Dromtonpa Gyelwe Jungne adalah seorang umat awam yang merupakan Guru agung Buddhis. Beliau adalah murid dari Guru Atisha Dipankara Srijnana. Dari Guru Atisha, Guru Drom memperoleh julukan ‘Sang Pembimbing Agung’.
Guru Drom terkenal akan pencapaian spiritualnya berkat praktik bertumpu pada Guru. Atas sikap melayani Gurunya yang tak dapat ditandingi, Guru Drom dipercaya sebagai pemegang silsilah ajaran Guru Atisha Dipankara Srijanana. Beliau sering memberikan persembahan praktik ataupun materi kepada Guru Atisha dengan tujuan memperoleh kebajikan dan kebijaksanaan demi pencerahan untuk kebahagiaan semua makhluk.
Salah seorang murid utama Guru Atisha adalah Guru Drom atau yang biasa dikenal sebagai Dromtonpa. Nama lengkap beliau sendiri adalah Dromtonpa Gyelwe Jungne (Tibet: འབྲོམ་སྟོན་པ་རྒྱལ་བའི་འབྱུང་གནས atau Dromtönpa Gyelwé Jungné་). Beliau juga dipercaya sebagai inkarnasi ke-45 dari Bodhisattva Avalokitesvara, sebelum dimulainya silsilah Dalai Lama.
Sekalipun beliau tetap memutuskan untuk menjadi upasaka atau umat awam di sepanjang hidupnya, namun beliau sangatlah berjasa dalam meneruskan ajaran atau silsilah dari Guru Atisha di Tibet. Guru Dromtonpa sendiri adalah penginisiasi berdirinya tradisi Kadam dari Guru Atisha.
Guru Dromtonpa lahir dengan nama Chopel pada 1004 M di Tolung, sebuah daerah di dekat kota Lhasa di Tibet pada masa awal penyebaran Buddhis kedua di Tibet. Ayah beliau bernama Kushen Yaksherpen dan ibu beliau bernama Kuoza Lenchikma.
Masa kecil dari Guru Dromtonpa sangatlah sulit. Hal ini karena beliau mendapatkan perlakukan yang buruk dari ibu tirinya. Namun berkat hal ini, beliau pun bertekad untuk mencari paman dari pihak ibu kandungnya di wilayah Shu. Melihat kualitas yang luar biasa dari Guru Dromtonpa kecil, sang paman pun mengenalkan Guru Dromtonpa pada Geshe Yung Chogon.
Mulai dari sinilah beliau terkenal akan baktinya kepada Guru-Guru beliau yang pada akhirnya mengantarkan Guru Dromtonpa meraih pencapaian spiritualnya.
Guru Dromtonpa kecil pun belajar membaca dan menulis di bawah bimbingan Geshe Yung Chogon. Selain membaca dan menulis, beliau pun juga belajar dasar-dasar Buddhisme termasuk menghafal doa dan ritual dari geshe tersebut. Selama empat tahun Guru Dromtonpa kecil mendedikasikan dirinya untuk belajar dan berbakti kepada Gurunya tersebut.
Ketika berusia enam belas tahun, Guru Dromtonpa remaja pun berjumpa dengan Yang Mulia Setsün, yang merupakan kepala di Biara Drum yang ada di wilayah Kham. Saat itu, Yang Mulia Setsün sedang singgah di Shu. Tanpa melewatkan kesempatan yang berharga ini, Guru Dromtonpa remaja pun memohon untuk dianugerahi ajaran tentang Avalokiteśvara. Setelah itu, Guru Dromtonpa remaja meminta izin agar bisa berguru pada Yang Mulia Setsün di Kham. Beliau pun diizinkan namun pada tahun berikutnya.
Sembari menunggu keberangkatan ke Biara Drum, Guru Dromtonpa remaja pun pergi ke Penpo untuk menemui Chang Nanam Dorje, di suatu pertapaan di Gyel. Ia menerima sila-sila upasaka dari Guru ini, yang kemudian memberikan Guru Dromtonpa dengan nama Gyelwei Jung-ne, yang artinya ‘Sumber Segala Kejayaan’.
