FREQUENTLY
ASKED QUESTIONS

Apabila Anda memiliki pertanyaan lain, bergabung dengan komunitas kami untuk berbincang dengan praktisi senior.

Buddha merupakan seorang Guru Agung. Beliau menemukan cara untuk mengatasi penderitaan dan berkeinginan untuk membantu semua makhluk untuk belajar dan menerapkan cara tersebut agar semua makhluk pun menjadi sama seperti beliau, bebas dari penderitaan.

Buddha sadar, bahwa semua makhluk sedang dan akan terus menerus mengalami penderitaan. Penderitaan tersebut walaupun tampaknya diluar, namun akarnya berada di batin masing-masing makhluk. Namun, batin kita tidak bisa melihat itu dikarenakan masih diselimuti oleh klesha (kekotoran batin). Jadi Buddha ingin memberitahukan apa yang beliau sadari agar semua makhluk dapat sadar seperti beliau.

Buddha mengajarkan kita untuk melihat fenomena sedemikian adanya. Saat ini kita tidak bisa melihat fenomena sedemikian adanya dikarenakan kita masih dipengaruhi karma dan klesha (kekotoran batin). Oleh karena itu, sebagian besar ajaran Buddha adalah melihat ke dalam batin diri sendiri, serta cara untuk mengatasi klesha kita

Ketika kita sakit kronis, tentunya kita akan mencari dokter yang mahir dan obat yang manjur. Sama halnya dengan kita saat ini, kita sedang sakit batin yang kronis yang nampak dengan banyaknya penderitaan, baik yang kecil maupun yang besar, yang kita rasakan. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita mencari “obat batin” (Dharma Sang Buddha) untuk dapat menyembuhkan sakit kronis kita.

Dharma Sang Buddha layaknya obat, yang tentunya dapat menyembuhkan penyakit yang kita punya asalkan dikonsumsi sesuai dosis. Jika terlalu banyak bisa over-dosis, jika terlalu sedikit maka tidak akan mempan untuk menyembuhkan penyakit kita.

Buddhisme berfokus pada perkembangan batin. Karena sudah diajarkan 2500 tahun lebih oleh Buddha, ada yang menggolongkan Dharma sebagai filosofi, ada yang melihat Dharma sebagai cara pandang, dan ada pula yang mengklasifikasikan Dharma sebagai agama untuk kebutuhan identitas di zaman sekarang.

Tidak perlu mempermasalahkan penggolongan tersebut, Dharma Sang Buddha bersifat universal kepada semua makhluk tanpa memandang pilihan agama, pandangan filosofis apa yang dianut, ataupun cara pandang yang dijalani sepanjang hidupnya. Selama Dharma dapat memberikan dampak positif untuk perkembangan batin dan perilaku sehari-hari, silakan dipelajari, direnungkan, dan dimeditasikan.

Tentu boleh, ajaran Buddha boleh dipelajari siapapun. Namun untuk dapat mendapatkan manfaat maksimal, kita perlu membangkitkan motivasi yang baik dan menghindari kesalahan belajar Dharma, misalnya belajar untuk menguji ajaran atau pengajarnya, belajar tak fokus, belajar tanpa merenungkan maknanya, belajar dan melupakannya, dll.

Tentu saja bisa. Tidak selalu harus berpindah agama, karena tujuan dari belajar Ajaran Buddha/Dharma adalah untuk melatih batin. Namun, yang perlu diperhatikan adalah kelas Dharma tentunya menggunakan sudut pandang Ajaran Buddha, sehingga mungkin akan ada perbedaan sudut pandang dengan agama dan kepercayaan lainnya.

Secara hukum, tentu saja dengan menyatakan berlindung pada Buddha, Dharma, dan Sangha; serta mengurus perpindahan agama di kantor pemerintahan terkait. Namun, lebih dari sebatas hukum, persoalan Buddhis yang jauh lebih mendalam adalah bagaimana mendorong diri menjadi jauh lebih baik setelah menjadi Buddhis. Untuk itu, penting melalui proses pembelajaran Buddhis yang luas dan mendalam; misalnya praktik berlindung tidak hanya sebatas ucapan di mulut saja, namun juga dilandasi pengertian dan pemahaman yang mendalam.

