Puja Tara

Puja Tara

PUJA TARA (Skt.:, Tib.: Drolma Korcey) adalah praktik menghaturkan persembahan dan pujian, sebagai cara untuk menciptakan kebajikan dan memperkuat potensi pencerahan kita sendiri. Puja Tara yang paling populer adalah Pujian kepada 21 Arya Tara. Praktik ini boleh dilakukan oleh siapa saja yang memiliki keyakinan pada Tara.

Memeditasikan Arya Tara melalui mempelajari kualitas, menghaturkan persembahan, melafalkan mantra, serta melantunkan pujian kepada Arya Tara, dapat membuat kita mencapai Kebuddhaan.

Siapakah Arya Tara?

Hingga saat ini di biara, di antara doa-doa dan praktik-praktik, Y.M.S. Dalai Lama meminta para biksu untuk melafalkan pujian-pujian ini. Arya Tara memberikan realisasi-realisasi secara cepat dan praktik ini sangat sering dilakukan di biara-biara. Salah satu dari beberapa puja bagi umat awam adalah pujian 21 Tara yang dilafalkan supaya berhasil dalam bisnis dan disembuhkan dari berbagai penyakit.

Manfaat Praktik

1

Mencapai Kebuddhaan

2

Membebaskan kita dari ketakutan, marabahaya, penyakit, gangguan makhluk halus, dan kesulitan hidup lainnya

3

Memenuhi keinginan kita dengan cepat

4

Menyembuhkan & meningkatkan umur panjang

5

Kesuksesan dalam usaha

6

Kecerdasan meningkat

Arya Tara adalah ibu dari para Buddha yang merupakan manifestasi aktivitas Buddha. Berkat Beliaulah, muncul kondisi-kondisi pendukung yang menyebabkan kita dapat mengembangkan kebijaksanaan menuju pencerahan.

Ini berarti memeditasikan Arya Tara bisa membuat seseorang menumbuhkan koneksi batin dengan aktivitas Buddha sehingga dapat menarik faktor-faktor positif seperti kebahagiaan, kesehatan, keberlimpahan, dan kesuksesan.

Dalam tingkatan yang lebih tinggi, faktor-faktor positif tersebut dapat bermanifestasi menjadi cinta kasih, welas asih, keinginan memberi, dan niat menolong, yang pada akhirnya mendorong kita mencapai pencerahan.

Dalam Tantra Asal Mula Segala Ritual Arya Tara yang Terberkahi (Skt.: Sarvatathāgatamātṛtārāviśvakarmabhavatantranāma) disebutkan manfaat melafalkan pujian adalah sebagai berikut:

Diberkahi kesempurnaan dan penghargaan suci untuk dewa-dewi ini. Kecerdasan bagi yang mengulang puji-pujian ini dengan penuh keyakinan yang mendalam baik di malam hari maupun setelah bangun tidur di pagi hari, rasa takut tidak akan ada lagi, ini terlimpahkan kepada mereka, oleh karena ingatan akan pujian ini. Setelah disucikan dari semua setan jahat dengan sempurna, mereka akan memperoleh penghancuran dari semua alam rendah dan tujuh juta Buddha Penakluk akan dengan cepat memberi mereka kekuasaan. Dengan demikian mereka akan memperoleh kejayaan dan maju seterusnya menuju keadaan akhir Kebuddhaan yang sempurna. Sebagai salah satu hasilnya, semua racun mematikan baik bertempat di dalam diri maupun menyebar ke makhluk lain, yang telah mereka makan atau minum, dengan ingatan akan pujian ini akan dihapuskan dengan sempurna. Dan mereka akan melenyapkan dengan sempurna kemalangan-kemalangan akibat makhluk halus, wabah, racun, dan berbagai macam penderitaan lainnya. Jika untuk diri sendiri atau demi kepentingan makhluk lain pujian dibacakan dengan sungguh-sungguh dua, tiga, atau tujuh kali, mereka yang mendambakan seorang anak akan mendapatkannya dan mereka yang menginginkan kekayaan akan memperolehnya. Tanpa penghalang, semua permintaan mereka akan dikabulkan dan setiap halangan yang muncul akan dihancurkan.

