Perempuan seharusnya membangkitkan kecantikan dari dalam; suatu inner beauty. Kecantikan yang terpancar dari kualitas kebaikan hati, kerendahhatian, dan keanggunan dari tutur kata yang halus. Bukannya seperti zaman sekarang ini, di mana orang-orang menilai kecantikan dari berapa tebalnya tepung yang didempulkan pada wajah. Aku menyebut perempuan seperti ini hanya bermodalkan bedak gincu. Lain halnya ketika kita pergi ke keraton Yogyakarta atau Solo. Di sana kita bisa melihat para putri keraton atau ibu-ibu di sekitar sana yang masih menggunakan kebaya dan sanggul, yang jalannya masih anggun, yang tutur bahasa serta sikapnya mempesona setiap orang yang melihatnya. Di zaman sekarang ini, hal-hal seperti ini sudah menjadi barang langka.
Aku ingin kaum perempuan di Center menjadi perempuan- perempuan yang kuat. Bukan kuat secara fisik, melainkan kuat secara mental. Di dunia seperti dunia kita ini, suatu dunia yang memang 'sengaja' didesain untuk kaum laki-laki, tidaklah sulit bagi para lelaki untuk menyesuaikan diri. Toh itu memang dunia mereka.
Akan tetapi, bagi perempuan, akan lain lagi ceritanya. Jika seorang laki-laki hanya butuh satu tempaan agar siap menghadapi dunia luar, maka seorang perempuan mestilah butuh sepuluh tempaan yang sama untuk mencapai kadar kesiapan yang sama pula. Ibaratnya, laki-laki itu adalah daging yang sudah setengah matang, sehingga dia butuh waktu setengah jam lagi untuk matang seutuhnya, sedangkan di lain pihak, perempuan adalah daging yang masih mentah, sehingga butuh waktu berjam-jam untuk matang seutuhnya. Misalnya saja, bayangkan kalau ada seorang anggota Center yang menjadi janda beranak satu setelah ditinggal mati atau diceraikan oleh suaminya. Bagaimana dia bisa menghadapi hidupnya selanjutnya? Bagaimana dia akan menjalaninya? Laki-laki mungkin bisa lari begitu saja, sedangkan perempuan? Setidak-tidaknya naluri keibuannya tidak akan mengizinkannya untuk meninggalkan anaknya. Pada akhirnya, perempuan akan dan selalu menjadi pihak yang dirugikan.
Ini bukan masalah ketidakdilan. Sejarah sendiri telah menunjukkan, bahwa dari asal mulanya manusia itu ada sampai hari ini, sistem dan norma memang pada dasarnya hanya didominasi oleh laki-laki dan mungkin akan terus juga demikian adanya untuk selang waktu yang sangat lama.
Kecantikan perempuan itu ibarat batu widuri yang tersimpan di dalam hati, bersinar dalam cahaya mercusuar emas yang berada di tengah lautan. Kecantikannya mengumandang ke segenap penjuru semesta alam. Bidadari pun menjadi rendah hati jka melihat keelokan seorang wanita cantik yang terpancar dari hatinya yang berkualitas.
Aku ingin perempuan-perempuan Center menjadi 'ksatria-ksatria' dalam pengertian mereka sendiri. Alih-alih berusaha untuk masuk ke ranah lelaki, alangkah baiknya kalau mereka memilih untuk menjadi jawara di ranah mereka sendiri: ranah perempuan. Aku berani bertaruh, tidak ada satu maskulin pun yang sanggup mengalahkan kaum perempuan jika arenanya adalah ranah mereka sendiri. Jadi, jika aku terlihat sering berlaku kejam pada perempuan-perempuan Center, maka itu tak lebih karena aku, sedalam lubuk hatiku, ingin melihat mereka tumbuh menjadi Srikandi-Srikandi yang tangguh. Dan jika aku kedapatan mencemooh perjuangan para aktivis feminis, maka itu tak lain karena, menurutku pribadi, mereka- mereka ini juga secara tak sadar telah terjebak dalam jerat hegemoni patriarki. Alih-alih berjuang dengan idealisme sendiri, mereka ini lebih terlihat seperti membeo saja
Sumber:
Buku Perihal Sebuah Esai kehidupan, Bab Patriarki & Perihal Kesetaraan Gender, Hlm. 171-177
Tagline:
perempuan, kesetaraan gender, pilihan hidup