Buddha mengajar sesuai dengan kebutuhan pendengar/murid-Nya. Oleh karena itu, sangat mungkin terjadinya multi tafsir terhadap apa yang diajarkan oleh Buddha karena masing-masing pendengar mencerap apa yang dibutuhkannya. Namun, perlu diperhatikan bahwa multi tafsir ini bukan berarti Ajaran Buddha bertentangan satu dengan lainnya, hanya saja ada penekanan-penekanan yang berbeda karena proses pencerapan masing-masing murid tersebut. Yang pasti adalah Ajaran Buddha tujuannya satu, hanya saja jalannya berbeda-beda, waktu tempuhnya juga berbeda-beda, dan penekanan praktiknya juga berbeda-beda.

Lamrim berarti “Tahapan Jalan Menuju Pencerahan”. Keseluruhan Dharma Sang Buddha yang begitu luas dan mendalam, dikelompokkan menjadi topik-topik yang sesuai untuk dijalankan oleh makhluk motivasi awal (mencapai kebahagiaan di kehidupan mendatang), menengah (mencapai kebahagiaan sejati untuk diri sendiri), dan agung (mencapai kebahagiaan sejati untuk semua makhluk). Tanpa adanya penyimpangan dari Dharma asli yang diajarkan oleh Sang Buddha, Lamrim benar-benar membimbing praktisi Dharma memahami Ajaran Buddha sejak langkah pertama hingga sampai pada tingkatan Kebuddhaan.

Lamrim merupakan pembelajaran pendahuluan sebelum masuk ke dalam Jalan Tantra. Tanpa melalui pembelajaran bertahap Ajaran Buddha, Tantra dapat menjadi senjata makan tuan jika seorang praktisi tidak siap dalam memasuki jalan. Oleh karena itu, sangatlah dianjurkan untuk belajar Lamrim terlebih dahulu sebelum terburu-buru memasuki Jalan Tantra.

Di sinilah Lamrim (Jalan Bertahap Menuju Pencerahan), mengambil peranan penting. Ketika Guru Atisha kembali dari Sriwijaya dan meneruskan aktivitas agungnya di Tibet, beliau mendirikan sebuah tradisi yang dikenal dengan nama Kadam. Secara harfiah, istilah ini bermakna menerapkan instruksi Buddha sebagai praktik pribadi. Dengan kata lain, semua teori dan filsafat yang diajarkan oleh Buddha tidak boleh hanya berhenti sebagai bekal intelektual saja, tetapi juga mesti dijadikan panduan dalam menapaki kehidupan sehari-hari dan menyibak lapisan-lapisan masalah yang terus-menerus muncul dalam hidup.

Sifat praktis dari tradisi Kadam inilah, dengan penempatan individu sebagai subjek sekaligus objek analisis, yang menjadi alasan pertama mengapa ia layak dijadikan jalan bertahap. Buddhisme sendiri telah menekankan bahwa perubahan hanya bisa muncul secara berarti jika diawali dari diri sendiri.

Setelah kita dapat melihat ternyata penderitaan yang kita alami ternyata bisa dan mungkin untuk dihentikan dengan belajar, merenung, meditasi dan praktik Dharma; tentunya kita akan merasa sangat bahagia bagaikan mendapatkan obat yang paling manjur. Kebahagiaan kita ini tentunya ingin pula dirasakan oleh semua makhluk, namun sayangnya semua makhluk belum tentu memiliki kesempatan dan dorongan untuk belajar Dharma. Oleh karena itu, didasari welas asih kepada semua makhluk, kita beraspirasi untuk mengambil tanggung jawab memastikan semua makhluk dapat bertemu dan belajar Dharma, bagaimanapun caranya, apapun halangannya, dan seberapa lama pun waktu yang dibutuhkan.

Tentu saja bisa, dalam Ajaran Buddha, tidak ada batasan jenis kelamin dalam belajar dan berpraktik Dharma.

Memang benar jika perempuan memiliki halangan lebih besar dalam berpraktik Dharma, seperti sulit untuk meditasi/retret seorang diri karena faktor keamanan, adanya halangan fisik berupa haid setiap bulannya yang mungkin akan menghambat proses belajar/meditasi dikarenakan sakit, dll. Namun, seorang perempuan tetap memiliki kesempatan dan kesetaraan dalam mencapai tujuan tertinggi Kebuddhaan.