Y.M.S. Dalai Lama I mengatakan bahwa Arya Tara dapat segera menyelamatkan kita dari delapan ketakutan, yang masing-masing mewakili masalah mental manusia:

  • singa — kebanggaan
  • gajah liar — khayalan dan ketidaktahuan
  • kebakaran hutan — kebencian
  • ular — kecemburuan
  • perampok — Pandangan yang salah, termasuk pandangan fanatik
  • penjara — keserakahan dan kekikiran
  • banjir — keinginan dan kemelekatan
  • setan — keraguan yang disebabkan oleh khayalan

Kisah tentang Puja Tara

Suatu ketika, ketika Guru Atisha berada di sebuah tempat di Tibet yang disebut Nyitam, penerjemahnya, biksu Legpai Sherab, tiba-tiba jatuh sakit. Dromtonpa, murid terdekat Guru Atisha dan pendiri tradisi Kadam, membuat prediksi bahwa jika penerjemah membacakan dengan lantang Pujian kepada 21 Tara sepuluh ribu kali, ia akan sembuh dari penyakitnya. Namun, karena ia sangat sakit, ia tidak bisa melakukan ini.

Guru Atisha meminta saran Arya Tara. Ia sendiri memberinya doa singkat ini dan segera setelah membacanya sepuluh ribu kali, penyakitnya sembuh. Dengan demikian puja ini sangat diberkati dan dengan cepat membawa keberhasilan. Membacanya sekali setara dengan melafalkan satu Pujian panjang untuk 21 Tara.

Cara mempraktikkan Puja Panjang

1

Praktik ini bisa dilakukan di pagi, siang, atau sore hari.

2

Sebelum melakukan Puja Tara sebaiknya menghindari makan daging dan minum alkohol serta menjaga kebersihan di sekitar tempat meditasi, ini dikarenakan termasuk dalam golongan Kriya Tantra.

3

Bersihkan diri dan gunakan pakaian yang sopan dan rapi sebelum memulai.

4

Bersihkan ruangan meditasi dan susun gambar/rupang Tara dan 4 set persembahan di altar.

5

Bangkitkan motivasi yang bajik.

6

Setelah itu, kita bisa melafalkan Puja Tara melalui Kidung Manggala Bhakti atau aplikasi Sancita.

Arti mantra Tara

OM TARE TUTTARE TURE SOHA

- OM berisi tiga suara AH, O dan M, dan menandakan kualitas tak terukur dari tubuh, ucapan, dan pikiran suci makhluk yang tercerahkan. Kita memurnikan tubuh, ucapan, dan cita kita yang tidak murni, mengubahnya menjadi tubuh, ucapan, dan cita suci vajra Arya Tara.

- TARE (Tib.: Drolma): wanita yang membebaskan. Biasanya Arya Tara berkonotasi membebaskan atau membebaskan kita dari penderitaan tiga alam yang lebih rendah, penderitaan umum samsara dan pencapaian nirwana.

- TUTTARE: membebaskan dari 8 ketakutan. Jika kita berlindung, melafalkan mantra dan mempraktikkan metode kepada Arya Tara, kita akan terbebas dari penderitaan internal seperti delusi, bahaya eksternal seperti banjir, kebakaran dan pencuri, serta dari penyebab penderitaan sejati—karma dan klesha.

- TURE: beliau memberikan semua keberhasilan yang mengacu pada tiga tujuan tingkatan—terendah, menengah dan tertinggi —kemampuan: tubuh transmigrasi yaitu alam bahagia, arhat, dan Kebuddhaan. Selain itu, keberhasilan dalam semua pengejaran kehidupan saat ini—bisnis, kegiatan duniawi lainnya sehingga kita menemukan kondisi sempurna untuk praktek dan mencapai tujuan Dharma.

