Lilin Puja

Sebuah Ratapan Permohonan Berkah kepada Yang Maha Welas Asih


Guru Chandrakirti

Aku bersujud kepada Yang Agung Bodhisatwa Avalokiteśvara!

 Arya Avalokiteśvara, Yang Maha Welas Asih 
Tubuh indahmu berwarna kulit kerang tanpa noda,
Dihiasi oleh lapik rembulan murni dan berkilauan
Laksana sinar cemerlang matahari di langit
Mengalahkan kemilau cahaya para daka;
Termahsyur sebagai guru dan pembimbing semua makhluk di tiga alam  kehidupan,
Engkau adalah sahabat terbaik semua penyeberang:
Istadewata pelindung yang penuh welas asih dan cinta kasih, mohon  perhatikan aku.

Sejak waktu yang tak bermula, aku telah terombang-ambing
Di samudera samsara, menapaki jalan yang keliru dan ditinggalkan
Tersesat akibat kesalahan dan ketidakbajikan kehidupan lampau;
Dengan sepenuh hati aku mengakui dan menyesali semua kesalahanku.  

Akibat tindakan egoisku
Aku tenggelam dalam samudera penderitaan samsara
Kobaran api kemarahan membakar batinku,
Kegelapan ketidaktahuan yang terhimpun mengaburkan kebijaksanaanku,

Kesadaranku terbenam dalam samudera kemelekatan;
Gunung tinggi kesombongan menghempas diriku terjun ke tiga alam  rendah;
Pusaran angin kecemburuan menjebakku di dalam samsara;
Aku terikat oleh jeratan kokoh pandangan egois.

Terjerembab di dalam jurang nafsu keinginan, laksana sumur bara yang  terbakar, 
Lumpur penderitaan hebat turun bak hujan badai;
Unsur api, matahari yang menghanguskan, membakar dari atas;
Unsur air, kelembaban bumi, membawa hawa dingin dari bawah
Di luar hawa dingin menusuk hingga ke tulang:
Angin badai merongrong hingga ke jantung hatiku;

Penderitaan ini sungguh tak tertahankan,
Bagaimana engkau bisa bertahan?
Semua penderitaan yang menerpa diriku,
Tak sedikit pun membuatku berpaling dari keyakinan kepadamu
Arya yang terunggul, pelindung agung, bagaimana engkau akan berpikir  untuk tidak bekerja demi semua makhluk?  

Pelindung yang penuh cinta kasih, mengapa engkau tidak menunjukkan  welas asih kepada diriku?
Tersiksa karena kelahiran, aku menjadi letih akibat jeratan karma.  Walaupun remuk hati karena kelelahan, dera karma tak terelakkan  Dorongannya bak aliran air
Laksana badai topan, kekuatan karma sungguh sulit dilawan.
Penderitaan ini sungguh tak terlukiskan.

Tubuh, ucapan, dan batinku berada di bawah pengaruh ketidakbajikan
Akibat kekuatan kobaran api bengis karma buruk
Kesengsaraan kesadaran menerpa.
Jika seluruh skandha, tubuh ilusi ini, tidak bisa bertahan
Avalokiteśvara pelindung yang penuh cinta kasih, dapatkah anda  menahannya?  

Ketika aku merindukan wajah Yang Maha Welas Asih
Bercahaya bak matahari, berkilauan bak rembulan
Aku tidak bisa melihat dengan mata yang tercemar
Dengan mata penyakit ketidaktahuan yang tanpa awal ini.
Pelindung dunia, di manakah engkau sekarang?
Tidak tahan lagi dengan penderitaan yang dahsyat ini
Digulung oleh kepanikan rongrong dan ketakutan yang luar biasa,
Aku menyampaikan ratapan kerinduan ini,
Ratapan putus asa dan sengsara untuk memohon perlindungan.
Avalokiteśvara pelindung yang penuh cinta kasih, bagaimana anda dapat  menahannya?

Ketika saat kematian tiba, aku berganti tubuh
Aku akan terpisah dari teman dan sanak saudara, terenggut oleh Raja  Kematian.
Sanak saudara duniawi tidak akan melepaskanku pergi
Tetapi karena kekuatan karma, aku akan terhempas sendiri
Jika, pada saat itu, tidak ada perlindungan bagiku,
Bersediakah engkau, pelindung yang penuh cinta kasih, membebaskanku  dari samsara?

Makhluk seperti diriku, terjerat oleh karma
Karena permohonan yang keliru sejak waktu yang tak bermula
Belum juga terbebaskan dari tiga alam, kondisi samsara
Sebanyak jumlah kelahiranku selama kalpa yang tak terhitung jumlahnya 
Berdiam dalam tubuh yang kemudian hancur membusuk
Jika aku mengumpulkan daging dan tulang-belulangku, dunia tidak akan  cukup untuk menampung;
Jika aku mengumpulkan nanah dan darah, maka akan setara dengan  samudera agung
Kemudian jika aku mempertimbangkan sisa-sisa karmaku, sungguh tak  terbayangkan, tak terlukiskan.

Walau telah mengembara di tiga alam rendah tak terhitung banyaknya, 
Semua tindakanku tetaplah sampah yang tak berguna,
Di antara semua potensi kelahiranku yang tak terhingga,
Jika satu kali saja
Aku merampungkan satu tindakan tunggal untuk tujuan agung pencerahan.
Hanya itu saja sudah cukup memberikan makna  Karma sungguh dahsyat. Karena kekuatan klesha yang luar biasa,
Makhluk-makhluk terkurung dalam daging dan darah serta harus  terombang-ambing di samsara,
Terjerembab oleh kesengsaraan pahit samsara.  
Akibat semua kesalahanku, semua penderitaan menakutkan dan tiada habisnya ini
Muncul dikarenakan tindakanku sendiri.
Aku memohon kepadamu, dengan welas asihmu, potonglah kesinambungan ini.

Dan hancurkan semua jerat klesha dan karma.
Ketika aku mengembara tanpa henti di dalam kegelapan ketidaktahuan  Akibat kekuatan angin klesha dan karma,
Dapatkah engkau melihat dengan sinar pelita kebijaksanaanmu?
Karena aku tidak tahan dengan hasil karma burukku,
Bersediakah engkau melakukan tindakan tercerahkan penuh welas asih?  Karena penderitaan siksaan tiga racun, sungguh sulit kujalani, 
Bersediakah engkau menyembuhkanku dengan obat mujarab welas asihmu?
Karena terjerembab ke dalam jurang pandangan salah,
Bersediakah engkau menarikku dengan tangan welas asihmu?
Karena aku terbakar oleh api penderitaan karma,
Bersediakah engkau menurunkan hujan welas asihmu yang  menyejukkan kepadaku?  

Ketika aku sudah mempurifikasi karmaku di tiga alam samsara dan meraih tujuanku
Pada saat itu welas asih agungmu tidak akan bermanfaat bagiku.
Jika engkau mengabaikan kecenderungan karma semua makhluk,  kepada siapa tindakan welas asihmu ditujukan?
Oh, penakluk agung semua makhluk, yang diberkahi dengan kekuatan welas asih,
Mohon jangan tinggalkan, jangan menjadi acuh, ataupun malas  Pemenang yang penuh welas asih, dari jantung hatimu, perhatikanlah aku.

Catatan:

Doa Permohonan ini terdapat di buku Praktik Penyempurnaan Welas Asih oleh Thubten Chodron

Baca Doa Buddha di Aplikasi Sancita Baca Doa Buddha di Aplikasi Sancita
Penjelasan Teks
Sebuah Ratapan Permohonan Berkah kepada Yang Maha Welas Asih

Share