Di dalam Buddhadharma dikatakan bahwa hubungan dengan seorang Guru Spiritual tidak seharusnya dianggap remeh. Kita perlu memberikan waktu bagi diri sendiri untuk memeriksa seorang Guru, apakah orang tersebut pantas kita percayai, apakah dia akan menyesatkan kita, atau apakah dia benar-benar sanggup untuk membimbing kita di sepanjang jalan yang tidak salah dengan sikap yang benar.
Lebih lanjut, kita harus menentukan apakah kita sanggup mengembangkan sebuah keyakinan yang hanya akan melihat kualitas baik di dalam dirinya. Untuk memutuskan semua ini dibutuhkan waktu. Setelah memeriksa dengan teliti barulah seharusnya kita membuat keputusan; tidak boleh dilakukan terburu-buru. kita harus memberikan waktu bagi diri kita sendiri.
Bukan hanya memberikan waktu bagi diri sendiri untuk mengamati Guru Spiritual dan memeriksanya, kita juga harus mengetahui kualitas-kualitas apa yang kita cari di dalam diri seorang Guru menurut Buddhadharma.
Di dalam Mahāyānasūtrālamkāra, Guru Spiritual harus mempunyai sepuluh atribut:
Jika seorang calon Guru tidak mempunyai sepuluh kualitas ini, ia paling tidak harus mempunyai lima kualitas: batin yang telah mencapai disiplin diri sebagai hasil dari ketiga latihan, sifat welas asih, dan realisasi akan kesunyataan.
Seperti yang dikatakan oleh Geshe Potowa:
Guruku Shangtsun dari Yerba tidaklah mempunyai pengetahuan yang luas akan semua topik Dharma maupun kualitas tidak kenal lelah. Lebih jauh lagi, ia sering tidak menunjukkan rasa terima kasihnya untuk apa pun. Tetapi ia memiliki lima kualitas yang pertama dan memberi manfaat bagi siapa pun yang bersamanya. Guru Nyen tidak fasih menjelaskan sesuatu. Bahkan jika ia menjelaskan manfaat membuat persembahan, tidak ada orang yang akan mengerti. Mereka semua berpikir, "Aku tidak mengerti apa yang ia katakan tadi." Tetapi ia memiliki lima kualitas yang pertama dan memberikan manfaat bagi siapa pun yang dekat dengannya.
Bahkan jika dalam zaman kemerosotan ini, lima kualitas tersebut menjadi langka; penting bagi kita untuk berbakti pada seseorang yang setidaknya sifat baiknya lebih banyak dibanding sifat buruknya, lebih mementingkan kehidupan yang akan datang dibanding kehidupan sekarang, dan lebih mengutamakan orang lain dibanding dirinya sendiri.
Guru Kadampa mengajarkan bahwa pada yang paling minimum, seorang Guru Spiritual seharusnya memberikan prioritas pada kehidupan mendatang sebagai lawan dari kekhawatiran akan kehidupan ini saja. Jika seorang Guru Dharma mengajar dengan alasan pribadi, untuk memperoleh kekayaan bagi dirinya sendiri atau untuk menjadi terkenal, maka motivasinya mencerminkan kekhawatiran akan urusan kehidupan saat ini saja. Orang seperti itu tidak dianggap sebagai Guru Spiritual yang mengajarkan Dharma.
Seorang Guru Mahayana harus memenuhi persyaratan minimum lainnya. Dia harus menganggap orang lain jauh lebih penting dibandingkan dirinya sendiri. Jika Guru tersebut lebih peduli dengan kesejahteraannya sendiri daripada yang lain, maka dia tidak sesuai untuk mengajarkan Mahayana.
Persyaratan lebih jauh adalah dia mengetahui apa yang sedang dibicarakannya dan memiliki pemahaman yang baik mengenai topik apapun yang sedang diajarkannya. Bukan berarti Guru tersebut harus mengetahui semua ajaran dengan sempurna, namun setidaknya dia harus mengetahui topik yang sedang dia ajarkan dan dia harus mengetahuinya dengan benar. Tambahan, dia harusnya sudah menerima transmisi silsilah dari topik tersebut.
