“Praktik purifikasi akan membantu menyebabkan karma buruk menjadi mandul, seperti sebuah benih yang dibakar hingga tak lagi mampu menghasilkan buah. Benihnya masih ada, tetapi sudah tidak lagi memiliki potensi untuk tumbuh.”
—Guru Dagpo Rinpoche
Ketidakberuntungan tidak datang dengan sendirinya, melainkan muncul dari karma yang kita perbuat dan jejak karma yang mengikuti setiap kehidupan kita. Untuk menghindari akibat-akibat dari karma buruk yang pastinya menyebabkan penderitaan, kita harus menghancurkan mereka dengan praktik purifikasi.
Penderitaan yang ingin dihindari bukan saja penderitaan di kehidupan ini, melainkan juga pada kehidupan berikutnya. Jika kita tidak berhati-hati, maka setelah meninggal kita dapat dengan mudah jatuh ke alam rendah dan harus menanggung siksaan yang tak terbayangkan.
Pada titik tertentu, kita mesti meninggalkan kehidupan ini. Kita pasti mati, tetapi kita tidak tahu pasti kapan itu akan terjadi. Andai setelah meninggalkan kehidupan ini, kita akan hilang begitu saja, maka tidak ada alasan untuk mencemaskan penderitaan di alam rendah. Akan tetapi, kenyataannya tidak seperti itu. Selama kita masih melekat pada skanda yang tidak murni, meskipun tubuh kita hancur ketika kita mati, diri kita tidak menghilang begitu saja. Batin kita terus bergerak ke rangkaian kehidupan berikutnya.
Ada 2 kemungkinan dalam kelahiran di samsara: alam menyenangkan dan tidak menyenangkan. Jika kita dituntun oleh karma negatif, maka kita akan menuju alam rendah. Sebaliknya, jika yang menuntun kita adalah karma baik, maka kita akan menuju alam tinggi.
Apa yang terjadi pada batin kita sejak pagi hari? Pengamatan jujur atas hal ini akan membawa kita mengakui bahwa klesha terus-menerus berjuang memperoleh sebuah tempat di batin kita, sedangkan pikiran atau perbuatan bajik hanya sedikit sekali berdiam di dalamnya. Faktanya, kita biasanya harus membuat usaha yang sadar untuk membangkitkan perilaku positif. Batin kita tidak terbiasa dengan perilaku positif, dan hal-ihwal yang bajik jarang sekali terjadi secara spontan.
Di bawah pengaruh konstan dari sahabat kita, yakni klesha, kita dipimpin untuk melakukan segala jenis perbuatan buruk, dan karenanya mengumpulkan karma negatif yang dapat mengakibatkan kelahiran di alam rendah.
Sebagai makhluk biasa, kita memiliki kesulitan besar untuk mengendalikan batin kita. Kita telah membiasakan batin kita terlalu lama pada hal-hal yang tidak bajik, sehingga bentuk pikiran ini secara alamiah menjadi lebih banyak. Akibatnya, sebagian besar karma yang kita hasilkan bersifat negatif, dan membuat kita beresiko sangat besar untuk terlahir di alam yang tidak menyenangkan serta mengalami penderitaan.
Buddha pernah mengatakan dalam Vinayavastu bahwa: Jumlah debu di ujung jarinya mewakili jumlah dari makhluk yang lahir dari alam rendah ke alam tinggi, sedangkan jumlah debu yang menutupi permukaan dunia ini adalah sebanding dengan jumlah makhluk yang jatuh dari alam tinggi ke alam rendah.
Kita tidak dapat serta-merta menghapus semua karma buruk yang kita miliki. Praktik purifikasi akan membantu menyebabkan karma buruk yang belum matang menjadi mandul, seperti sebuah benih yang dibakar hingga tak lagi mampu menghasilkan buah. Benihnya masih ada, tetapi sudah tidak lagi memiliki potensi untuk tumbuh. Tujuan utama dari praktik purifikasi adalah untuk menetralkan karma sehingga tidak lagi menghasilkan efek pematangan yang mengakibatkan kelahiran kembali di alam yang tidak menyenangkan.
Kekuatan praktik purifikasi ditentukan oleh bagaimana kita menerapkan empat kekuatan purifikasi. Tanpa hadirnya 4 kekuatan ini, walau tentu praktik namaskara atau lainnya akan tetap bermanfaat, kekuatan purifikasinya tidak sekuat dengan penerapan 4 kekuatan.
