Biksu Yasobadrika

Demikianlah yang telah kudengar, pada suatu waktu Raja Prasenajit mendengar seorang biksu membaca tulisan suci di biara dengan suara yang indah dan merdu, pasukan itu berhenti untuk mendengarkan dan bahkan kuda-kuda dan gajah-gajah berhenti dan memasang telinga mereka. Raja takjub dan bertanya: "Mengapa kuda-kuda dan gajah-gajah ini berhenti?"

Rombongannya berkata: "Karena pasukan dan kuda-kuda serta gajah-gajah ini telah terlalu senang dalam mendengarkan Kata Baik."

Raja berkata: "Bahkan binatang pun senang mendengarkan Dharma, mengapa kita manusia tidak menemukan kesenangan di dalamnya juga?"

Kemudian raja memasuki taman, turun dari gajahnya, menaruh senjatanya dan pergi menghadap Buddha. Dia menundukkan kepalanya, beranjali dan berkata: "Bhagava, siapakah biksu yang memiliki suara indah itu? Saya akan membuat persembahan untuknya sebanyak 400 koin emas."

Buddha berkata: "Yang Mulia, pertama buatlah persembahan itu, kemudian saya akan memberitahukan siapa dia, karena jika engkau bertemu dengannya terlebih dahulu, engkau tidak akan memberikan satu koin pun."

Ketika raja telah membuat hadiahnya, biksu itu dibawa dan raja melihat betapa pendek dan buruk rupanya dia, benar-benar menyesal telah memberikan uang itu. Dia berlutut kepada Buddha dan berkata: "Bhagava, tubuh biksu ini terlalu pendek dan dia benar-benar buruk rupa. Karena perbuatan baik apakah yang telah dilakukan sehingga dia memiliki suara yang begitu indah?"

"Bhagava, tubuh biksu ini terlalu pendek dan dia benar-benar buruk rupa. Karena perbuatan baik apakah yang telah dilakukan sehingga dia memiliki suara yang begitu indah?"

Buddha berkata: "Dengarkanlah baik-baik, Yang Mulia dan simpanlah dalam pikiranmu, dan saya akan menjelaskan kepadamu. Di masa lampau, ketika Buddha Kasyapa turun ke dunia untuk membantu makhluk hidup dan telah melewati Nirvana Akhir, ada seorang raja yang bernama Kalibsi yang mengumpulkan relik Buddha.

Ketika stupa sedang dibangun untuk mereka, empat raja naga datang kepada raja dalam bentuk manusia dan berkata: "Yang Mulia, stupa relik Buddha tidak dapat dibangun dari tanah, tapi dari permata."

Raja menjawab: "Tapi saya akan mendirikan sebuah stupa yang tingginya 25 yojana, dengan bentuk persegi yang lebarnya 5 yojana di setiap penjurunya. Bagaimana saya dapat mendirikan sebuah stupa yang besar seperti ini dari permata? Tidak, itu akan dibuat dari tanah."

Empat pria berkata: "Kami adalah empat raja naga. Jika engkau setuju untuk membangun stupa dari permata, kami akan menyediakan permatanya."

Mendengar hal ini, raja sangat bahagia dan berkata: "Oh, Para Raja Naga, jika kalian bersedia memberikan permatanya, itu akan sangat sempurna."

Raja naga berkata: "Di luar kota ini engkau akan menemukan empat sumber mata air besar, masing-masing di empat penjuru. Jika engkau mengambil air dari mata air sebelah timur dan membuat batu bata, batu bata itu akan berubah menjadi lapis-lazuli berwarna biru. Jika engkau membuat batu bata dari air dari mata air sebelah selatan, mereka akan menjadi emas. Dari mata air sebelah barat -perak, dan dari mata air utara -kristal."

Raja mempercayai hal itu. Dia kemudian menunjuk empat orang pengawas, masing-masing di setiap penjuru, dan mulai mengerjakan stupa. Tiga pengawas itu berkerja dengan baik dan melaksanakan pekerjaan mereka, tapi pengawas keempat malas dan tidak melakukannya. Ketika raja datang untuk memeriksa stupa itu dan menemukan pekerjaan itu belum selesai, dia berkata kepada pengawas yang malas itu: "Engkau tidak melakukan usaha, tidak melakukan pekerjaanmu, dan engkau akan dihukum."

Hal ini membuat pria itu marah, menjawab dengan pedas: "Saya tidak memiliki karma secukupnya untuk membangun stupa yang tanpa akhir ini."

Raja berkata: "Sangat baik, cepatlah, berkerja keras, dan selesaikanlah ini."

Kemudian pria ini berkerja siang dan malam dan akhirnya menyelesaikan pekerjaan ini. Ketika stupa telah selesai dan permata itu bersinar, seniman yang malas itu melihat keindahannya, dia mengakui kesalahannya, menggantungkan sebuah bel emas di puncak stupa, dan membuat sebuah sumpah: "Di alam manapun saya dilahirkan, semoga saya memiliki suara yang merdu dan semoga semua makhluk berbahagia ketika mereka mendengarnya. Di waktu akan datang, semoga saya juga bertemu dengan Buddha Sakyamuni."

"Yang Mulia, biksu ini adalah seniman yang pada saat itu membangun salah satu sisi stupa tersebut. Karena dia tidak berharap untuk membangunnya dengan tinggi dan karena dia marah, dia selalu dilahirkan pendek dan buruk rupa. Tetapi karena kemudian dia menyelesaikan pekerjaannya dengan pikiran bahagia, menggantungkan sebuah lonceng emas di atas stupa, dan membuat sebuah sumpah, dia selalu terlahir dengan suara merdu selama 500 kehidupan dan sekarang telah bertemu dengan saya dan menjadi seorang arahat."

Kolofon:

Disadur dari bab 37 Sutra tentang Yang Bijak dan Yang Dungu (Sutra of the Wise and the Foolish)

Share