Pada masa ketika Buddhadharma masih berkembang di India, masa pengamatan sebelum memilih seorang guru Tantra biasanya bisa berlangsung dua belas tahun. Belakangan, ketika Buddhadharma menyebar ke Tibet, orang-orang tidak menunggu selama itu. Meski demikian, mereka tetap mengambil waktu sebelum memutuskan untuk mengikuti Guru tertentu.
Buddhadharma menyebar dengan luas dan mendalam di Tibet. Banyak praktisi buddhis Tibet yang akan mengambil waktu untuk memeriksa sang Guru sebelum memutuskan untuk menjadi pengikutnya. Di sisi lain, ada juga orang Tibet yang mengejar ajaran dari para guru, membangun hubungan tanpa memeriksanya sama sekali.
Sekali kita telah menciptakan hubungan dengan guru, maka masa pengamatan telah berakhir. kita tidak boleh lagi melihat sifat buruk atau ketidaksempurnaannya. Jika kesalahan muncul di hadapan kita, kita seharusnya mengesampingkannya dan tidak memperhatikannya.
Di sisi lain, kita tidak perlu menunggu hingga dua belas tahun! Itu sedikit berlebihan, namun tetap berikan sedikit waktu bagi diri kita.
Penting untuk memberikan waktu bagi diri kita sendiri untuk mengamati sang Guru, dan hanya ketika kita yakin dengan cara kita memkitangnya barulah kita memutuskan untuk mengikutinya. Alasan untuk semua tindakan pencegahan ini karena setelah kita membangun sebuah hubungan guru-murid, kita tidak bisa berbalik kembali. kita tidak bisa mengundurkan diri dan menghentikan hubungan di tengah jalan.
Sementara masih berada di tahap pengamatan, penting untuk melihat kedua sisi orang tersebut. Tidak hanya pada kualitas baiknya, namun juga pada kesalahannya. Jangan menutup sebelah mata pada kualitas-kualitas buruknya. Itu akan membantu untuk memeriksa persepsi kita akan kesalahannya, akankah kita membangun hubungan tersebut dengannya. Jika kita merasa bahwa kualitas baiknya jauh melebihi sifat buruknya maka kita akan sanggup untuk mengesampingkan apa yang disebut ketidaksempurnaan. Bila sudah demikian, barulah tepat untuk membangun hubungan tersebut.
Begitu kita telah menemukan seorang Guru dengan semua kualitas ini dan sekali kita telah memutuskan bahwa kita sanggup untuk mengendalikan pkitangan atas kesalahannya, berarti sudah tepat untuk memutuskan bertumpu padanya. Tepat di sini artinya kita seharusnya tidak melihat kesalahan apapun pada Guru Spiritual. Namun, itu tidak sesuai kenyataan dan sangat tidak mungkin bisa langsung diterapkan di awal.
Berbagai kesalahan akan terus hadir di hadapan kita. Namun, jika kita merasa bahwa diantara kualitas baik dan buruk, kita sanggup untuk melihat lebih banyak kualitas baik daripada yang buruk dan jika dia memiliki persyaratan lain seperti yang telah disebutkan, maka jika berkeinginan, kita dapat melangkah maju dan memutuskan untuk mengangkatnya sebagai guru kita.
Sikap-sikap seperti ini adalah sesuatu yang mungkin terjadi di dalam hubungan kita dengan orang awam di dalam kehidupan kita. kita mungkin bertemu dengan seseorang yang memiliki banyak kualitas baik sekaligus kita menyadari bahwa dia memiliki kualitas buruk. kita mungkin berpikir, 'Memang, tentu saja dia memiliki kesalahan-kesalahan ini namun mereka tidak ada artinya dibandingkan dengan jumlah kualitas baiknya yang besar.'
Jika kita mempertimbangkan kualitas-kualitas potensial di dalam diri Guru Spiritual dengan cara yang sama, maka sudah tepat bila kita memutuskan untuk mengikutinya.
Sumber:
Transkrip Bertumpu pada Guru Spiritual Jilid 1
Teks Pembebasan di Tangan Kita Jilid 2
Back:
Mengapa Butuh Guru
Next:
Menjadi Murid yang Baik