Tujuh Anak Laki-laki
Menteri Mrgara

Demikian yang telah saya dengar pada suatu ketika: Buddha berdiam di kota Sravasti, biara Jetavana di Taman Anathapindika. Pada saat itu, Raja Prasenajit memiliki seorang menteri yang bernama Mrgara yang diberkahi oleh kemakmuran dan kekayaan dan memiliki tujuh orang anak laki-laki, enam diantaranya telah menikah. Anak yang termuda masih belum memiliki istri, ayahnya berpikir: "Usia tua telah datang padaku dan kematian telah mendekat. Saya harus mencari seorang istri yang baik untuk anak bungsuku."

Suatu hari ketika Menteri Mrgara bertemu seorang brahmin yang merupakan temannya, dia berkata: "Brahmin, saya belum mencarikan seorang istri untuk anak bungsuku dan sekarang saya tidak tahu kepada siapa saya harus bertanya. Karena engkau bertemu dengan orang-orang banyak, carikanlah seorang istri untuk anakku. Dia haruslah bajik dan baik, bijaksana, pintar dan cantik. Saya akan membalas kebaikanmu."

Brahmin itu setuju, dan ketika dia bertemu dengan orang-orang yang berbeda dia datang ke tanah yang bernama Sridikta yang mana dia melihat 500 gadis sedang bermain, mengumpulkan bunga dan membuat persembahan kepada Buddha. Brahmin mengikuti mereka dan melihat. Ketika para gadis itu pergi ke sungai kecil, dia memperhatikan bahwa semua dari mereka, kecuali satu orang, melepaskan sepatu ketika menyeberang. Ketika mereka datang ke sungai, semua gadis melepaskan pakaian mereka sebelum menyebrang, tapi gadis itu tidak. Kemudian, para gadis itu datang ke hutan dan memanjat pohon untuk memetik bunga, sedangkan gadis itu tetap di tanah dan mengumpulkan lebih banyak dibandingkan dengan yang lain. Oleh karena itu brahmin mendekati gadis itu dan berkata: "Anakku, saya ingin bertanya kepadamu sebuah pertanyaan dan apakah engkau bersedia untuk menjawabnya dengan tepat."

Gadis itu berkata: "Tanyalah apapun yang engkau mau."

Brahmin itu berkata: "Ketika para gadis sedang menyebrangi aliran sungai, semuanya melepaskan sepatu kecuali engkau. Mengapa demikian?"

Gadis itu berkata: "Brahmin, itu sulit untuk dijawab - ketika seseorang berjalan di tanah yang kering dia dapat melihat semua duri, batu, dan penghalang yang lain dan dapat menghindarinya. Tetapi jika terdapat serpihan, kadal beracun atau ular di dalam air, seseorang tidak dapat melihatnya. Saya tetap menggunakan sepatuku sehingga saya tidak akan menginjak benda-benda itu dan tidak melukai kakiku."

Brahmin itu kemudian bertanya: "Ketika gadis yang lain menyebrangi sungai mereka menggulungkan pakaian atau melepaskannya, tetapi engkau tidak melakukannya. Mengapa?"

Gadis itu menjawab: "Tubuh seseorang memiliki tanda yang indah dan buruk di tubuhnya. Jika seseorang mengangkat pakaiannya dan orang lain melihat tanda-tanda yang menarik, mereka tidak berkata apapun, tetapi jika mereka melihat tanda yang buruk, mereka menertawakannya. Ini adalah alasan mengapa saya tidak mengangkat pakaianku."

Brahmin itu berkata: "Sangat baik, sekarang, ketika gadis yang lain memanjat pohon untuk mengumpulkan bunga, engkau tetap di tanah. Mengapa demikian?"

Gadis itu berkata: "Karena jika seseorang memanjat pohon dan rantingnya patah, orang itu akan jatuh dan terluka."

