Puja 16 Arahat

Puja 16 Arahat

PUJA 16 ARAHAT (Skt. Ṣoḍaśa Sthavirāḥ; Tib.: Ney Cu) adalah sebuah praktik purifikasi dengan menghaturkan persembahan dan permohonan kepada 16 Arahat yang berjanji untuk menetap di dunia untuk menjaga Dharma hingga kemunculan Buddha akan datang, Buddha Maitreya.

“Anda sekalian adalah para Buddha dengan kesempurnaan pelepasan dan kebijaksanaan yang unggul, meskipun demikian bertindak sebagai para Shravaka dengan kekuatan disiplin menyesuaikan para murid-Mu, Anda sekalian yang memiliki aktivitas khusus melindungi Dharma, oh enam belas Sthavira, aku memohon Anda sekalian, sudilah datang dan mengambil tempat duduk.”

-Puja kepada 16 Arahat

Manfaat Puja

Keenam belas Arahat ini diyakini memiliki kelebihan masing-masing sehingga dipuja dalam berbagai tradisi Buddhis. Ketika kita melafalkan Pujian kepada 16 Arahat, kita sama saja memanggil kebijaksanaan terdalam kita untuk membangkitkan keinginan bebas dari penderitaan samsara. Adapun manfaat melakukan puja 16 Arahat adalah:

  • Memperoleh 10 kekuatan Buddha
  • Mencapai tubuh yang bebas dari berbagai kemerosotan moral
  • Memiliki hati yang peduli kepada semua makhluk
  • Mempunyai praktik hidup sederhana dengan sedikit keinginan dan mudah dilayani
  • Mencapai tanda-tanda utama dan sekunder Buddha
  • Mendapatkan kebahagiaan agung dan mampu membimbing semua makhluk terbebas dari samsara
  • Buddhadharma berkembang dan menyebar ke segala penjuru
  • Para Guru Dharma berumur panjang

Enam Belas Arahat

Kisah mengenai 16 Arahat berasal dari teks Buddhis Mahayana yang mengatakan bahwa 16 Arahat merupakan murid dari Sang Buddha Sakyamuni yang telah mencapai pembebasan samsara, namun memutuskan untuk tidak memasuki Nirwana, melainkan menetap di samsara ini untuk menjaga Buddhadharma.

Cerita lain tentang 16 Arahat berasal dari Nandimitravadana (Skt.: Nandimitrāvadāna) yang diterjemahkan oleh Tang Xuanzang. Nandimitra adalah seorang biksu terkenal di Simhala (Sri Lanka) di masa 800 tahun setelah Buddha parinirvana.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Angaja, yang tinggal di gunung bersalju Kailash, dikelilingi oleh 1300 Arahat, Engkau memegang sebuah kipas dari ekor yak dan sebuah anglo pendupaan, aku memohon limpahkan berkah-Mu, semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Sebelumnya, Angiraja perumah tangga yang sangat kaya. Menyadari bahwa kekayaan hanya menimbulkan kecemburuan dan perselisihan, Angiraja membagikan semua miliknya dan meminta penahbisan kepada Sang Buddha. Ia bergabung dengan Sangha dan menjadi seorang arahat.

Agiraja sekarang tinggal di Gunung Kailash bersama 1.300 arahat di mana Buddha pernah menjelaskan hukum karma yang menuntun banyak makhluk menuju pembebasan. Ia memegang sebuah kipas dari ekor yak dan sebuah anglo pendupaan, memberikan aroma manis sila (moralitas) yang membebaskan banyak makhluk dari berbagai rasa sakit emosional.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Ajita, yang berdiam di atas gunung Rshi, dikelilingi oleh seratus Arahat, tangan-Mu mengambil sikap mudra meditasi, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Saat lahir, Ajita memiliki semua tanda kebajikan yang agung. Ia dan putri Raja Prasenajit jatuh cinta dan menikah setelah Ajita yang merupakan orang biasa, secara bertahap membuktikan kelayakannya. Sang Buddha menjelaskan bahwa di kehidupan lampau mereka telah memberikan persembahan kepada Buddha Vipasyin yang meramalkan bahwa di kehidupan mendatang mereka akan menikah dan kemudian tertarik pada kehidupan religius. Ajita dan istrinya memutuskan semua keterikatan duniawi dan bergabung dengan Sangha. Ajita menjadi terkenal sebagai murid Buddha yang paling memiliki banyak kebajikan.

