Lilin Puja

PHAGPA KOENCHOG SUM LA CHAG TSHEL LO.
Hormat kepada Sang Triratna!

DI KEY DAG GI THOYPA DUY CIG NA. COMDENDEY GYELPOI KHAB JAGOY PHUNGPOI RI LA, GELONG GI GENDUN CHENPO DANG, JANGCHUB SEMPEI GENDUN CHENPO DANG, THAB CIG TU SHUG TE. DEI TSHE COMDENDEY ZABMO NANGWA, SHE JAWEI CHOE KYI NAMDrANG KYI, TING NGEDZIN LA NYOMPAR SHUG SO.
Demikianlah yang telah kudengar pada suatu waktu. Sang Buddha sedang berada di Rajagraha di Puncak Gunung Nazar, bersama dengan sekumpulan besar biksu, biksuni serta Bodhisattva. Pada saat itu, Sang Buddha sedang terpusat pada konsentrasi yang menyelidiki semua fenomena dalam jumlah tak terbatas yang disebut dengan Memandang yang Mendalam.

YANG DEI TSHE JANGCHUB SEMPAH SEMPAH CHENPO, PHAGPA CENREYZIG WANGCHUG, SYERAB KYI PHAROL TU CHINPA ZABMOI CHOYPA NYI LA NAMPAR TA SHING, PHUNGPO NGAPO DE DAG, LA YANG RANGSHIN GYIY, TONGPAR NAMPAR TAO.
Pada saat yang bersamaan, Yang Mulia Arya Avalokitesvara Bodhisattva- Mahasattva sedang mengamati secara seksama praktik Penyempurnaan Kebijaksanaan yang mendalam, merenungkan Kesunyataan keberadaan yang berdiri sendiri (inheren), juga merenungkan kelima skandha.

DENE SANGGYEY KYI THUN TSHE DANG DENPA, SYHARIIBUY JANGCHUB SEMPAH SEMPAH CHENPO PHAGPA CENREYZIG, WANGCHUG LA DI KEY CE MEY SO. RIG KYI BU GANG LA LA SYERAB KYI PHAROL TU CHINPA ZABMOI CHOYPA CHEPAR DOYPA DEY, JI TAR LABPAR JA, DE KEY CE MEPA DANG, JANGCHUB SEMPAH SEMPAH CHENPO PHAGPA CENREYZIG, WANGCHUG GI TSHE DANG DENPA SYHARI DWATIIBU LA DI KEY CEYMEY SO.
Kemudian melalui inspirasi Sang Buddha, Yang Yang Mulia Sariputra berkata kepada Yang Mulia Arya Avalokitesvara Bodhisattva-Mahasattva. “Bagaimana
seharusnya seorang Putra Silsilah, yang ingin mempraktikkan Penyempurnaan
Kebijaksanaan yang mendalam, berlatih?” Lalu, Yang Mulia Arya Avalokitesvara
Bodhisattva-Mahasattva, menjawab pada Yang Mulia Sariputra sebagai
berikut:

SYHARIIBU, RIG KYI BUAM RIG KYI BUMO GANG LA LA, SYERAB KYI PHAROL TU CHINPA ZABMOI, CHOYPA CHEYPAR DOYPA DEY, DITAR NAMPAR TAWAR JA TE, PHUNGPO NGAPO DE DAG KYIANG, RANGSHIN GI TONGPAR NAMPAR YANGDAGPAR JEY SU TAO. ZUG TONG PAO, TONGPANYI ZUG SO, ZUG LEY TONGPANYIY SHEN MAYIN, TONGPANYI LEY KYIANG ZUG SHEN MAYIN NO. DESHINDU TSHORWA DANG, DUSYE DANG, DUJEY DANG, NAMPAR SYEYPA NAM TONG PAO.

