Selama sepuluh juta kalpa sebanyak butiran pasir di sungai gangga
Aku melayani dengan batin yang murni dengan mempersembahkan
Makanan dan minuman, payung-payung mulia,
panji-panji, dan prosesi pelita kepada sepuluh ribu miliar Buddha.
Jauh lebih besar kebajikan seseorang yang mempraktikkan
Latihan [sila] tunggal siang dan malam,
Pada saat ajaran mahamulia sedang menuju kemusnahan
Dan ajaran Sugata mendekati akhir.
—Samadhi-raja-sutra
ASTASILA (Pal.: Aṭṭhaṅgasīla, Aṭṭhasīla; Skt.: Aṣṭaśīla) atau yang biasa dikenal dengan Ikrar Uposatha Mahayana adalah praktik melatih diri dengan mengambil delapan sila (disiplin moralitas).
Buddha menganjurkan para biksu dan perumah tangga untuk melakukan praktik 8 sila ini di hari Upavastha (Pal.: Uposatha; Skt.: Upavasatha), yaitu hari saat fase bulan mati dan purnama, dan juga di hari peringatan penting Buddhis seperti Saka Dawa (Waisak), Chotrul Duchen, Chokor Duchen (Asadha), Lhabab Duchen, dan lainnya.
Dalam berbagai Sutra, Buddha menjelaskan bahwa mempraktikkan sila, khususnya Astasila Mahayana memiliki banyak manfaat yang luar biasa, antara lain:
Dalam Sutra Raja Samadhi, Buddha mengatakan bahwa di masa kemerosotan (Skt.: Kaliyuga) ketika Dharma suci, ajaran Sang Tathagata, hampir punah; kebajikan dari melakukan sila selama sehari lebih besar daripada mempersembahkan payung-payung, panji kemenangan, pelita, dan permata kepada seratus milyar Buddha selama berkalpa-kalpa sebanyak butiran pasir di Sungai Gangga.
Bahkan, jika seseorang yang mempunyai cukup banyak permata pengabul harapan untuk memenuhi angkasa, tetapi tidak menjalankan bahkan satu sila pun; maka ia tidak dapat mencapai kelahiran kembali sebagai manusia atau dewa, tidak dapat mempraktikkan Dharma, tidak mencapai salah satu dari tiga tujuan agung (kelahiran kembali di alam yang baik, pembebasan, atau pencerahan), dan tidak dapat menikmati lingkungan serta kenyamanan-kenyamanan yang baik.
Bila seseorang mempraktikkan kebajikan yang murni di alam-alam suci para Buddha selama berkalpa-kalpa, nilai kebajikan yang terkumpulkan tidaklah sebesar yang diperoleh dengan mempraktikkan kebajikan di alam yang tak murni selama satu jentikan jari.
Di dalam sutra-sutra, Buddha menjelaskan bahwa bila naga terganas sekali pun, yaitu naga hitam raksasa, tidak dapat mencelakai mereka yang hidup di dalam kemurnian sila. Maka tak perlu diragukan lagi, makhluk-makhluk lainnya tidak akan dapat mencelakai mereka. Cara yang terbaik untuk melindungi kita dari bahaya-bahaya eksternal adalah dengan mempertahankan sila di dalam diri kita.
Hidup di dalam kemurnian sila akan membawa kedamaian dan kebahagiaan. Manfaat-manfaat sila dapat dijelaskan tak terhitung banyaknya. Sebaliknya, sebagaimana orang buta tidak dapat melihat bentuk, orang yang hidup tanpa sila-sila tidak dapat mencapai pembebasan.
Buddha Maitreya telah berjanji bahwa siapa pun yang dengan penuh bakti mendengarkan ajaran Guru Buddha Sakyamuni dan menjalankan Astasila Mahayana, ia akan terlahir di antara para pengikutnya sebagai seorang murid.
Karena itu, bila seseorang ingin mengakhiri penderitaan samsara di masa yang akan datang dengan bertemu ajaran Buddha Maitreya, maka saat ini selagi ia memiliki tubuh manusia yang berharga ini—yang terberkahi dengan delapan kebebasan dan sepuluh keberuntungan—serta telah bertemu dengan ajaran Buddha dan para Guru Mahayana, sangatlah bermanfaat baginya untuk mengambil dan mempertahankan Astasila Mahayana.