Ia sekarang tinggal di Drang-song (gunung pertapa) bersama 100 arhat. Melihat Ajita dalam mudra meditasi dapat memberi kita kemampuan untuk memasuki meditasi dengan kesempurnaan moral. Ia juga memberikan perlindungan dan keteguhan hati untuk berlatih.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Vanavasin, yang bersemayam di atas Gunung Saptaparna, dikelilingi oleh seribu empat ratus Arahat, satu tangan-Mu membentuk mudra mengancam, sementara tangan yang lain memegang sebuah kipas ekor yak, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Vanavasin adalah seorang cendekiawan Weda yang menjadi petapa di hutan dan mencapai tingkat kesadaran tertentu. Mengetahui bahwa inilah saat yang tepat untuk mengubahnya, Sang Buddha datang ke hutan tempat tinggalnya. Setelah melihat Sang Buddha, dia langsung dipenuhi dengan keyakinan. Dia kemudian mendengarkan Dharma, belajar dan berlatih dengan penuh kesungguhan dan mencapai tingkat arahat. Sang Buddha berkata bahwa di antara mereka yang tinggal dalam kesunyian, Vanavasin adalah yang paling unggul.

Vanavasin tinggal di gua Gunung Saptaparni di Rajagriha, India bersama dengan 1.400 arahat. Ia memiliki kekuatan untuk membalikkan tindakan yang bertentangan dengan Triratna. Berdoa kepada-Nya akan melindungi kita dari gangguan dan membuat segala harapan terkabul.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Mahakalika, yang bersemayam di Tamradwipa, dikelilingi oleh seribu empat ratus Arahat, Engkau memegang anting-anting emas, aku memohon limpahkan berkah-Mu, semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Mempelajari studi klasik sejak usia dini, ia menjadi seorang sarjana terpelajar, dan kemudian dengan gembira melayani Arahat Aniruddha. Ketika ia dewasa, ia menjadi seorang biksu, mendedikasikan dirinya untuk bermeditasi, dan menjadi seorang arahat. Karena rasa terima kasih kepada Sang Buddha, ia mendedikasikan dirinya untuk membantu semua makhluk. Tanpa menyimpan apa pun untuk dirinya sendiri, ia tinggal di kuburan, hidup dari makanan dan pakaian yang dibuang. Bersama 1.000 arhat, ia sekarang tinggal di Tamradvipa di India.

Maha Kalika memegang sepasang anting emas. Praktisi yang melihatnya menjadi mampu memotong ilusi samsara dan menolaknya. Berdoa kepada-Nya akan membuat kita mengembangkan welas asih dan kemampuan untuk mengarahkan orang lain ke jalan yang benar.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Vajriputra, yang bersemayam di Srilanka, dikelilingi oleh seribu Arahat, satu tangan-Mu membentuk mudra mengancam, sedangkan tangan lain memegang sebuah kipas ekor yak, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Ia dilahirkan sebagai seorang pangeran dan menjadi cendekiawan terpelajar. Setelah mendengar Dharma dari Arahat Katyayana, ia mengambil sila umat awam (upasaka). Kemudian, ia menjadi kecewa dengan kehidupan duniawi dan meminta penahbisan.

Pada suatu ketika, diperlakukan dengan buruk oleh raja kota lain. Dalam kemarahan, ia meminta pada Katyayana untuk melepas silanya agar ia bisa membentuk pasukan perang. Katyayana memintanya untuk menunggu satu malam lagi. Malamnya, ia bermimpi melihat apa konsekuensi dari kemarahannya. Ia kemudian menerima ajaran lebih lanjut dari Katyayana dan menjadi seorang arahat.

