Atisha (982-1054 M) adalah satu dari 18 pandita agung Nalanda yang berguru pada Guru Suwarnadwipa (Guru Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra, Indonesia). Melalui Guru Suwarnadwipa, Guru Atisha mewarisi ajaran lengkap mengenai Bodhicitta.
Setelah belajar di Indonesia, Guru Atisha kemudian menyusun teks Bodhipathapradipa (Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan) yang diajarkan dan berkembang di Tibet. Kelak, teks ini juga yang menginspirasi Je Tsongkhapa menyusun Jalan Bertahap Menuju Pencerahan (Lamrim), teks yang sangat berpengaruh bagi para cendekiawan Buddhis.
Guru Atisha Dipankara Srijnana (Skt.: Atīśa Dīpaṃkara Śrījñāna) merupakan salah satu Guru terkemuka dalam Buddhisme. Beliau merupakan salah satu di antara 16 pandit agung Universitas Nalanda, salah satu universitas Buddhis terkemuka di masa lampau.
Sekali pun terlahir di keluarga bangsawan, Guru Atisha tidak terlena akan status 'pangeran' yang dimilikinya. Semangat beliau dalam belajar Dharma terus membara. Berbagai Guru telah beliau datangi. Salah satunya adalah seorang Guru besar dari Kerajaan Sriwijaya, Indonesia.
Berkat berbagai aktivitas Dharma yang dilakukan oleh Guru Atisha, Buddhadharma dapat berkembang dengan pesat khususnya di Tibet dan daerah sekitarnya.
Guru Atisha dilahirkan di Zahor, wilayah bagian timur India yang dikenal sebagai Bengal. Kelahiran Guru Atisha dari Raja Kalyanasri dan Ratu Sri Prabhavati ditandai dengan begitu banyak fenomena menakjubkan dan keberuntungan. Saat berumur 18 bulan, Guru Atisha yang masih berstatus sebagai pangeran muda, diajak oleh kedua orangtuanya menuju sebuah cetiya. Di sepanjang perjalanan, banyak rakyat berkerumunan, dengan penglihatan mahakaruna, pangeran kemudian mengucapkan syair berikut dengan merdu:
"Semoga orang-orang ini semua terlahir seperti saya. Anak lelaki unggul dari orang tua yang sempurna dan seorang penguasa dengan kebajikan dan kekuasaan gemilang. Semoga mereka semua diasuh oleh Dharma suci."
Sedari kecil, kecerdasan yang luar biasa telah nampak pada Guru Atisha. Dalam Kitab Kadampa dijelaskan bahwa Guru Atisha telah menguasai astrologi, bahasa, dan tata bahasa pada usia tiga tahun. Lalu pada usia enam tahun, Guru Atisha juga sudah dapat membedakan bagian agama yang esoteris dan mana yang eksoteris.
Pada usia remaja, Guru Atisha menjalankan perannya sebagai pangeran untuk menemui Brahmana Jetari ditemani 130 pasukan berkuda dengan baju perang. Sesampainya di kediaman Brahmana Jetari, Guru Atisha dianugerahi upacara Trisarana dan pembangkitan Bodhicitta. Beliau kemudian diminta mendatangi Biara Nalanda untuk berguru pada Guru Bodhibhadra.
Setelah menemui Guru Bodhibhadra, Guru Atisha diberkahi dengan tiga pintu pelaksanaan perbuatan melalui tubuh, ucapan, dan batin. Setelah itu, Guru Bodhibhadra mengirim Guru Atisha untuk berguru pada Guru Vidyakokila.
Guru Atisha muda dididik di bawah bimbingan Guru Vidyakokila dan beliau mendapatkan instruksi mengenai Bodhicitta darinya. Untuk melanjutkan proses berguru, selanjutnya Guru Vidyakokila mengirim Guru Atisha kepada Guru Avadhutipa.
Setelah bertemu dengan Guru Avadhutipa, Guru Atisha mendapatkan instruksi untuk segera kembali ke kerajaannya dan juga melakukan perenungan mengenai kerugian-kerugian bagi perumah tangga.
Sekembalinya Guru Atisha di kerajaan, orang tua beliau merasa senang dan meminta Guru Atisha untuk memerintah kerajaan. Namun, Guru Atisha berkata sebagai berikut:
"Setelah lama menyelidiki samsara ini, saya sedikit pun tidak memiliki hasrat untuk memerintah. Tidak ada perbedaan antara istana emas dengan penjara. Tidak ada perbedaan antara seorang putri dengan anak perempuan mara. Tidak ada perbedaan antara ketiga makanan manis, dengan daging anjing, nanah, dan darah. Tidak ada perbedaan sedikitpun antara mengenakan kain sutra berornamen indah dengan selimut wol yang kasar di tengah-tengah kotoran. Jadi saya akan pergi sekarang untuk bermeditasi di hutan. Dengan hanya sedikit daging, susu, madu, dan gula, hari ini saya akan kembali kepada Yang Mulia Avadhutipa."
