Suku kata TUTARE dalam mantram Tara menunjukkan bahwa Arya Tara membebaskan kita dari delapan bahaya luar maupun dalam (klesha). Kedelapan bahaya luar itu mengancam kehidupan atau harta kekayaan kita sedangkan kedelapan bahaya dalam (klesha) membahayakan kita secara spiritual dengan cara menyebabkan kita semakin jauh dari jalan menuju pencerahan. Setiap bahaya luar itu berpasangan dengan satu bahaya dalam (klesha)
Berikut bagaimana Tara melindungi kita dari 8 bahaya ini:

Mengembara di gunung-gunung pandangan salah akan aku,
Membubung tinggi dengan menganggap diri lebih unggul,
Ia mencakar makhluk lain dengan jijik:
Singa-kesombongan
Mohon lindungi kami dari bahaya ini!
Sebagai praktisi spiritual, salah satu bahaya terbesar yang kita hadapi adalah kesombongan. Seperti halnya seekor singa berjaya di hutan-hutan gunung, kesombongan kita mengembara di sekitar pandangan-pandangan salah akan adanya "aku” yang merupakan akar dari penderitaan kita di dalam samsara. Kesombongan itulah yang menyebabkan kita meremehkan ataupun menghina orang lain, seperti halnya cakar seekor singa menyakiti makhluk hidup lain.
Dengan pandangan salah itu, kita membandingkan diri kita dengan orang lain, kita merasa lebih unggul dari orang lain. Kesombongan itu menghalangi kita untuk mengenali keadaan yang sebenarnya karena kita merasa hidup kita begitu lancar, begitu sempurna. Sehingga kita pun tidak menyadari pentingnya mempraktikkan Dharma dan akibatnya kita tidak mengembangkan sifat-sifat baik yang baru sementara sifat-sifat baik yang sudah ada justru menjadi semakin berkurang.
Obat penawar untuk menghalau kesombongan adalah menumbuhkan kebijaksanaan dengan merenungkan topik-topik yang sulit. Ketika kita menyadari betapa terbatasnya pemahaman kita sekarang, maka hal itu akan mengurangi kesombongan kita dan membuat kita menjadi lebih rendah hati. Selain itu kita juga dapat merenungkan bahwa segala sesuatu yang kita ketahui, sekecil apapun kemampuan dan bakat yang kita miliki berasal dari kebaikan makhluk lain. Bersujud pada Sang Triratna juga membantu kita mengatasi kesombongan. Ketika sedang bernamaskara, kita merenungkan kualitas-kualitas baik dari Buddha, Dharma dan Sangha yang akan membangkitkan rasa hormat dan kagum dalam batin kita. Hal ini mengurangi segala rasa bangga yang mungkin kita miliki terhadap kemampuan-kemampuan kita sendiri dan menginspirasi kita untuk mengarahkan usaha kita dalam latihan spiritual sehingga kita dapat mempunyai kualitas-kualitas yang sama seperti Sang Triratna.
Ketika memohon kepada Arya Tara untuk menyelamatkan kita dari bahaya singa-kesombongan, sesungguhnya kita sedang memanggil Arya Tara di dalam batin kita - yaitu benih-benih kebijaksanaan dan welas asih kita sendiri. Seiring dengan bertumbuhnya kualitas-kualitas ini dalam diri kita, mereka melindungi kita dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kesombongan tersebut pada diri kita sendiri maupun pada orang lain.

Tak terkalahkan oleh kait tajam ingatan dan kewaspadaan,
Menjadi tumpul karena minuman kesenangan indera yang memabukkan,
Ia memasuki jalan yang salah dan memamerkan gading-gadingnya yang membahayakan:
Gajah- ketidaktahuan,
Mohon lindungi kami dari bahaya ini!
Penuh kekuatan dan juga tidak terkendali, seekor gajah mabuk akan menakutkan semua yang ditemuinya sepanjang jalan. Demikian pula, emosi yang tidak terkendali, yang berasal dari ketidaktahuan, membuat kita terlibat dalam berbagai tindakan salah dalam kehidupan kita sehari-hari. Sekalipun kita sedang duduk bermeditasi, batin kita tidak bisa fokus dan berlarian dari satu objek ke objek lainnya.
Ketika batin kita melekat pada kesenangan-kesenangan atas dasar ketidaktahuan, kita cenderung berusaha untuk mempertahankan kesenangan itu. Bahkan kita mungkin menghalalkan segala cara demi mempertahankan kesenangan tersebut, sehingga kita terjerumus dalam penderitaan dan kebingungan, semakin jauh dari pencerahan.