Vajriputra tinggal di Sri Lanka bersama 1.000 arahat. Ia memegang kipas ekor yak yang menganugerahkan kebijaksanaan dan pengendalian pikiran. Tangan kanannya berada dalam mudra mengancam. Ia memperkuat konsentrasi dan kebijaksanaan pada mereka yang menolong makhluk lain.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Shribhadra, yang bersemayam di pulau dalam Sungai Yamuna, dikelilingi oleh seribu dua ratus Arahat, tangan-Mu membentuk mudra dharmacakra dan mudra meditasi, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Ayah Shribhadra adalah kusir kereta ayah Buddha (Raja Suddhodana). Ia ingin memiliki seorang putra yang menjadi kusir kereta Pangeran Siddhartha Gautama. Kemudian, ketika Siddhartha menjadi Buddha, ia berjanji bahwa jika ia memiliki seorang putra, putra itu akan menjadi seorang biksu.

Shribhadra lahir dan tumbuh menjadi cendekiawan terkenal. Ketika mendengar janji ayahnya, ia dengan senang hati menjadi seorang biksu. Mengumpulkan kebajikan dan berlatih dengan tekun, ia menjadi seorang arahat yang terkenal akan ajaran dan tindakan bajik-Nya. Ia tinggal di sebuah pulau di Sungai Yamuna, anak sungai Gangga, dengan 1.200 arhat.

Tangan kanannya dalam mudra membabarkan Dharma (dharmacakra) yang menganugerahkan pemahaman tentang welas asih dan kesunyataan. Tangan kirinya berada dalam mudra meditasi yang mengembangkan kebijaksanaan dari kebijaksanaan yang benar tentang jalan untuk mengatasi pola kebiasaan.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Kanakavatsa, yang bersemayam di tempat yang terbaik dan luhur Kashmir, dikelilingi oleh lima ratus Arahat agung, Engkau memegang seutas laso dengan permata, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Kanakavatsa lahir di keluarga kaya, dan pada saat yang sama, salah satu gajah milik ayahnya melahirkan anak gajah yang menghasilkan emas. Saat ia tumbuh dewasa, ia dan anak gajah itu menjadi sahabat karib.

Raja yang menginginkan gajah, meminta gajah pada Kanakavatsa. Gajah itu diberikan pada Raja. Namun gajah itu selalu kembali kepadanya. Menyadari bahwa kekayaan seperti itu hanya menciptakan perselisihan, ia mencari penahbisan dari Sang Buddha dan bergabung dengan Sangha, akhirnya menjadi seorang arahat.

Kanakavatsa tinggal Bukit Saffron, Kashmir bersama 500 arhat. Ia memegang laso dengan permata yang diberi oleh para naga, memberinya ingatan hebat, kepercayaan diri, dan kebijaksanaan. Mereka yang berbakti kepada-Nya tidak akan pernah terpisah dari guru-guru mereka dan akan dihormati oleh semua orang.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Kanakabharavaja, yang bersemayam di benua sebelah barat dari Godaniya, dikelilingi oleh tujuh ratus Arahat agung, dua tangan-Mu membentuk mudra meditasi, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Lahir dalam keluarga kaya, ia tumbuh sebagai orang yang murah hati dan penuh welas asih, membantu orang miskin dan memberi sedekah kepada orang-orang suci. Setelah mendengar ajaran Buddha, ia menyumbangkan kekayaannya kepada orang miskin dan, setelah meminta izin dari orang tuanya, ia menjadi seorang biksu. Setelah berlatih selama beberapa waktu, ia menjadi seorang arahat.

Kanaka tinggal di benua barat (Godaniya) bersama 700 arahat. Tangannya dalam mudra meditasi membantu makhluk hidup untuk keluar dari alam rendah dan mencapai kebahagiaan dan kebijaksanaan. Memanggil-Nya membuka kesempatan untuk mempraktikkan enam paramita dan berkembang di sepanjang jalan Mahayana.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Bakula, yang bersemayam di benua bagian utara, Uttarakuru, dikelilingi oleh sembilan ratus Arahat agung, dua tangan-Mu memegang seekor musang, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Lahir 70 tahun sebelum Buddha, Bakula adalah seorang cendekiawan ulung yang kemudian hidup sebagai seorang pertapa pengembara. Suatu hari, saat duduk di atas gunung, ia melihat Sang Buddha lewat di jalan di bawahnya. Karena takut tidak dapat menyusul jika menelusuri jalan, ia melompat langsung dari lereng gunung. Ia selamat dari cedera berkat kekuatan Sang Buddha. Ia meminta penahbisan dan bergabung dengan Sangha. Setelah belajar dan berlatih, ia menjadi seorang arahat.