Sekarang, ayah gadis itu adalah adik Raja Prasenajit, yang telah melakukan pelanggaran dan telah dibuang. Dia datang ke negeri ini, di mana dia telah menikahi seorang gadis yang bernama Anuradha yang melahirkan seorang anak perempuan.

Brahmin itu berkata: "Anakku, engkau cerdas dan jujur. Saya ingin bertemu dengan orang tuamu." Gadis itu setuju, dan ketika mereka sampai di rumahnya, dia masuk kedalam dan memberitahu ayahnya bahwa seorang brahmin ada di luar sedang menunggu.

Ayahnya keluar, menyambut brahmin, memperkenalkan diri, dan setelah itu mereka beramah tamah, brahmin itu bertanya apakah gadis manis itu adalah anaknya dan apakah gadis itu telah bertunangan. Ketika diberitahu bahwa gadis itu belum bertunangan, brahmin itu bertanya apakah pria itu mengenal seorang menteri di kota Sravasti yang bernama Mrgara. Pria itu menjawab: "Ya, kami dan Menteri Mrgara adalah sekeluarga."

Brahmin itu kemudian berkata: "Menteri itu memiliki tujuh anak laki-laki, yang termuda sangat tampan. Jika engkau diminta untuk menikahkan anak perempuanmu dengannya, apakah engkau akan mengizinkannya?"

Pria itu menjawab: "Menteri dari keluarga bangsawan. Jika, seperti yang engkau katakan, dia melamar anak perempuanku, saya akan menerimanya."

Ketika brahmin itu kembali dan melaporkan apa yang telah terjadi, Mrgara menunggang kuda dengan kereta dan rombongan pergi ke Sridikta untuk membawa pengantin wanita. Ketika mereka sudah dekat, mereka mengirim pembawa pesan untuk mengabari kedatangannya. Ayah gadis itu menyiapkan makan besar untuk melepas pengantin wanita.

Pada akhir pesta, ketika semua orang telah makan dan terhibur dan pesta pernikahan akan segera berakhir, ibu gadis itu berkata kepada anaknya sebagai wakil dari semua orang: "Anakku, sejak hari ini engkau harus menggunakan hanya pakaian yang terbaik dan makan hanya makanan terbaik. Setiap hari, tanpa kecuali, engkau harus bercermin."

Ketika gadis ini menyetujui untuk melakukan hal ini, keluarga suaminya menjadi tidak senang dan berpikir dalam diri mereka sendiri: "Tidak setiap hari adalah hari libur. Mengapa dia harus selalu mengenakan baju yang indah dan makan makanan lezat? Dan mengapa dia harus bercermin setiap hari?" Menggerutu, mereka menyelesaikan makan malam dan kembali ke rumah.

Selama perjalanan mereka melewati sebuah paviliun yang indah dan menyenangkan, dan ketika ayah mertuanya tiba pertama kali, dia masuk dan duduk untuk beristirahat. Segera setelah pengantin wanita sampai, dia berkata kepada ayah mertua: "Engkau tidak boleh tinggal di bangunan ini. Saya mohon kepadamu untuk meninggalkan tempat ini dengan segera."

Semuanya keluar, kecuali satu orang dari keluarga suami, yang tetap duduk di sana. Tiba-tiba, kuda-kuda dan lembu-lembu menggesek-gesek salah satu tiang, bangunan itu runtuh, dan pria yang duduk di dalam itu terbunuh. Ayah mertuanya berpikir: "Gadis ini telah menyelamatkan saya dari kematian." Oleh karena itu ayah mertuanya sangat menyukainya.

Ketika mereka dalam perjalanan mereka sampai pada sebuah palung sungai dan duduk untuk beristirahat. Ketika gadis menantunya tiba, dia berteriak: "Jangan duduk di sana! Segeralah pergi, saya mohon pada kalian!" Orang-orang segera pindah dan pada saat itu, tiba turun hujan lebat dan banjir yang memenuhi palung sungai itu.

