Suwarnadwipa Dharmakirti


Suwarnadwipa Dharmakirti

Guru Suwarnadwipa Dharmakirti adalah Guru besar Buddhis dari Pulau Emas (sekarang Pulau Sumatra) pada abad ke-10 yang merupakan seorang pangeran dari silsilah Dinasti Syailendra. Berbagai tokoh Buddhis ternama seperti Bodhisattva Sadaprarudita, Marpa Sang Penerjemah, Dagpo Lama Rinpoche Jampel Lhundrup, dan Guru Dagpo Rinpoche diyakini merupakan kelahiran kembali dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.

Guru Suwarnadwipa adalah satu-satunya pemegang silsilah lengkap Batin Pencerahan (Bodhicitta) di masa itu. Guru Atisha, seorang Pandita Agung Nalanda menempuh 13 bulan perjalanan untuk berguru pada Guru Suwarnadwipa, khususnya untuk ajaran Bodhicitta. Ajaran Bodhicitta inilah yang menjadi salah satu inspirasi utama bagi Guru Atisha dalam menyusun Bodhipathapradipa (Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan) yang mereformasi Buddhisme di Tibet dan menjadi cikal-bakal tradisi Lamrim.

Biografi Pendek
Suwarnadwipa Dharmakirti

Guru Suwarnadwipa Dharmakirti (Sans: Suvarṇadvīpa Dharmakīrti, Tib: Lama Serlingpa) merupakan seorang pangeran dari silsilah Dinasti Syailendra yang berasal dari Suwarnadwipa atau Pulau Emas (sekarang disebut dengan Sumatra). Beliau juga merupakan Guru dari Atisha Dipamkara Srijnana. Topik ajaran utama dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti kepada Guru Atisha adalah Bodhicitta, batin pencerahan untuk kebahagiaan semua makhluk.

Kelahiran Agung

Guru Suwarnadwipa lahir sekitar tahun 950 M dengan nama Dharmakirti. Beliau merupakan pangeran dari Wangsa Syailendra, wangsa penguasa Sriwijaya dan pendiri Borobudur. Pada masa Guru Suwarnadwipa lahir, ajaran Buddha hampir sirna dari Pulau Sumatra. Rakyat telah berpaling dari Dharma dan menunjukkan rasa muak yang kuat terhadap ajaran.

Kendati demikian, raja-raja Dinasti Syailendra mempraktikkan praktik Tisarana, membangun rupang Buddha, dan pusat-pusat Dharma. Tidak hanya itu, Dinasti Syailendra juga menjalin hubungan dengan pusat pembelajaran India termasyhur, yakni Universitas Nalanda. Di dalam Prasasti Talang Tuo, disebutkan bahwa di Universitas Nalanda bahkan terdapat asrama untuk menampung para pelajar dari Sriwijaya.

Masa Kecil

Saat masih sangat muda, Guru Suwarnadwipa menemukan sebuah rupang Buddha Sakyamuni yang terbuat dari emas murni dengan panjang sekitar tiga puluh sentimeter. Sejak saat itu, keyakinan terhadap Buddha tumbuh di dalam hati-Nya.

Hanya memandangi rupang Buddha, Guru Dharmakirti kecil dipenuhi sukacita mendalam. Beliau mempersembahkan doa sepenuh hati kepada rupang Buddha tanpa henti, memberi banyak persembahan, dan memohon perlindungan. Keyakinan-Nya terhadap Buddha bertambah kuat setiap hari. Hal ini membawa banyak keberuntungan bagi penduduk pulau tersebut. Kedamaian, kemakmuran, panen yang berlimpah diperoleh dan penyakit yang mengancam lenyap.

Pencarian Mencari Guru

Guru Suwarnadwipa pernah berkunjung ke Jambudwipa, India untuk mencari Guru Dharma. Beliau menuju Bodhgaya, tempat Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung. Di Bodhgaya, beliau tertarik untuk berguru kepada Guru Maha Sri Ratna. Guru Suwarnadwipa mengunjungi dan mengamati Guru Maha Sri Ratna selama tujuh hari. Namun, pada hari kedelapan Sang Guru menghilang. Guru Suwarnadwipa berusaha mencari Guru Maha Sri Ratna, tetapi tidak berhasil ditemui.

Menyerah dalam pencarian-Nya mencari Guru Maha Sri Ratna, Guru Suwarnadwipa memutuskan untuk memakai jubah biksu dan memasuki kehidupan biara untuk menyelesaikan latihan dan mengikuti kelas pembelajaran Dharma di Biara Vikramasila, biara yang mana orang tuanya merupakan salah satu donatur utama. Selama 7 tahun, beliau memperoleh ilmu pengetahuan duniawi dan Dharma di bawah Guru-Guru yang bereputasi baik, salah satunya adalah Guru Gewachen.