“Sariputra, siapapun Putra atau Putri Silsilah yang ingin mempraktikan
Penyempurnaan Kebijaksanaan yang mendalam seharusnya berpikir tentang
hal ini: Mereka seharusnya merenungkan dengan sempurna dan tepat tentang
Kesunyataan sifat keberadaan yang berdiri sendiri (inheren), juga tentang
kelima skandha. Rupa adalah sunyata (atas keberadaan inheren), sunyata adalah
rupa. Tanpa rupa, tidak ada sunyata. Tanpa sunyata, tidak ada rupa. Demikian
juga dengan perasaan, diskriminasi, faktor-faktor pembentuk, dan kesadaran
adalah sunyata.

SYHARIIBU, DETAR CHOY THAMCEY TONGPANYI DE, TSHENNYIY MEPA, MAKYEPA, MAGAGPA, DrIMA MEYPA, DrIMA DANG DrELWA, DrIWA MEYPA, GANGWA MEY PAO.


Sariputra, dengan demikian, semua fenomena adalah sunyata, tanpa karateristik,
tidak dihasilkan, juga tidak dimusnahkan, tidak ternoda, juga tidak bersih dari
noda, tidak berkurang, juga tidak bertambah.


SYHARIIBU, DE TAWEY NA TONGPANYI LA ZUG MEY, TSHORWA MEY, DUSYEY MEY, DUJEY NAM MEY, NAMPAR SYEYPA MEY, MIG MEY, NAWA MEY, NA MEY, CE MEY, LUY MEY, YIY MEY, ZUG MEY, DrA MEY, DrI MEY, RO MEY, REGJA MEY, CHOY MEY DO. MIG GI KHAM MEYPA NEY, YIY KYI KHAM MEY, YI KYI NAMPAR SYEYPEI KHAM KYI BARDU YANG ME DO, MARIGPA MEY, MARIGPA ZEYPA MEPA NEY, GASYI MEY, GASYI ZEYPEI BARDU YANG MEY DO. DESHIN DU DUGNGELWA DANG, KUNJUNGWA DANG, GOGPA DANG, LAM MEY, YESYEY MEY, THOBPA MEY, MATHOBPA YANG MEY DO.

Karena itu Sariputra, dalam Kesunyataan, tiada rupa, tiada perasaan, tiada pencerapan, tiada faktor-faktor pembentuk, tiada kesadaran, tiada mata, tiada telinga, tiada hidung, tiada lidah, tiada tubuh, tiada batin, tiada bentuk, tiada suara, tiada bau, tiada rasa, tiada objek sentuhan, tiada fenomena, dari tiada unsur mata hingga tiada unsur batin hingga tiada unsur kesadaran batin; Tiada
ketidaktahuan dan tiada berakhirnya ketidaktahuan dan seterusnya, hingga tiada
proses penuaan serta kematian dan tiada berakhirnya proses penuaan serta
kematian. Demikian pula tiada penderitaan (dukkha), tiada sebab [penderitaan],
tiada lenyapnya [penderitaan], tiada Jalan [untuk melenyapkan penderitaan],
tiada kebijaksanaan unggul, tiada pencapaian, tiada bukan pencapaian.


 
SYHARIIBU, DE TAWEY NA, JANGCHUB SEMPAH NAM THOBPA MEYPEI CHIR, SYEYRAB KYI PHAROL TU CHINPA LA TEN CING NEY TE, SEM LA DIBPA MEY CING TrAGPA MEY DO. CHINCILOG LEY SYIN TU DEY NEY, NYANGNGEN LEY DEPEI THARCHIN TO. DUY SUM DU NAMPAR SHUGPEI, SANGGYEY THAMCEY KYIANG,
SYEYRAB KYI PHAROL TU CHINPA LA TEN NEY, LANA MEYPA YANGDAGPAR DZOGPEI, JANGCHUB TU NGONPAR DZOGPAR SANGGYEY SO.

