Barangsiapa yang melakukan pradaksina atau memberikan persembahan kepada Stupa akan diberkati oleh para Tathagata, mencapai pencerahan tertinggi melalui jalan yang tidak kembali, dan menyucikan semua rintangan karmanya.
—Sutra Sinar Cahaya Mulia yang Tak Bernoda
PRADAKSINA (Skt.: pradakṣiṇa; Pal.: padakkhiṇā) adalah praktik mengelilingi objek pemujaan untuk memberikan penghormatan, menunjukkan bakti, mengolah pikiran, dan mengumpulkan kebajikan.
Beberapa kali ketika mengajar, Buddha menyebutkan bahwa pradaksina dapat memurnikan karma negatif dan memastikan kelahiran kembali yang baik.
Objek pradaksina di antaranya adalah stupa, candi, rupang, gunung suci, bahkan orang suci. Sang Buddha sendiri pernah menjadi objek pradaksina oleh para tetua klannya sebagai bentuk penghormatan ketika Beliau sedang berkunjung ke rumah leluhurnya di Kapilavastu.
Buddha pernah menjelaskan kepada Sariputra mengenai manfaat dari melakukan pradaksina kepada stupa, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
Baca juga: Manfaat membangun Stupa
Perumah tangga Srija bisa mencapai tingkat Arahat karena memiliki akar kebajikan yang berasal dari tindakannya pada kehidupan lampau. Ia pernah terlahir sebagai seekor lalat dan tidak sengaja mengelilingi sebuah stupa. Saat itu, ia hinggap di kotoran hewan yang terbawa air hujan dan kotoran tersebut mengelilingi stupa.
Kisah lainnya, ada seekor babi yang mengitari stupa ketika dikejar anjing. Setelah babi itu mati, ia dilahirkan kembali sebagai dewa.
Bahkan, dikatakan dalam Tantra Akar Manjushrimitra bahwa siapapun yang bersentuhan dengan stupa akan mengembangkan kebijaksanaan dan umur panjang, ketika mereka meninggal, mereka akan terlahir di alam tinggi dalam keluarga bangsawan, tak akan pernah terlahir di alam rendah.
Back:
Panduan Kebajikan
Next:
Fangsheng