Membangun Stupa

Sebuah stupa adalah istana tempat semua Buddha bersemayam. Makhluk yang tidak memiliki karma untuk melihat Buddha membutuhkan objek suci tubuh, ucapan dan pikiran –patung, kitab suci, stupa, sebagai ladang untuk mengumpulkan kebajikan.

—Tantra Guhyasamaja

STUPA adalah objek suci perlambang batin Buddha. Stupa berasal dari bahasa sansekerta, yaitu stūpa yang secara harfiah berarti tumpukan atau gundukan. Kata tumpukan disini mengacu pada tumpukan tanah atau batu-batu yang dibangun untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya untuk menyimpan abu atau relik dari seorang suci yang telah meninggal.

Asal-usul Stupa

Di India kuno, stupa digunakan untuk menyimpan abu raja atau bangsawan. Pada masa Buddha, stupa digunakan untuk menyimpan relik Buddha dan murid Buddha. Dalam perkembangannya, karena banyaknya stupa yang didirikan untuk Buddha, stupa menjadi lambang Buddhisme.

Terdapat dua kisah tentang pembangunan stupa yang berkaitan dengan Sang Buddha sendiri dan Arya Sariputra. Dalam Sutra Mahaparinirvana (Skt.: Mahāparinirvāṇamahāsūtra), Arya Ananda bertanya pada Sang Buddha, “Apa yang harus dilakukannya terhadap tubuh Sang Buddha setelah beliau parinirvana?” Sang Buddha menjawab dengan berkata bahwa abu kremasi tubuhnya haruslah disimpan dalam sebuah stupa yang dibangun pada perempatan jalan; seperti ketika memperingati meninggalnya seorang Raja Penguasa Dunia (Cakravartin). Setelah Sang Buddha wafat, relik tubuh beliau dibagi menjadi delapan bagian dan dibagikan secara merata kepada delapan suku yang pada saat itu berdiam di India Utara. Masing-masing suku tersebut kemudian membangun sebuah stupa untuk menyimpan relik Sang Buddha.

Siswa Sang Buddha yang lain, Arya Sariputra, setelah meninggal, abu kremasi dan reliknya disimpan di dalam rumah seorang perumah tangga, Anathapindika yang ingin menghormatinya. Namun pada suatu hari, ia pergi keluar rumah dengan mengunci pintu sehingga murid-murid dari Arya Sariputra tidak dapat menghormati relik tersebut. Ketika hal ini diberitahukan kepada Sang Buddha, maka beliau mengatakan bahwa suatu bangunan harus didirikan untuk menyimpan relik Arya Sariputra, sehingga semua orang dapat dengan bebas melakukan penghormatan terhadap relik tersebut.

Alasan membangun Stupa

Tujuan membangun stupa untuk menyimpan relik orang suci telah meninggal adalah sebagai bentuk penghormatan. Sang Buddha sendiri menganggap bahwa stupa adalah objek yang religius dan merupakan perlambang Tubuh Dharma-Nya (Dharmakaya). Beliau juga mengatakan bahwa Arahat, Bodhisattva, dan Tathagata, patut didirikan stupa, dan siapapun yang melakukan hal ini dan memahaminya, akan mendapatkan kemajuan dalam batinnya. Dengan demikian, stupa juga sangat bermanfaat bagi orang hidup yang menghormatinya.

Dalam berbagai sutra dikatakan bahwa ketika seseorang melihat, mendengar, mengingat, memvisualisasikan, menghormati, atau berpradaksina pada stupa akan menciptakan kebajikan yang besar dan menanamkan benih kebuddhaan dalam dirinya.

Siapapun yang bersentuhan dengan stupa akan mengembangkan kebijaksanaan dan umur panjang, ketika mereka meninggal, mereka akan terlahir di alam tinggi dalam keluarga bangsawan, tak akan pernah terlahir di alam rendah.

—Tantra Akar Manjushrimitra

Membangun stupa bukan hanya membawa manfaat bagi manusia saja. Disebutkan dalam berbagai sutra, binatang yang menyentuh stupa akan mendapatkan kebajikan besar.

