ENAM PRAKTIK PENDAHULUAN SILSILAH SELATAN (Tib.: Lhogyuy Jorchoy) adalah salah satu praktik pendahuluan berdasarkan silsilah ulasan Lamrim Sabda Suci Manjushri yang ditulis oleh Dalai Lama V. Tradisi Lamrim silsilah selatan ini eksklusif pada Sutra saja. Praktik ini awalnya berkembang di daerah selatan Tibet sehingga disebut Silsilah Selatan.
Pelajari tentang: Enam Praktik Pendahuluan
Metode ini berasal dari Guru Atisha Dipankara yang mendasarkan penjelasan praktik ini pada ajaran yang diterima dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya. Sumber utama dari praktik ini adalah Sutra Prajnaparamita yang diajarkan Buddha di Rajagraha.
Enam Praktik Pendahuluan Silsilah Selatan ini disusun berdasarkan instruksi yang diberikan kepada Gendun Jamyang oleh Tenzin Kelzang Khedrup, Guru dari Dagpo Lama Rinpoche Jampel Lhundrup.
Secara umum, dengan mempraktikkan Enam Praktik Pendahuluan kita akan:
1
Praktik ini dilakukan di pagi hari sebelum memulai hari.
2
Bersihkan diri dan gunakan pakaian yang sopan dan rapi.
3
Lakukan bagian 1–2 dari Enam Praktik Pendahuluan, yaitu:
4
Setelah itu, kita bisa melanjutkan bagian 3–6 Enam Praktik Pendahuluan dengan membacakan teks Permata Hati bagi yang Beruntung melalui Kidung Manggala Bhakti atau aplikasi Sancita.
5
Pelajari tentang penjelasan, manfaat, cara visualisasi Enam Praktik Pendahuluan Jorchoy Panjang dari buku Awali Hari dengan Ini, Permata Hati bagi Yang Beruntung, atau Pembebasan di Tangan Kita Jilid 1. Walau buku-buku ini menjelaskan tentang praktik Jorchoy Panjang, penjelasannya masih sangat relevan, karena praktik Jorchoy Pendek adalah versi ringkas dari Jorchoy Panjang.
Enam Praktik Pendahuluan Silsilah Selatan berkaitan dengan Sutra. Sedangkan, Enam Praktik Pendahuluan Untaian bagi yang Beruntung (Jorchoy Panjang) berkaitan dengan Tantra.
Dalam Enam Praktik Pendahuluan Silsilah Selatan, langsung dimulai dengan praktik berlindung, tanpa ada deskripsi objek perlindungan, namun kita tetap perlu memvisualisasikannya.
Perbedaan utama antara Untaian bagi yang Beruntung (Jorchoy Panjang) dengan Tradisi Silsilah Selatan adalah visualisasi Ladang Kebajikan, Rumah Pemandian, dan berkah. Dalam Jorchoy Panjang, berkah divisualisasikan dalam bentuk cahaya dan amerta. Sedangkan, dalam Silsilah Selatan, berkah divisualisasikan hanya dalam cahaya.
Di hadapan kita, sebuah awan pelangi besar dan indah muncul dari tanah dan memiliki banyak teratai. Di tengah, duduk di atas teratai duduk Buddha Sakyamuni. Kanan adalah Buddha Maitreya dan Guru Silsilah Aktivitas Luas. Kiri adalah Arya Manjushri dan Guru Silsilah Pandangan Mendalam. Di depan Buddha Sakyamuni, terdapat guru spiritual kita, dengan posisi mereka sedikit lebih rendah dari teratai Buddha Sakyamuni.
Di Bagian atas guru silsilah ada banyak awan kita visualisasikan para Buddha dan di bawahnya ada Bodhisattva, Pratyekabuddha dan Shrāvaka. Sedikit di bawah guru spiritual, terdapat pelindung dharma dari ketiga tingkatan makhluk.
Pada awalnya, kita membayangkan takhta kosong. Ibarat mengundang para tamu, kita mengundang pada Buddha, Bodhisattva, dan guru spiritual untuk menempati posisi mereka di atas tempat duduk yang telah disediakan.
Di hadapan kita terdapat singgasana dengan tujuh tingkat yang terbuat dari bahan berharga: emas, aquamarine, rubi, perak, koral, pirus, dan mutiara. Di tingkat terendah terdapat tangga berputar yang terbuat dari aneka bahan berharga. Di antara tiap tingkatan terdapat tangga emas.
Di tengah terdapat takhta Buddha Shakyamuni yang ditopang oleh delapan singa menakutkan. Di kanan dan kiri terdapat Arya Maitreya dan Manjushri, beserta guru-guru dari silsilah aktivitas luas dan pandangan mendalam. Di depan terdapat guru spiritual utama kita. Karena tidak muat dalam baris pertama, mereka mengisi tingkatan di bawahnya. Terdapat guru-guru dari tiga silsilah Kadam dan Gelug yang mengisi empat tingkatan pertama.
Baris kelima untuk Bodhisattva, baris keenam untuk Pratyeka Buddha dan Sravakha. Baris ketujuh untuk pelindung Dharma dan pelindung umum.
Bayangkan bangunan segi empat dengan sisi kristal tansparan, di tengahnya bukan kolam berisi air, hanya ada lantai dengan bejana pemandian. Langit tersusun dari balok kecil yang terikat banyak kantong uap kecil, yaitu substansi yang harum. Dari sana, air wangi menetes ke bejana pemandian di bawah lantai dan memenuhinya.
Pada bagian pemandian sendiri, kita tidak membayangkan tiga dewi persembahan untuk mempersembahkan pemandian pada tiap anggota Ladang Kebajikan seperti yang terdapat di Untaian bagi yang Beruntung. Pada Silsilah Selatan, kita membayangkan tiga orang biksu yang akan mempersembahkan pemandian, mengurapi dengan wewangian, dan mempersembahkan jubah di tempat duduk masing-masing tiap anggota Ladang Kebajikan.