Batin yang penuh ketidaktahuan tersebut harus dikalahkan dengan ingatan dan kewaspadaan agar batin itu tetap fokus pada hal-hal yang penting untuk diperhatikan. Misalnya, dalam latihan menjaga sila, dengan ingatan kita menyadari batasan-batasan dalam sila yang kita jalani dan dalam hal ini kewaspadaan akan memeriksa apakah kita hidup sesuai dengan batasan tersebut. Contoh lainnya dalam latihan meditasi, ingatan menjaga agar konsentrasi kita tetap fokus pada objek sedangkan kewaspadaan akan memeriksa apakah kita masih tetap fokus.
Ketika memohon kepada Arya Tara untuk menyelamatkan kita dari bahaya gajah-ketidaktahuan, kita sedang memanggil kekuatan ingatan dan kewaspadaan kita sendiri. Seperti seorang penjinak gajah bijak yang mengetahui dengan ahli bagaimana menaklukkan seekor gajah liar dan mengarahkan kekuatan gajah itu untuk tujuan yang bermanfaat, demikianlah ingatan dan kewaspadaan mengarahkan konsentrasi kita pada hal-hal yang baik.

Dihembus oleh angin perhatian yang salah,
Berkobar kepulan asap tingkah laku keliru,
Ia mempunyai kekuatan untuk menghanguskan seluruh hutan kebajikan:
Api - kemarahan
Mohon lindungi kami dari bahaya ini!
Kemarahan diibaratkan seperti api karena kekuatannya yang dapat menghancurkan apa saja dengan begitu cepat, tanpa memilih-milih. Seperti api yang mengamuk membakar hutan, kemarahan disulut dari sebuah percikan, menyala semakin terbakar oleh angin perhatian salah yang membesar-besarkan keburukan orang lain.
Akibat kemarahan itu, kita kehilangan kepercayaan yang telah lama dipupuk, kita kehilangan keharmonisan yang telah lama dibina. Dengan kebencian dan kegusaran tersebut kita menyakiti diri sendiri dan orang lain. Kemarahan menghabiskan kebajikan-kebajikan yang telah kita kumpulkan sejak waktu yang lama.
Penawar untuk mengatasi kemarahan adalah dengan melatih kesabaran, yaitu kemampuan untuk menjaga batin tetap tenang meskipun menghadapi bahaya ataupun penderitaan. Kesabaran bukan berarti diam menyerah secara pasif atau mengampuni kejahatan begitu saja, akan tetapi lebih dari itu, kesabaran menghasilkan mental yang stabil mempertahankan welas asih kita kepada makhluk lain. Kita dapat memohon kepada Arya Tara untuk membantu kita mengembangkan kesabaran agar batin kita tetap tenang dan dapat mempertimbangkan berbagai macam tindakan dengan bijaksana, tanpa kekerasan ataupun kemarahan. Memohon agar beliau memberikan kekuatan kesabaran sehingga kita mampu bertindak dengan penuh keyakinan dan ketegasan namun penuh kedamaian dan welas asih.

Mengintai di kegelapan ketidaktahuan,
Tidak sanggup menerima kekayaan dan kehebatan yang lain,
Dengan segera ia mengeluarkan bisa-nya:
Ular-kecemburuan
Mohon lindungi kami dari bahaya ini
Kecemburuan berakar dari ketidaktahuan, hal itu membuat kita berpikir bahwa kita akan bahagia dengan cara menghancurkan kebahagiaan orang lain. Seperti halnya ular berbisa dapat meracuni tubuh kita yang sehat, demikianlah kecemburuan meracuni kebahagiaan kita maupun oranglain.
Kecemburuan mengambil kedamaian batin kita, karena dikuasai kecemburuan kita berusaha merusak kebahagiaan ataupun kesuksesan orang lain. Meskipun kita berhasil melakukannya, kita juga tidak akan merasa benar- benar bahagia, justru hal itu melemahkan kita dan kita tetap terikat dalam penderitaan.
Kecemburuan harus diatasi dengan membangkitkan sikap ikut bergembira atas kebahagiaan maupun kesuksesan atau keberuntungan orang lain. Bila kita mampu melatih sikap mental seperti itu, kita akan menciptakan potensi kebajikan yang besar sekali, karena seolah-olah kitalah yang telah melakukan hal-hal bermanfaat yang membawa pada kebahagiaan itu.
