Tingkatkan dan luaskan kesejahteraan, kebajikan, dan umur panjang; kumpulkan kekuatan dunia; bebaskan dari musuh dan penghalang; naikkan panji kemenangan raja dari posisinya; penuhilah semua tujuan yang diinginkan
—Doa Pemasangan Lungta
Lungta (Tib.: རླུང་རྟ་) adalah bendera doa khas Tibet yang berisi gambar Buddha dan Bodhisattva, doa, dan mantra yang dipercaya membawa kebahagiaan, kedamaian, kemakmuran, keberuntungan, kesehatan dan kemenangan atas halangan.
Selama berabad-abad, orang Tibet memasang lungta di sekitar rumah mereka, di tempat-tempat suci, dekat biara, dan di jalur pegunungan, sebagai persembahan kepada para Buddha dan Bodhisattva, dan juga sebagai doa untuk kebahagiaan semua makhluk. Saat doa-doa ini terbawa angin, berkah dari ajaran Buddha muncul, keadaan yang menguntungkan tercipta, dan segala jenis rintangan dihilangkan.
Secara harfiah, lungta berarti ‘kuda angin’. Pada zaman dahulu, kuda merupakan kendaraan tercepat manusia. Sedangkan, angin juga berhembus dengan cepat. Sama seperti cepatnya kuda dan angin tersebut, doa baik diharapkan dapat membawa perubahan baik dengan cepat.
Lungta memiliki beberapa tingkat makna, yaitu:
Lungta adalah makhluk mitos Tibet yang menggabungkan kecepatan angin dan kekuatan kuda untuk membawa doa dari bumi ke surga.
Lungta berkaitan dengan energi positif atau 'kekuatan hidup' dan 'keberuntungan', penakluk kejahatan sekaligus wahana pencerahan. Lungta juga biasanya menampilkan harimau, singa salju, garuda, dan naga yang berasal dari tradisi astrologi kuno Tibet dan Tiongkok yang mereka melambangkan keberanian dan ketahanan lungta.
Lungta melambangkan 5 elemen yang membentuk semua fenomena, ruang dari segala manifestasi. Kuda Angin dan 4 makhluk mitologi disusun dalam konfigurasi yang sama dengan mandala lima bagian yang digunakan untuk lima keluarga Buddha.
Batin kita berhubungan dengan angin batin dalam tubuh. Kuat atau lemahnya kuda angin menentukan apakah kecenderungan positif atau negatif mendominasi pikiran.
Segala sesuatu—dari warna hingga gambar dan kata-kata pada lungta—memiliki makna mendalam. Setiap warna mewakili setiap elemen, dalam urutan tertentu:
Selain itu, lungta juga menunjukkan arah—Utara, Selatan, Timur, Barat, dan Tengah.
Orang Tibet biasanya memasang bendera doa setiap tahun pada Hari Tahun Baru Tibet (Losar) atau pada festival Dzamling Chisang untuk memperingati berdirinya Biara Buddhis pertama di Tibet.
Namun, lungta juga bisa pada hari-hari lain juga. Dipercaya bahwa hari-hari yang cerah dan berangin adalah hari-hari terbaik untuk memasang bendera tersebut. Sebagian orang percaya bahwa memasang bendera doa pada tanggal-tanggal astrologi yang tidak menguntungkan dapat mendatangkan kemalangan. Selain itu, pemasangan lungta juga dianjurkan saat bulan naik & kurang dianjurkan saat bulan turun.
Sangat wajar jika bendera doa memudar seiring waktu, yang melambangkan ketidakkekalan. Namun dengan memudarnya bendera ini, doa-doa yang disematkan pada bendera tersebut menjadi bagian permanen dari alam semesta.
Kita bisa terus memperbarui harapan dengan memasang bendera baru di samping bendera lama. Bendera doa yang baru dapat digantung di atas bendera lama. Kontras antara bendera doa lama dan baru mengingatkan kita akan siklus alami kehidupan dan kematian. Namun, bendera lama juga dapat diturunkan dan dibakar, sehingga asap yang mengepul menyampaikan harapan baik bagi lingkungan.
Motivasi yang baik penting saat memasang lungta. Lungta tidak boleh dipajang dengan pikiran yang egois. Saat memasang lungta, penting untuk berpikir bahwa semua makhluk akan mendapat manfaat darinya dan menemukan kebahagiaan, motivasi ini sangat meningkatkan kekuatan doa.
Pada era kemerosotan (Skt.: Kaliyuga) ini di mana kebencian mudah tersebar, pertikaian terjadi di mana-mana, baik di tingkat negara maupun warga negara itu sendiri. Oleh karena itu, kita butuh karma bajik yang besar untuk bisa melawan kebencian yang tersebar dengan cepat yang dapat menghancurkan umat manusia. Getaran spiritual yang positif dari Lungta akan terbawa oleh angin seperti doa hening dan memberkahi seluruh dunia.
Back:
Panduan Kebajikan
Next:
Astasila Mahayana