Suhu Bhadra Ruci adalah seorang Guru Dharma yang telah mengajarkan Lamrim (Tahapan Jalan Menuju Pencerahan) di berbagai kota di Indonesia selama lebih dari 20 tahun. Beliau juga merupakan narasumber di berbagai konferensi nasional dan internasional terkait Buddhisme dan kebudayaan Indonesia, khususnya praktik dan peninggalan Buddhisme Nusantara tempo dulu.
Dibimbing langsung oleh Guru Dagpo Rinpoche (reinkarnasi Guru Suwarnadwipa Dharmakirti), beliau menelusuri jejak lampau dan mengajarkan kembali silsilah Sutra dan Tantra autentik di Indonesia.
Tergerak oleh bakti kepada Guru, cinta terhadap negeri, dan welas asih kepada semua makhluk, Beliau mati-matian memperjuangkan kesempatan orang-orang untuk hidup dengan mementingkan hati di atas materi, berkarya demi kepentingan banyak makhluk, serta melestarikan warisan nilai luhur Nusantara untuk generasi berikutnya.
Y.M. Biksu Bhadra Ruci (biasa disapa Suhu) menghabiskan masa kecil di Tanjung Pinang. Beliau mengenal Buddhadharma saat memasuki SMP dengan beraktivitas di kelenteng. Membaca Sutra dan Liam Keng juga menjadi kebiasaan beliau. Bahkan beliau pernah mengetik Sutra Prajnaparamita. Dari hal tersebut, terlihat bahwa Beliau memiliki ikatan kuat dengan Buddhadharma.
Suhu melanjutkan SMA di Semarang. Di sana, Beliau mulai tertarik pada budaya Jawa, salah satunya adalah wayang kulit. Beliau pun lanjut tinggal di Semarang hingga menyelesaikan studi Ilmu Kimia di Universitas Diponegoro.
Pada tahun 1995, perjalanan kehidupan monastik Suhu dimulai dengan mengikuti pabbaja angkatan ke-9 yang diadakan oleh Sangha Agung Indonesia. Pada saat itu, Beliau sudah berpikiran untuk menjadi biksu. Setelah pabbaja, Beliau pertama kali bertemu dengan Guru Dagpo Rinpoche (yang kini menjadi Guru utama Beliau) di Semarang pada suatu upacara abhiseka yang kemudian berlanjut ke pertemuan kedua di Surabaya. Sekembalinya ke Semarang, beliau memutuskan untuk berguru pada Y.M. Biksu Nyana Maitri Mahasthavira (Suhu Xue Cing). Setelah sekitar 10 bulan menjalani masa pra-sramanera, akhirnya beliau ditahbis oleh Y.M. Biksu Aryamaitri Mahasthavira di Vihara Ekayana Arama sebagai sramanera (calon biksu).
Pertemuan Suhu Bhadra Ruci dengan Guru Dagpo Rinpoche, 1999
Atas saran Guru Dagpo Rinpoche, semasa menjadi sramanera, Suhu Bhadra Ruci melanjutkan studi filsafat Buddhis di Biara Drepung Gomang, India Selatan selama 5 tahun. Beliau kembali menerima penahbisan sramanera tradisi Mulasarvastivada dari Drepung Trisur Lobsang Tenpa Rinpoche dengan nama tahbis 'Lobsang Oser'. Saat belajar di India, Beliau menerima banyak ilmu berharga yang kini juga bisa dinikmati umat Buddha Indonesia. Pada awal awal tahun 2000, Beliau pernah berkunjung ke Prancis untuk mengikuti retret yang diadakan oleh Guru Dagpo Rinpoche dan berkesempatan untuk tinggal bersama dengan sang Guru di sana. Akhirnya pada 26 Juli 2002, Suhu menerima penahbisan biksu penuh dari Yang Maha Suci Dalai Lama XIV.
"Aku ingin tidak hanya aku yang bisa belajar, tapi juga semua orang Indonesia. Kenapa orang lain tidak boleh bertemu Rinpoche? Akhirnya aku memutuskan tidak boleh egois. Aku sendirilah yang harus menciptakan kesempatan itu untuk orang lain."
— Suhu Bhadra Ruci dalam "Perihal Sebuah Esai Kehidupan"
Memprioritaskan Dharma dan kemajuan batin di atas pencapaian duniawi adalah hal yang tak bisa ditawar bagi Suhu Bhadra Ruci. Melalui cara hidup beliau sendiri dan beragam upaya lainnya, Suhu juga berjuang untuk menginspirasi pemuda Buddhis Indonesia untuk hidup sesuai Dharma dan tidak terjebak arus dunia yang semakin materialistis. Keputusan dan tindakan Beliau banyak menuai pro dan kontra, tapi tekad beliau tak pernah goyah. Yang terpenting bagi beliau adalah menghasilkan suatu karya nyata yang bermanfaat bagi kepentingan orang banyak, khususnya bangsa Indonesia. Selain lahir dari kecintaan beliau terhadap Indonesia, tujuan tersebut juga merupakan wujud bakti dan praktik nyata dari Dharma yang beliau terima dari Guru Spiritualnya, Guru Dagpo Rinpoche.
Suhu Bhadra Ruci dan Guru Dagpo Rinpoche
Pada 2023 lalu, Kadam Choeling Indonesia merayakan 50 tahun usia Guru kami yang begitu baik hatinya. Beliau adalah wujud welas asih agung yang terus membimbing para murid yang nakal tanpa kenal lelah.
Tak akan ada persembahan yang dapat membalas kebaikan hati guru kami.
Hanyalah praktik dan kemajuan batin yang dapat membuat Beliau senang.
Back:
Dagpo Rinpoche
Next:
Drepung Trisur Rinpoche