Ayah mertuanya kembali berpikir: "Ini adalah kedua kalinya gadis ini telah menyelamatkanku dari bencana."

Terus berjalan, mereka akhirnya sampai di negeri mereka dan mengundang semua saudara untuk pesta makan besar dan bergembira. Ketika para tamu telah tiba, ayah mertua mengumpulkan keluarganya dan berkata: "Saya telah tua, dan saya tidak akan lama lagi dapat mengurus masalah-masalahku. Saya harus menyerahkannya kepada kalian. Kepada siapa saya harus mempercayakan pengaturan barang-barang, harta benda, dan kunci-kunci?" Keenam menantu perempuannya berkata bahwa mereka tidak bisa mengambil tanggung jawab itu, tapi menantu perempuan yang baru berkata bahwa dia bersedia, dan dia diberikan tanggung jawab rumah tangga.

Dia bangun lebih dulu setiap pagi, membersihkan istana dan memercikannya dengan air, mempersiapkan makanan yang pertama kali dia berikan kepada ayah dan ibu mertuanya, kemudian kepada yang lebih tua, kemudian anak-anak dan pelayan, dan dia hanya akan makan ketika semuanya telah selesai. Menteri itu berpikir: "Gadis ini tidak seperti menantu perempuanku yang lainnya. Dia juga tidak melaksanakan apa yang ibunya perintahkan padanya."

Dia bertanya kepadanya: "Anakku, apakah artinya ketika ibumu memberitahu bahwa engkau harus selalu menggunakan pakaian terbaik, selalu makan makanan terbaik, dan selalu bercermin?”

Gadis itu berlutut dan berkata: "Ketika ibuku berkata untuk mengenakan pakaian terbaik, itu berarti merawat pakaian terbaikku dan hanya menggunakan mereka ketika tamu datang. Untuk memakan makanan terbaik artinya makan setelah semua orang telah selesai, karena itu terasa lebih baik. Untuk bercermin setiap hari tidak berarti untuk melihat di cermin perunggu atau besi, tetapi bangun lebih awal di pagi hari, membereskan bagian dalam dan luar, memercikkan air, dan mempersiapkan kursi dan meja. Inilah yang dimaksud oleh ibuku."

Pada suatu kejadian, seekor burung terbang melewati lautan dan membawa beras di paruhnya yang dijatuhkan ke istana raja itu. Seseorang menemukan beras itu dan membawanya kepada raja, menurut Raja bahwa beras sebaik ini pastilah obat yang sangat mujarab. Beliau memerintahkan untuk menanam dan memperbanyak beras itu, Raja memberikan beberapa kepada menteri Mrgara, yang membawanya pulang dan memberikan kepada menantu perempuannya untuk ditanam. Dia, kemudian, memberikan kepada pelayan dan memberitahu mereka untuk mengolah tanahnya dengan tepat, menanamnya, dan mengolahnya. Hal ini dilakukan dan padi itu tumbuh dan berlipat ganda. Orang lain yang diberikan beras itu dan tidak mengolah tanahnya tidak memperoleh panen.

Pada suatu ketika ratu sakit. Tabib memeriksa dan melaporkan kepada raja: "Yang Mulia, satu-satunya obat yang akan menyelamatkan sang ratu adalah salah satu jenis beras yang berasal dari seberang lautan."

Sang Raja mengingat bahwa dia telah memberikan beras jenis itu kepada berbagai orang untuk ditanam, dan bertanya kepada mereka apakah padi itu telah tumbuh. Beberapa berkata bahwa itu tidak akan tumbuh. Yang lain berkata bahwa pencuri telah mencurinya. Tetapi ketika Mrgara pulang kerumah dan bertanya kepada menantu perempuannya apakah dia telah menanam padi itu, Menteri Mrgara menjelaskan bahwa beras itu dibutuhkan sang ratu sebagai obat, menantu perempuan memberitahu bahwa padi itu tumbuh sangat baik dan cukup untuk memberi makan seluruh negeri. Menteri itu kemudian membawa beras itu kepada Raja, Raja senang dan memberinya hadiah.

