Speech Suhu Closing Agnihotra

Speech Suhu Closing Agnihotra

Secara tradisi, setiap biara itu ada ritual. Terutama tradisi Biara Lamrim itu, setiap biara itu ada ritual. Setiap biara ada ritual umur panjang untuk Guru. Itu kalau tradisi biara yang berbasis Lamrim. Di tradisi Gelug juga ada. Beberapa biara dari daerah masing-masing pergi ke Lhasa untuk offer longlife ke His Holiness. Nah, sekarang itu di Dharamsala juga ada. Tapi, belakangan saya denger mereka sekarang enggak. Boleh pribadi, boleh per grup. Tradisi itu sebenernya ada. Jadi, upacara besar untuk umur panjang Guru itu bukan sesuatu hal yang asing. Upacara ini dirancang kira-kira 2 tahun yang lalu. Saya mempersiapkan ritual ini tuh 2 tahun yang lalu. Mulai dari inisiasi, minta inisiasinya karena Saya minta inisiasi Tara Putih ke Rinpoche, Rinpoche suka ga mau kasih. Lalu, mulai dari 2 tahun yang lalu itu rencana. Jadi, setahun itu merancang rencana. Kemudian, setahun itu persiapan. Kemudian inisiasi. Setelah inisiasi itu, retret. Jadi, setelah retret kemudian konsekrasi umur panjang. Setelah itu, kita cari hari baik untuk upacaranya. Nah, itu kira-kira ceritanya seperti itu. Sebenernya ga perlu dibahas panjang lebar makna upacara umur panjang. Maknanya itu nanti, sebenernya kan ga terlalu perlu dibahas. Tapi, ada berbagai jenis upacara umur panjang. Upacara umur panjang paling umum yang kita saksikan itun ada 2, secara Sutrayana ataupun Tantrayana. Kemudian, sebenernya ada insiden kecil di Rinpoche datang waktu November itu. Jadi, upacara umur panjangnya harusnya diselenggarakan setelah inisiasi, setelah jenang, lalu longlife, habis itu peresmian. Karena waktunya mepet dan saya sudah desak, Rinpoche sudah terpaksa mau, lalu ada insiden kecil itu. Teksnya harusnya sampe ke Saya, Heni langsung ke Rosemary, Rosemary by pass ke Rinpoche. Kalau langsung ke Saya, ceritanya bisa beda. Itu satu catatan kecil. Menarik untuk dikupas. Kalau itu terjadi, ceritanya mungkin agak… Upacara itu sendiri kecil-kecil besar.

Dibilang kecil ya sederhana. Itu standar kecil. Tapi, besar itu akan terjadi besar jika di Jakarta kemarin. Lalu ada umur panjang dengan 5 Dakini. Macem-macem. Nah, Saya inget ketika zaman mendiang Ibu Ijo ketika masih hidup. Tahun 90… Tahun 2000, waktu itu Ibu Ijo mendesak Saya, Suhu harus…, “You must offer longlife ceremony.” Saya bilang, “Yes, I understand, but I can’t do that. Saya ga paham.” “Itu ada Geshe La,” dia bilang, “Mumpung Geshe La masih ada. He know everything about ritual.” Oke… Dan itu terjadinya jadi tidak mudah terjadi. Terus akhirnya diakalin sama Saya, minta chenang, chewang. Sorry, minta chewang. Jadi diakalin sama Saya memberi inisiasi umur panjang. Itu cerita lama tuh. Lalu, sering ada Rinpoche inisiasi umur panjang. Nah, akhirnya sampai ini hari. Sebenernya, masalah ritual umur panjang fire puja ini, biasa-biasa aja sih. Biasa-biasa aja, sering, sehari-hari dilakukan kok. Menjadi besar karena dia jalan 7 hari berturut-turut dan Acharyanya lebih dari satu. Di dunia Vajrayana, paling umum, Sera mungkin dia main 2, tapai itu tangdim Hayagriwa, dia main 2. Saya tidak tahu kenapa dia main 2, mungkin karena pesertanya banyak jadi tungkunya harus 2 atau setengah-setengah karena dia offernya harus dihitung, itu harus dihitung, 1000. Itu sekali offer harus 1000 setiap substansi. Jadi, dia potong 4 hari atau 2 hari atau 2 tungku. Nah, ini menjadi besar karena 7 hari berturut-turut dan menjadi dilakukan oleh 7 Acharya. Jadi, itu menjadi besar Kenapa besar? Karena substansi yang dipersembahkan itu tidak mudah cari. Kita harusnya Agustus udah selesai. Tapi, karena Saya tunggu barang ini dikirim, baru nyampe. Jadi, hari ini… dan hari ini hari apa? Jumat ya? Hari ini Jumat trip ke 2 barang baru datang. Jadi, untung Saya belah 2. Yang tidak ritual ini kirim belakangan, yang ritual kirim duluan. Dan ternyata beruntung. Kalau Saya tunggu yang diacak itu nanti ya sudahlah kita hari ini belum selesai, belum jalan. Menjadi sulit karena ada 3 ritual di situ. Satu adalah putih. Jadi, ketika menghadap ke arah timur, itu kita putih semua warna taplaknya juga putih. Ini adalah mendamaikan, jadi meredam. Kemudian, menghadap ke Utara, itu meningkatkan. Nah, ada 3 di situ. 3 hari putih, 3 hari kuning, sama 1 hari rumput durwa. 