Dalam Caturdharmanirdeśasūtra (Ing.: The Sūtra Teaching the Four Factors), Buddha menjelaskan bahwa untuk menetralkan buah karma buruk yang telah kita lakukan secara tepat, penting bagi kita untuk melakukan praktik purifikasi yang tepat. Praktik purifikasi yang tepat membutuhkan keempat kekuatan:
Kita perlu membangkitkan penyesalan yang tulus dan mendalam akan ketidakbajikan yang telah kita lakukan. Tanpa sikap ini, usaha kita untuk menetralkan kesalahan takkan berguna. Penyesalan adalah inti dari praktik purifikasi kita. Kemampuan untuk membangkitkan penyesalan yang kuat tergantung sepenuhnya pada keyakinan kita terhadap hukum karma, Kita harus sepenuhnya yakin bahwa karma negatif akan menghasilkan penderitaan, sedangkan karma positif akan menghasilkan kebahagiaan. Adalah keyakinan penuh pada hukum karma yang mampu memunculkan penyesalan tulus atas semua kesalahan yang pernah kita lakukan, khususnya keyakinan pada kepastian dari hukum karma.
Menurut Arya Shantideva dalam Ikhtisar Latihan (Skt.: Śikshā-samuccaya, Tib.: བསླབ་པ་ཀུན་བཏུས་, labpa kün tü; Ing.: Compendium of Training), ada 6 aktivitas bajik utama yang mampu membantu menetralkan atau menawar karma tidak bajik kita, yaitu
Meskipun 6 aktivitas bajik di atas dikatakan sebagai penawar utama, namun pada dasarnya, segala perbuatan baik yang dilakukan dengan tujuan untuk menetralkan karma buruk juga merupakan kekuatan penawar. Sebagai contoh, membantu rumah sakit atau panti jompo, membantu orang yang sakit, dan membebaskan binatang yang akan dibunuh adalah contoh dari kekuatan penawar.
Membangkitkan tekad yang kuat, tulus, dan penuh kesadaran untuk menghindari tindakan tidak bajik. Tekad ini harus dibuat secara realistis. Ada beberapa jenis kesalahan yang dapat kita hentikan selamanya tanpa kesulitan, tetapi ada jenis lainnya yang kita tahu pasti akan kita ulangi kembali. Oleh sebab itu, kita mesti mencari sebuah jalan lain, misalnya dengan membuat batas waktu terhadap upaya penghindaran ini, Jika kita merasa mampu untuk menghindari sebuah kesalahan selama satu minggu, kita akan menetapkan satu minggu sebagai batas waktu. Jika kita merasa lebih kuat, kita akan membuat batas waktu yang lebih lama, misalnya satu bulan atau satu tahun. biasanya kita lakukan dan karenanya susah dihindari, kita bisa menetapkan batas waktu selama satu hari, atau bahkan beberapa jam dalam sehari. Apa pun batas waktu yang kita buat, kita berteguh hati untuk menghindari kesalahan tertentu selama batas waktu yang ditentukan. Kita berpikir, "Dengan nyawa sebagai taruhannya, aku takkan melakukan kesalahan ini dalam batas waktu yang telah ditentukan."
Fondasi yang kokoh adalah mengambil perlindungan kepada Triratna (Trisarana) dan membangkitkan Batin Pencerahan (Bodhicitta). Ketika kita jatuh ke tanah, satu-satunya cara untuk bangkit adalah dengan menekan tanah. Sama halnya, ketika kita melakukan kesalahan, fondasi yang terkait dengan pengakuan kesalahan kita adalah makhluk hidup atau Triratna. Sepanjang hidup kita, tindakan negatif yang kita lakukan adalah kepada makhluk hidup atau bukan makhluk hidup (yaitu salah satu dari Triratna). Berlindung pada Triratna memberikan dasar pemurnian kesalahan yang telah dilakukan pada Triratna. Sedangkan, bodhicitta memberikan dasar untuk pemurnian kesalahan pada makhluk hidup.
Apa pun yang kita lakukan untuk mengakui kesalahan kita, sangatlah penting untuk memulainya dengan perasaan menyesal yang kuat. Kemudian, kita melakukan aktivitas bajik yang telah kita pilih untuk memperbaiki kesalahan kita. Lalu, kita bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan, untuk selamanya atau dalam jangka waktu tertentu. Dan terakhir, kita mengambil perlindungan dan membangkitkan bodhicitta untuk memastikan munculnya basis dalam latihan kita. Menggabungkan keempat kekuatan dalam pengakuan kita akan menjadi praktik yang ampuh.
“Semakin banyak kita memurnikan pikiran dari ketidakbajikan dan halangan, semakin banyak juga kualitas baik seperti cinta kasih dan welas asih terhadap orang lain akan tumbuh dalam diri Anda. Kebijaksanaan Anda juga akan meningkat.”
—Guru Dagpo Rinpoche