Chokor Duchen

Chokor Duchen

CHOKOR DUCHEN (Skt.: Aṣāḍha; Ind.: Waisak; Tib.: ཆོས་འཁོར་དུས་ཆེན་ Chökhor Düchen) memperingati pemutaran roda Dharma pertama setelah Buddha mencapai penerangan sempurna. Chokor Duchen adalah salah satu dalam 4 momen penting yang dirayakan dalam Buddhisme Tibet.

Setelah mencapai penerangan sempurna, Buddha tidak langsung membabarkan Dharma. Akhirnya, atas permohonan Dewa Indra dan Brahma, Buddha memutar roda Dharma pertama kali di Sarnath dengan mengajarkan ‘Empat Kebenaran Arya’.

Pemutaran Roda Dharma Pertama

Setelah mencapai penerangan sempurna, Buddha tidak langsung membabarkan Dharma. Beliau merenungkan betapa dalamnya Dharma dan betapa makhluk lain tak sanggup memahaminya. Akan tetapi, Beliau merenung lagi,

"Welas asihku terhadap semua makhluk tiada mengenal batas.
Aku tak boleh menyimpan keraguan ketika pihak lain memohon padaku.
Semua makhluk berbakti pada Brahma, jadi apabila Brahma memohon, aku akan memutarkan Roda Dharma.”

Ketika Brahma memohon Sang Buddha untuk membabarkan Dharma, Sang Buddha hanya menyetujuinya dengan keheningan. Lalu, datanglah Dewa Indra yang berkata:

"Batin Anda telah meraih pembebasan penuh, laksana rembulan yang muncul dari rahang Rahu. Aku memohon kepada Anda, oh Sang Pemenang Pertempuran, untuk bangkit dan membiarkan cahaya kebijaksanaan Anda menerangi dunia ini."

Mendengar hal ini, Sang Buddha pun tetap diam. Setelah mendengar permohonan dari Dewa Brahma dan Dewa Indra, Sang Buddha pun menjawab:

"Makhluk hidup dibelenggu oleh rantai hasrat, tersapu oleh arus kehidupan duniawi. Aku sendiri melewati kesukaran yang teramat besar sebelum mampu memahami kebenaran. Jadi, tidak ada alasan untuk mengajarkan Dharma."

Setelah Sang Buddha berkata seperti ini, berbagai pertanda buruk pun muncul. Ajaran sesat yang dihasilkan oleh pikiran jahat telah menyebar di seluruh dunia.

Dewa Brahma pun memohon kepada Sang Buddha. Setelah dimohon sampai tiga kali, Sang Buddha pun berkata: "Aku akan memberikan nektar ajaran kepada mereka yang punya telinga untuk mendengar, yang memiliki keyakinan, yang senantiasa mendengar ajaran tanpa secuil pun pikiran buruk."

Berkat welas asih dan kebijaksanaan Sang Buddha, Beliau pun berkenan untuk membabarkan dan memutar ajaran Dharma. Maka, Sang Buddha pun memutuskan untuk membabarkan Dharma pertama kali di Taman Rusa Isipatana, Sarnath, kepada lima pertapa yang dulu sempat menjadi rekannya dalam praktik tapa yang keras.

Merayakan Chokor Duchen

Pada momen Chokor Duchen ini, seseorang harus berhati-hati dalam pikiran, ucapan, dan tindakannya. Karma baik dan buruk yang dilakukan di momen ini diyakini akan berlipat ganda.

Dikatakan dalam kitab Vinaya, karma aktivitas bajik kita akan berlipat ganda 100 juta kali. Mengingat betapa berharga dan langkanya kesempatan ini, kita bisa perlu banyak mengumpulkan kebajikan, mempurifikasi karma buruk, mendedikasikan diri untuk berlatih dan belajar Dharma, seperti:

  1. Persembahan ekstensif kepada Triratna, meliputi: Membuat Persembahan Air, Membuat 7 Persembahan, Melakukan Persembahan Pelita, dll.
  2. Enam Praktik Pendahuluan
  3. Pembacaan Pujian kepada Pratītyasamutpāda–Hukum Sebab Musabab yang Saling Bergantungan (Tibet: རྟེན་འབྲེལ་, Tendrel Du Jungwa) karya Yang Mulia Je Tsongkhapa
  4. Di antara semua ajaran Buddha, topik terkait Pratītyasamutpāda merupakan ajaran yang bisa dikatakan sebagai inti ajaran Buddha. Seperti yang disampaikan oleh Guru Nagarjuna: “Di dalam gudang ajaran Buddha, 12 Mata Rantai adalah harta karun yang paling berharga dari semuanya.”

  5. Pembacaan Ornamen Realisasi (Skt.: Abhisamayālaṅkāra; Tib.:. མངོན་རྟོགས་རྒྱན་, Ngöntok Gyen) karya Arya Asanga yang berasal dari Arya Maitreya
  6. Teks ini adalah penjelasan atas Sutra Prajnaparamita yang menggambarkan keseluruhan perjalanan Bodhisattva dari pertama kali membangkitkan Bodhicitta hingga pencapaian kemahatahuan. Teks ini merupakan teks yang sangat penting di Indonesia. Teks ini pernah diajarkan oleh Guru Swarnadwipa Dharmakirti dari Kerajaan Sriwijaya kepada Guru Atisha dari India dan kemudian diteruskan kembali di Tibet. Walau sempat menghilang, ajaran ini kembali dilafalkan, dipelajari, direnungkan, dan dimeditasikan kembali di Indonesia.

  7. Pembabaran Dharma tentang Empat Kebenaran Arya atau topik Lamrim lainnya
  8. Pembacaan Doa Arya Maitreya (Tib.: བྱམས་པའི་སྨོན་ལམ Jampei mönlam)
  9. Jampei Moenlam yang merupakan doa kepada Arya Maitreya yang merupakan calon Buddha yang akan muncul di masa mendatang. Doa ini berasal dari sutra Aryamaitri Pranidhana Raja yang berisi berbagai dedikasi terkait praktik enam paramita yang harus ditempuh seorang Bodhisattva.

PUJA CHOKOR DUCHEN

Mari merayakan Chokor Duchen bersama keluarga besar KCI!

Peristiwa Penting Buddha lainnya

Share