“Mempraktikkan Doa Tujuh Bagian adalah salah satu metode tercepat untuk mencapai Kebuddhaan. Saat mengajar Tantra Guhyasamaja, Buddha menjelaskan dengan sangat jelas bahwa perlu memasukkan Doa Tujuh Bagian karena ini adalah cara tercepat untuk mencapai Kebuddhaan.”
—Guru Dagpo Rinpoche
DOA TUJUH BAGIAN (Skt.: Saptāngga-Pūjā) merangkum seluruh praktik pengumpulan/akumulasi kebajikan & pemurnian/purifikasi ketidakbajikan yang dibutuhkan untuk mencapai Kebuddhaan dengan cepat.
Praktik ini perlu dilakukan bahkan oleh para Bodhisattva tingkat akhir yang wajib melakukannya hingga menyelesaikan akumulasi dan purifikasi yang diperlukan untuk mencapai Kebuddhaan. Praktik ini bukan hanya ditemukan dalam Sutra saja, melainkan juga ditemukan di Tantra. Dalam Tantra Guhyasamaja diceritakan Buddha yang bertemu Raja Indrabhuti menjelaskan Doa Tujuh Bagian sebagai metode tercepat untuk mencapai Kebuddhaan.
Para Bodhisattva yang telah mencapai kemampuan untuk melakukan perjalanan melampaui ruang, akan pergi ke alam Buddha dan menerima ajaran dari Buddha. Ketika para Bodhisattva saat pergi ke tanah Buddha, alih-alih memberikan hadiah materi, mereka mempersembahkan Doa Tujuh Bagian.
Doa Tujuh Bagian terdapat dalam Sutra Bhadracari yang terukir di relief teratas Candi Borobudur. Doa ini merupakan bagian dari pernyataan tekad Arya Samanthabhadra dalam pujiannya kepada Buddha Amitabha.
Doa Tujuh bagian terdapat dalam Enam Praktik Pendahuluan (6PP), salah satu praktik yang dipelajari Guru Atisha dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya. Praktik ini kemudian hari dibawa ke Tibet dan dilestarikan di sana selama bertahun-tahun hingga akhirnya kini dapat dipraktikkan lagi di Indonesia.
Sutra Bhadracari yang terukir di relief teratas Candi Borobudur
Teks Doa Tujuh Bagian Bisa diakses di sini
Kita menghaturkan penghormatan pada Buddha & Bodhisattva yang dibayangkan di angkasa di hadapan kita, melalui tubuh, ucapan, dan batin kita. Penghormatan secara fisik dapat dilakukan dengan bernamaskara atau beranjali. Penghormatan secara ucapan dapat dilakukan dengan mengucapkan kata-kata yang merujuk pada kualitas-kualitas bajik objek penghormatan. Penghormatan secara batin dapat dilakukan dengan mengingat kualitas bajik objek penghormatan.
Melakukan penghormatan menghasilkan kebajikan seribu kali lebih besar daripada kebajikan yang memungkinkan kita untuk terlahir sebagai Cakravartin—tidak hanya sekali, tapi sebanyak jumlah atom di bumi yang ditutupi tubuhmu ketika melakukan namaskara.
Dengan menghaturkan berbagai persembahan pada para Buddha & Bodhisattva, kita akan menghasilkan kebajikan besar. Ada banyak substansi persembahan yang berbeda yang dapat dipersembahkan.
Bagi praktisi Tantra, kita dapat membayangkan diri memancarkan dewa-dewi dari hati yang membawa banyak persembahan pada Triratna. Jika tidak mempraktikkan Tantra, kita bisa membayangkan diri kita menjelmakan tubuh-tubuh kehidupan lampau kita yang membawa banyak persembahan.
Pertama-tama kita bisa memulai dengan mempersembahkan tujuh jenis ‘persembahan tertandingi’ yang disebutkan dalam Doa Samantabhadra, yaitu: bunga-bunga, untaian-untaian, alat-alat musik, urapan, pelita-pelita, dupa, dan pakaian.
Kemudian, kita bisa mempersembahkan ‘persembahan tak tertandingi’, yaitu semua objek menakjubkan yang diemanasikan oleh batin pencerahan. Namun, walaupun orang-orang biasa seperti kita tidak mampu membuat persembahan-persembahan ini, ada empat jenis persembahan yang ‘tidak tertandingi’ yang bisa kita buat, yaitu:
Semua penderitaan yang kita rasakan dan ketidakmampuan untuk membangkitkan realisasi spiritual disebabkan oleh karma buruk dan halangan-halangan dalam batin. Oleh karena itu, kita harus mempurifikasi karma buruk kita melalui pengakuan.
Jika dalam satu hari saja, kita telah melakukan banyak kedengkian, ucapan tidak berguna, kata-kata kasar, dan perbuatan-perbuatan lainnya yang telah kita lakukan melalui pikiran dan perkataan, kira-kira bagaimana dengan karma buruk yang telah kita lakukan sepanjang hidup kita di samsara?
Agar praktik pengakuan kita menjadi efektif, kita harus menghadirkan empat kekuatan purifikasi ketika melakukan pengakuan.
Bermudita adalah perasaan gembira mengenai kebajikan yang dilakukan orang lain alih-alih merasa iri pada mereka. Bukan hanya kebajikan, tetapi juga hasil dari kebajikan mereka: status, kekayaan, posisi dalam masyarakat, dan hal baik apapun yang mereka nikmati.