- SVAHA: "Semoga berkah Tara, yang terkandung dalam mantra OM TARE TUTTARE TURE, berakar di hati kita." Jika kita ingin memanen buah di kebun kita, di situlah kita harus menanam akar pohon. Demikian pula, jika kita ingin mencapai Kebuddhaan, kita harus menanamkan akar jalan yang lengkap, yang terkandung dalam mantra OM TARE TUTTARE TURE SVAHA, di dalam hati kita. Dengan membangkitkan jalan—metode dan kebijaksanaan—dalam pikiran kita sendiri, tubuh, ucapan, dan pikiran kita yang tidak murni dimurnikan dan diubah menjadi tubuh, ucapan, dan pikiran suci vajra Arya Tara.

Visualisasi

Bayangkan Tara (hijau) yang utama duduk di atas sebuah teratai yang muncul dari sebuah danau, sama seperti Tara yang dipaparkan bangkit dari air mata welas-asih Avalokitesvara. Tangan kanannya dalam mudra kemurahan hati terunggul yang menandakan kemampuannya untuk menyediakan apapun yang diinginkan semua makhluk. Tangan kirinya pada posisi jantung hatinya dalam mudra menganugerahkan perlindungan: ibu jari dan jari manis bersentuhan yang melambangkan praktik manunggal metodea dan kebijaksanaan, dan tiga jari lainnya dalam posisi terangkat yang melambangkan Triratna Perlindungan Triratna - (Buddha, Dharma, dan Sangha). Pada masing-masing tangan, Iia memegang tangkai bunga utpala. Masing-masing bunga terdiri dari tiga kuncup yang menandakan bahwa Tara, penitisan dari aktivitas pencerahan, adalah ibu para Buddha dari masa lampau, sekarang, dan yang akan datang

Tara mengenakan kain sutra kerajaan. Ia juga mengenakan kaus kaki berwarna pelangi, dengan setengah-blus berwarna putih dan berbagai ornamen permata. Semua ini melambangkan kemahirannya terhadap kesempurnaan kemurahan hati, moralitas, dan seterusnya. Mahkotanya yang terikat pada rambut hitamnya dihiasi berbagai permata, bagian tengah adalah batu rubi merah yang melambangkan Amitabha, ayah spiritual dan pemimpin dari keluarga Buddha beliau.

Ia duduk dalam sikap khusus, kaki kirinya ditekuk yang melambangkan penolakannya terhadap nafsu duniawi dan kaki kanannya dijulurkan yang melambangkan bahwa beliau selalu siap untuk bangkit dan datang menolong makhluk-makhluk yang membutuhkan bantuannya.

Dengan tatapan welas asih yang hangat, ia melihat pada setiap makhluk layaknya seorang ibu terhadap anak tunggalnya. Batu emerald beliau- berwarna hijau- terkait dengan unsur angin yang oleh karenanya pergerakan- melambangkan kemampuannya untuk bertindak dengan segera dan tanpa menunda-nunda untuk memberikan manfaat kepada semua makhluk.

Di sekeliling Tara (hijau) utama yang duduk di atas bantalan bulan di atas teratai beraneka warna, masing-masing 21 Tara duduk pada kelopak teratai, berlawanan arah dengan jarum jam dari arah depan.

Semua 21 Tara memiliki satu wajah dan dua lengan: di tangan kanannya, pada telapak tangan dengan sikap menganugerahkan, mereka memegang jambangan yang merampungkan berbagai fungsi aktivitas mereka, dan di tangan kiri memegang sebuah bunga teratai. Mereka duduk dengan kaki kanan menjulur dan kaki kiri menekuk, di atas tahta teratai dan bulan, dihiasi dengan sutra dan semua ornamen yang berharga, memancarkan cahaya tak terhingga, dan dikelilingi di semua sisi oleh sekumpulan tak terhingga para Buddha, Bodhisattva, istadewata pelindung tinggi, dakini, dan para pelindung Dharma.

Dua Puluh satu wujud Tara ini berdasarkan tradisi Yang Mulia Atisha.



Pelajari lebih lanjut

Dapatkan teks Puja Tara di

Baca Doa Buddha di Aplikasi Sancita Baca Doa Buddha di Aplikasi Sancita
Aplikasi Sancita Playstore
Aplikasi Sancita Appstore

Sudah
Punya
Altar?

Undang Ladang Kebajikan ke rumahmu!

Sudah Punya Altar

Share