Panduan
Membuat Altar

Ārya Śāriputra tidak pernah meninggalkan sisi Sang Buddha setelah menjadi salah satu dari dua murid unggul beliau adalah akibat dari sebuah kejadian pada kehidupan sebelumnya ketika beliau memandang figur Buddha dalam kekaguman.

—Phabongkha Rinpoche

Rupang Buddha Sakyamuni

Buddha senantiasa memikirkan kebahagiaan kita, namun karena kurangnya karma baik, kita hanya mampu melihat Buddha sebagai gambar/rupang. Oleh karena itu, gambar/rupang yang diletakkan di altar rumah kita merupakan perwujudan Buddha untuk kebaikan kita agar mampu melihat kehadiran mereka serta memperoleh berkah mereka

Pentingnya Membuat Altar

Adanya altar membuat kita bisa menghimpun beragam praktik penghimpunan kebajikan yang menghasilkan beragam manfaat, misalnya

Praktik Manfaat
Membersihkan altar & ruangnya Membersihkan kotoran batin
Menempatkan tubuh, ucapan, batin Buddha Kita akan memiliki tubuh, ucapan, batin Buddha di masa akan datang
Memandang Buddha Bisa bertemu Buddha di masa akan mendatang
Menghias altar Lahir dengan fisik menarik
Membuat persembahan dengan tangan sendiri dan menyusunnya dengan indah Mendapatkan tanda fisik utama dan sekunder seorang Buddha

Selengkapnya

Cara Membuat Altar

1. Mencari ruangan yang nyaman

Mendirikan altar sama halnya dengan mengundang para Buddha & Bodhisattva untuk datang ke kediaman kita. Oleh sebab itu, altar sebaiknya ditempatkan pada ruang khusus dan dibangun dengan seindah mungkin.

Namun, jika tidak ada ruangan khusus, setidaknya, ruangan mana pun tempat altar dipasang haruslah dalam kondisi rapi, bersih, dan tenang.

2. Siapkan meja

Siapkan meja yang ketinggiannya sejajar mata untuk menyusun perlambang tubuh, ucapan, dan batin Buddha, agar memudahkan saat kita bermeditasi. Hal ini untuk menghindari kekenduran atau keterangsangan karena kita harus menunduk atau mendongak ketika menatap objek suci.

Rupang Buddha Sakyamuni
Rupang Buddha Sakyamuni Rupang Buddha Sakyamuni Rupang Buddha Sakyamuni
3. Susun perlambang tubuh, ucapan dan batin Buddha

Perlambang tubuh Buddha adalah rupang atau gambar Buddha (minimal ada 2 rupang/gambar yaitu Buddha dan Je Tsongkhapa sehingga kita ingat Buddha dan Guru).

Perlambang ucapan Buddha adalah buku Dharma, yaitu: Sutra Penyempurnaan Kebijaksanaan (Sutra Prajna Paramita) atau buku Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim).

Perlambang batin Buddha adalah stupa atau vajra–bel.

Jika kita ingin menempatkan rupang/gambar Bodhisattva, seperti Avalokitesvara atau Tara, kita bisa menempatkan Mereka di samping Buddha. Buddha harus selalu berada di tengah

4. Hias altarmu

Altar merepresentasikan seberapa besar keyakinan dan rasa bakti seorang praktisi terhadap Guru dan Triratna. Kemegahan altar beserta isinya juga merupakan perwujudan kebajikan sang praktisi.

Kita bisa meletakkan banyak persembahan makanan, bunga, lampu/pelita, batu-batuan berharga, dan lain-lainnya. Penting untuk tidak memberikan persembahan yang diperoleh dengan cara yang tidak tepat dan motivasi yang tidak murni.

Rupang Buddha Sakyamuni Rupang Buddha Sakyamuni

Cara Menghormati Altar

Sadari Buddha & Bodhisattva hadir

Kita perlu membayangkan bahwa rupang dan gambar yang ada di hadapan kita ini bukanlah benda mati. Mereka benar-benar hadir, hidup, bergerak, dan menatap kita dengan penuh rasa sayang.

Buddha tidak hanya mewujudkan diri sebagai manusia, tetapi juga mewujud sebagai patung, relik, dan sebagainya. Perwujudan Buddha yang hadir di altar rumah kita merupakan buah kebajikan kita sehingga memungkinkan kita memurnikan karma negatif dan menciptakan penyebab kebahagiaan sejati dengan memberi penghormatan, menghaturkan persembahan, dll.