Nah, rumput durwanya, satu Acharya syaratnya harus offer 10.000 iket. Nah, kalau 7 tungku berarti 70.000 iket dan substansinya juga agak sedikit sulit nyari, yaitu kayu. Kayunya harus lurus, ukurannya harus sejempol, dua ini maksimal atau sejempol, lebarnya, panjangnya 1 hasta, 1 tangan ini, dan dia harus lurus, ga boleh belok-belok, dan dia harus tanaman yang tidak beracun. Kalo yang kuning, harus tanamannya yang manis, hasilnya manis gitu loh, ngerti ga? Ah, itu makanya dia pake tebu. Tebu kan lurus, kan manis, dan tebu kan bullet ukurannya. Jadi, paling mudah orang pake tebu. Kan manis dan tidak beracun. Jadi, itu. Lalu, sisa bahannya jadi tidak seperti biasa. Lalu, menjadi besar karena jumlah, menjadi besar karena sedikit sulit mencari, dan orang jarang sekali main lebih dari 2. Ada lebih dari 2, jarang sekali. Lebih dari 2 tungku itu jarang. Nah, itu mengenai secara teknis ceritanya tentang fire puja. Fire puja adalah sesuatu khasnya ritual, upacara yang berkaitan dengan Vajrayana, dengan Tantra. Itu adalah suatu ritual yang dianggap very powerful ketika kita membikin hiasnya itu efeknya very powerful. Tetapi, mungkin yang lebih penting buat Saya sampaikan mengenai filosofis umur panjang. Mungkin itu lebih penting. Jadi, zaman sekarang orang selalu bilang kan, “Oh ya, saya terima kasih saya dikasih hidup sampe umur 60, cukuplah. Ga usah lama-lama, nyusahin istri anak.” Itu di Buddhis punya pikiran seperti itu keliru. Di Buddhis itu, umur makin panjang, makin baik. Bukan berarti umur makin panjang, makan enak, hidup senang-senang makin lama, bukan. Bukan seperti itu. Tapi, di Buddhis selalu berpikir, saya hidup makin panjang, maka saya punya kesempatan berbuat bajik makin besar, makin banyak, makin lama. Maka, saya punya kesempatan menghimpun sebab-sebab positif yang banyak untuk bekal saya di masa, untuk kelahiran saya di masa yang akan datang. Itu ceritanya. Jadi, umur panjang itu penting. Sekarang, kebalik. Umur panjang itu sesuatu hal yang “Oh kamu diramal, umurnya 80”, “Haduh” Ya kan harus terima kasih. Oh 80 kurang, kan harusnya begitu, dunia sekarang kebalik. Nah, itu manusia. Cerita lain menjadi jauh lebih bermakna ketika seseorang itu adalah Guru spiritual kita. Jadi, apa pentingnya umur panjang seorang Guru? Guru adalah sebuah… ibarat lampu yang besar, terang; ibarat matahari; ibarat pohon yang besar; ibarat danau yang luas, dalem; itu maknanya adalah itu sumber. Guru itu sumber. Jadi, kalau Guru menjadi sumber berkah, sumber kebajikan, sumber segala hal-hal positif bagi kita, itu kalau tidak berumur panjang, maka segala hal-hal positif bagi kita itu kan putus. Logika sederhana kan begitu.