Pada saat itu, Raja Prasenajit dan Raja Sridikta saling tidak menyukai dan berkelahi terus menerus. Pada suatu ketika, Raja Sridikta memutuskan untuk menguji apakah Raja Prasenajit memiliki seorang menteri yang bijaksana, cerdas, dan jujur atau tidak. Untuk melakukan hal ini, Raja Sridikta mengirimkan dua ekor kuda betina yang identik dan bertanya yang mana induk dan mana yang anaknya. Sang raja memanggil semua menterinya bersama-sama dan berdiskusi dengan mereka, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa memberitahukannya.

Ketika Mrgara datang kembali ke rumah dari istana dan memberitahu apa yang telah terjadi, menantunya berkata: "Hal itu tidaklah sulit. Ikatlah dua kuda betina itu bersama-sama dan berilah mereka makan jerami yang baik. Ibunya akan memberikan jerami terbaik untuk anaknya." Menteri itu melaporkan hal ini kepada sang raja, kuda-kuda itu diikat bersama, dan hal itu terjadi seperti apa yang dikatakan menantunya.

Kemudian raja di Sridikta mengirim dua ular yang identik dan bertanya mana yang jantan dan mana yang betina. Raja Prasenajit kembali memanggil menteri-menterinya, tetapi mereka tidak dapat memecahkan masalah itu.

Ketika Mrgara kembali ke rumah dan memberitahu hal ini, menantunya berkata: "Hal ini sangat mudah. Sebarkanlah sepotong kain halus dan tempatkan ular-ular itu diatasnya. Ular jantan akan merayap di belakang dan depan, tetapi betina tidak akan bergerak. Hal itu karena ular betina suka berbaring di permukaan terang dan halus, sedangkan yang jantan menyukai permukaan kasar dan keras.” Hal ini dilaporkan kepada sang raja, dan sekali lagi hal itu terjadi seperti yang dikatakan gadis itu. Lagi, Raja Prasenajit memberi penghargaan kepada menterinya.

Raja di Sridikta kemudian mengirim dua galah kayu yang memiliki panjang dua depa, memiliki ukuran yang sama, tidak kasar maupun lembut, tidak tebal maupun tipis, tanpa ujung yang jelas ataupun dasar. Kembali para menteri tidak bisa menjawab masalah itu, tetapi ketika Mrgara bertanya kepada menantunya, dia berkata: "Hal itu tidak sulit. Taruhlah galah itu di air. Bagian atasnya akan mengapung, bagian dasarnya akan tenggelam."

Hal ini dilakukan, kembali, ini terjadi sesuai dengan apa yang dikatakan gadis itu, dan menteri itu kembali diberi penghargaan. Pembawa pesan kemudian kembali ke raja di Sridikta dan melaporkannya. Raja, melihat bahwa menteri Raja Prasenajit sangat cerdas, mengirim seorang pembawa pesan dengan banyak benda berharga dan pesan: "Marilah sekarang kita hidup dalam damai," dan Raja Prasenajit berbahagia.

Kemudian Raja Prasenajit menanyakan kepada menterinya bagaimana dia mengetahui hal-hal ini. Menteri itu menjawab bahwa dia tidak tahu, itu adalah menantunya yang mengetahuinya. Raja sangat senang dan berkata bahwa gadis itu akan dianggap sebagai adik perempuannya.

Gadis itu mengandung, dan ketika sembilan bulan telah berlalu dia melahirkan 32 telur dan dari 32 telur itu lahirlah 32 anak laki-laki yang tampan dan menarik. Ketika mereka tumbuh, setiap anaknya lebih gagah daripada 1000 pria. Meskipun ayahnya menyenangi dan mencintai mereka, semua orang di negeri itu sangat takut terhadap mereka. Pada suatu ketika, para pengantin wanita dilamar untuk mereka.

