Memilih Jurusan Kuliah

Suhu Bhadra Ruci

Apa yang kalian maksudkan dengan masa depan dan jenjang karier?
Apakah itu adalah pekerjaan dengan gaji yang banyak?
Apakah kalian sebenarnya sudah paham dengan konsep masa depan kalian sendiri?
Apa yang dicari? Atau lebih tepatnya, apa yang seharusnya dicari?

Pendidikan jelas merupakan sesuatu yang penting, namun jangan pernah biarkan ia mengontrol diri dan masa depan kita. Kuliah jurusan apapun tidak berpengaruh terhadap cerah redupnya masa depan kita. Satu-satunya tujuan seorang individu berkuliah idealnya adalah untuk mencari jati dirinya, untuk menemukan secuil posisi di masyarakat buat tempat berpijak kelak setelah masuk ke dalam dunia nyata, dan menemukan pedoman hidup masuk ke untuk dipegang dan dibawanya sampai ke liang kubur.

Ketika seorang mahasiswa berjuang setengah mati di bangku kuliah dan akhirnya lulus dengan keringat bercucuran, seringkali dia harus, mau tidak mau, bekerja di bidang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusan yang ia tekuni selama kuliah. Awalnya para mahasiswa masuk kuliah dengan penuh semangat dan idealisme. Ketika tiba saat untuk masuk ke dunia nyata, idealismenya perlahan-lahan akan ditelan oleh kapitalisme dan racun duniawi. Banyak mahasiswa yang setelah lulus malah bekerja di korporasi kapitalis raksasa yang terang-terang sudah menghisap darah rakyat Indonesia, padahal sewaktu kuliah mungkin dialah yang paling vokal menentang kaum kapitalis.

Aku bertanya, "Ke mana semua idealisme taik kucing itu?" Jawabannya gampang: ditelan oleh duit dan dunia nyata. Aku melihat orang-orang semacam ini sebagai tidak lebih daripada pecundang dan bunglon yang mengambi keuntungan buat perutnya sendiri. Orang-orang seperti inilah yang dalam kesaksiannya mengaku berjuang untuk banyak orang, tetapi dalam praktiknya sesungguhnya hanya memanfaatkan itu semua demi kepentingannya sendiri. Lebih parah lagi jika ia adalah lulusan kampus negeri, karena dengan demikian berarti dia telah memakai uang rakyat untuk menghancurkan bangsanya sendiri. Orang-orang semacam ini tidak layak berada di Center, tidak layak berada di bumi manusia ini.

Tidak ada satu jurusan yang lebih tinggi dari jurusan lain. Orang yang sibuk mencari dan memilih jurusan hanya buang- buang waktu saja. Jurusan tidak perlu dicari dan ditimbang timbang. Jika kita suka, kita tinggal mengambilnya saja. Memilih jurusan itu sebenarnya ibarat memilih pasangan hidup. Jika memang sudah cinta, kita akan melakukan apa saja untuknya. Kita akan berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Dan biasanya ini bagian ajaibnya - "kita tidak akan merasa lelah atau terbebani olehnya Seseorang yang mempelajari sesuatu yang disukainya tidak akan pernah menyesali setiap detik dari waktu yang dihabiskannya. Mungkin kadangkala dia akan merasa penat atau lelah, tetapi menyesal? Aku jamin tidak. Secara pribadi aku lebih suka menjadi "juara" di bidang yang aku kuasai ketimbang hanya menjadi "penggembira" belaka di bidang yang tak kusukai.

Jadi, kembali lagi ke pertanyaan awal kita, apa sebenarnya makna hidup dan tujuan hidup itu? Bagaimanakah kenyataan itu sesungguhnya? Ketika kita dicecar dengan ķalimat 'tidak punya masa depan’, kita harus bisa menjawab pada diri sendiri dan orang lain, "Apakah itu yang dimaksud dengan masa depan?" Kalau kita dikatakan "tidak punya ini, tidak punya itu," kita harus bisa menanyakannya kembali “Ini itu sebenarnya apa?"