“Bahkan jika bayangan stupa menyentuh
burung, hewan, rusa, atau siapapun,
mereka tidak akan lahir di alam rendah."
Sutra Pancaran Cahaya yang Mulia

Manfaat Stupa

Membangun Stupa

Membangun stupa merupakan sebuah metode unggul untuk mempurifikasi karma buruk dan menghimpun kebajikan berlimpah. Dengan dasar kebajikan ini, seseorang akan lebih mudah untuk memperoleh realisasi atas Tahapan Jalan menuju pencerahan. Berikut adalah manfaat-manfaat utama dari membangun stupa yang dijelaskan dalam berbagai kitab suci:

  1. Kebajikan dari membangun 1000 stupa, akan membuat seseorang menjadi Pemegang Ajaran Mantra Rahasia Mahayana, memiliki kewaskitaan, dan mengetahui semua aspek ajaran Buddha.
  2. Setelah meninggal, tidak akan terjatuh ke alam rendah dan sebaliknya terlahir sebagai seorang raja.
  3. Akan terlahir kembali dengan indera yang lengkap dan penampilan yang menarik.
  4. Segala karma buruk dan pandangan salah, termasuk lima macam kesalahan berat, akan tersucikan dengan memimpikan sebuah stupa, melihat stupa, atau mendengar suara dentingan stupa.
  5. Membangun sebuah stupa yang kebajikannya didedikasikan untuk orang yang telah meninggal dapat mengubah jenis kelahiran kembali orang yang telah meninggal tersebut, dari kelahiran di alam rendah, menjadi kelahiran di alam tinggi dan kemudian bertemu dengan ajaran Buddha.
  6. Kebajikannya dapat menyembuhkan mereka yang mempunyai penyakit serius.
  7. Akan mendapatkan konsentrasi arus-Dharma, dimana tidak akan melupakan satu kata pun yang berkaitan dengan Dharma yang telah didengar.
  8. Terlahir kembali menjadi seseorang yang berkecukupan, mempunyai ucapan dan kepribadian yang mempesonakan, mempunyai pandangan mata yang menggembirakan, dan terpelajar dalam lima ilmu pengetahuan.
  9. Akan dipuji di segala penjuru, dihormati baik oleh para dewa dan manusia.
  10. Akan panjang umur dan harapannya akan dengan mudah terpenuhi.

Dalam kisah Sepuluh Putra Sumana diceritakan tentang sepuluh orang biksu yang berasal dari kasta tinggi, bertemu Buddha, dan mencapai tingkat arahat. Sebabnya adalah ketika terlahir menjadi pengembara, mereka pernah membantu wanita tua memperbaiki stupa yang rusak. Akibatnya mereka terlahir menjadi manusia di kasta tinggi dan dewa selama 91 kalpa dan kemudian menjadi arahat.

Persembahan pada Stupa

Ada banyak sekali manfaat yang akan dihasilkan dari menghaturkan persembahan pada stupa. Manfaat tertingginya adalah mencapai Kebuddhaan yang lengkap sempurna. Manfaat lainnya akan berbeda-beda tergantung jenis persembahan yang dipersembahkan, misalnya persembahan bunga akan mengakibatkan memiliki tubuh yang harum, makanan akan menghasilkan konsentrasi yang baik, dan lain sebagainya.

Baca: Menghaturkan 7 persembahan

Dalam kisah Tujuh Anak Laki-laki Menteri Mrgara diceritakan bahwa terdapat 32 anak yang terlahir dalam keluarga bangsawan dan dianugerahi dengan kekayaan dan kekuasaan. Sebab mereka terlahir di kasta tinggi selama 500 kehidupan adalah karena mereka pernah membantu seorang wanita tua yang sedang mengurapi stupa dengan minyak wewangian.

Dikisahkan juga, ada seorang biksu bernama Yasobadrika yang bersuara merdu namun memiliki wajah buruk seperti babi. Wajah buruk ini disebabkan ketika dia bekerja sebagai seorang pembuat stupa, ia banyak mengeluh, mengkritik, dan meragukan manfaat besar didirikannya stupa tersebut. Tetapi kemudian, ketika stupa tersebut telah selesai dibangun, pekerja itu merasa kagum akan keindahan stupa tersebut, menyesali kritikan dan keluhannya selama ini, dan melekatkan sebuah lonceng pada stupa itu sebagai persembahan. Walau menyesali perbuatan buruknya, tetap saja pekerja tersebut terlahir sebagai orang dengan wajah yang sangat buruk seperti seekor babi, dan akibat perbuatan baiknya memberikan persembahan berupa lonceng pada sebuah stupa, dia dapat menjadi seorang biksu, bertemu dengan Sang Buddha, dan mempunyai suara yang merdu.