Bersama dengan 900 arahat, Bakula tinggal di benua utara (Uttarakuru) di sebuah gua. Ia memiliki seekor musang pemberi kekayaan yang memiliki kekuatan untuk mengabulkan permintaan untuk memahami semua ajaran Sang Buddha—penyempurnaan kelima indra, kemampuan untuk mencapai enam paramita, memahami sunyata, dan mewujudkan cinta dan welas asih bagi semua makhluk.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthawira Rahula, yang bersemayam di Priyangudwipa, dikelilingi oleh seribu seratus Arahat, Engkau memegang mahkota tiara permata, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Ketika berusia enam tahun, Sang Buddha mengunjungi kampung halamannya dan disambut oleh keluarganya. Tak lama kemudian, Rahula, yang ingin bersama ayahnya, bergabung dengan Sangha. Ia terkenal karena tekun belajar dan menaati Vinaya.

Ketika Sang Buddha hendak memasuki parinirvana, Rahula, yang diliputi kesedihan, memohon kepada-Nya untuk tetap tinggal, tetapi Sang Buddha mengingatkan tentang ketidakkekalan segala sesuatu dan meyakinkan Rahula bahwa ia akan dibimbing oleh semua Buddha selama ia masih hidup di dunia.

Ia tinggal di Priyangudvipa, India utara bersama 1.000 arhat. Ia memegang mahkota tiara permata yang ia terima dari para dewa di Surga Tiga Puluh Tiga, yang membawa berkah untuk menaklukkan hawa nafsu dan memahami ajaran. Mereka yang berdoa kepada-Nya dirawat oleh para istadevata pelindung.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthawira Cudapanthaka, yang bersemayam di Puncak Gunung Nazar, dikelilingi oleh seribu enam ratus Arahat, dua tangan-Mu membentuk mudra meditasi, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Sebagai seorang murid, ia sangat bodoh dan tumpul; ia bahkan tidak dapat menghafal bahkan satu bait ajaran. Sang Buddha memberinya kata-kata "Singkirkan debu, singkirkan kotoran" dan menyuruhnya menyapu lantai sebagai latihannya. Akhirnya ia mulai berpikir tentang makna kata-kata itu, dan dengan demikian mencapai pencerahan.

Ketika Sang Buddha menunjuknya untuk mengajar para biksuni, beberapa merasa sangat terhina, tetapi ia segera menuntun mereka ke pencerahan yang luar biasa melalui ajarannya dan pertunjukan ajaibnya.

Chulapanthaka tinggal di Puncak Burung Nasar bersama 1.000 arhat. Tangannya dalam mudra meditasi, yang menandakan pelepasan dari keduniawian dan bakti yang tak tergoyahkan. Memanggil-Nya akan membebaskan seseorang dari keinginan, kebencian, dan ketidaktahuan, tiga racun yang membuat makhluk menderita.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Pindola Bharadvaja, yang bersemayam di Timur pada Purvavideha, dikelilingi oleh seribu Arahat, Engkau memegang kitab suci dan mangkuk, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Lahir dalam keluarga pendeta kerajaan, ia tidak menemukan makna hidup. Melihat hadiah dan kebaikan yang diberikan kepada murid-murid Buddha, ia memutuskan untuk menjadi seorang biksu. Awalnya ia sangat serakah, dan pergi berkeliling dengan mangkuk sedekah yang besar. Setelah mengikuti nasihat langsung dari Buddha, ia menaklukkan keserakahannya dan hidup dengan ketat pada apa pun yang ia terima dan segera menjadi seorang arahat.

Pindola Bharadvaja tinggal di sebuah gua gunung di benua timur Wedeha (Purvavideha) dengan 1.000 arhat. Ia membawa kitab suci di tangan kanannya dan mangkuk biksu (patta) di tangan kirinya untuk membantu mereka yang berada di alam rendah, menganugerahkan kebijaksanaan dan mengabulkan keinginan, melindungi dari kemalangan.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Mahapanthaka, yang bersemayam di alam Tiga Puluh Tiga Dewa, dikelilingi oleh sembilan ratus Arahat, satu tangan-Mu memegang kitab dan tangan lain bermudra dharmacakra, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Panthaka adalah kakak laki-laki Chulapanthaka, arahat kesebelas dari Enam Belas Arahat. Ia adalah seorang cendekiawan dengan ratusan murid. Setelah mendengarkan seorang biksu menjelaskan ajaran Buddha tentang Sebab Musabab yang Saling Bergantungan (Pratityasamutpada), ia menjadi biksu, mempelajari dan bermeditasi pada ajaran tersebut, dan mencapai tingkat arahat. Ia kemudian mengajarkan Dharma secara luas.

Ia tinggal di Surga Tiga Puluh Tiga bersama dengan 900 arhat. Tangan kirinya dalam mudra membabarkan Dharma (dharmacakra) dan tangan kanannya membawa kitab suci. Ia membantu mereka yang sungguh-sungguh ingin mempelajari, mempraktikkan, dan bermeditasi tentang ajaran Buddha.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Nagasena, yang bersemayam di rajanya semua gunung Urumunda, dikelilingi oleh seribu dua ratus Arahat, tangan-Mu memegang sebuah jambangan dan tongkat biksu, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Lahir dalam keluarga kerajaan, ia melihat bahwa tugas masa depannya mungkin melibatkannya dalam perang dan menghukum orang lain, jadi ia meninggalkan warisannya, pergi menemui Sang Buddha dan masuk dalam Sangha.

Ia mempelajari Tripitaka secara mendalam dan terkenal karena pelepasannya. Sebagai rasa terima kasih kepada Sang Buddha, ia mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan Dharma dan membantu orang lain mencapai pencerahan.

Bersama 1.200 arahat, ia tinggal di Gunung Vipulaparshva. Nagasena memegang tongkat seorang biksu di tangan kanannya dan jambangan/vas yang menghilangkan kemiskinan dan kekurangan spiritual di tangan kirinya. Memvisualisasikan tongkat-Nya dan mendengarkan suara loncengnya membebaskan pikiran dari kebingungan dan membangkitkan keyakinan pada Triratna.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Gopaka, yang bersemayam di rajanya gunung-gunung Bihula, dikelilingi oleh seribu empat ratus Arahat, dua tangan-Mu memegang kitab, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Sejak lahir, tubuhnya dipenuhi borok dan luka dan ia terus-menerus kesakitan. Orang tuanya tidak segan-segan mengeluarkan biaya untuk mencari obat, tetapi tidak ada yang berhasil menyembuhkannya.

Suatu hari, ia pergi ke Hutan Jeta, melihat Buddha mengajar dan membungkuk kepadanya dengan takjub. Melihat kondisinya, Buddha menjelaskan tentang ketidakkekalan dari semua keberadaan. Ia kemudian menjadi seorang biksu dan mencapai pencerahan. Ia menyadari kondisinya disebabkan oleh akibat karma dari menyebabkan orang lain menderita di kehidupan sebelumnya.

Ia tinggal di sebuah gua di Gunung Bihula bersama 1.400 arahat. Gopaka memegang sebuah buku yang menunjukkan dedikasinya terhadap Dharma dan tekadnya untuk membantu orang lain; Ia menganugerahi para praktisi dengan pengetahuan tentang seni dan ilmu pengetahuan (sains), dan menganugerahkan kebijaksanaan yang memungkinkan mereka untuk mengajarkan Dharma.

"Aku bersujud kepada-Mu, Ārya Sthavira Abheda, yang bersemayam di Pegunungan Himalaya, dikelilingi oleh seribu Arahat, Engkau memegang sebuah stūpa pencerahan, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Lahir di keluarga brahmana, ia adalah anak yang luar biasa tampan. Sebagai seorang pemuda, ia dikenal karena kesederhanaan, welas asih, serta memiliki kecerdasan yang tajam. Ketika ia bertemu Sang Buddha, ia meminta penahbisan dan bergabung dengan Sangha. Belajar dan berlatih dengan semangat besar, ia mencapai realisasi Dharma dan menjadi seorang arahat.

