18 PELANGGARAN UTAMA BODHISATTVA
- Memuji diri sendiri dan meremehkan orang lain
- Tidak memberi materi atau Dharma karena rasa kikir
- Tidak menerima permintaan maaf orang lain; atau karena marah menyerang orang lain
- Meninggalkan Mahayana dan menyebarkan doktrin keliru
- Mencuri barang milik Sang Triratna
- Menolak Dharma yang murni
- Mengambil jubah, menyerang, memenjarakan seorang Biksu atau membuatnya lepas jubah
- Melakukan 5 perbuatan yang sangat keji
- Menganut pandangan keliru
- Menghancurkan habitat dan sebagainya
- Menjelaskan sunyata kepada mereka yang tidak siap
- Menyebabkan orang lain meninggalkan Mahayana
- Membuat orang lain meninggalkan Ikrar Praktimoksa dan memasuki Mahayana
- Meremehkan Hinayana dan membuat orang berperilaku demikian
- Berbohong dengan mengaku telah memperoleh realisasi sesuatu, misalnya merealisasi kesunyataan
- Menerima barang-barang yang dicuri dari Sang Triratna atau mendenda/menghukum seorang Biksu
- Membuat peraturan yang memberatkan atau membahayakan
- Meninggalkan Bodhicitta
EMPAT FAKTOR PENGIKAT PELANGGARAN UTAMA IKRAR BODHISATTVA
- Tidak menganggap perbuatan itu salah
- Tidak berupaya menghentikan perbuatan itu di masa depan tetapi malah berkeinginan untuk melakukannya lagi
- Merasa nyaman dan gembira dalam melakukannya
- Tidak merasa malu dalam melakukannya
46 PELANGGARAN SEKUNDER BODHISATTVA
Tujuh pelanggaran lawan Dana Paramita
- Tidak setiap hari membuat persembahan pada Triratna
- Mempertahankan atau mengikuti nafsu keinginan
- Tidak menunjukkan rasa hormat pada senior
- Tidak menjawab pertanyaan yang diajukan dengan tulus
- Tidak menerima undangan dan sebagainya
- Tidak menerima barang berharga, seperti emas dan sebagainya
- Tidak memberikan Dharma kepada mereka yang membuat permohonan
Sembilan pelanggaran lawan Sila Paramita
- Tidak menolong mereka yang melanggar norma/ikrar
- Tidak berlatih demi keyakinan orang lain
- Melakukan sedikit hal demi kepentingan makhluk lain
- Tidak melakukan perbuatan berbahaya demi menolong makhluk lain
- Memiliki mata pencaharian keliru atau menerima dengan senang hati sesuatu yang diperoleh dengan cara keliru
- Berkeinginan terlibat dalam berbagai hiburan/kesenangan duniawi
- Berpikir untuk tetap berdiam di dalam keberadaan berulang (samsara)
- Tidak menghentikan penyebab-penyebab reputasi buruk
- Tidak menghilangkan klesha makhluk lain
Empat pelanggaran lawan Ksanti Paramita
- Menjadi marah ketika dipukul, dilecehkan atau menjadi objek kemarahan orang lain.
- Tidak menenangkan mereka yang sedang marah
- Tidak menerima permintaan maaf orang lain
- Mengikuti dan tidak melawan kemarahan
Tiga pelanggaran lawan Viriya Paramita
- Mengumpulkan pengikut karena ingin memperoleh kehormatan atau harta benda
- Tidak melawan rasa malas dan sebagainya
- Karena kemelekatan, terlibat dalam perbincangan tak berguna
Tiga pelanggaran lawan Samadhi Paramita
- Tidak berusaha mengembangkan konsentrasi meditatif
- Tidak berusaha mengatasi halangan-halangan meditasi
- Menikmati sensasi menyenangkan dari meditasi
Delapan pelanggaran lawan Prajna Paramita
- Menolak kendaraan Hinayana
- Mempelajari kitab Hinayana melebihi Mahayana
- Mempelajari kitab-kitab non-Dharma
- Menikmati tindakan tersebut
- Menolak Mahayana
- Memuji diri sendiri dan meremehkan orang lain
- Tidak menghadiri sesi ajaran Dharma
- Mencela Guru atau hanya membahas kata-kata tanpa merenungkan makna ajaran beliau yang sebenarnya
Dua Belas pelanggaran tidak menolong makhluk lain
- Tidak menolong mereka yang membutuhkan
- Menolak menolong mereka yang sakit
- Lalai dalam menghilangkan penderitaan makhluk lain
- Tidak memberikan instruksi yang sesuai dengan mereka yang ceroboh
- Tidak membalas kebaikan hati dari orang yang telah baik pada kita
- Tidak meringankan penderitaan mental orang lain
- Tidak memberi materi kepada mereka yang membutuhkan
- Tidak bekerja demi kesejahteraan pengikut
- Tidak menyesuaikan diri terhadap pandangan orang lain
- Tidak memuji kualitas baik orang lain
- Tidak melakukan tindakan perbaikan ketika situasi menuntut hal tersebut
- Tidak menjinakkan pelaku kejahatan dengan kekuatan gaib