Di mana Saya, kalau Guru Saya masih umurnya panjang, Saya umurnya juga panjang, maka Saya punya kesempatan melayani, menghormati sehingga Saya memetik buah kebajikannya menjadi tak terhingga. Kemudian, itu kan secara sederhananya. Dan lebih penting lagi, apa makna lebih dalem? Apa Sang Guru ketika Dia umur panjang bagi suatu golongan, suatu kelompok? Di mana Sang Guru itu adalah ya tadi, matahari, Dia sumber inspirasi, Dia sumber kebajikan, Dia sumber penegak ajaran, Dia penegak ajaran, Dia sumber ajaran. Ketika Sang Matahari ini redup, maka ya dunia kan gelap, kan ceritanya seperti itu. Ini harusnya tidak terlalu sulit untuk dipahami karena kita orang semua udah belajar, lama. Paham makna Guru itu. Nah, itu satu. Kemudian, Guru spiritual kita itu adalah seseorang yang menginpirasi perkembangan batin kita, perkembangan tahapan kita. Kan setiap manusia Buddhis atau manusia siapapun, mau Buddhis, enggak Buddhis, dia itu kan sebenernya mencari kebahagiaan, tidak mau menderita. Tapi, kan pertanyaannya caranya bagaimana? Caranya ga ada yang kasih tahu. Saya mau bahagia, dia pikir, oh ya dengan mencuri dia berpikir dia bahagia. Maksudnya saya mau bahagia, saya mau uang, ya kalau orang makhluk barbar itu kan misalnya saya lihat kamera itu bagus, ya saya mau, lalu saya ambil. Kan barbar wong itu kan barang milik orang kok kamu ngambil? Itu kan barbar. Jadi artinya tak ada orang yang memberi tahu kepada kita, memberi petunjuk bahwa ini bener, ini salah. Jadi, idealnya kan, akhirnya menjadi Guru itu harusnya abadi, yak an? Karena Dia menjadi sumber kebijaksanaan, sumber pengetahuan, sumber kebenaran, maksudnya sumber yang memberi tahu kita kalo ini bener, ini salah. Ya, misalnya saya mau kamera itu, saya mau uang itu, ya saya ga pikir panjang, saya tinggal ambil. Itu kan enggak lucu, itu kan salah. Ya, tapi kan kita tidak tahu, itu salah benernya dari mana, kan ga ada orang memberi tahu kepada kita. Nah, Sang Guru itu, itu yang disebut sumber inspirasi kebajikan, sumber kebahagiaan kita. Jadi, sumber kebahagiaan kita, sumber kebahagiaan kita. Maksudnya apa sumber kebahagiaan? Nah, di Buddhis, kita itu meyakini ya sebenernya Buddhis, lu mau Buddhis, mau ga, tapi kan hukum itu ada bahwa hukum sebab akibat. Ya, jadi gini, saya bisa mendapatkan tubuh kelahiran yang ini, itu kan harus mempunyai sebab-sebab baru kita memperoleh tubuh kelahiran ini, ya kan? Bukan terus jatuh dari langit terus kamu tubuh manusia ini? Harus ada sebab. Nah, sebab ini adalah berbuat bajik. Ya, kenapa dikatakan berbuat bajik? Karena yang kita peroleh barang ini hasilnya baik, yang kita rasakan bajik. Berarti sumbernya harusnya bajik. Nah, siapa yang memberi tahu tentang ini semua kepada kita? Ada seseorang di masa lampau mengajarkan ke kita bahwa kalau kamu mau baik, harus ini, kamu mau buruk, harus ini. Kan ceritanya begitu. Nah, coba kita merenung-renung. Saya terlahr dengan tubuh manusia yang luar biasa ini. Ini hari, saya mempunyai pekerjaan yang baik. Saya mempunyai kesehatan yang baik. Saya punya lingkungan keluarga, pokoknya kehidupan saya ini baik. Ya, saya kan enggak cacat, enggak soro, enggak sengsara, gitu. Dan misalnya saya kaya, saya cerdas, saya pintar. Terus segala hal baik yang diperoleh di tangan kita ini, itu enggak jatuh dari langit. 

Ada seseorang di kehidupan lampau yang memberi tahu kepada saya caranya ini sehingga saya melakukannya sehingga akibat yang saya petik dari perbuatan itu adalah memberikan saya kebahagiaan yang seperti ini. Misalnya, makanan tadi sepiring yang enak itu, itu kan kebajikan, buah kebajikannya. Itu jatoh dari mana? Bukan jatoh dari langit. Itu ada sebab yang kita peroleh. Sebab yang kita peroleh ini diberi tahu oleh seseorang di kehidupan lampau. Nah, orang ini siapa? Orang ini adalah Guru saya. Nah, dengan pemikiran seperti ini, terus kita berpikir, “Oh ya berarti tanpa seorang Guru, kehidupan kita menjadi gelap.” Ibarat dunia ini tidak ada matahari, matahari tidak terbit, gelap. Tanaman tidak tumbuh, tidak hangat, dunia ini gelap; maka jalan kehidupan kita gelap. Jadi, selayaknya kita berpikir secara logika sederhana, “Ya, Guru saya harusnya umurnya panjang, bagaimana dia senantiasa berkarya dan kita menimba-nimba terus.” Menimba tahu kan? Ya, kaya menimba sumur, menimba air di sumur. Menimba pengetahuan, cara, jalan, tuntunan sehingga dalam sehari-hari kita memperbaiki batin kita sehingga kita mencapai kesempurnaan, kesempurnaan hidup. Ya kalo udah sempurna hidup, ya sudah, kita tidak perlu cara lagi kan. Nah, kan itu cerita sederhananya. Nah, jadi lebih dalem lagi karena segala sesuatu di dunia ini ada sebab akibat saling bergantung. Misalnya, meja ini dia bisa jadi meja karena dia bergantung dengan semua elemen ini. Misalnya, barang ini taro di atas, dia bergantung pada tingginya meja ini. Kan paham toh? Sebab. Tanaman kalo butuh hidup, butuh air, butuh udara, butuh matahari, butuh tanah, butuh makanan, butuh segala macem. Maka, kita membutuhkan sesuatu. Jadi, kita enggak semata-semata, ga bisa semata-mata berpikir “Oh Guru umur panjang”, yaudah Guru umur panjang. Enak aja. Dengan pemikiran seperti yang kompleks itu, maka kita paham bahwa banyak hal yang menghalangi atau banyak hal yang dibutuhkan sehingga sesuatu itu terjadi. Kita mau beli kamera yang bagus ini aja kan, banyak hal yang dibutuhkan. Kerja, uang, bukan semata-mata uang toh? Eh, bukan semata-mata kerja kan? Bukan semata-mata punya uang, terus kita beli. Banyak komponen, hal-hal kecil yang berkaitan itu, baru kita bisa pergi beli. Jadi, itu. Nah, apa maksud Saya? Maksud Saya begini, tidak bisa mungkin semata-mata kalo Guru umur panjang terus umur panjang. Banyak hal. Apa halnya? Guru ada kalau harus ada murid. Itu faktor utama. Guru ada, si orang itu jadi Guru. Kalau ga ada murid, Dia bukan Guru. Dia manusia biasa. Berarti sebab-sebab yang berkaitan tentang sesuatu yang muncul di depan saya sebagai satu individu, itu berkaitan dengan sebab-sebab yang tergantung internal batin kita, internal diri kita, ya toh? 