Pradaksina pada Stupa

Manfaat mengitari sebuah stupa searah jarum jam (pradaksina) sebagai berikut:

  1. Akan terhindar dari delapan macam ketidakberuntungan yaitu terlahir kembali di alam-alam rendah seperti neraka, hantu kelaparan, dan binatang, terlahir sebagai dewa umur panjang, manusia barbar, orang dengan pandangan salah, mempunyai indera yang tidak lengkap, atau di suatu tempat dimana tidak ada ajaran Buddha.
  2. Tidak akan dapat disakiti oleh para mahluk jahat selama seratus kalpa.
  3. Akan diberkahi dengan kesempurnaan, kekuatan, dan ketekunan.
  4. Mencapai pencerahan dengan cepat dan mempunyai kewaskitaan
  5. Akan mempunyai tubuh seorang Buddha yang berhiaskan tanda-tanda utama dan sekunder dari seorang mahluk agung.

Akar kebajikan yang menyebabkan seorang perumah tangga bernama Srija mencapai tingkat Arahat, berasal dari tindakannya pada kehidupannya yang lampau, ketika dia terlahir sebagai seekor lalat dan tidak sengaja mengelilingi sebuah stupa. Hal ini terjadi ketika dia hinggap diatas satu tumpukan kotoran hewan yang terbawa air hujan, dan kotoran tersebut mengelilingi stupa.

“Selama objek suci ini ada, selama itu pula ajaran Buddha akan berkembang Menjinakkan semua makhluk di samsara
Memurnikan halangan yang tak terhitung banyaknya,
menyempurnakan kebajikan sempurna.
Setiap orang yang mensponsori pembuatan objek suci ini
Akan memperoleh umur panjang dan keberuntungan
dalam kehidupan ini dan mendatang,
Mereka akan mencapai tanah suci (Buddha) dan negara akan menjadi makmur.”

Tantra Guhyasamaja

Struktur dan Isi Stupa

Pada dasarnya, sebuah stupa terdiri atas sebuah kubah (dome), yang diletakan di atas sebuah alas (base) yang ditinggikan dalam satu atau dua tingkat, dan di atas kubah tersebut terdapat sebuah harmika (secara harfiah berarti ‘tanah berpagar’) yang terdiri atas dasar harmika dan sebuah ‘as roda‘ atau batang yang menopang payung-payung atau roda-roda berbentuk bulat. Pada zaman India kuno, jumlah payung atau roda di atas kubah stupa adalah tiga belas buah, yang merupakan simbol tertinggi dari suatu kerajaan dan suatu tanda penghormatan bagi seorang Raja Penguasa Dunia atau kerajaan dengan daerah kekuasaan yang sangat luas.

Dalam prakteknya, bentuk dari kubah, alas, harmika, dan payung-payung diatasnya dapat beragam tergantung dari maksud dan tujuan didirikannya stupa, budaya lokal, ketrampilan dari pengrajin lokal, dan keyakinan masyarakat setempat. Untuk itu, tidaklah mengherankan apabila bentuk dan gaya arsitektur stupa dapat berbeda antar negara, bahkan antar daerah dalam suatu negara. Kita dapat mengamati hal tersebut misalnya dengan cara membandingkan stupa-stupa yang terdapat di negara-negara Asia dimana ajaran Buddha pernah atau masih berkembang, misalkan India, Sri Lanka, Thailand, Kamboja, Nepal, Tibet dan Indonesia.

Pada masa hidupnya, Buddha telah memberikan gambaran tentang struktur sebuah stupa yang berbeda-beda tergantung tingkat kesucian dari orang yang akan dibuatkan stupa. Berkaitan dengan Arya Sariputra, Sang Buddha menjelaskan demikian, ‘Buatlah alas yang terdiri dari empat tingkat, yang diatasnya terdapat sebuah kubah, bre (yaitu artifak yang berbentuk persegi empat seperti harmika), sebuah ‘as roda’, dan satu, dua, tiga, atau empat sampai tiga belas payung, dan letakan juga sebuah mantel hujan’.