Ketika Guru Dromtonpa belajar di Kham tersebut, beliau sudah menginjak usia sembilan belas tahun. Guru Dromtonpa berkesempatan untuk mempelajari Sutra dan Tantra. Beliau pun memperoleh pengetahuan sempurna akan sistem filosofi Madyamaka dan Cittamātra. Lalu, beliau pun bertekad untuk mempelajari Dharma dalam bahasa aslinya dari seorang pandit India yang menetap di Kham bernama Smirti. Dari pandit inilah Guru Dromtonpa mendengar tentang Guru Atisha.
Bukanlah hal yang mudah bagi Guru Drom untuk bertemu dan belajar dengan Guru Atisha. Beliau menempuh perjalanan yang sangat panjang menuju Ngari dekat perbatasan Nepal, tempat Guru Atisha berada saat itu.
Di saat yang bersamaan, saat itu Guru Atisha sedang bersiap untuk pulang, karena waktu yang diizinkan oleh kepala Biara Vikramasila kepadanya di India sudah akan habis. Selain itu, beliau pun merasa putus asa untuk bertemu dengan seseorang yang dijanjikan oleh Dewi Tara dalam penglihatannya. Lalu pada malam harinya, Dewi Tara pun datang dalam mimpi Guru Atisha dan memberitahukan bahwa seseorang itu akan datang dalam tiga hari lagi.
Orang yang diramalkan tersebut ternyata adalah Guru Dromtonpa. Lalu Guru Atisha pun menganugerahi Guru Dromtonpa inisiasi Mañjuvajra, sosok utama dari sembilan belas istadewata pada maṇḍala Guhyasamāja, dan juga membabarkan Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan (Tibet: Lamdron) yang sebelumnya telah disusun atas permintaan Raja Tibet, Lha Lama Jangchub O.
Semenjak Guru Dromtonpa masih di perjalanan menuju ke tempat Guru Atisha, beliau sudah membangkitkan tekad yang kuat untuk mengajak Guru Atisha ke Tibet. Saat itu, adalah suatu tradisi untuk mengundang Guru besar dengan surat yang terbuat dari tulisan emas. Maka di sepanjang perjalanan, Guru Dromtonpa juga mengumpulkan bantuan dari berbagai penguasa dan kelompok terpelajar. Berkat kegigihannya, Guru Dromtonpa pun berhasil mengumpulkan segala yang dibutuhkan untuk mengundang Guru Atisha.
Namun karena waktu yang diberikan kepada Guru Atisha memang terbatas, mau tak mau Guru Atisha harus pulang ke India. Meski demikian, ternyata saat itu suasana di Nepal tidak kondusif untuk melakukan perjalanan ke India. Akhirnya Guru Atisha pun mengirimkan salinan Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan kepada kepala biara di India dan singkatnya Guru Atisha pun diberikan izin untuk menetap di Tibet dalam waktu yang tak ditentukan.
Lalu Guru Dromtonpa pun mendesak semua orang terpelajar di Tibet untuk mengadakan upacara yang megah dalam rangka mengundang Guru Atisha. Setelah itu Guru Dromtonpa pun senantiasa menemani perjalanan Guru Atisha di Tibet.
Murid-murid Guru Atisha di Tibet yang sezaman dengan Guru Dromtonpa pun memilih beliau untuk menjadi pemangku silsilah Guru Atisha. Hal ini sesuai dengan nasihat Guru Atisha untuk selalu mengikuti bimbingan ‘Sang Pembimbing Agung’, sebuah gelar yang diberikan Guru Atisha kepada Guru Dromtonpa.
Sepeninggal Guru Atisha, Guru Drom bersama murid-murid terdekat Guru Atisha lain pergi untuk mendirikan Biara Reting. Beliau pun melanjutkan karya besar Guru Atisha dengan menyebarkan Dharma di tanah bersalju Tibet. Sekali pun beliau adalah seorang upasaka atau umat awam, namun beliau menegakkan aturan monastik yang tegas kepada para biksu di biaranya.
Doa kepada Arya Tara, doa singkat kepada Tārā Putih yang termasuk dalam pujian kepada Tiga Istadewata Umur Panjang.
Back:
Geshe Yoenten Gyatso
Next:
Nasihat Guru