Baik siang ataupun malam, para dewa yang menyukai kebajikan akan melindungi seseorang yang menjaga Astasila Mahayana dengan baik selama seseorang mempertahankan sila tersebut.
Kebajikan yang dikumpulkan oleh seseorang yang menjaga Astasila Mahayana sangatlah kuat. Jika orang yang hidup dalam kemurnian sila mempersembahkan kepada Triratna setetes mentega yang hanya cukup untuk menutupi ujung sebuah jarum, maka ia akan menciptakan nilai kebajikan yang jauh lebih besar daripada seseorang yang mempersembahkan mentega seluas samudra kepada Triratna, namun tidak menjalani sila.
Nilai kebajikan yang dikumpulkan selama berkalpa-kalpa oleh orang tidak menjalankan Sila Upavasatha Mahayana tidak dapat dibandingkan dengan nilai kebajikan yang dikumpulkan dalam waktu singkat oleh seseorang yang menjalankan Sila Upavasatha Mahayana.
Pada masa kemerosotan ini, seseorang yang mengambil dan mempertahankan kemurnian Astasila Mahayana, pasti akan mendapatkan apa pun yang ia doakan.
Seseorang yang melaksanakan Astasila Mahayana akan menjadi ladang kebajikan bagi makhluk lain, yaitu dengan menjadi objek yang mulia bagi persembahan-persembahan, namaskara, dan sebagainya. Semakin banyak jumlah sila yang dijaga, semakin besar dan semakin kuat pula nilai kebajikan yang akan diperoleh makhluk lain ketika mereka melakukan kebajikan terhadap orang tersebut.
Bahkan, ada suatu cerita tentang seekor ular yang terbakar oleh api yang terlahir kembali menjadi manusia karena disiram air dingin oleh seorang biksu yang berusaha memadamkan api tersebut. Hal ini mungkin terjadi karena kekuatan sila biksu tersebut.
Arya Shantideva dalam Bodhisattva-caryavattara (Pedoman Jalan Hidup Bodhisattva) mengatakan bahwa seseorang yang telah berusaha melafal doa berkalpa-kalpa lamanya dengan pikiran terdistraksi tidak akan membuahkan hasil apapun. Untuk mendapatkan kebajikan melalui pelafalan, dibutuhkan konsentrasi yang kuat dan tidak boleh ada gangguan mental sedikit pun sejak awal, pertengahan, dan akhir dari pelafalan tersebut. Tanpa konsentrasi yang baik, semua kesukaran yang dialami selama pelafalan akan menjadi sia-sia belaka.
Sebaliknya, dengan Astasila Mahayana, seseorang hanya perlu untuk memusatkan perhatiannya selama beberapa menit yang diperlukan untuk menyelesaikan upacara pengambilan sila tersebut. Setelah itu, walaupun pikiran seseorang terdistraksi, manfaat-manfaat yang diperoleh dengan mengambil sila-sila tersebut tidak akan berkurang. Selain itu, jumlah sila-sila yang terdapat di dalam Astasila Mahayana ini lebih sedikit daripada yang terdapat di dalam sila yang lainnya, serta hanya perlu dijaga selama sehari semalam—suatu masa yang sangat singkat.
Dengan mempraktikkan Astasila Mahayana, kita akan mendapatkan tubuh Buddha dengan 32 tanda utama dan 80 tanda sekunder:
Dua orang brahmana mengambil astasila dengan tujuan agar terlahir kembali sebagai dewa dan raja. Brahmana yang bertujuan lahir sebagai raja itu berhasil menjaga silanya, dan ia pun berhasil terlahir kembali sebagai raja. Sedangkan, brahmana yang bertujuan lahir sebagai dewa tidak dapat menjaga silanya, dan terlahir sebagai seekor naga.
Bodhisattva juga pernah terlahir sebagai pelayan seorang saudagar kaya bernama Suciparivara yang rajin melaksanakan enam hari astasila setiap bulannya. Dengan tekad yang kuat, beliau tetap menjalankan astasila semaksimal mungkin hingga akhirnya meninggal dunia karena menahan sakit yang tiada tara. Di kehidupan selanjutnya, beliau terlahir sebagai anak raja yang menguasai semua ilmu pengetahuan dengan sempurna.
Raja Nimi juga selalu menjalankan astasila pada hari ke-8, 14, dan 15 setiap bulannya sehingga membuat para dewa Tāvatiṃsa ingin bertemu dengannya.