Ini ceritanya satu  manusia. Kalo KCI ini ceritanya ada 1000 manusia, itu menjadi kompleks. Paham menjadi kompleks? Ngerti kan maksud Saya? Nah, artinya jika Saya mau, jika Saya berkehendak Guru saya umur panjang itu tidak serta merta, “Guru, lu umur panjang ya.” “Ya” Terus Guru umur panjang. Enak aja. Bagaimana itu bisa terjadi? “Woi, Guru, lu umur panjang ya.” “Ya.” Ga mungkin. Banyak hal yang mendukung sehingga hal itu terjadi, umur panjang itu terjadi. Itu jika kita berpikir diri kita saja. Coba tolong matanya buka sekarang. Dari perenunganmu, nolehlah kiri kanan, ada berapa orang? KCI ada 1000 orang misalnya. Itu yang berkaitan langsung. Tapi, kalau Rinpoche memberi pelajaran Dharma kepada Indonesia dan Indonesia ada 270 juta manusia, berarti karma umur panjang Beliau bergantung pada 270 jiwa manusia. Itu kalo Indo, Beliau mengajarnya di Prancis dan di Malaysia dan ngajar di India. Berarti begitu banyak hal yang dibutuhkan bagi sebab-sebab yang dibutuhkan, syarat-syarat, sebab-sebab yang dibutuhkan agar si Guru ini terjadi umur panjang. Paham kan ya? Ga sulit toh. Nah, satu lagi. Kita okelah kita ga bisa mengatur manusia lain, kita ga bisa ngomongin orang lain. Istilah orang, kita ga bisa gembok mulut orang lain. Yang bisa kita lakukan adalah kita aturlah diri kita sendiri. Kita perlu atur diri kita sendiri. So, apa yang kita atur? Apa yang kita atur? Upacara umur panjang itu… Jadi, apa yang kita atur? Yang kita atur adalah kualitas internal kita. Jika kualitas internal batin kita masih berantakan, kemarahannya banyak, kebenciannya banyak, egonya gede, kemelekatan sama duniawi, barang-barang banyak, angin duniawinya kenceng, seneng…lalu… Hal-hal seperti itu membuat… Gini, kalo logikanya terlalu sulit kita pahami, Saya bahas hal secara individu aja. Jika Saya, satu manusia ini kualitas batinnya enggak bagus, kemelekatannya masih banyak, pikirannya masih kacau, tidak fokus, lalu pemikirannya setiap harinya swing, terus galau. Yang paling kita tuh kemelekatan kita terhadap barang-barang duniawi dan kemelekatan kita terhadap feeling-feeling itu menjadi kuat, itu kan Saya secara otomatis makin jauh dari Dharma. Ya, kan? Logikanya kan seperti itu. Kalau kualitas seperti itu yang Saya miliki artinya Saya makin jauh dari Dharma, ya kan? Kalau Saya, orang-orang seperti Saya ini begitu banyak di komunitas KCI, maka komunitas KCI ini tidak ada bedanya dengan kelompok adalah manusia-manusia, makhluk pada umumnya yang jauh dari Dharma. Kalau gitu, otomatis Sang Guru, otomatis kita makin jauh dari Guru. Logikanya paham enggak? Kita makin jauh dari Dharma kan kita makin jauh dari Guru, paham? Kalau gitu, meskipun Gurunya ada, berarti Dia toh tidak akan berpanjang umur. Paham? Mengerti kan? Jadi, yang paling penting…