Sebagaimana Arya Tara digambarkan sedang menaklukkan ular, kita dapat memohon kepada Arya Tara untuk membantu kita mengatasi kecemburuan dan mengembangkan sikap ikut bergembira atas semua kebahagian orang lain.

Berkelana dalam rimba praktik tidak bermutu yang menakutkan
Dan limbah tandus kekekalan dan nihilisme,
Mereka merampok kota-kota dan tempat- tempat pertapaan yang bermanfaat dan penuh sukacita
Pencuri-pencuri- pandangan salah
Mohon lindungi kami dari bahaya ini!
Pandangan salah diibaratkan sebagai pencuri yang mengambil harta benda yang telah kita jaga baik-baik. Pandangan salah mencuri keyakinan benar yang telah kita lindungi yang merupakan dasar dari kekayaan spiritual kita.
Bila kita mengikuti pandangan salah, kita terlibat dalam latihan-latihan spiritual yang mengaku-ngaku membawa kita pada pencerahan tetapi sesungguhnya tidak. Akhirnya kita akan terdampar di gurun spiritual. Kemiskinan spiritual jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan materi, karena ia tidak hanya mempengaruhi kebahagiaan dalam kehidupan ini saja tetapi kebahagiaan dalam kehidupan- kehidupan yang akan datang. Kita mungkin terkejut menemukan betapa banyak pandangan salah yang kita pegang dan kegigihan kita untuk tetap mempertahankannya. Ketika seseorang menantang pandangan kita yang keliru, kita menjadi marah dan merasa diserang. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan spiritual kita.
Untuk mengatasi pandangan salah ini kita harus melatih kebijaksanaan dan sebagaimana Arya Tara digambarkan sedang menaklukkan para pencuri, kita dapat memohon kepada beliau untuk membebaskan kita dari pandangan-pandangan salah dan membimbing kita untuk mengembangkan kebijaksanaan.

Mengikat kita dalam penjara yang tak tertahankan
Yaitu keberadaan yang berulang-ulang tanpa kebebasan,
Rantai itu mengikat kita dalam pelukan erat nafsu keinginan:
Rantai - kekikiran
Mohon lindungi kami dari bahaya ini!
Walaupun ketidaktahuan adalah akar dari samsara (siklus keberadaan), namun yang membuat kita tetap terikat dalam penjara siklus penderitaan dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya adalah nafsu keinginan. Kekikiran bersekutu dengan nafsu keinginan, yaitu batin yang melekat pada harta benda dan tidak tahan untuk kehilangan mereka.
Mungkin kita merasa sebagai orang yang murah hati, tetapi ketika kita memeriksa sikap dan tingkah laku kita dengan lebih teliti, akan ada banyak ruang untuk meningkatkan diri kita menjadi lebih baik lagi. Mungkin antara kita ada yang mempercayai bahwa dengan semakin banyak harta, hidup kita akan semakin bahagia. Padahal kenyataannya, kemelekatan kita pada harta benda itu mengikat kita dalam penjara ketidakpuasan. Kita terus- menerus menginginkan lebih banyak lagi dan lebih baik lagi, kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah kita miliki.
Tidak melekat dan bermurah hati adalah obat penawar terhadap kekikiran. Dengan batin yang tidak melekat, kita tidak menganggap bahwa harta benda materi adalah sumber kebahagiaan yang dapat diandalkan atau sebagai simbol kesuksesan. Batin kita menjadi lebih seimbang dan kita menemukan kepuasan.
Bila kita masih diliputi kekikiran, kita dapat memohon kepada Arya Tara agar kita mampu membebaskan diri dari pelukan nafsu keinginan yang begitu kuat dan mulai belajar untuk mengikisnya dengan berpuas diri dan bersyukur atas keadaan kita saat ini.

Menghanyutkan kita dalam arus deras samsara yang begitu sulit diseberangi
Terkondisikan oleh dorongan angin karma,
Kita terlempar dalam gelombang kelahiran,
Banjir-kemelekatan
Mohon lindungi kami dari bahaya ini!
