Guru Dagpo Rinpoche bukan hanya memiliki garis kelahiran yang luar biasa, tapi juga memiliki kebijaksanaan dan welas asih luar biasa. Bagaikan mentari, Beliau menerangi berbagai penjuru dunia dengan realisasi akan Dharma autentik yang Beliau warisi dalam silsilah emas tak terputus dari Sang Buddha sendiri.
Sejak masih sangat muda, Beliau sudah dikenali dan dihormati sebagai kelahiran kembali Guru-Guru besar, di antaranya adalah Bodhisattva Sadaprarudita, Marpa Sang Penerjemah, dan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Nusantara. Namun, setiap lakunya adalah potret welas asih dan kerendahan hati. Laku itu jugalah yang mewarnai lebih dari 30 tahun cipta, karsa, dan karya Beliau di Indonesia.
"Anda adalah Bapak Buddhisme di Indonesia,
Anda harus mengurus anak Anda yang tercerai-berai."
– Bhante Girirakkhito pada 1989 di Brahma Vihara, Singaraja
Guru Dagpo Rinpoche lahir pada tanggal 1 Februari 1932, di Distrik Kongpo, sebelah Tenggara Tibet. Pada usia 7 tahun, Rinpoche memasuki Biara Bamcho dan belajar di sana selama 5 tahun. Setelahnya, Rinpoche pindah ke Biara Dagpo dan belajar di sana selama 10 tahun. Pada tahun 1956, Rinpoche meneruskan pendidikannya di Biara Gomang, salah satu dari empat kampus Biara Universitas Drepung yang merupakan salah satu biara terbesar di Tibet.
Ketika Tiongkok menginvasi Tibet pada tahun 1959, Rinpoche memutuskan untuk menyusul Guru-Guru Beliau untuk mengungsi Ke India. Di sana, Rinpoche diundang untuk mengajar budaya Tibet di Prancis. Beliau pun berangkat dengan restu dari Yang Maha Suci Dalai Lama XIV.
Pada tahun 1977, Guru Dagpo Rinpoche dimohon untuk mengajarkan Dharma di Prancis. Tanggal 9 November 1977 menjadi hari pertama Rinpoche resmi mengajarkan Dharma kepada orang-orang Barat di Prancis. Pelajaran pertama yang diberikan adalah 6 Praktik Pendahuluan, langkah awal mempraktikkan Lamrim yang bersumber dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.
Setelah setahun mengajar, Rinpoche mendapati bahwa para peserta terlihat lebih bahagia dibandingkan sebelumnya. Berangkat dari hal tersebut, Rinpoche mendirikan pusat Dharma bernama Guépèle Tchantchoup Ling di L'Haẏ-les-Roses, dekat Paris pada bulan Agustus 1978. Sejak saat itu, Beliau aktif mengadakan pengajaran untuk publik tanpa pungutan biaya apa pun. Murid-murid Beliau pun bertambah dan mendirikan pusat Dharma di berbagai negara di Eropa, India, hingga Asia Tenggara.
Pada November 1983, Rinpoche diundang untuk mengajarkan topik Latihan Batin di Belanda. Di sanalah Beliau bertemu dengan seorang Tionghoa Indonesia bernama Lan Tjoa yang mengundang Rinpoche untuk mengajar di Indonesia setelah mengetahui hubungan erat sang Guru dengan Nusantara di kehidupan lampau Beliau sebagai Guru Suwarnadwipa Dharmakirti.
"Sikap bersahaja dan pengetahuan yang sangat luas Dagpo Rinpoche merupakan refleksi Beliau yang memberikan dorongan kepada semua praktisi spiritual yang pernah bertemu Beliau."
– Bhante Sri Pannavaro pada 2018 di Vihara Mendut, Magelang
Di Indonesia, Guru Dagpo Rinpoche disambut baik oleh berbagai tokoh Buddhis Nusantara seperti Y.M. Biksu Ashin Jinarakkhita, Y.M. Biksu Girirakkhito, dan Y.M. Biksu Pannavaro. Bhante Pannavaro mempersembahkan relik Guru Atisha, murid utama Guru Suwarnadwipa Dharmakirti, kepada Rinpoche.