Makanya, oleh karena itu begitu besar komponen syarat yang dibutuhkan, energi yang begitu besar, hal-hal positif yang sangat amat banyak dibutuhkan sehingga hadirnya Guru yang berumur panjang. Kan logikanya seperti itu tadi, jadi satu tungku cukup enggak? Sekarang 7 tungku aja ga cukup, kok. 7 hari berturut-turut aja tidak cukup, kok. Paham kan? Paham kan? Sesungguhnya loh ya sesungguhnya. Apa lagi kita buat 1 tungku? Paham kan? Nah, so yang paling penting ini apa? Suatu hari, Rinpoche bertanya kepada Saya, “Lobsang Oser…” Saya nih jadi itu pembicaraan Rinpoche umur panjang, pembicaraan Rinpoche reinkarnasi. Tuh kan, merembet ceritanya, jadi jauh nih. Cerita Rinpoche reinkarnasi itu kira-kira 7 tahun, 8 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu sudah Saya bahas dengan Rinpoche berdua. Itu bukan isu baru. Saya bilang, “You harus bereinkarnasi,” Saya bilang, “Rinpoche, Anda harus bereinkarnasi.” Sekarang kan Dagpo Lama Rinpoche yang kelima nih. Rinpoche yang ini kan Dagpo Rinpoche yang kelima, reinkarnasi kelima, Jhampel Lhundrup yang keempat. Nanti yang harusnya yang keenam toh. Dia tanya, “Saya mau reinkarnasi di mana? Apa maksud-Mu reinkarnasi di mana? Ya di sini, lah.” Sini itu di mana? Kan lahir di Tibet? Lahir di Cina? Lahir di Eropa? Lahir di Malaysia? Yang paling mungkin itu lahir di Indo. Kok bisa? Indonesia itu tradisinya ada, modernnya juga ada. Coba kamu bayangkeun seorang yang menjadi Lineage Holder, perwaris ajaran, dia harus… Gini aja, Saya tanya berapa tahun satu orang menghabiskan pelajaran menjadi Geshe? Jawab. 25 tahun. 25 tahun berarti kalau anak itu 10 masuk Biara, dia menjadi 35 baru lulus menjadi Geshe. Hitung matematika aja. 5 tahun, 10 tahun kemudian, tahun 2035, emang sistem itu masih ada? Dia harus mengeyam edukasi modern toh? Matematika, sains, Bahasa Inggris, segala macam. Itu juga membutuhkan waktu. Please, don’t be naïve. Please, don’t be naïve. You mengerti naïf? Kita semua ini naïf. Kamu seorang itu naïf. Kalau Rinpoche reinkarnasi, lalu anak kecil ini hanya tahunya kaya Gyen La, bahasa Inggrisnya ga ngerti, tahunya jadi Geshe, Gyen La keluar ditipu orang, mati Dia, Dia ga bisa apa-apa, Dia tahunya Chennyi. Chennyi bermanfaat, tapi pendidikan sekuler Dia ga bisa hidup. Ya apa tidak? Bener kan? Ini pembicaraan Saya dengen Geshe-Geshe Kullu 5 tahun yang lalu, Saya ribut dengan Genseng Senggye, Sangdrup, semua itu. Saya ribut dengan mereka. Kalian ini naïf semua. Emangnya kamu mau Gurumu yang akan datang itu Cuma Geshe tok? Ga ngerti Bahasa Inggris, bodoh. Ga mungkin. Masyarakat yang akan datang itu seperti apa? Sains. Akhirnya jika Gurumu tidak menjadi Geshe dan hanya menjadi umat awam, kamu terima ga? Saya tanya. Orangtuanya tidak mengizinkan dia masuk biara. Di mana silsilahnya? Di mana silsilahnya? Silsilah itu bukan title. Dagpo Lama Rinpoche yang keenam. Tapi, semua silsilah itu adalah realisasi. Realisasi itu didapat  jika hanya Dia bisa mengenyam pendidikan, sekian puluh tahun itu. Ya toh? 5 teks besar itu, ya ga? Setelah itu, dia merenung, meditasi sekian tahun, hasil baru Dia menjadi orang yang terealisasi. Itu baru Lineage Holder itu terjadi. Lineage Holder itu baru terjadi. Guru, kualitas itu baru terjadi. Geshe-Geshe mah banyak. Pola tingkahnya bajingan ya ada.