Diibaratkan seperti banjir, kemelekatan telah menghanyutkan kita dalam lautan samsara. Tenggelam dalam banjir kemelekatan, kita tidak dapat menghirup udara segar kepuasan dan kedamaian. Kita mungkin ingin menepi ke daratan, tetapi tidak melihat adanya rakit kehidupan, kita terus-menerus terhanyut tanpa terkendali. Menyeberangi arus deras samsara bukanlah hal yang mudah. Kita membutuhkan pemandu untuk menemukan jalan melalui lautan klesha yang gelap. Dharma adalah rakit kehidupan kita. Mari kita pastikan kita berpegang erat padanya dan tidak membiarkan rakit itu terapung menjauhi kita.
Ketika batin kita melekat pada sesuatu, kita terobsesi oleh objek kemelekatan tersebut, kita khawatir tidak mendapatkannya dan begitu kita telah mendapatkannya kita semakin takut akan kehilangannya.
Merenungkan ketidakkekalan adalah obat penawar terbaik terhadap kemelekatan. Melihat bahwa objek yang kita lekati itu berubah dari saat ke saat, kita mengetahui bahwa mereka tidak akan ada selamanya, suatu hari mereka akan hancur dan oleh karenanya mereka bukanlah sumber kebahagiaan yang dapat diandalkan.
Obat penawar lainnya adalah dengan merenungkan kerugian-kerugian samsara. Jika seorang narapidana berpikir bahwa berada di penjara tidaklah terlalu buruk, maka ia tidak akan tertarik untuk membebaskan dirinya dari penjara. Sama halnya, sepanjang kita merasa bahwa samsara (kelahiran berulang kali dibawah pengaruh karma dan klesha) adalah sesuatu yang nyaman, tentunya kita tidak akan mencari pembebasan.
Karena itulah, Sang Buddha, dalam ajaran-Nya mengenai Empat Kebenaran Mulia, pertama-tama meminta kita merenungkan hakikat keberadaan kita yang tidak memuaskan penuh derita dan segala penyebabnya, sehingga kita akan mencari akhir dari derita itu dan jalan menuju keadaan penuh kedamaian. Kita lahir, tua, sakit dan mati tanpa bisa memilih. Kita berusaha keras untuk mendatangkan segala sesuatu yang menyenangkan tetapi tidak selalu berhasil.
Terkadang kita berhasil, tetapi kemudian kita kecewa atau dihadang oleh lebih banyak masalah. Sedangkan kesulitan-kesulitan, yang sebisa mungkin kita hindari, datang bertubi-tubi menimpa kita. Mengenali bahwa situasi ini tidak menyenangkan, kita akan mencari pembebasan darinya dan akan ingin sekali mempraktikkan jalan menuju kebahagiaan sejati.
Ketika kita memohon kepada Aryai Tara untuk membebaskan kita dari bahaya kemelekatan, kita semakin menyadari akan ketidakkekalan, bahwa segalanya tidak ada yang abadi, sehingga kita semakin berpegang erat pada Dharma dalam kehidupan kita.

Mengembara dalam ruang kebingungan yang paling gelap
Menyiksa mereka yang berjuang untuk tujuan tertinggi
Dengan kejam ia mematikan jalan menuju pembebasan
Setan-keragu-raguan
Mohon lindungi kami dari bahaya ini!
Keragu-raguan ada berbagai jenis, tidak semuanya bersifat menghalangi. Keraguan yang penuh keingintahuan dengan batin terbuka mendorong kita untuk mempelajari, memeriksa dan memperjelas arti dari suatu ajaran. Hal itu mendukung kita dalam Jalan. Tetapi, ketika keraguan kita mengembara dalam kebingungan dan bersandar pada pandangan yang keliru, batin kita berputar-putar dalam lingkaran yang dibuatnya sendiri dan secara spiritual kita tidak mengalami kemajuan ataupun kemunduran, kita berhenti. Keraguan yang keliru ini menghabiskan waktu dan kesempatan kita untuk mencapai pembebasan. Diibaratkan seperti setan yang menghancurkan kehidupan, menghilangkan potensi seseorang yang sedang berkembang.
Batin yang berputar-putar dalam keraguan tidak dapat menuju pada Jalan pembebasan. Hal itu seperti menjahit dengan dua mata jarum, kita tidak dapat bergerak maju. Jika kita mulai melakukan suatu latihan tertentu, di pertengahan kita meragukan kemanjurannya dan berhenti melakukannya. Ketika kita mendengarkan ajaran, kita meragukan keaslian ajaran itu dan berhenti mendengarkan. Kita meragukan kemampuan kita untuk praktik, kita meragukan kemahiran guru kita untuk membimbing kita, kita meragukan Jalan yang dipraktikkan, kita meragukan keberadaan pencerahan. Tidak mendapat jalan keluar apapun akhirnya kita tidak bertambah maju sepanjang Jalan dan batin kita tetap tersiksa. Tujuan tertinggi kita, pembebasan dan Kebuddhaan telah ditaklukkan oleh setan keragu-raguan ini.