Bersihkan altar setiap hari

Kita perlu membersihkan tempat di mana kita mengundang mereka untuk datang. Membersihkan altar bisa menjadi praktik yang luar biasa bermanfaat dengan motivasi yang tepat.

Pertama-tama, kita perlu mengingatkan diri sendiri alasan bersih-bersih ini, yaitu untuk membersihkan batin dari klesha dan karma buruk. Kita membayangkan bahwa debu dan kotoran yang kita bersihkan adalah kesalahan dan ketidaksempurnaan kita.

Jika kita sudah memiliki altar, tidak perlu membongkar semuanya dan memasangnya kembali. Kita cukup membersihkan altar, gambar, dan seterusnya, kemudian merenungkan apa yang mereka wakili, lalu berpikir bahwa Triratna sebenarnya ada di hadapan kita.

Haturkan persembahan kepada Triratna setiap hari

Bangkitkan motivasi yang kuat ketika menghaturkan persembahan kepada Triratna, yaitu untuk mencapai kebuddhaan untuk kebaikan semua makhluk.

Haturkan persembahan dengan penuh rasa hormat pada Triratna yang sedang berada di hadapan kita.

Ada beragam persembahan yang bisa kita haturkan pada Buddha, misalnya: persembahan air, 7 jenis persembahan, pelita, makanan, dll.

Berlindung di pagi hari dan malam hari

Tanpa berlindung, kegiatan bajik yang kita lakukan tidak dapat dikatakan sebagai praktik Buddhis. Setelah memperbaiki motivasi, kita memvisualisasikan Buddha ada dihadapan kita dalam luapan cahaya terang dan kita dikelilingi semua makhluk.

Renungkan kita dan semua makhluk mengalami penderitaan sejak waktu tak bermula dan perlu melakukan sesuatu untuk terlepas darinya. Sosok yang mampu melindungi kita telah hadir dihadapan kita dalam wujud Buddha. Bangkitkan 3 sebab berlindung dalam diri kita: takut penderitaan alam rendah, keyakinan bahwa Triratna mampu melindungi kita dari ketakutan ini, dan welas asih beliau pada semua makhluk yang sedang mengalami penderitaan. Setelah membangkitkan keyakinan, kita lafalkan bait berlindung.

Doa Tujuh Bagian, Permohonan pada Guru Silsilah, dsb.

Bagi kita yang ingin melakukan Enam Praktik Pendahuluan secara lengkap dianjurkan untuk memeditasikan Untaian bagi yang Beruntung (Jorchoy Panjang) atau Permata Hati bagi yang Beruntung (Jorchoy Pendek) setiap harinya.

Praktik ini penting dilakukan setiap harinya agar kita dapat meningkatkan kualitas dan kondisi baik sekaligus mengurangi kualitas dan kondisi buruk sehingga kebahagiaan dapat diraih dan penderitaan dapat berkurang.

Suatu ketika Manjushri bertanya pada Buddha:
“Sang Bhagava, Anda adalah satu-satunya objek para makhluk menghaturkan persembahan. Setelah Anda parinirvana, apa yang semua makhluk lakukan? Bagaimana mereka bisa mengumpulkan kebajikan jika tak bisa melihat Buddha lagi?"

Buddha kemudian menjawab:

"Tidak ada perbedaan dari menghaturkan persembahan padaku sekarang dan di masa depan. Dengan keyakinan, menghaturkan persembahan kepada refleksiku. Kebajikannya adalah setara dan hasilnya juga setara.
Ini disebabkan berkah dari Buddha.
Makhluk (biasa) yang belum berkembang tidak mengetahui hal ini dan itulah sebabnya tidak ada rupang Buddha di dunia mereka.
Di mana tidak ada rupang Buddha?
Di negara barbar terpencil dan di mana ajaran Buddha telah merosot (berhenti). Oleh karena itu, orang-orang non-Buddhis dan hewan tidak melihat rupang Buddha.

Rupang adalah perwujudan dari Buddha.”

—Teks Akar Manjughosa

Undang Triratna datang

Baca Doa Buddha di Aplikasi Sancita Baca Doa Buddha di Aplikasi Sancita
Apliasi Sancita
Aplikasi Sancita

Share