“Setelah mengambil ikrar dengan guru, pada kesempatan berikutnya Anda bisa mengambilnya sendiri di hadapan gambar Buddha.
Setelah mengambil ikrar dari seorang guru, Anda kini juga dapat memberikan ikrar yang sama kepada orang lain yang mungkin memintanya. Jika Anda melakukannya, Anda harus pertama-tama mengambil ikrar itu sendiri di pagi hari sebelum bisa memberikannya kepada orang lain.”
–Guru Dagpo Rinpoche
“Aku dan semua makhluk hidup dalam samsara, sejak waktu tak bermula, terus mengalami bentuk penderitaan tak terhingga yang disebabkan oleh samsara secara umum dan alam-alam rendah secara khusus. Batinku tidak memiliki awal dan aku tidak bisa mengatakan ada masa mula kemunculan batinku, sehingga dapat dikatakan bahwa aku telah berputar dalam samsara sejak waktu tak bermula. Dan karena hakikat samsara adalah penderitaan, aku terus-menerus harus mengalami semua bentuk penderitaan di dalamnya. Sayangnya, aku masih belum merasa muak, aku masih tidak merasa jijik dengan keadaanku, dan karena ketidaktahuan, aku terus salah memahami penderitaan sebagai kebahagiaan, salah memahami hal-hal yang tidak tepat sebagai tepat, dan terus mencengkeram adanya diri yang sejati. Dengan cara ini, melalui pengaruh karma dan klesha, aku terus terlempar ke dalam samsara. Aku harus menyadari bahwa para Buddha tidak selalu merupakan Buddha sejak awal. Mereka dulunya adalah makhluk biasa seperti diriku juga. Namun sebelum menjadi Buddha, mereka bertemu para guru spiritual, mengembangkan penolakan terhadap samsara, dan mengembangkan welas asih terhadap semua makhluk hidup yang memungkinkan mereka beraspirasi mencapai Kebuddhaan. Lalu setelah mengambil Ikrar Astasila dan berlatih dalam tahapan jalan, mereka akhirnya menjadi Buddha yang lengkap dan sempurna.
Kini aku juga telah mendapat kesempatan untuk bertemu seorang guru spiritual, dan melalui kebaikan besarnya beliau telah mengajarkan sang jalan kepadaku. Jadi, jika aku dapat membangkitkan semangat pencerahan lalu berlatih dalam tahapan unggul sang jalan, tidak ada alasan mengapa aku juga tidak bisa mencapai pencerahan demi semua makhluk hidup. Jika aku mengabaikan semua makhluk hidup ini dan tidak mempedulikan kesejahteraan mereka, jika aku meninggalkan mereka dan hanya fokus mencari pembebasan pribadi dari samsara, maka perilaku ini akan lebih buruk daripada perilaku hewan.
Demi kebaikan semua makhluk, aku harus berupaya untuk mencapai pencerahan. Dan sama seperti semua Buddha di masa lalu, untuk menjadi Buddha demi kebaikan semua makhluk, aku harus menaati disiplin moral yang murni terkait tubuh, ucapan. dan batin. Aku akan melakukan upaya yang sangat khusus untuk menjaga semua tindakanku agar tetap murni.”
Teks-teks Terkait
dapat diakses di sini:
Peringatan
Bagi yang belum pernah melakukan praktik Astasila ini
dianjurkan untuk tidak membuka bagian ini.
Silakan mengambil praktik ini terlebih dahulu.
Manfaat: Dalam kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang, kita akan berusia panjang, memiliki kehidupan yang mulia dan bebas dari penyakit.
Akibat pelanggaran: Kita akan mengidap banyak penyakit, berumur pendek, misalnya mati di dalam kandungan.
Manfaat: Dalam kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang, kita akan memiliki kekayaan dan kekayaan tersebut tidak akan diganggu oleh orang lain.
Akibat pelanggaran: Kita akan miskin, kehilangan barang, dsb.
Manfaat: Dalam kehidupan ini dan semua kehidupan yang akan datang, kita akan memiliki tubuh yang bagus dengan warna kulit yang indah, dan juga panca indera yang lengkap.
Akibat pelanggaran: Kita akan memiliki tubuh yang buruk dengan warna kulit yang jelek dan organ tidak lengkap. Nafsu keinginan kita akan semakin kuat dan sulit dikontrol, bahkan akan menghalangi konsentrasi ketika kita mencoba bermeditasi.
