“Jika mempersembahkan semangkuk air kepada Buddha saja menghasilkan kebajikan besar, apalagi mempersembahkan alam semesta?”
Persembahan mandala merupakan metode yang sangat ampuh untuk mengumpulkan banyak kebajikan dan mendapatkan realisasi (pemahaman) Dharma seperti bodhicitta dan kesunyataan dengan cepat. Sama seperti kekuatan besar yang dibutuhkan untuk membawa beban yang berat, sejumlah besar kebajikan dibutuhkan untuk menuntun semua makhluk hidup menuju pencerahan. Tidak ada kebajikan dengan tangan kita sendiri yang lebih unggul daripada mempersembahkan mandala.
Persembahan mandala merupakan praktik berdana luar biasa yang diajarkan oleh Buddha Shakyamuni dalam Tantra Akar Guhyasamaja. Kita akan mempersembahkan alam semesta dan seisinya: Gunung Meru, empat benua, matahari dan bulan, yang dapat dibayangkan sebagai tanah para Buddha.
Selain itu, kita juga bisa mempersembahkan barang-barang ataupun orang-orang, yang kepada mereka kita merasa melekat, barang-barang atau orang-orang yang kita benci, dan semua objek ketidaktahuan kita (apapun itu bentuknya, baik tentang Dharma ataupun pengetahuan lainnya). Persembahkan semua itu pada Triratna atau Ladang Kebajikan. Kita mohon berkah dari Triratna atau Ladang Kebajikan agar tiga racun batin (kemelekatan, kebencian, dan ketidaktahuan) dapat berkurang dalam diri kita.
Persembahan mandala merupakan praktik yang dilakukan oleh leluhur bangsa kita. Praktik ini merupakan bagian dari 6 Praktik Pendahuluan yang pernah diajarkan oleh Guru Buddhis termasyhur pada saat itu, yaitu Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.
Bukti nyata dari praktik mempersembahkan mandala di Indonesia ini adalah berdirinya berbagai candi yang merupakan perwujudan dari mandala, seperti Candi Borobudur, Candi Sewu, dan Candi Kalasan.
Berdasarkan perspektif filsafat Buddhis sendiri, Candi Borobudur juga dapat dipandang sebagai sebuah mandala yang sempurna, yaitu mandala dengan ukuran asli yang bisa dimasuki oleh praktisi yoga Tantra pada masa itu untuk merenung dan bermeditasi.
Berbagai sumber sejarah Jawa Kuno juga menunjukkan adanya konsep mandala dalam bangunan Jawa, contohnya adalah Candi Sewu yang disebut sebagai mandala dalam Prasasti Kelurak (782 M).
Candi Kalasan yang merupakan candi Buddhis tertua dibangun sebagai mandala sekaligus objek ibadah dan perlindungan bagi kerajaan berdasarkan ajaran Tara Bhava Tantra yang disebut Mandala Sembilan Devata. Candi ini didirikan oleh Raja Rakai Panangkaran dari wangsa Sanjaya. Prasasti yang pernah ditemukan di lokasi candi juga menceritakan bahwa Guru dari Raja Syailendra menganjurkan Raja Rakai Panangkaran untuk mendirikan mandala Dewi Tara ini dan vihara untuk sangha.
Je Tsongkhapa pernah mempersembahkan 1,8 juta mandala hingga menyebabkan batu kerikil dalam mandala menjadi halus dan tangannya terluka. Berkat kesungguhan praktik ini, Beliau mendapatkan pandangan benar akan kesunyataan dan berkomunikasi langsung dengan para Buddha.
Gonpawa Wangchug Gyeltshen (1016–1083) pernah melatih konsentrasi terpusat hingga berhenti melakukan persembahan mandala. Setelah ditegur oleh Dromtonpa Rinpoche karena tidak membuat persembahan mandala, Guru Gonpawa kemudian membuat upaya khusus untuk melakukan persembahan mandala, yang kemudian membantunya untuk mencapai tingkat realisasi yang tinggi.
“Meditasi Y.M. Atisha lebih baik daripada meditasimu, tetapi beliau masih membuat persembahan mandala tiga kali sehari!"
—Dromtonpa Rinpoche kepada Gonpawa
Biksuni Laksmi (Skt.: Lakṣmīṅkarā; Tib.: Gelongma Palmo), seorang biksuni dari keluarga kerajaan mengidap kusta yang memaksanya untu
meninggalkan komunitas religiusnya. Melalui pengabdian yang kuat dan khususnya praktik persembahan mandala, beliau sembuh dari penyakit kusta dan mengalami penampakan supernatural langsung akan Arya Avalokitesvara.
Ketika mempersembahkan mandala, kita bisa secara khusus, kita bisa mempersembahkan praktik 6 paramita kita:
Membangkitkan keinginan untuk memberi, pikiran untuk mempersembahkan mandala dan benar-benar berniat untuk mempersembahkan bahan-bahan persembahan.
Mempersembahkan mandala tidak hanya untuk keuntungan diri sendiri, tetapi untuk kebaikan semua makhluk. Persembahan mandala hanya untuk kepentingan diri sendiri dapat menghambat praktik disiplin moral.
Sabar ketika mengatasi kesulitan yang timbul dalam praktik ini, seperti melakukan visualisasi dan sebagainya, serta mengatasi kemalasan untuk melakukan praktik ini.
Melakukan praktik ini dengan kegembiraan dan upaya yang bersemangat.
Berkonsentrasi dengan baik ketika melakukan praktik ini dan tidak membiarkan pikiran melayang.
Mengetahui dengan pasti bagaimana membuat persembahan dan mengerti bahwa meskipun mandala itu nampaknya tidak ada dalam wujudnya namun secara keyakinan ada secara nyata.
Ini berarti ketika mempersembahkan mandala, kita akan memperoleh manfaat luar biasa, yaitu melakukan praktik berdana yang luar biasa serta memohon berkah pada Triratna dan Ladang Kebajikan.
Penjelasan lengkap membuat mandala dapat ditemukan di buku “Penjelasan Tentang Teks Permata Hati bagi Mereka yang Beruntung & Persembahan Mandala” atau bisa juga diakses pada video berikut.
Mempersiapkan Mandala
Membuat Mandala
Doa Persembahan Mandala dapat diakses
di sini, Kidung Manggala Bhakti, atau di aplikasi Sancita.
Visualisasi persembahan mandala dapat dilihat lebih jelas
di teks Rangkaian Samudra Dunia.
Piringan Mandala dapat dipesan di sini.
Back:
Persembahan Air
Next:
Purifikasi 35 Buddha