Pada suatu kejadian ibu anak-anak itu dengan batin penuh keyakinan dan kesetiaan mengundang Buddha dan Sangha dan membuat persembahan untuk mereka. Ketika Bhagava telah mengajarkan Dharma, orang-orang di rumah itu memperoleh buah pemenang arus, kecuali anak laki-laki termuda yang sedang mengendarai gajah, pergi ke kota.

Ketika menyeberangi sebuah jembatan yang terbentang di sebuah sungai dia bertemu dengan seorang putra dari kasta yang sama, tidak ada yang memberikan jalan kepada yang lain. Putra pertama menjadi marah, mendorong dengan gajahnya, dan mendesak putra menteri keluar dari jembatan. Jatuh ke sungai, kedua lengan dan kakinya patah.

Ketika dia kembali ke rumah sambil meraung dan memberitahu orang tuanya apa yang telah terjadi, menteri itu dengan menyesal berpikir: "Putra-putra ini benar-benar kuat, tapi mereka adalah teman dari raja, tidak mungkin bisa melukai mereka. Saya harus melakukan tipu muslihat.”

Kemudian dia memakaikan 32 tongkat dengan tujuh permata, menyembunyikan sebuah pedang di setiap tongkat, dan menghadiahkannya kepada anak-anak itu berkata: "Anak-anak, kalian masih muda dan senang bermain. Ini beberapa tongkat untuk bermain. Bersenang-senanglah dengan tongkat ini." Anak-anak itu senang dan menerima tongkat itu.

Menurut perintah kerajaan, orang yang datang ke menghadap raja dilarang bersenjata. Ketika anak-anak itu, membawa tongkat mereka, datang menghadap sang raja, menteri itu mencurigai: "Yang Mulia, 32 anak laki-laki ini terlalu kuat untuk anak seumur mereka, dan mereka pastilah memiliki keinginan jahat terhadap Yang Mulia."

Ketika sang raja berkata bahwa dia mempercayai mereka, menteri itu berkata: "Apa yang saya katakan itu benar. Biarlah Yang Mulia menyakinkan diri Anda sendiri apakah saya memberitahukan hal yang benar atau tidak. Dalam tongkat mereka, anak-anak itu menyembunyikan pedang dan keinginan mereka pasti jahat. Periksalah tongkat mereka."

Ketika raja membuka tongkat mereka dan menemukan pedang, dia memerintahkan anak-anak itu untuk dieksekusi. Menaruh kepala mereka di dalam sebuah kotak, dia mengirimnya kepada menantu menteri Mrgara.

Pada saat itu, ibu anak-anak itu kembali mengundang Buddha dan Sangha dan menghormati mereka di rumahnya. Ketika kotak itu yang dikirimkan oleh raja telah tiba, dia berpikir bahwa itu adalah sebuah hadiah untuk Buddha dan mulai membukanya, tetapi Buddha berkata: Bukalah itu setelah kita makan."

Ketika makanan telah dipersiapkan dan dimakan, sang Buddha mengajarkan hal berikut ini:

"Tubuh ini tidak kekal
selalu mengalami derita
kosong dan tanpa Aku
tanpa inti,
ini hanya waktu yang singkat
dengan sangat alamiah
mengikat kekotoran batin
disiksa oleh kesedihan
dipisahkan dari apa yang diinginkan
karena penderitaan
tubuh ini tidak berguna dan tidak ada manfaat
kebijaksanaan adalah dia yang mengerti hal ini."

Wanita ini mengerti, karena dia telah memperoleh buah dari tidak pernah kembali. Dia bermudita, berkeyakinan, dan beranjali, berkata kepada Buddha: "Bhagava, saya ingin melakukan empat hal. Semoga Bhagava, dengan welas asihnya, mengizinkannya. Pertama adalah menyediakan obat penyembuh, makanan dan minuman untuk para biksu yang sakit. Kedua adalah merawat para biksu yang sakit dan menyediakan gizi untuk mereka. Ketiga adalah mempersiapkan dan mempersembahkan barang kebutuhan kepada para biksu. Keempat adalah memberikan persediaan kepada para biksu yang datang dari jauh. Mengapa demikian? Hal ini karena seorang biksu yang sedang sakit, jika dia tidak memperoleh obat penyembuh, makanan, dan minuman, akan sangat sulit untuk sembuh dan hidupnya akan terancam. Jika tidak ada yang menjaga dia dan dia tidak memperoleh makanan, dia akan terpaksa keluar untuk pindapatta. Jika dia tidak memperolehnya pada waktu yang tepat dia akan marah dan penyakitnya akan sulit untuk disembuhkan. Kemudian, saya akan mempersembahakan makanan. Ketika seorang biksu datang dari jauh, jika dia telah memiliki teman atau kerabat atau tidak bersosialisasi dengan teman-teman diantara orang-orang, dia akan datang memohon, dan jika ibu rumah tangga atau orang jahat akan memperlakukannya dengan tidak pantas, kesabarannya akan habis. Dan jika seorang biksu berkelana ke sebuah negeri yang jauh dan tidak memiliki teman dan tanpa persediaan, dia akan diserang oleh binatang buas atau pencuri, dan hidupnya akan dalam bahaya. Oleh karena itu saya akan mempersembahkan barang-barang kebutuhan."

Buddha setuju dan berkata: "Benar-benar besar bajikan dari empat hal ini. Ini sama seperti membuat pesembahan kepada Buddha." Kemudian dia dan murid-muridnya kembali ke biara Jetavana.

Ketika Buddha telah berangkat, ibu itu membuka kotak itu dan menemukan kepala anak-anaknya. Karena dia telah terpisah dari kemelekatan, dia tidak merasa kesedihan dan berkata: "Ketika seorang anak laki-laki terlahir, kematian tidak terelakan. Seorang anak adalah tidak abadi dan kematian mungkin datang cepat. Sekarang, di alam manapun anak-anak ini lahir, mereka akan melalui penderitaan."

Ketika kerabat dari anak-anak mendengar apa yang terjadi, mereka menjadi marah dan berseru: "Bagaimana seorang raja yang besar membunuh anak-anak yang tidak bersalah ini? Kami akan mengumpulkan sebuah pasukan besar dan menghancurkan dia."

Setelah berdiskusi, mereka membentuk sebuah pasukan dan mengelilingi istana raja. Dengan ketakutan, raja melarikan diri dan pergi ke Buddha, dan pasukan itu mengikuti dia dan mengeliling Biara Jetavana. Ananda mengetahui bahwa Raja Prasenajit telah membunuh 32 anak, dan kerabat mereka telah mempersenjatai diri mereka dan datang. Kemudian dia berlutut di hadapan Buddha, beranjali, dan berkata: "Bhagava, apa alasan mengapa ke-32 anak ini semuanya meninggal di waktu yang sama?"

Buddha berkata: "Ananda, ini bukanlah yang pertama kali raja telah membunuh ke-32 anak wanita itu. Dengarkan dengan baik dan saya akan memberitahu mereka bagaimana mereka dibunuh pada waktu dulu.

"Ananda, pada masa lalu, 32 anak ini dilahirkan sebagai 32 pria yang saling setia dan tinggal berdekatan. Pada suatu kejadian, mereka berkumpul bersama dan mencuri seekor sapi jantan. Kemudian membawanya ke sebuah rumah wanita pengemis yang tua yang tidak memiliki anak, ketika mereka membunuh sapi jantan itu, berbahagia dan memasak dagingnya. Sebelum dia terbunuh, sapi jantan itu membuat sebuah sumpah, berkata: ‘Jika Anda membunuh saya sekarang, di masa yang akan datang, tanpa memandang engkau terlahir sebagai apapun, saya akan membunuhmu!' Pria-pria itu membunuhnya, beberapa memakan dengan merebusnya, beberapa memakan dengan memanggangnya. Wanita tua itu memakan daging sapi itu hingga kenyang dan dengan senang hati berkata kepada pria-pria itu: 'Meskipun ketika para pangeran tinggal disini semalaman, tidak satu pun dari mereka pernah memperlakukan saya sebaik ini!"

"Ananda, Raja Prasenajit adalah sapi jantan itu. 32 anak dari wanita itu adalah 32 pria yang mencuri dan membunuh sapi jantan itu. Ibu anak-anak itu adalah wanita tua itu. Hasil dari perbuatan mereka adalah selama 500 kehidupan mereka dibunuh. Karena wanita tua itu berbahagia terhadap apa yang dilakukan, dia selalu terlahir sebagai ibu dari anak-anak itu dan mengalami penderitaan. Tapi sekarang, setelah bertemu denganku, dia telah memperoleh buah."

Kemudian Ananda beranjali dan berkata: "Bhagava, apa alasan dan karena kebijakan apa, anak-anak ini terlahir di sebuah keluarga bangsawan dan dianugerahi dengan kemakmuran dan kekuatan?"

Buddha berkata: "Ananda, di masa lampau ketika Buddha Kasyapa tiba di dunia, ada seorang wanita tua yang sungguh-sungguh menghormati Tiga Permata. Dia membeli banyak bubuk wewangian, dan mencampurkannya dengan minyak, secara terus menerus meminyaki stupa. Pada suatu ketika wanita tua ini duduk di seberang jalan sedang meminyaki stupa, 32 pria itu datang dan menolongnya. Hal ini sangat membuat wanita tua itu senang dan membuat dia membuat sumpah: ‘Dengan kebajikan telah menolong saya meminyaki stupa ini dengan bubuk wewangian, semoga dimanapun kalian terlahirkan akan menjadi tampan dan menarik dan dianugerahi dengan kekuatan yang luar biasa.' Hal ini menyenangkan pria-pria ini dan mereka kembali membuat sebuah sumpah: 'Dengan kebijakan telah menolong wanita tua ini meminyaki stupa itu, dimanapun kami terlahir kembali semoga kami terlahir di kasta yang tinggi, dianugrahi dengan kemakmuran, dan semoga wanita tua ini selalu menjadi ibu kami. Semoga kami selalu bertemu dengan Buddha, mendengar Dharma, dan dengan cepat memperoleh buah. Semoga hal yang sama akan terjadi terhadap wanita tua ini.' Disebabkan oleh sumpah itu, maka mereka terlahir di kasta yang tinggi selama 500 kelahiran.

"Ananda, dia yang merupakan ibu dari anak-anak itu adalah wanita tua. Tiga puluh dua anak itu adalah 32 pria itu."

Ketika pasukan itu mendengar perkataan Buddha, kemarahan mereka mereda dan mereka berkata: "Raja itu tidak bersalah. Ini adalah buah dari perbuatan yang telah mereka lakukan sebelumnya -membunuh seekor sapi jantan. Raja Prasenajit adalah raja kita, mengapa kita harus berbuat jahat padanya?" Meletakkan tangan mereka di bawah, mereka pergi menghadap raja, mengakui kesalahan mereka, dan raja memaafkan mereka.

Buddha kemudian menjelaskan apa yang telah Beliau katakan kepada mereka, memerintahkan empat kelompok pendengar Dharma Sempurna. Ketika Beliau telah menunjukkan kepada mereka bahwa seseorang harus berusaha melakukan kebajikan dan meninggalkan semua ketidakbajikan dan karma buruk dan mengajarkan kepada mereka Empat Kebenaran Mulia, mereka percaya, memuji kata-kata Buddha, dan bermudita.

Kolofon:
Disadur dari bab 24 Sutra tentang Yang Bijak dan Yang Dungu (Sutra of the Wise and the Foolish)

Share