Maka, Sariputra, karena Bodhisattva tidak memiliki pencapaian, Bodhisattva
bersandar dan berdiam dalam Penyempurnaan Kebijaksanaan, batin Mereka
tiada hambatan tiada ketakutan. Dengan mengatasi pandangan-pandangan
sesat, mereka mencapai keadaan tanpa dukkha. Dengan bertumpu pada
Penyempurnaan Kebijaksanaan, semua Buddha dari ketiga kurun waktu juga
menjadi Buddha yang lengkap dan sempurna dalam keadaan pencerahan
sempurna, lengkap, tak tertandingi,

DE TAWEY NA SYEYRAB KYI PHAROL TU CHINPEI NGAG, RIGPA CHENPOI NGAG, LANA MEYPEI NGAG, MINYAMPA DANG NYAMPEI NGAG, DUGNGEL THAMCEY RABTU SHIWAR JEYPEI NGAG, MIDZUNPEY NA DENPAR SYEYPAR JA TE, SYEYRAB KYI PHAROL TU CHINPEI NGAG MEY PA,

Oleh karena itu mantra yang tertinggi adalah mantra Penyempurnaan
Kebijaksanaan, mantra pengetahuan agung, mantra yang tak tertandingi, mantra
tiada banding dan mantra yang sebanding, mantra yang sepenuhnya meredakan
penderitaan, karena [mantra] ini tidak keliru, seharusnya dimengerti sebagai
Kebenaran. Mantra Penyempurnaan Kebijaksanaan dikumandangkan:

TAYATHA, OM GATE GATE PARAGATE PARASAMGATE BODHI SWAHA.

SYHARIIBU, JANGCHUB SEM PA SEMPAH CHENPOY, DETAR SYEYRAB KYI PHAROL TU CHINPA ZABMO LA LABPAR JAO.
Dengan cara ini, Oh Sariputra, seorang Bodhisattva-Mahasattva, seorang
makhluk agung seharusnya berlatih Penyempurnaan Kebijaksanaan yang
Mendalam.


DENEY COMDENDEY TING NGEDZIN DE LEY SHENG TE, JANGCHUB SEM PA SEMPAH CHENPO PHAGPA CENREZIG WANGCHUG LA, LEG SO, SHEY JAWA JIN NEY. LEG SO LEG SO,

Kemudian Sang Buddha bangkit dari konsentrasinya dan mengomentari Yang
Mulia Bhagava Avalokitesvara Bodhisattva-Mahasattva dengan berkata:

RIG KYI BU DE DESHIN NO. RIG KYI BU DE DESHIN TE, JITAR KHYOY KYIY TENPA SHINDU, SYEYRAB KYI PHAROL TU CHINPA ZABMO LA CHEYPAR JA TE, DESHIN SYEGPA NAM KYANG JEYSUYI RANG NGO. COMDENDEY KYI DE KEY CEY KAH TSEL NEY, TSHE DANG DENPA SYHARIDWATIIBU DANG, JANGCHUB SEM PA SEMPAH CHENPO PHAGPA CENREYZIG WANGCHUG DANG, THAMCEY DANG DENPEI KHOR DE DAG DANG, LHA DANG MI DANG, LHA MAYIN DANG, DrIZAR CEYPEI JIGTEN YI RANG TE, COMDENDEY KYIY SUNGPA LA NGOENPAR TOY DO..

“Penjelasan yang bagus, Oh, Putra Silsilah! Demikianlah, demikianlah. seperti
telah Engkau ajarkan, demikian seharusnya Penyempurnaan Kebijaksanaan
yang mendalam dipraktikkan dan semua Tathagata bermudita.” Demikian sabda
Sang Bhagava. Yang Mulia Sariputra, Yang Arya Bhagava Avalokitesvara
Bodhisattva Mahasattva, dan seluruh himpunan para siswa, bersama dengan
makhluk duniawi, para dewa, manusia, asura, gandarwa, bersuka cita dan
memuji ucapan Sang Bhagava.

Nama Sutra ini dalam bahasa Sanskerta adalah Bhagavati-Prajñāpāramitā Hṛdaya-sūtra; Bahasa Inggris: The Blessed Mother, The Essence of Perfect Wisdom; Bahasa Indonesia: Ibu yang Terberkahi, Esensi Penyempurnaan Kebijaksanaan (Sūtra Hati).

Baca Doa Buddha di Aplikasi Sancita Baca Doa Buddha di Aplikasi Sancita
Penjelasan Teks
Sutra Hati

Share