bisa mengembangkan welas asih secara bertahap dan mencapai tingkatan kesempurnaan yang sama dengan Avalokitesvara, seperti Biksuni Lakhsmi dan para guru silsilah lainnya.

Rekomendasi bacaan
untuk memeditasikan Avalokitesvara

Kenalan dengan Buddha & Bodhisattva lain

Tara

Back:
Tim Pengajar

Next:
Puja

Share