“Jika ingin kondisimu berubah maka lakukan puja api. Bagi yang akan lahir di neraka, maka bebaslah dari kesalahan tersebut. Jika telah menerima abhiseka secara penuh lalu melakukan persembahan api, maka tidak diragukan lagi ia akan terlahir di alam bahagia.”
—Teks Jong Gyuy
PUJA API VAJRADAKA (Tib. Dorje Khadro; Skt. Vajraḍāka Agnihotra) adalah salah satu praktik purifikasi karma buruk yang sangat kuat. Dalam praktik ini, kita mempersembahkan karma buruk dan klesha yang kita miliki kepada Vajradaka untuk dimurnikan. Vajradaka sendiri adalah Istadevata yang termasuk dalam salah satu delapan Vajra-yaksa (penjaga pelindung yang mengatasi halangan sekaligus mendukung praktik spiritual).
Praktik ini penting karena meskipun kita tekun mengumpulkan kebajikan, kita tidak bisa menjamin bahwa kebajikan tersebut tidak akan habis dibakar oleh klesha kemarahan. Lebih lanjut, bagi pemegang sila Pratimoksa, Bodhisattva, atau Tantra, akan banyak pelanggaran yang dilakukan. Belum lagi dengan pelanggaran samaya terhadap Guru Spiritual dan para Buddha.
Untuk memperoleh manfaat dari praktik ini, kita perlu memastikan motivasi kita murni, bebas dari delapan angin duniawi, dan ditujukan untuk mencapai Kebuddhaan atau minimal terlahir kembali dengan kebebasan dan keberuntungan untuk bisa terus mempraktikkan Dharma. Jika kita mencemari motivasi dengan delapan angin duniawi, maka praktik kita menjadi tidak murni dan bisa jadi bukan praktik Dharma.
Selain itu, kita juga perlu memastikan kehadiran empat kekuatan, yaitu penyesalan, penawar, tekad, dan basis (berlindung dan Bodhicitta). Apalagi jika ditambah dengan pemahaman akan sunyata, maka purifikasi kita akan menjadi sangat bermanfaat.
Silsilah praktik ini berasal dari Je Tsongkhapa yang ditemukan dalam Dua Puluh Satu Catatan, salah satu karya berdasarkan Tantra Guhyasamaja. Praktik ini diwariskan kepada murid Beliau, Khedrup Gelek Pelsang (Khedrup Je) dan terus diajarkan turun temurun sampai pada kita sekarang.
Ada kisah seorang Kepala Biara yang diramalkan akan terlahir di Sukhavati Tetapi setelahnya beliau menggunakan persembahan untuk Sangha demi kepentingan pribadinya. Beliau meminta untuk diramal kembali dan hasilnya jelas beliau akan terlahir di neraka. Kemudian dengan rasa penyesalan dan kekuatan penawar beliau melakukan puja api Vajradaka. Setelahnya, beliau kembali bersurat kepada Panchen Lama dan hasilnya adalah beliau kembali akan terlahir di Sukhavati.
Praktik yang sesungguhnya berdasarkan teks Acarya Taranatha Dorying Kyilchog Doje Jungwa dan juga teks yang berjudul Kobaran Api Merah Sempurna dari Vajra Krodha (untuk) Mencapai Ketenangan Batin:
“Sang murid membayangkan mandala angina di telapak kaki, kobaran api kebijaksanaan di pusar, dari sana cahaya memancar ke jantung hati, kemudian memancar ke segala penjuru, lalu bayangkan cahaya menyatu kembali ke jantung hati. Bayangkan Vajradaka di hadapan kita. Dari suku kata BAM muncul kalajengking, kesalahan perilakumu dikeluarkan melalui hidung. Setelah itu bayangkan dirimu dalam wujud murka, kemudian persembahkan (wijen ke dalam api) sambal membaca mantra “OM VAJRADAKA KHA KHA KHAHI KHAHI SARVA-PAPAM DAHANA BHASMIKURU YE SVAHA.”
Back:
Panduan Kebajikan
Next:
Kangso