Bagiku, hidup adalah perjuangan, dan perjuangan itu sendiri harus konsisten. Tanpa kompromi Titik. Kalau seseorang ingin mengejar sesuatu, dia harus bertanya kepada dirinya sendiri apakah benar dia ingin menuju ke tujuan itu. Memang benar bahwa kebanyakan orang masih memiliki keluarga dan keluarga memiliki tuntutan. Selain itu, seorang individu tentulah memiliki keterbatasan-keterbatasan waktu, materi, atau kesempatan. Namun keterbatasan yang terkondisikan sedemikian rupa, entah itu hal yang paling penting, ia tidak boleh memiliki semangat dan harapan yang terbatas. Asa dan semangatnya haruslah  berkobar-kobar. Sengsaralah orang-orang yang telah duluan padam asa dan semangatnya sebelum sumbu hidupnya. Barangkali ada yang menganggap bahwa pengalaman satu orang tidak valid untuk dijadikan sebagai rujukan apalagi patokan atau pegangan. Meskipun demikian, minimal kita bisa mengambil pengalaman dari satu orang ini sebagai sampel untuk diperbandingkan dengan kasus: kasus lainnya -semacam teori perbandingan.

Aku hendak menyampaikan bahwa orang tua yang menyekolahkan dan menguliahkan anaknya dengan tujuan agar semata-mata menjadi orang yang 'bisa dapat kerja’ adalah orang tua dengan paham yang keliru. Anak-anak yang mereka lahirkan bukanlah sebuah investasi yang akan membuat mereka hidup sejahtera atau nyaman di masa tuanya. Kalau begitu realitanya, lantas apa bedanya seorang anak dengan seekor sapi? Anak-anak kita sekolahkan supaya bisa memiliki pola pikir yang diwariskan dari pemikir-pemikir besar zaman dulu hingga sekarang. Dengan demikian, anak- anak bisa menjadi orang yang memberi manfaat pada dirinya sendiri, pada keluarganya, dan pada masyarakat. Seorang anak sepenuhnya merupakan hasil didikan. Misalnya, seorang anak yang dididik untuk makan dengan sendok garpu tentu berbeda dengan anak yang dididik untuk makan dengan tangannya.Beda lagi, misalnya, dengan anak yang dididik untuk makan dengan sumpit. Orang tua yang dewasa dan bijak seharusnya memberikan kesempatan pada anaknya untuk memilih jurusan yang disukai, bukan memaksakan cita-cita mereka yang belum kesampaian pada anak mereka. Orang tua juga mestinya hanya mengarahkan, dan bukannya malah mendikte anak mereka. Ada banyak kisah dan contoh dari kasus seperti ini. Aku sering bilang pada murid-muridku, "Sebenarnya yang kuliah itu kalian atau orang tua kalian?" Rasa sayang itu baik, tetapi sayang yang berlebihan akan menjadi tak ubahnya seperti seorang pacar yang over-posesif. Dalam sebuah masyarakat, kalau seorang anak bisa menerima nilai-nilai didikan, maka ia bisa diterima oleh masyarakat yang bersangkutan. Kalau misalnya tidak bisa, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Oleh karena itu, tujuan sebuah masyarakat membangun sistem adalah semata-mata agar seorang individu bisa diterima oleh masyarakat. Yang menjadi pertanyaannya adalah: Apakah semua nilai yang ditanamkan oleh masyarakat ini benar? Mungkinkah ada nilai-nilai tertentu yang hanya diterima seolah-olah benar" dan seiring berjalannya waktu pada akhirnya menjadi benar-benar 'benar?'

Ada banyak jalan menuju Roma. Pertanyaannya, jalan manakah yang harus kita ikuti?

Seseorang harus bisa mengenali dirinya sendiri, harus memiliki wawasan tentang jati dirinya sendiri. Dia harus bisa bertanya sekaligus menjawab: siapa aku, apa potensiku untuk apa hidupku ini. Tanpa wawasan jati diri yang benar, kadang-kadang orang hanya bermimpi tanpa melihat kenyataan. Ini akhirnya akan berujung pada sikap yang tidak realistis. Seseorang tidak bisa menangkap burung yang sedang terbang di langit tanpa terlebih dahulu melepas apa Yang sedang digenggam tangannya

Sumber:

Perihal Sebuah Esai Kehidupan, Bab ‘Masa depan, idealisme, dan perihal lain yang mengikutinya’, Hlm. 119-145

Tagline:

kuliah, pendidikan, pilihan hidup, kerja

Share: