Putri Yeshe Dawa

Putri Yeshe Dawa

Berkalpa-kalpa yang lalu, di alam semesta yang berbeda, di sebuah dunia yang disebut "Cahaya Aneka Warna" tempat berdiamnya Tathagata Buddha Dundubhisvara yang membabarkan Dharmanya di dunia. Salah seorang putri raja tersebut bernama Jnanacandra (Ind.: Rembulan Bijaksana, Tib.: Yeshe Dawa).

Putri ini di kemudian hari memiliki keyakinan sangat kokoh yang tak tertandingi kepada Sang Triratna dan para Bodhisattva serta para Sravaka yang tak terhitung jumlahnya. Beliau memahami sifat samsara yang tidak memuaskan dan kemudian bertekad untuk membebaskan diri dari semua penderitaan.

Seraya memikirkan bahwa semua makhluk hidup juga sama seperti ia dalam menginginkan kebahagiaan dan membebaskan diri dari penderitaan, Putri Jnanacandra mengembangkan cinta kasih dan welas asih yang tulus bagi setiap makhluk hidup tanpa terkecuali.

Putri tidak terkesima dengan kehidupan istana yang mewah, justru Ia bersumpah untuk menunjukkan Jalan menuju pembebasan bagi jutaan makhluk hidup setiap harinya sebelum ia menyantap sarapannya, bagi jutaan lebih banyak lagi makhluk hidup sebelum ia menikmati makan siangnya dan bahkan bagi lebih banyak makhluk lagi sebelum ia beristirahat di malam hari.

Laksana mentari bersinar secara berkesinambungan, demikian halnya Beliau membuat persembahan yang berlimpah-limpah kepada para Buddha dan Bodhisattva tanpa henti. Setiap hari Beliau memberikan persembahan yang tak ternilai ke sepuluh penjuru sejauh dua belas yojana (1 yojana setara dengan 15 km).

Kemudian Beliau menyadari bahwa untuk mencapai Kebuddhaan yang pertama-tama diperlukan adalah membangkitkan batin pencerahan (S: Bodhicitta). Mengetahui hal tersebut, para pemimpin spiritual istana berkata:
"Dengan akar kebajikan ini, kelak engkau akan terlahir kembali dengan tubuh seorang lelaki dan menunjukkan aktivitas-aktivitas agung sesuai Ajaran. Oleh karena itu beraspirasilah demikian. "

Akan tetapi Sang Putri menjawab:
"Di sini tiada lelaki, tiada perempuan, tiada aku, tiada seseorang, dan juga tiada kesadaran. Penamaan 'lelaki' atau 'perempuan' tidak memiliki inti sejati namun hanyalah kekeliruan batin duniawi."

Kemudian Beliau bersumpah :
"Ia yang mengidamkan pencerahan dalam tubuh lelaki sungguh tak terhitung banyaknya, namun tak satu pun yang berpraktik demi kepentingan semua makhluk dalam tubuh perempuan.

Oleh karenanya, aku akan terus-menerus menjunjung Dharma demi kepentingan semua makhluk hingga samsara ini kosong dalam kelahiran sebagai perempuan!"

Demikianlah Sang Putri berdiam di istana untuk waktu yang sangat lama, mahir dan terampil sekali dalam pengendalian diri terhadap kelima objek indria dan tekun mempraktikkan konsentrasi. Hingga akhirnya ia mencapai pemahaman agung bahwa Dharma tidak dihasilkan (Skt.: anutpattika-dharma-ksanti) dan merealisasikan samadhi 'menyelamatkan semua makhluk'.

Melalui kekuatan realisasinya ini, setiap pagi ia membebaskan jutaan makhluk dari kemelekatan duniawi dan ia tidak menikmati makan siang sampai mereka mencapai pemahaman yang setara dengannya. Begitu pula setiap malam ia melakukan hal yang persis sama.

Lama-kelamaan ia semakin dikenal sebagai Tara, Sang Pembebas.

Sang Tathagata Dundubhisvara kemudian meramalkan bahwa, "Sampai engkau mencapai pencerahan tertinggi, engkau hanya akan dikenal dengan nama Arya Tara."

Beliau menolong semua makhluk sejauh dan seluas angkasa. Beliau disebut Sang Pembebas karena membebaskan semua makhluk dari derita samsara serta bagaikan seorang ibu yang memberikan perlindungan. 

Oleh karena itulah, Beliau disebut juga Arya Tara (Tib.: Pagma Drolma), yang berarti "Sang Pembebas yang mulia". Sebutan Arya' menandakan bahwa ia telah merealisasikan langsung hakikat dari kesunyataan dan sebutan 'Tara' menunjukkan aktivitas ia yang membebaskan.


Sumber: Cerita diambil dari buku “Dewi Tara Sang Penolong yang Welas Asih” 



Share