Suatu malam, Guru Suwarnadwipa memimpikan Guru Maha Sri Ratna yang selama ini beliau cari sedang duduk di atas kepala-Nya. Guru Maha Sri Ratna menasihati Guru Suwarnadwipa untuk meninggalkan segala harta, kekuasaan, dan kesenangan duniawi yang sifatnya sementara dan akan lenyap. Pada akhir nasihat-Nya, Guru Maha Sri Ratna bertanya kepada Guru Suwarnadwipa, "Apakah kau akan menyerahkan kerajaan duniawimu untuk menjadi Raja Dharma?" sebanyak tiga kali. Sebanyak tiga kali juga Guru Suwarnadwipa menjawab, "Mulai saat ini hingga aku mencapai penerangan sempurna dan menjadi Buddha untuk kepentingan semua makhluk, dengan ini aku membuang semua yang menjadi milik samsara untuk selanjutnya mendedikasikan hidupku hanya untuk Dharma."

Sejak saat itu, berkah Guru menyertai Guru Suwarnadwipa. Pengetahuan Guru Suwarnadwipa semakin mendalam dan semakin maju menapaki jalan Kebuddhaan. Selama Guru Suwarnadwipa tinggal di India, beliau mempelajari banyak teks agung dan komentar tentang semua aliran ajaran dan mendapatkan pengetahuan yang sempurna dari ajaran tersebut. Bahkan, beliau menjadi pewaris sempurna untuk dua garis silsilah ajaran pengembangan Bodhicitta. Silsilah ajaran pertama disebut "Latihan Batin Tujuh Poin" yang diperoleh Guru Asanga dari Buddha Maitreya, sedangkan silsilah ajaran kedua disebut "Menukar Diri dengan Makhluk Lain" yang diperoleh Arya Shantideva dari Buddha Manjushri.

Beliau memiliki Bodhicitta, banyak orang memanggil beliau dengan sebutan Maitripa (Sanskerta) atau Jampa (Tibet). Maitripa diambil dari akan nama Bodhisattva Maitreya yang artinya orang dengan cinta kasih. Sejak itulah beliau dikenal sebagai Lama Serling Maitripa, Guru Pengasih dan Penyayang dari Suwarnadwipa.

Penyebaran Dharma

Setelah memahami dan mempraktikkan Dharma secara sempurna, beliau kembali ke Pulau Emas dan menyebarkan Dharma di sana. Guru Suwarnadwipa bahkan menjadi Guru bagi Guru Atisha selama 12 tahun lamanya di Pulau Emas. Adapun ajaran yang diberikan oleh Guru Suwarnadwipa ke Guru Atisha adalah Instruksi Jalan Bertahap, Ajaran Mahayana, dan transmisi lisan mengenai ajaran Kalacakra.

Di samping peran-Nya dalam mentransmisikan ajaran Kalacakra, Guru Suwarnadwipa dipercaya tersohor dengan enam karya asli yang muncul di Tengyur. Yang paling mengesankan, baik dari panjangnya judul dan isi serta cakupannya dalam penjelasan-penjelasan filsafat Mahayana, adalah Abhisamaya-alamkara-nama-prajnaparamita-upadesa-sastra-vritti-durbodha-aloka-nama-tika."

Setelah menyebarkan Dharma dan menghasilkan banyak karya, Guru Suwarnadwipa meninggalkan dunia ini dan langsung terlahir di surga Tusita. Dikatakan bahwa relik suci beliau dibawa ke Tibet oleh seorang bernama Lama Dharma Guru untuk diserahkan pada Guru Atisha.

Karya Agung

Guru Suwarnadwipa juga telah menyusun sejumlah karya, di antaranya:

  1. Abhisamaya-alaṃkāra-nama-prajñāpāramitā-upadesa-sastra-vrtti-durbodha-aloka-nama-tika, risalah resmi yang dipakai oleh Guru Suwarnadwipa dalam menjelaskan dan merincikan Prajñā Pāramitā.
  2. Śikṣa-samuccaya-abhisamaya-namah, salah satu teks karya Sri Dharmapala dari Suvarṇadvīpa yang diperkirakan merupakan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.
  3. The Wheel Blade of Mind Transformation/Lojong Tsöncha Khorlo, sebuah teks Lojong yang penting dalam ajaran Mahayana.

Share