Naif kan? Naif kan? Pikir tuh panjang. Makanya Saya tuh ribut dengan kelompok Malaysia. Kita bikin umpanannya, kalian harus ikut terlibat. But, they don’t understand. Si Wi Kiat ga paham. You have to edit ini. Dia tidak paham. Why? Mereka kan ga bisa toh bahwa Rinpoche muncul terus mereka, Rinpoche ga ke Malaysia, hanya ke Indonesia. Setelah Rinpoche… Paham kan? Karma itu kan karma bersama, murid Rinpoche begitu banyak, center-center itu begitu banyak. Paham kan logikanya? Nangkep? Saling berkaitan. Paham ya? Jadi kalau kita mau berumur panjang, balik lagi, kualitas diri kita harus ningkat, batin kita harus ningkat, baru kita punya karma, punya karma, saya baru punya karma, punya sebab Guru saya tidak pergi dari aku. Kan begitu kan ceritanya? Ya kan? Kalau saya tidak punya karma, Guru saya pergi dari aku. Ya ga? Nah, apa karma saya sehingga Guru saya tidak pergi dari saya? Ya, tanyalah pada diri saya sendiri. Orientasi hidup saya itu apa? Ah, ini penting. Ini ga boleh diedit. Tanya pada diri saya, pada kita masing-masing, Apa orientasi hidup saya? Apakah makan, tidur, berak, kencing? Apakah nyari uang, reputasi, kerja? Apa namanya? Diakui keberadaan kita, status kita? Kerja, status? Kerja saya dihargai? Apa orientasi saya? Oh, saya punya sesuatu kehendak di batin saya. Apa itu? Ya, saya masih membutuhkan seseorang yang saya, masih apa namanya, masih… Batin itu kan… terutama milenial. Batin kita itu kan banyak bolongnya itu. Batin kita banyak bolongnya, banyak-banyak hal. Bolong. Hole. Bolong. Apa barang bolong itu? Ga puas ini, ga puas itu. Pingin ini, pingin itu. Luka batin ini, luka batin itu. Kalau orientasi kita masih mengejar itu, memenuhi itu, dan tidak benar-benar paham, inilah yang harus segera saya obati di batin saya, maka hidup kita menjadi kebanyakan orang dan percuma. Sehingga percuma. Kita menjadi jauh dari Dharma. Menjadi jauh dari Dharma, ya, berarti otomatis Guru umur pendek. Kan, logikanya begitu. Jadi upacara umur panjang ini menyangkut.. bukan menyangkut para Acharya yang bakar-bakar di situ. Menyangkut.. ya, kalo dibilang dua ratus tujuh puluh salah juga ya. Dua ratus tujuh puluh juta, Malaysia ga dihitung. Hehehe. India ga dihitung. Tuh puluh kayak apa itu? Ga dihitung. Eropa kayak apa, ga dihitung. Nah, ga dihitung berapa? Banyak kan? So, is not easy. We perform a ritual untuk long life ceremony Sangbun. Kalau kita merenung sesungguhnya, seesensinya itu seperti itu. It’s not a real. It’s not a easy way. It’s not a easy to bilang “Oh iya, perform ritual. Babababa, bakar, bakar, setiap hari sembayang, sembayang, sembayang. Berkah, berkah, berkah.” Belum tentu terjadi. Nah, ga mungkin. Kalau kamu bilang, “Suhu, tolong berilah sambutan closing speech.” Ya, closing speechnya saya itu. Ini yang paling penting, kualitas batin semua orang yang dibutuhkan menyadari, you butuh ga Sang Guru? Kalau you butuh Sang Guru, berarti kamu harus mempersiapkan dirimu untuk menerima Sang Guru. Apa kualitas batinmu? Temanmu datang, terus kamu cemburu. Temanmu datang, terus kamu jealous. 

Terus kamu tangtrung teriak-teriak kegilaan. Apa-apaan itu? Itu jauh.. jauh sekali. Jauh. You  are not suitable vase. Rosemary ribut sama saya. Itu dia sering Whatsapp saya, ribut saya, “Kamu harus gini, harus gini, harus gini.” Yaudah iya, iya, iya. Saya mengerti. “Kamu harus gini supaya Rinpoche umur panjang.” Waktu Rinpoche sakit, “Kamu harus gini, kamu harus segera ini, kamu harus ini.” Jadi, dia tidak menyuruh Saya untuk melakukan ritual, ya dia memaksa Saya untuk melakukan sesuatu sehingga Rinpoche itu lihat Saya tidak sia-sia mengajar, Saya ga sia-sia ngajar. Okelah jika Saya ga sia-sia ngajar, itu berarti jika Saya ngajar itu ada hasilnya yang bisa Saya lihat. Dia seneng sehingga Dia bersedia memperpanjang. Kalau Dia lihat, “Apa ini Saya ngajar bertahun-tahun.” Coba kita lihat, Rinpoche kan mengajar bertahun-tahun di Indo kan ya dua… tiga puluh tahun Rinpoche mengajar di Indo. 20 tahun tahun depan 20 tahun Rinpoche mengajar ke KCI, di Indo 31 tahun. Di Indo 31 tahun, di KCI 20 tahun, tahun depan. Selisih 11 tahun. Kalo Saya jadi Rinpoche, Saya ngajar, tiap tahun datang, umur 85, umur 89 datang ngajar ke Indo, terbang dari Eropa, jauh, lalu cape-cape itu, terus lihat ada hasil enggak? Enggak ada hasil? Kalo gitu ga ada hasil sekian tahun, ya buat apa lagi Saya? Mati ya sudahlah. Logikannya kan begitu. Kalau misalnya ada hasil, orangnya sudah memasuki tingkat penolakan samsara. Lalu, mulai menapaki serius, mulai menapaki serius, bukan hanya sebut-sebut, ucap-ucap, baca-baca saja. Mulai menapaki serius Bodhicitta, mulai menapaki serius marga persiapan, penglihatan, maka si Guru itu lihat. “Oh ya, Saya ga sia-sia, cape-cape, jauh-jauh datang. Oke, kalo gitu dia sebentar lagi bunganya berbuah. Jadi, Saya ga boleh pergi. Saya tungguin sehingga ini buahnya jadi.” Kan logikanya begitu kan ya? So, balik lagi, lu mau Guru umur panjang atau tidak kembali pada kualitas batin kita. Apa yang kita pikir? Apa orientasi hidupmu sampai ini hari? Apa tujuan hidupmu? Ya, tanya aja apa tujuan hidupmu? Makan, tidur, berak, kencing? Kawin, beranak, atau apa? Tanya orientasi hidupmu. Apa kamu bener-bener serius mengubah, memperbaiki kualitas batinmu? Menapaki jalan itu? Nah, kalo serius, inilah yang menjadi energi yang dibakar oleh Saya. Tadi, itu kan Saya berhenti, api berhenti pada saat Yidam. Kalo pada saat Dewi Api masih mending. Ini pada saat Yidam. Halangan muncul kan? Ga nyala kan? Berarti apa? Hari terakhir lagi. Itu besar tuh. Perkara besar hari ini. Penutupan. Berarti halangan besar itu muncul. Oke, ada halangan. Apa halangannya? Oh, masalah internal semua manusia. Masalah internal… Ya, kalo masalah internal, batin kita, tidak kita koreksi dengan serius. Kualitas kita, tujuan kita, orientasi kita. Masih mata duitan ga? Gini lah, paling gampang, gini. Tanya batin kita, apakah di batin kita, di salah satu pojok batin kita, masih ada pemikiran Saya sangat tertarik dan tidak ingin pergi, tidak ingin melepas dari dunia ini? Dunia ini ya termasuk rumahmu, anjingmu, pacarmu, ikanmu, rumahmu, biaramu, pohonmu, WCmu, tahimu, burungmu, segala macam. Berarti itu, kalo kita menemukan batin seperti itu artinya itu jadi mengikat kamu pada samsara. You tak bisa lepas. Kalo gitu ga usah bahas, “Oh saya ingin bekerja bagi semua makhluk.” Ah, itu ga usah dibahas. 

Pertanyaan terakhir, apakah kita serius? Orang-orang di sini, apakah kita serius? Serius means serius, serius ya serius. Apakah saya serius? Apa artinya serius? Dalam hidup saya ini serius, ini perkara serius. Misalnya, kamu ujian, besok ujian, mau lulus kuliah. Berarti kan kamu serius itu, setiap hari belajar, nyicil sehingga kamu lulus ujian. Apakah kita serius? Memandang ini perkara yang serius? Bahwa saya ini serius menapaki jalan spiritual, ini serius apa tidak? Kalau pikir, “Ah, saya hanya kerja di sini, tidak serius. Sore belajar, ada prolam, terus udah. Abis itu, ya sudah. Orientasi saya hanya makan, tidur, berak, kencing, males. Males saya dipiara, itu kan kita suka memelihara males itu. Ya, berarti pelajaran ini tidak serius. Upaya Sang Guru itu tidak ada hasilnya. Apa yang membuat itu menjadi ingin tinggal lebih lama di samsara itu? Gini, tinggal di samsara itu tidak menyenangkan bagi dia. Jadi, ini poin yang paling penting ketika longlife. Apa yang bisa mendesak Sang Guru agar dia mengubah pikirannya untuk tinggal lebih lama? Saya selalu tanya. Suatu hari, Saya pernah tanya, berbicara, pamitan gitu, “Rinpoche, tinggallah lebih lama.” “Yes, yes, yes, I try, I try” Serious to try, we can see, serious is he to try. Apa? Olahraga rutin, makan rutin, minum rutin. Jadi, suatu hari, Saya ditanyain, dimarahin sama Rinpoche, “Lobsang Oser, kamu itu pagi kayak sering enggak sarapan ya?” “Ya, dari zaman sekolah.” “Enggak boleh, pagi, lu secape apapun, kamu harus makan, kalo ga besok tua, kamu sengsara kamu. Kamu ga lihat Saya? Saya makan rutin, malam tidur, sebelum tidur, 2 gelas air tuh rutin.” Ngerti ga maksud Saya? I want to say, I want to tell you that sesuatu upaya menjaga tubuh ini senantiasa sehat dan berumur panjang itu perkara serius yang dijalanin. Paham kan? Nah, itu bisa merefleksi pada kita. Apakah kita adalah orang yang serius menjaga tubuh kita, tubuh jasmani kita menjadi senantiasa sehat? Tidak. Ya kan? Tidak.Ya, lihat. Tidur bergadang, makan indomie, ndak jelas entah apa, jajan tak jelas apa. Itu perkara fisik. Jadi, hal sepele yang saya tanyakan, saya bilang ke Rinpoche, “Please longlife, stay agak lama bagi kita. Kita belum mencapai apa-apa, tolong, tungguin, tapi kita serius.” “Yes, yes, yes. Don’t worry, I try. I’m trying to life long.” Umur segini masih sehat, masih jalan, masih olahraga. Itu kan artinya satu orang ini serius menjaga jasmaninya. Kalau jasmaninya serius itu kan, dia tidak sakin kan, ya? Coba lihat aja bapakmu, akongmu umur berapa? Kakekmu umur berapa? Makan sembarangan, jajan sembarangan, tidur sembarangan. Apakah orangtua kita yang kalo mau dibilang orangtua itu, apakah ada satu pemikiran serius menjaga umurnya, menjaga fisiknya? Enggak. Kamu aja enggak. Nangkep enggak? So, Rinpoche trying untuk hidupnya panjang dengan jasmani yang sehat maka umurnya panjang. Maka, si murid harus tahu diri juga. Si murid ini harus tahu diri juga. Apa yang kita lakukan? Apakah perkara hidupmu itu serius? Saya tidak melihat anak-anak ini serius dalam hal, misalnya ada beberapa orang yang pake jubah, nih. Itu kan tentu orangnya serius dalam menapaki jalan spiritual. Tapi, perilakunya tidak serius, kok. Tak serius. Gimana serius? Wong hari ini gimana, besok  gimana. 