Sejak kedatangan pertama Beliau pada tahun 1989, Guru Dagpo Rinpoche konsisten mengajarkan Dharma di Indonesia setiap tahun selama lebih dari 30 tahun dan amat memperhatikan kemajuan spiritual para praktisi dan pelestarian Dharma di Nusantara.
Pulangnya Guru Dagpo Rinpoche, kelahiran kembali Sang Mahaguru Suwarnadwipa Dharmakirti ke tanah Nusantara, 15 Agustus 1989
Bhante Girirakkhito mengatakan pada Guru Dagpo Rinpoche: Anda adalah Bapak Buddhisme di Indonesia. Anda harus mengurus anak anda yang tercerai berai, 1989
Pertemuan pertama Guru Dagpo Rinpoche dengan Bhante Ashin Jinarakkhita, Palembang, 28 Juli 1990
Pertemuan terakhir Guru Dagpo Rinpoche dengan Bhante Ashin Jinarakkhita, Vihara Sakyawanaram, Pacet, Jawa Barat, 3 Agustus 1991
Guru Dagpo Rinpoche dengan Bhante Sri Pannavaro, Vihara Mendut, 26 Juli 1992
Pengajaran Dharma ke beberapa biksu Sangha Agung Indonesia dan perumah tangga di Kendang Sari, Surabaya, 1993
Pengajaran Dharma ke beberapa biksu Sangha Agung Indonesia dan perumah tangga di Kendang Sari, Surabaya, 1993
Pemuda Fong Kwang (Suhu Bhadra Ruci) pertama kali bertemu dan menerima inisiasi Vajrabhairava dari Guru Dagpo Rinpoche, Agustus 1996.
Pemuda Fong Kwang (Suhu Bhadra Ruci) pertama kali bertemu dan menerima inisiasi Vajrabhairava dari Guru Dagpo Rinpoche, Agustus 1996.
Pengajaran Dharma di Genteng Sayangan, Surabaya
Sramanera Fong Kwang memberikan salam hormat kepada Guru Dagpo Rinpoche, Surabaya, 1999
Sramanera Bhadra Ruci dan 7 mahasiswa dari kelompok belajar Dharma di Bandung mengikuti ajaran di Genteng Sayangan, Surabaya, 2000.
Dan beruntunglah bangsa Indonesia karena Beliau telah memilih untuk memberikan perhatian khususnya pada mereka. Sosok Beliau mungkin tampak universal bagi murid-murid-Nya, namun aku yakin kalau Indonesia menempati tempat khusus dalam hati dan pikiran Beliau. Jadi, berbanggalah mereka yang terlahir sebagai orang Indonesia, karena masing-masing individu Indonesia adalah pewaris sah dari ajaran Buddha yang murni, karena bangsa Indonesia adalah penerus sebuah peradaban yang sudah teruji keluhurannya selama ribuan tahun. Buddhisme adalah milik seluruh dunia, tapi kita di Indonesia telah diminta secara khusus oleh Dagpo Rinpoche untuk mengemban misi menjaga dan memelihara silsilah tak terputus dari ajaran Buddha sampai kelak Buddhisme siap untuk dikembalikan lagi statusnya sebagai pusaka warisan dunia."
Suhu Bhadra Ruci dalam Buku Perihal Guruku
Pada 2019 lalu, Kadam Choeling Indonesia merayakan 30 tahun kepulangan Guru Dagpo Rinpoche ke Indonesia pada tahun 1989 lalu. Selama 30 tahun, Rinpoche tidak pernah absen untuk datang memberikan pengajaran Dharma dan berbagai abhiseka Tantra kepada para murid di Indonesia.
Kesabaran dan semangat tanpa lelah selalu menyertai setiap langkah Beliau dalam membimbing kita, murid di Indonesia. Kebaikan hati ini terwujud dalam kesediaan Beliau hadir dengan menempuh perjalanan dari belahan dunia lain di usia yang sudah tak lagi muda. Semua demi memberikan kita, murid di Indonesia berbagai instruksi yang mampu membawa kebahagiaan dalam kehidupan ini maupun kehidupan mendatang.
Back:
Guru Silsilah
Next:
Suhu Bhadra Ruci