Ia tinggal bersama 1.000 arahat di Gunung Gangs-can, dekat Shambhala, utara India. Abhedya memegang stupa pencerahan yang diberikan kepadanya oleh Sang Buddha untuk mengatasi kekuatan negatif ketika ia pergi ke negeri para yaksha. Mereka yang memeditasikan-Nya akan memperoleh keberuntungan dan kebajikan, serta membuka jalan menuju pencerahan.

Dalam teks puja, disebutkan bahwa Enam Belas Arahat ini ditemani oleh Upasaka Dharmatala dan Empat Raja Agung Pelindung Dharma.

"Aku bersujud kepada-Mu, upasaka Dharmatala, dengan rambut panjang yang diikat dan digulung di kepala, yang membawa kitab-kitab di atas punggung-Mu: sementara Buddha Amitabha selalu bersemayam di depan-Mu, tangan-Mu memegang sebuah kipas ekor yak dan jambangan, aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Upasaka Dharmatala adalah pelindung Dharma, pelayan Enam Belas Arahat, dan perwujudan Avalokitesvara. Setelah Buddha parinirvana, ia menghibur para pengikut awam dan pelindung Buddha dengan meyakinkan mereka bahwa Dharma akan dilestarikan dan mendorong mereka untuk berjuang mencapai kesempurnaan tertinggi.

Ia memiliki kebijaksanaan, kekuatan spiritual, dan keterampilan yang luar biasa; sangat terpelajar, ia membawa kitab suci di punggungnya. Ia membawa kipas ekor yak dan jambangan yang melambangkan pengabdiannya kepada para arahat. Ia memiliki seekor harimau di sisinya, untuk melindungi Enam Belas Arhat dari hewan-hewan berbahaya. Setiap hari, ia berpaling kepada Buddha Amitabha untuk meminta bimbingan.

"Aku bersujud kepada-Mu, Empat Raja Agung, Dirtirastra, Virudhaka, Virupaksha, dan Vaishrawana: aku memohon limpahkan berkah-Mu semoga Guru terus berumur panjang, semoga Dharma semakin berkembang luas."

Mereka adalah empat dewa yang tinggal di lereng bawah (tingkat keempat) Gunung Meru di Surga Empat Raja Agung dan menjaga empat arah mata angin. Masing-masing dari mereka adalah pemimpin dari kelas makhluk setengah dewa yang tinggal di wilayah mereka.

Sebagai hasil dari keinginan yang dibuat pada masa Buddha Kasyapa, Empat Raja Pelindung terlahir kembali pada masa Buddha Shakyamuni dan menerima ajaran darinya. Masing-masing menegakkan dan mengajarkan Dharma di wilayah mereka sendiri, serta—tiga kali sebulan—meninjau empat arah, melindungi semua yang menjunjung tinggi ajaran Buddha. Selalu siap untuk melindungi Dharma, mereka dikelilingi oleh api yang mewakili dinamisme kebijaksanaan spiritual mereka.


Dhritarashtra (Timur, warna tubuh putih, memegang gitar) — mampu melipatgandakan gandarva makhluk penikmat wewangian.

Virudhaka (Selatan, warna tubuh biru, memegang pedang) — mampu melipatgandakan Kumbhanda makhluk halus pemakan mayat.

Virupaksha (Barat, warna tubuh merah, memegang laso ular) — mampu melipatgandakan kekuatan para naga.

Vaishravana (Utara, warna tubuh hijau, memegang musang pengeluar permata) — mampu melipatgandakan yaksa makhluk halus yang tinggal di gunung.

Puja sedang berlanjung
Beberapa momen Puja
Puja

Ingin berpartisipasi dalam
Puja Tolak Bala?

Tolak bala biasanya dilakukan oleh Sangha KCI di awal tahun (sekitar Tahun Baru Imlek) selama 1–2 minggu lamanya.

Temukan jadwalnya di Kalender atau daftarkan nama dedikasi ke Whatsapp Call Center KCI wa.me/6281573210000

Share