Dia ini kayak jalanin aja. Jalanin aja. Hari ini gimana, besok gimana, lusa gimana, yaudah jalanin aja. Itu tidak serius. Serius itu  ketika kamu pernah mau ujian. Contoh nih serius waktu kamu mau ujian, kelulusan SD, SMP, SMA itu, belajaaaaarrrr sekian hari. Itu kan potongan momen itu kan serius, itu ya? Nah, apakah kamu serius dalam sehari-harimu? Enggak. Bagaimana Guru bisa umur panjang? Tidak ada effort yang diperlihatkan, dipersembahkan, yang ditawarkan sehingga yang ditanamkan sebagai sebab. It’s no point. Jadi, Saya hanya berupaya melakukan terbaik yang bisa Saya lakukan. Bagi Saya pribadi adalah, ini adalah praktik di mana Saya berbakti kepada Guru Saya. Ini adalah… bakar-bakar itu. Ini adalah suatu upaya Saya, stau cara Saya berbakti kepada Guru Saya. Saya menghormati Guru Saya, Saya mempersembahkan sesuatu aktivitas-aktivitas kepada Guru Saya sehingga Saya memperoleh buah yang Saya harapkan. Itu Saya, Saya ga tau yang lain. Lalu, semoga Dia berumur panjang, itu yang menjadi goal. Tapi kan Saya sendiri tidak cukup. Tujuh tungku ini tidak bisa ngangkat, 100 tungku pun belum tentu bisa. Ya kan? Untuk membuat tujuh tungku aja butuh proses 2 tahun. Persiapan. Waktu kemarin, Andre bilang, “Tahun depan kita bikin 100 tungku.” Kamu mau bikin kebakaran hutan? Di mana 1 lanpangan 100 tungku? Itu panasnya kayak apa itu? Itu sulit, ga masuk akal. Makin besar, ga masuk akal. Berarti, penghalang untuk mencapai itu sulit. Kan logikanya begitu. Ya, itu aja kisah tentang closing Saya tentang umur panjang. Saya harus berterima kasih kepada banyak orang yang telah memberi kontribusi acara ini terjadi, dari para donator yang di Malaysia itu, makanya Saya oyok-oyok itu orang Malaysia biar ikut kontribusi; beberapa orang di Belanda, satu dua orang; lalu kemudian banyak orang di Indo; kemudian semua tim. Kita ini ga ada panitia, auto pilot, jalan, jalan, jalan. Ya, semua tahu, masing-masing tahu apa yang perlu dilakukan. Itu suatu hal yang membanggakan bagi kita. Yang paling penting ya tadi ketika kita merenung apa yang telah kita belajar selama 20 tahun ini. Lalu, apa yang terjadi pada hidup kita dan apa yang ada di batin kita, di batin kita ini. Kita perlu pikir-pikir serius. Kita ini hidup serius atau enggak ya? Ngerti ya? Kita ini hidup serius atau enggak ya? Jadi, apa yang kita pelajari, yang sudah kita dapatkan 20 tahun? Apa yang kita jalani sehari-hari? Dan apa yang ada di hati kita? Coba 3 hal itu direnung-renung. Kita itu serius ga sih? Apa sih yang kita seriusin? Misalnya kita lulus S1, S2, S3. Pulang, kita mengejar ambisi kita. Mau bikin ini, mau bikin itu, bangun ini bangun itu, buat ini, buat itu. Apa ini ceritanya? Kita serius ga sih? Serius tidak serius tergantung kita melihat ini perkara penting atau tidak. Ini perkara penting atau tidak. Kalau ini perkara penting, maka harus diseriusin. Kalau tidak penting, ya ga usah di sini lah. Ga ada ceritanya. Terima kasih kepada banyak orang. Terima kasih kepada tim, kepada biara, kepada para yang memberi bantuan dana, kepada cameramen yang jauh-jauh, ikut berpanas-panas, kasihan, muka kalian jadi udang rebus. Terima kasih kepada Dewa Bumi ini, kepada Dewa Naga, dan terima kasih kepada kita semua. Terima kasih ini bisa terjadi. Luar biasa. Memang luar biasa. Mungkin pertama kali di Indo ya yang paling besar seperti ini? Harusnya ini agenda rutin. Jadi, bukan sesuatu yang heboh sebenernya.

Agenda rutin, tanggung jawab, kewajiban kita untuk memuliakan Guru. Itu. Saya kira cukup. Kalo ngomong nanti ga ada berhentinya. Terima kasih ini sudah terwujud.

 



Share