Kisah Dewa Laut Bertanya

Kisah dewa laut bertanya

Suatu kisah, ada seorang umat awam yang menjadi pemandu dari 500 saudagar yang berlayar untuk mencari permata. Ketika sampai di tengah laut, mereka bertemu dengan dewa laut yang melontarkan beberapa pertanyaan kepada murid awam.

Salah satu pertanyaan dewa laut adalah “Murid awam, beritahu saya, yang mana yang lebih banyak air di telapak tanganku atau air di lautan?”

Murid awam menjawab: “ Air di telapak tanganmu lebih banyak”

Dewa laut berkata: “Sekarang, murid awam, engkau salah.”

Murid awam menjawab: “Apa yang saya katakan adalah benar dan saya tidak salah. Dengarlah baik-baik dan saya akan memberitahu mengapa. Hal itu memang benar, seperti yang kau katakan, bahwa air di laut lebih banyak. Tetapi waktu tanpa diduga akan datang ketika air itu menguap. Pada kalpa zaman kemerosotan, matahari kedua akan muncul dan sumber mata air dan saluran air akan menguap. Ketika matahari ketiga muncul, aliran air akan menguap dan kering. Ketika matahari keempat muncul, sungai-sungai besar yang mengalir akan menguap. Ketika matahari kelima muncul, air di lautan besar akan kering dan Gunung Meru akan mulai terbakar dari dhyana pertama. Siapapun yang memberikan persembahan meskipun hanya setelapak tangan air kepada Buddha, kepada Sangha yang terhormat, kepada ayah dan ibu, kepada yang kekurangan, atau kepada binatang-binatang, karena hal ini akan mendapatkan kebajikan yang tidak dapat dirusak selama hitungan kalpa. Inilah alasan mengapa air di telapak tanganmu jauh lebih banyak daripada semua air di lautan.”

Ketika dewa laut mendengar hal itu, dia takjub dan memberikan banyak perhiasan kepada murid awam. Perhiasan yang paling sempurna mereka berikan kepada Buddha dan Sangha.

Kolofon:
Disadur dari bab 5 Sutra tentang Yang Bijak dan Yang Dungu (Sutra of the Wise and the Foolish)


Share