Manfaat: Dalam kehidupan ini dan semua kehidupan yang akan datang, seseorang tidak akan ditipu, dan orang lain akan mendengarkan apa yang ia katakan.
Akibat pelanggaran: Kita akan dibohongi dan ditipu oleh orang lain. Orang lain tidak akan menghormati dan mempercayai atau mendengar kata-kata kita.
Mengkonsumsi alkohol dan zat memabukkan ini akan menyebabkan kita tidak sadar, tidak mengingat, tidak memiliki kebijaksanaan sempurna.
Merokok akan menyebabkan kita kehilangan vitalitas dan kekuatan tubuh, menutup cakra tubuh, memunculkan 420 macam penyakit. Ketika kita meninggal dunia, kita akan mengalami kesulitan untuk lahir di alam yang baik. Dan bahkan akan menghalangi pencapaian pencerahan.
Manfaat: Dalam kehidupan ini dan semua kehidupan yang akan datang, seseorang akan memiliki kesadaran dan kewaspadaan yang stabil, indera yang jelas, dan kebijaksanaan yang sempurna.
Akibat Pelanggaran:
Manfaat: Dalam kehidupan ini dan semua kehidupan yang akan datang, seseorang akan memperoleh pujian dan penghormatan dari orang lain, dan akan memiliki tempat tidur dan sprei yang bagus (lembut, hangat, dan sebagainya), kendaraan, dan hewan untuk bepergian.
Akibat pelanggaran:
Manfaat: Dalam kehidupan ini dan semua kehidupan yang akan datang, seseorang akan memiliki panen yang bagus dan berlimpah, dan akan memperoleh makanan dan minuman tanpa perlu berupaya.
Manfaat Tidak menggunakan wewangian, untaian bunga, perhiasan: Dalam kehidupan ini dan semua kehidupan yang akan datang, tubuh seseorang akan harum semerbak, memiliki bentuk dan warna yang menarik, dan juga disertai dengan berbagai pertanda baik.
Manfaat menghindari menyanyi dan menari: Dalam kehidupan ini dan semua kehidupan yang akan datang, seseorang akan memiliki tubuh dan batin yang terkendalikan, dan ucapannya akan senantiasa menyuarakan Dharma.
Apabila terdapat suatu alasan yang baik untuk melakukannya dan tanpa didasari oleh kemelekatan, maka itu bukanlah suatu kesalahan.
Apabila kita jatuh sakit dan harus makan pada malam hari, kita boleh melakukannya.
Pengecualian bagi aturan ini adalah bila Anda mempunyai profesi ini, di lingkungan kerja kita harus melakukannya, ini bukanlah pelanggaran. Bila Anda telah mengambil sila dan kemudian Anda menyanyi dan menari atas dasar kemelekatan atau karena Anda tidak berhati-hati, maka itu merupakan pelanggaran.
fIntinya pada saat Anda mengambil sila, Anda tidak diperkenankan menambahkan sesuatu secara khusus pada yang biasa Anda gunakan atau pada kebiasaan Anda. Memakai perhiasan atau make up dapat diteruskan tapi jangan secara khusus menggunakannya jika itu biasanya tidak Anda lakukan.
Tujuan sila ‘Menggunakan wangi-wangian, untaian bunga, perhiasan…” ini adalah untuk mengurangi kemelekatan kita. Jika bisa dilepas, silakan dilepas. Namun jika perhiasan yang biasa dipakai sehari-hari tidak terlalu mencolok dan tidak menimbulkan kemelekatan, boleh tetap dipakai.
Untuk alasan-alasan Dharma, demi kepentingan semua makhluk, kita boleh melantunkan doa atau mantra dengan dinyanyikan.
Kita harus segera mempurifikasi pelanggaran sila kita dengan menerapkan 4 kekuatan penawar. Apabila kita kesulitan melakukan namaskara panjang, kita bisa membaca mantra purifikasi.
Walau kita telah melanggar salah satu silanya, kita tetap harus menjaga sila lainnya sebaik-baiknya. Misalnya, kita melanggar sila ‘tidak makan pada saat yang tidak tepat’, kita tidak boleh meninggalkannya sepenuhnya pada sisa hari. Sila yang merosot harus segera dipurifikasi dan dipulihkan.
Back:
Panduan Kebajikan
Next:
Ganachakra