Alkisah, seorang perempuan yang tua dan miskin memiliki seorang putri yang jelita. Karena tidak memiliki harta untuk mengatur pernikahannya, ia berkeliling untuk mengemis ke berbagai tempat. Ketika sampai di Nalendra, ia mendengar tentang kekayaan luar biasa yang dimiliki oleh Guru Chandrakirti dan pergi mengemis kepadanya.
Guru Chandrakirti berkata, “Karena hanya seorang biksu, saya tidak memiliki kekayaan yang besar. Sedikit harta yang saya miliki, dibutuhkan untuk keperluan kuil dan Sangha. Guru Chandragomin tinggal di rumah itu. Pergilah ke sana dan mintalah kepadanya.”
Setelah diinstruksikan demikian, ketika perempuan tua itu pergi menghadap Guru Chandragomin dan mengemis padanya, ia tidak memiliki apa-apa kecuali seperangkat jubah yang dikenakannya dan sebuah salinan Sutra Kesempurnaan Kebijaksanaan dalam Delapan Ribu (Skt.: Aṣṭasāhasrikā Prajñāpāramitā Sūtra).
Ada sebuah gambar Arya Tara yang terlukis di dinding. Tergerak oleh welas asih kepada orang miskin itu, ia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Arya Tara dengan air mata bercucuran. Lukisan itu menjadi Arya Tara yang sesungguhnya, yang kemudian melepaskan semua perhiasannya yang terbuat dari beragam batu permata—termasuk sebuah permata yang sangat berharga—dan memberikan seluruhnya kepada Guru Chandragomin.
Guru Chandragomin pun menyerahkan seluruhnya kepada perempuan tua itu. Perempuan tua itu dipenuhi rasa bahagia. Tanpa perhiasan apa pun, lukisan ini kemudian dikenal sebagai Tara Tanpa Perhiasan. Tempat-tempat yang kosong akibat perhiasan yang dilepas berubah menjadi titik-titik yang bisa menyala.
Sumber: Disadur dari Sejarah Buddhisme di India, hlm. 225-226.