Ketika membangun stupa untuk Arya Sariputra, Anathapindika juga bertanya pada Sang Buddha, apakah struktur stupa tersebut juga berlaku untuk semua Arya atau hanya untuk Arya Sariputra saja. Sang Buddha menjelaskan bahwa stupa untuk seorang Tathagata harus dibuat dengan ornamen yang lebih lengkap, yaitu dengan minimal 13 payung. Untuk Pratyeka Buddha, penutup payung tidak seharusnya digunakan dan bagian-bagian lain menyerupai stupa untuk Tathagata. Stupa untuk seorang Arahat harus mempunyai 4 payung, hanya 3 untuk Anagamin, 2 untuk Sakrdagamin, dan hanya satu untuk Srotapanna. Untuk umat biasa yang penuh kebajikan, stupa dibangun tanpa payung dan as roda. Jadi jelaslah disini bahwa perbedaan struktur stupa untuk berbagai macam tingkatan orang suci, terletak pada perbedaan jumlah payung yang didirikan diatas kubah stupa.

Secara umum, alas untuk kubah stupa yang terdapat di atas permukaan tanah, terdiri atas sebuah bagian yang sering disebut dengan ‘tahta singa’ (singgasana), dan satu bagian lain di atasnya yang disebut ‘dasar 10 kebajikan’. Tahta singa dapat berbentuk segi empat atau segi delapan, dan harus sama bentuknya dengan tingkatan atau undakan yang akan diletakan diatasnya. Bagian tengah dari tahta singa ini haruslah kosong untuk menampung berbagai benda materi misalkan batu-batu berharga, bahan obat-obatan, biji-bijian, dan tanah.

Setelah meletakan berbagai macam objek religius di dalam bagian tengah yang kosong dari tahta singa tersebut, maka harus diletakan sebuah penutup tahta, yang berbentuk bunga teratai yang besar. Di atas alas teratai tersebut, dasar 10 kebajikan dan undakan diatasnya harus diletakan dengan membiarkan bagian tengahnya kosong. Bagian ini dapat diisi dengan miniatur rupang Buddha yang biasanya terbuat dari gips atau tanah liat (tsa-tsa) dan dharani sebanyak mungkin yang bisa ditampung. Dikatakan bahwa semakin banyak tsa-tsa yang disimpan didalam stupa, maka akan semakin besar kekuatan dan berkah dari stupa tersebut. Bagian kosong ini dapat juga diisi dengan abu kremasi, kitab-kitab suci, gambar-gambar dan sebagainya.

Diatas undakan dengan dasar 10 kebajikan tersebut, harus diletakan sebuah alas lagi yang juga berbentuk teratai, yang dinamakan ‘alas kubah’. Menurut penjelasan dari kitab-kitab suci, di dalam kubah dapat diletakan berbagai macam persembahan seperti tujuh macam persembahan (yaitu air minum, air pembasuh, bunga, dupa, cahaya, parfum, dan makanan) yang diatur sedemikian rupa dengan sebuah lukisan mandala sebagai alasnya. Juga dikatakan bahwa sesuai tradisi kadampa, kubah stupa juga dapat berisi kitab-kitab suci.

Payung-payung atau roda yang disusun bertingkat di atas kubah stupa, akan ditopang oleh sebuah batang atau as roda yang diatasnya dihiasi sebuah miniatur stupa dan dibawahnya mempunyai alas setengah vajra. Jumlah payung ini beragam seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Biasanya, kertas-kertas mantra atau dharani akan dilekatkan pada batang atau as roda tersebut.

Ritual Pembangunan dan Konsekrasi Stupa

Cara melakukan ritual yang berkaitan dengan pembangunan dan konsekrasi stupa dapat ditemukan dalam kitab-kitab suci buddhis, contohnya dalam versi bahasa Tibet dari dua teks utama yaitu Vimalosnisa dan Rasmivimala. Versi asli dari kedua teks ini adalah dalam bahasa Sansekerta, namun kini hilang dan tidak dapat ditemukan lagi.

Namun demikian, ritual-ritual yang dijelaskan dalam kitab suci tersebut banyak yang berkaitan dengan tradisi dan ajaran Tantra, dan hanya dapat dilakukan oleh seorang Vajra Acarya yang berkualitas, yang telah memahami arti dari berbagai mantra, mudra, dan ajaran tentang penolakan terhadap samsara, batin pencerahan (bodhicitta), dan kekosongan (sunyata). Proses pembangunan stupa dimulai dengan pemilihan tempat yang sesuai, dan berakhir dengan konsekrasi final. Untuk mensucikan bangunan stupa, di samping menyimpan relik-relik, maka dapat dimasukan gulungan-gulungan yang diatasnya tertulis mantra-mantra atau dharani.

Ingin Berpartisipasi dalam
Pembangunan Stupa?

Anda masih dapat berpartisipasi dengan


Share