Semenjak itu Guru Atisha meninggalkan kerajaan dan memutuskan untuk belajar di hutan bersama Guru Avadhutipa agar bisa belajar Dharma dengan baik. Selama tujuh tahun lamanya Guru Atisha belajar pada Guru Avadhutipa.
Guru Atisha muda juga mempelajari Vajrayana dengan banyak Guru suci lainnya. Kemudian beliau pun belajar Mahavibhasa-sastra selama 12 tahun dengan Guru Dharmaraksita.
Suatu ketika, Guru Atisha memiliki angan meraih Bodhicitta dalam bentuknya yang sejati. Kemudian beliau mendengar bahwa terdapat seorang Guru bernama Guru Suwarnadwipa yang terkenal mahir dan memegang silsilah Bodhicitta. Beliau memutuskan untuk pergi ke Pulau Emas, yang tak lain adalah pusat Kerajaan Sriwijaya tempat Guru Suwarnadwipa berada.
Guru Atisha meninggalkan India dengan sekelompok pedagang yang mengetahui rute menuju Pulau Emas. Mereka kemudian sampai di tujuan setelah 13 bulan berlayar. Selama di perjalanan, mereka diganggu oleh setan Surati Isvara yang membuat pusaran angin sehingga menyebabkan perahu Guru Atisha dan rombongan keluar dari jalur. Tidak berhenti sampai di sana, ia juga menciptakan seekor monster laut raksasa dan membuat kilasan kilat yang menghantam dari angkasa sehingga menghambat perjalanan.
Sesampainya di Pulau Emas, Guru Atisha disambut baik oleh Guru Suwarnadwipa melalui prosesi penyambutan yang dilakukan oleh 535 biksu dan 62 sramanera. Guru Atisha mendapat ceramah Dharma pertama tentang Abhisamayalamkara yang mencakup instruksi pribadi dan membutuhkan lima belas sesi untuk menyelesaikannya. Selama 12 tahun, Guru Atisha mendengarkan, merenungkan, dan memeditasikan berbagai instruksi dari Guru Suwarnadwipa dengan baik. Setelah menuntaskan proses belajar di Pulau Emas, Guru Atisha kemudian kembali ke India.
Secara keseluruhan, Guru Atisha telah berguru pada 157 Guru agung. Akan tetapi, beliau memiliki rasa hormat yang istimewa terhadap Guru Suwarnadwipa. Seringkali air mata menggenangi pelupuk mata Guru Atisha manakala beliau menyebut atau mendengar nama Guru Suwarnadwipa. Para pengikut Guru Atisha di Tibet lantas menanyakan perihal sikap 'berbeda' yang ditujukan oleh Guru Atisha kepada Guru Suwarnadwipa tersebut, apakah hal ini mengindikasikan bahwa beliau lebih menyukai salah satu Guru di antara Guru yang lain. Guru Atisha lantas menanggapi, "Aku tidak membeda-bedakan Guru Spiritualku. Tapi, oleh karena kebaikan Guruku yang Mahamulia dari Pulau Emas ini, aku telah memperoleh kedamaian cita dan hati penuh pengabdian pada tujuan Bodhicitta."
Setelah Guru Atisha kembali ke India, beliau bertekad untuk melindungi dan menjunjung Buddhadharma, salah satunya dengan mengalahkan orang-orang non-Buddhis dalam perdebatan resmi sebanyak tiga kali. Beliau juga membangun banyak lembaga pembelajaran Buddhis ke mana pun ia berpergian dan kapan pun di saat beliau melihat adanya tanda-tanda praktik spiritual yang merosot atau keliru. Guru Atisha akan selalu siap sedia dan turun tangan langsung untuk menjaga dan melestarikan Buddhadharma. Ketenaran Guru Atisha pada akhirnya menyebar ke seluruh India. Berkat welas asih dan wawasan beliau, Guru Atisha dipuja sebagai permata mahkota Guru-Guru terpelajar.
Raja India Mahapala lantas meminta beliau menjadi kepala biara Vikramasila dan menduduki posisi Pendeta Tinggi. Setelah beberapa tahun kemudian, Guru Atisha diundang ke Tibet untuk menghidupkan kembali Buddhisme di tanah bersalju setelah terjadi kemerosotan oleh Raja Langdharma dari tahun 838-842 M.
Selama hidupnya, Guru Atisha banyak menulis karya-karya luar biasa. Beberapa karya yang telah diterjemahkan dan dipelajari di KCI:
Back:
Suwarnadwipa Dharmakirti
Next:
Je Tsongkhapa