<p>Mengikuti upacara penahbisan penuh biksu dan menjadi seorang biksu, adalah dua hal yang berbeda. Dalam hal ini yang saya maksud adalah mengikuti upacara penahbisan biksu tak otomatis menjadikannya seorang biksu sebenarnya, biksu autentik</p>
Mengikuti upacara penahbisan penuh biksu dan menjadi seorang biksu, adalah dua hal yang berbeda. Dalam hal ini yang saya maksud adalah mengikuti upacara penahbisan biksu tak otomatis menjadikannya seorang biksu sebenarnya, biksu autentik. Dengan kata lain seorang menjadi biksu bukan dikarenakan seorang telah menjalani ritual penahbisan dari awal hingga selesai, melainkan seorang dengan kualitas tertentu yang mengikatkan diri pada suatu bentuk latihan spiritual.
Biksu bukan profesi! Bukan untuk cari makan, cari nyaman, cari tenar! Karena jika demikian halnya, sungguh seorang tersebut pantas sebagai seorang perumah tangga. Lebih lanjut, jika keseluruhan hidupnya adalah untuk mengejar pencapaian duniawi dari untung-rugi, ketenaran, kenikmatan, dan sebagainya, orang tersebut adalah non-Buddhis bahkan non-spiritual. Toh, praktiknya dharma duniawi. Bagi mereka yang terdorong untuk menjadi seorang biksu termotivasi dengan pemikiran semacam yang tadi dijelaskan, saya himbau urungkan niat kalian, karena sungguh nestapa ‘makan uang umat’, tanggungan utang sangat berat untuk hidup berikutnya. Di sisi lain, bagi mereka yang beraspirasi meraih kebahagiaan diri sendiri ataupun mahkluk lain bertekad untuk mengalihkan pemikiran mereka dari duniawi, bersedia untuk melatih diri untuk penyempurnaan batin; maka, bagi merekalah latihan sebagai biksu akan menghasilkan panen kualitas penolakan samsara, dan berbagai kualitas baik lainnya.
Namun, jangan berpikir seorang yang menjadi biksu haruslah orang (yang sudah) suci; Justru kebiksuan adalah lebih relevan bagi mereka yang jauh dari kesucian, namun setidaknya mau melatih gaya hidup monastik. Sebuah kemauan sebagai awal dan akar, pendukung lain bermunculan setelahnya. Lebih lanjut, kebiksuan adalah sepenuhnya logis dan psikologis, bukan mistis; berpikir kalau kita tidaklah sempurna dalam latihan kita lalu seketika pintu neraka terbuka berkobar di bawah telapak kaki kita adalah berlebihan. Kata kuncinya adalah berupaya dengan tulus tuk mengembangkan batin kita.