TOLAK BALA adalah upaya untuk menghindar atau menjauh dari berbagai bentuk malapetaka, halangan, kemalangan, dan bencana melalui serangkaian praktik purifikasi (pemurnian terhadap karma buruk) dan penghimpunan kebajikan secara intensif.
Melakukan tolak bala tidak serta merta menjamin bahwa kesialan atau buah karma buruk kita tidak akan berbuah sama sekali. Seberapa besar efek tolak bala ini tergantung pada ini seberapa besar kita menerapkan 4 kekuatan purifikasi, khususnya rasa penyesalan akan karma buruk yang telah kita lakukan. Semakin tulus niat dan upaya kita dalam menghimpun kebajikan, maka semakin banyak tabungan karma baik sehingga semakin besar juga peluang karma baik berbuah dan semakin kecil peluang kesialan untuk muncul.
Baca: Nasihat Suhu tentang Tolak Bala
Ciong & Tolak Bala
Ciong seringkali dimaknai sebagai “kesialan”. Padahal secara harafiah “ciong” berarti “bertemu”, bisa jadi bertemu dengan energi baik ataupun energi buruk. Jika bertemu dengan energi baik akan menjadi keberuntungan dan jika bertemu dengan energi buruk akan menjadi kesialan.
Ciong lebih kurang adalah klesha itu sendiri, yang darinya kita mengumpulkan karma dan dari sanalah kemudian datang berbagai musibah atau bala yang bersesuaian dengan karma kita. Sumber dari semua klesha ini adalah sikap mementingkan diri sendiri, sikap merasa diri lebih penting, lebih baik, lebih mulia. Inilah sumber semua derita nestapa dalam hidup kita. Senada dengan ini, Yang Mulia Gyelse Tokme Sangpo berkata, “Segala macam bentuk penderitaan dihasilkan dari sikap mengejar kebahagiaan diri sendiri.”

Shio & Ciong
Setiap makhluk memiliki bawaan karma dari kehidupan sebelumnya untuk terlahir pada waktu dengan shio atau zodiak tertentu pada kehidupan saat ini. Bisa dikatakan shio merupakan salah satu bentuk perwujudan buah karma kita.
Shio tersebut kelak akan mempengaruhi kehidupan mereka jika bertemu (ciong) dengan suatu keadaan tertentu, terkadang bisa berdampak baik dan terkadang juga bisa berdampak buruk. Berbekal hal tersebut, maka tolak bala perlu dilakukan agar mengurangi dampak buruk yang diterima melalui purifikasi ketidakbajikkan dan memperbanyak dampak baik yang diterima melalui penghimpunan karma baik yang intensif.
Ciong atau Tidak, Tetap Perlu Tolak Bala
Tolak Bala yang dilakukan oleh KCI adalah kegiatan bajik yang dilakukan dengan dasar yang jelas, yaitu keyakinan terhadap hukum karma, bukan karena sekadar takut sial. Selain itu, dalam Tolak Bala ini, kita membantu mendoakan semua makhluk agar senantiasa berbahagia dan terhindar dari segala bentuk penderitaan. Terlepas dari semua makhluk mengalami kesialan karena ciong atau tidak, semua makhluk tetap punya tak terhingga karma buruk yang perlu dipurifikasi dan masih memerlukan banyak kumpulan karma baik.
Semoga semua makhluk selalu berbahagia dan terhindari dari berbagai penderitaan di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.
Apa yang dilakukan di Tolak Bala?
Secara umum kita melakukan praktik purifikasi dan pengumpulan kebajikan yang intensif selama kurang lebih 1–2 minggu lamanya.
Puja yang dilakukan di Tolak Bala, antara lain:
Kita menerapkan 4 kekuatan penerapan penawar, termasuk melafalkan versi ringkas dari Sutra Penyempurnaan Kebijaksanaan (Sutra Hati atau Prajnaparamita) untuk memurnikan himpunan karma buruk dan menghimpun karma baik.
Kita menghaturkan empat set 100 persembahan yang mengatasi 4 mara yang dimiliki manusia, yaitu mara klesha (penghalang lima racun), mara putradewa (penghalang kemahatahuan), mara kematian (penghalang karma), dan mara skandha (penghalang jejak karma).
Kita melakukan puja kepada 16 Arahat yang diutus oleh Buddha untuk tinggal dan melindungi Dharma.
Kita melakukan persembahan dan puja kepada Buddha Pengobatan (Skt.: Bhaiṣajyaguru)
Tolak bala biasanya dilakukan oleh Sangha KCI
di awal tahun (sekitar Tahun Baru Imlek)
selama 1–2 minggu lamanya.
Temukan jadwalnya di Kalender atau
daftarkan nama dedikasi ke Whatsapp Call Center KCI wa.me/6281573210000