Bermudita pada kebajikan yang dilakukan pihak lain adalah cara termudah untuk meningkatkan kebajikan karena membutuhkan usaha paling sedikit. Buddha mengajarkan praktik bermudita pada Raja Prasenajit yang sangat sibuk memerintah dan memiliki sedikit waktu untuk berlatih. Buddha mengajarkan 3 hal, yaitu bersukacita dalam kebajikan yang lain, membangkitkan Batin Pencerahan (Bodhicitta), dan mendedikasikan kebajikan.
Jika kita bermudita pada orang yang perkembangan spiritualnya lebih rendah dari kita, kita akan menerima menerima dua kali lipat kebajikan yang ia lakukan. Ketika perkembangan spiritualnya dengan kita seimbang, kita menerima jumlah kebajikan yang sama. Ketika spiritualnya lebih maju, kita menerima setengah dari kebajikan yang ia lakukan.
Dengan bermudita akan aktivitas Para Buddha, Para Bodhisattva, dan para makhluk suci lainnya yang hidup di masa lampau, kita hanya dapat memperoleh sekitar sepersepuluh dari manfaat tindakan-tindakan mereka yang bahkan jika tidak dapat kita capai walau kita melakukan perbuatan bajik selama seluruh hidup kita.
Selain bermudita pada kebajikan orang lain, kita bisa juga bermudita pada kebajikan diri kita sendiri di masa lampau dan sekarang:
Bermudita atas kebajikan orang lain akan membangkitkan kebajikan baru, sedangkan bermudita atas kebajikan diri sendiri di masa lampau akan menyebabkan kebajikan tersebut menguat.
Ketika Sang Guru, Buddha Sakyamuni, mencapai pencerahan, Beliau tidak memutarkan roda Dharma selama tujuh minggu. Atas desakan Brahma, Buddha memberikan ajaran Dharma pertama beliau tentang Empat Kebenaran Arya kepada 5 pertapa.
Bila kita memiliki sebuah mandala, kita meletakkan sembilan tumpukan biji-bijian pada dasar mandala dan bayangkan bahwa mandala kita menjadi roda emas berjari-jari seribu. Lalu bayangkan bahwa kita, muncul dalam wujud Brahma yang agung, kita menduplikasi diri kita dalam jumlah tidak terbatas dan muncul di depan semua Buddha di sepuluh penjuru. Kita mempersembahkan sebuah roda kepada masing-masing dari para Buddha. Bila ini terlalu sulit, maka bayangkan jumlah emanasi yang sama dengan tokoh yang muncul di depan Anda dalam ladang kebajikan. Bahkan bila ini terlalu banyak, cukup bayangkan diri kita sebagai Dewa Brahma yang tunggal.
Sesaat sebelum memasuki Nirvana, Buddha Sakyamuni berkata kepada Ananda, ”Karena seorang Buddha telah lama melatih empat kepercayaan diri dan empat unsur kekuatan supernatural dan karena Beliau juga telah mencapai tubuh vajra, Beliau bisa tetap hidup selama satu kalpa atau bahkan lebih lama bila beliau menginginkannya.”
Meskipun demikian, Ananda gagal untuk memahami poin ini dan lalu ia tidak melakukan permohonan kepada Buddha agar Beliau tetap tinggal di dunia. Akibatnya, Sang Guru mempertunjukkan penampakan memasuki Nirvana pada usia delapan puluh tahun. Maka, sangat penting untuk membuat permohonan untuk tidak memasuki Nirvana ini pada Para Buddha.
Ketika melakukan permohonan, kita seharusnya menyiapkan sebuah mandala dengan lima tumpukan dan membayangkannya sebagai sebuah takhta vajra. Lalu bayangkan bahwa kita mempersembahkan takhta-takhta sejumlah Istadevata di ladang kebajikan. Bila ini terlalu sulit, bayangkan bahwa kita dapat mempersembahkan takhta tunggal. Persembahan-persembahan takhta ini melebur ke dalam takhta-takhta yang ada dalam ladang kebajikan. Untuk praktik ini dan juga untuk permohonan pemutaran roda Dharma, kita seharusnya membayangkan bahwa ladang kebajikan menyetujui permohonan Anda.
Sangatlah penting untuk mendedikasikan kebajikan yang telah kita lakukan, karena doa dedikasilah yang akan mengarahkan suatu kebajikan memiliki akibat yang mulia.
Dalam sutra, diceritakan betapa pentingnya dan kuatnya kekuatan doa dedikasi. Arya Sariputra menjadi murid Buddha yang memiliki kebijaksanaan teragung berkat doa dedikasinya.
Ada enam unsur dalam tindakan dedikasi:
Sebuah doa seharusnya tidak pernah didedikasikan untuk kebahagiaan kehidupan ini. Ada tiga cara utama untuk mendedikasikan kebajikan:
Ketika mempraktikkan dedikasi, kita seharusnya menggunakan salah satu dari tiga cara tersebut.
Doa Tujuh Bagian memasukkan tiga aktivitas penghimpunan kebajikan, mempurifikasi diri dari kejahatan, dan meningkatkan kebajikan:
Selain itu, Doa Tujuh Bagian berfungsi sebagai penangkal tiga racun dan klesha:
Dagpo Lama Rinpoche Jamphel Lhundrup mengajarkan bawa Doa Tujuh Bagian meninggalkan jejak tersendiri, antara lain: