Sepuluh Putra Sumana

Demikian telah saya dengar pada suatu ketika Buddha sedang berdiam di Kota Sravasti di Biara Jetavana, Taman Anathapindika. Anathapindika memiliki seorang putri yang cantik yang bernama Sumana, karena ayahnya mencintai dia lebih daripada semua putrinya yang lain, dia membawa Sumana kemanapun dia pergi.

Pada suatu kejadian, Anathapindika pergi untuk menghormati Buddha dan membawa putrinya besertanya. Ketika Sumana melihat Buddha, pikiran sangat senang muncul darinya, Sumana berkeinginan untuk mengharumkan tempat tinggalNya dengan dupa. Ketika dia berdiri di depan Bhagava sambil memegang sebuah mangga ditangannya, Bhagava meminta itu darinya. Ketika gadis itu meletakkan mangga itu di atas tanganNya dan dia mencicipinya, Buddha menulis nama-nama jenis dupa yang terbaik dan memberikan nama-nama itu kepada gadis itu. Kemudian ayah dan putri itu kembali ke rumah, mereka pergi ke pasar dan membeli berbagai jenis dupa yang akan membahagiakan Buddha. Kemudian, gadis itu kembali ke Hutan Jetavana dan duduk disana setiap hari menggiling dupa.

Suatu hari raja di Tikcasri mengirim salah satu putranya ke Rajagrha. Tiba di kota itu, dia pergi ke hutan Jetavana, dia melihat gadis yang menggiling dupa, karena jatuh cinta pada gadis itu kemudian raja memutuskan untuk menikah dengannya. Dia pergi ke Raja Prasenajit untuk memohon izin, dan ketika raja Prasenajit bertanya siapakah ayah gadis itu? Raja Tikcasri memberitahu Raja Prasenajit bahwa ayahnya adalah Anathapindika.

Raja berkata: "Tidak perlu meminta izin padaku, engkau harus meminta izin pada ayah gadis itu."

Raja Tikcasri berkata: "Yang Mulia, jika engkau tidak membantuku, saya akan menculik gadis itu."

Ketika raja berkata: "Lakukanlah," Anak laki-laki itu bersama dengan rombongan menaiki gajah dan pergi ke Hutan Jetavana. Dia menculik gadis itu, meletakkannya di atas gajahnya dan pergi. Anathapindika mengejar tapi tidak dapat menangkap mereka, dan pangeran membawa gadis itu ke negerinya dan menikahinya.

Segera putri mengandung, dan ketika berbulan-bulan berlalu melahirkan 10 telur. Ketika telur menetas, seorang anak laki-laki yang tampan keluar dari masing-masing telur. Ketika anak-anak itu dewasa mereka menjadi pemburu yang berani. Suatu hari ibu mereka berkata kepada mereka: "Anak-anakku, kalian tidak boleh membunuh binatang liar."

Anak-anak itu menjawab bahwa tidak ada yang lebih mereka senangi selain memburu dan jika ibu mereka melarang mereka, itu berarti dia tidak mencintai mereka. Ibu mereka memberitahu mereka: "Ini bukanlah karena saya tidak mencintai kalian, tapi sebaliknya karena saya mencintai kalian sehingga saya ingin mencegah kalian dari melakukan perbuatan jahat. Karena kejahatan mengambil nyawa, seseorang jatuh ke dalam neraka dan dilahirkan disana sebagai seekor rusa, domba, kelinci atau beberapa jenis binatang lainnya. Seseorang menderita kematian berkali-kali di tangan dewa kematian dan pergi melalui penderitaan yang tak tertahankan. Jika kalian ingin terlepas dari penderitaan mengerikan ini, kalian harus menghindari perbuatan jahat. Inilah alasan saya mencoba mencegah kalian membunuh."

Anak-anak itu berkata: "Apa yang baru saja engkau beritahukan kepada kami; apakah engkau mendengarnya, atau engkau hanya menerkanya saja?"

Ibu itu berkata: "Saya mendengar hal itu dari Buddha."

Anak-anak itu bertanya: "Buddha? Apa artinya itu?"

Ibu itu berkata: "Anak-anakku, apakah kalian belum pernah mendengar? Putra tampan dari Raja Suddhodana, meskipun seorang raja dunia, menemukan ketidaksenangan dalam sakit, usia tua, atau kematian. Dia menjadi seorang biksu, bermeditasi di Jalan Benar dan mencapai Penerangan Sempurna. Tubuhnya 16 kubit dianugrahi dengan tanda-tanda, dia sempurna dalam tiga pengetahuan dan enam kekuatan spiritual. Dia dengan jelas mengetahui tiga masa: yang lalu, sekarang, dan yang akan datang, seperti sebuah buah myrobalan (sejenis plum) di telapak tangannya."

Ketika anak-anak itu mendengar hal ini, mereka bersukacita dan bertanya di mana Buddha berada. Ketika ibu mereka memberitahu mereka bahwa dia berdiam di kota Sravasti, mereka meminta izinnya untuk pergi. Kemudian pergi kekakeknya di Sravasti, yang membawa mereka kepada Buddha di Hutan Jetavana. Ketika anak-anak ini melihat tanda-tanda Buddha, yang muncul di hadapan mereka lebih menarik daripada imajinasi mereka, mereka sangat berbahagia. Ketika Bhagava mengajarkan mereka Dharma mereka memperoleh mata Dharma dan memohon untuk menjadi biksu. Buddha berkata: "Anak-anakku, apakah kalian memiliki izin orang tua kalian?"

Mereka belum memperoleh izin orang tuanya, Buddha berkata: "Tanpa izin orang tua, seseorang tidak diperbolehkan menjadi biksu."

Anathapindika berkata: "Bhagava, saya adalah kakek anak-anak ini dan saya mohon untuk mentahbiskan mereka."

Ketika Buddha berkata: "Mereka boleh menjadi biksu," rambut dan jambang mereka rontok dan mereka menjadi biksu. Dengan mengusahakan diri dalam Jalan, mereka segera menjadi arahat. Kesepuluh biksu ini tidak pernah terpisahkan satu sama lain, hidup dan pergi kemanapun bersama, dan orang-orang di negeri itu melihat mereka berkeyakinan.

Kemudian Ananda berkata kepada Buddha: "Bhagava, perbuatan baik apa yang sebelumnya dilakukan sepuluh orang biksu ini sehingga terlahir di kasta tinggi, bertemu denganmu, dan memperoleh tingkatan arahat? Apa alasan untuk hal ini?"

Buddha berkata: "Ananda, di masa lampau, 91 kalpa yang lalu, Buddha Visvabhuj telah datang ke dunia, menolong makhluk-makhluk, dan mencapai Nirvana. Stupa yang tak terhingga banyaknya dibangun untuk mengabadikan banyak relikNya. Hal ini terjadi begitu saja hingga suatu ketika ketika seorang wanita tua sedang memperbaiki salah satu stupa yang telah jatuh pecah, sepuluh pengembara melewati jalan itu. Melihat wanita tua itu, mereka bertanya apa yang sedang dia lakukan. Dia memberitahu mereka: 'Stupa ini adalah tempat persembahan. Jika saya memperbaikinya, saya akan memperoleh buah dari kebajikan yang besar. 'Mendengar hal ini, pria-pria ini bersukacita dan menolong dia memperbaiki stupa. Ketika pekerjaan itu selesai, mereka membuat sebuah sumpah untuk terlahir sebagai anak wanita tua itu. Dari waktu itu sampai 91 kalpa, mereka selalu dilahirkan sebagai dewa atau menusia dan selalu bahagia dan diberkahi di tiga jalan. Apa tiga hal ini? Pertama, mereka tampan dan menarik; kedua, mereka dihormati oleh semua; dan ketiga, mereka selalu berumur panjang dan tidak pernah jatuh ke neraka. Sekarang mereka telah bertemu denganKu, semua ketidakmurnian mereka telah dibersihkan, dan mereka telah memperoleh kebahagiaan menjadi arahat. Ananda, gadis ini Sumana adalah wanita tua itu dan sepuluh arahat adalah sepuluh pria itu."

Ketika Buddha telah berkata demikian, semua percaya dan bersukacita.

Kolofon:
Disadur dari bab 47 Sutra tentang Yang Bijak dan Yang Dungu (Sutra of the Wise and the Foolish)

Share