Untuk menangkal keragu-raguan, pertama-tama kita harus menghentikan pikiran-pikiran kusut yang bertentangan dan menenangkan batin kita. Meditasi pernapasan adalah cara yang baik untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak berkaitan satu sama lain dan memfokuskan batin kita. Batin yang mantap dapat membedakan hal-hal yang penting yang perlu dipertimbangkan dari pikiran-pikiran yang penuh keraguan dan tidak masuk akal.
Selanjutnya kita harus mempelajari ajaran Buddha dan belajar untuk berpikir secara logis dan jelas sehingga kita dapat menyelidiki dan mencapai kesimpulan yang tepat. Kita dapat memohon kepada Arya Tara agar membantu kita sehingga kita dapat memperjelas apa yang telah kita yakini dan mempraktikkannya dengan benar.
Oleh karena itulah, para biksu Tibet menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari debat dan mendiskusikan naskah-naskah Dharma. Struktur debat yang telah diformalkan mengajarkan kita untuk mengevaluasi ajaran-ajaran dengan jelas dan menguji kesahihannya. Hal itu juga menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran, menunjukkan apa yang telah dan belum kita pahami, dan juga menjelaskan berbagai sudut pandang yang berbeda. Meskipun kita mungkin tidak terlibat dalam debat secara formal, namun mendiskusikan topik-topik ajaran dengan sahabat-sahabat Dharma juga mempunyai tujuan yang sama. Dengan demikian kita dapat memperjelas apa yang telah kita pahami dan mulai mempraktikkannya dengan benar.
Jadi itulah kedelapan klesha yang dapat diatasi dengan berlindung kepada Arya Tara. Dalam meditasi kita dan sepanjang kehidupan pun, kita harus waspada ketika kita berada dalam pengaruh kedelapan klesha ini dan menyelidiki bagaimana cara kerja mereka. Apa penyebab mereka muncul? Bagaimana mereka berfungsi? Apa yang dihasilkan? Kemudian kita harus menemukan metode untuk mengatasinya dan menenangkan batin kita.
Untuk melepaskan diri dari kedelapan klesha, kita dapat melakukan meditasi analitik, merenungkan kerugian- kerugian mereka dan penawar bagi masing-masing klesha tersebut seperti yang telah diperinci di atas.
Kita juga dapat memvisualisasikan Arya Tara di hadapan kita, memancarkan cahaya hijau. Cahaya ini memasuki tubuh kita, memenuhi semua bagian dari tubuh dan batin kita, tanpa celah sedikitpun bagi kedelapan klesha itu maupun bagi karma buruk yang telah kita himpun di bawah pengaruh mereka.
Kita juga dapat membayangkan cahaya hijau dari Arya Tara memenuhi alam semesta dan semua makhluk yang ada di dalamnya, membebaskan mereka dari kedelapan klesha dan meningkatkan kualitas cinta kasih, welas asih dan kebijaksanaan dalam diri mereka masing-masing.
Sumber: Tulisan diambil dari buku “Dewi Tara Sang Penolong yang Welas Asih”
Catatan: Dalam Āryatārāṣṭaghoratāraṇīsūtra (Sutra Tārā yang Melindungi dari 8 bahaya), disebutkan bahwa Arya Tara memperingatkan para dewa di alam keinginan tentang kesengsaraan samsara dan menawarkan ajaran Dharma yang ringkas untuk membebaskan mereka dari bahaya. Tara memulai dengan menggambarkan secara gamblang berbagai jenis penderitaan yang dialami oleh makhluk-makhluk di masing-masing dari enam alam samsara dan kemudian menunjukkan kesia-siaan melafalkan mantra tanpa menjaga perilaku murni. Ia kemudian mendorong para pendengar untuk terlibat dalam kebajikan, yang mengakhiri samsara, dan ia menganugerahkan kepada mereka sebuah dharani yang akan membantu mereka mencapai tujuan ini, pujian atas kualitas-kualitasnya, dan permohonan untuk perlindungan yang harus mereka lafalkan. Akhirnya, ia memerintahkan para pendengar untuk membaca dan mempraktikkan ajaran tersebut dan membagikannya kepada orang lain.