GURU PUJA (Tib.: Lama Chöpa/Choepa) adalah praktik penghormatan yang dilakukan oleh murid untuk menyenangkan Guru sebagai bentuk terima kasih atas kebaikan Guru dalam membimbing murid menapaki jalan spiritual menuju Kebuddhaan.
“Terhadap mereka yang tidak tertaklukkan oleh semua Buddha tak terhingga di masa lampau, para pengelana masa kemerosotan yang sukar dikendalikan dan ditaklukkan, Engkau menunjukkan jalan baik tanpa cela yang membimbing ke mahasuka. Penjaga welas asih yang melindungi, aku memanjatkan permohonan kepada-Mu.
Saat ini, ketika Ajaran laksana-matahari Sang Muni sedang bersinar terang, Engkau menjalankan peran seorang Penakluk untuk banyak makhluk yang tidak memiliki pelindung. Penjaga welas asih yang melindungi, aku memanjatkan permohonan kepada-Mu.”
—Bab VII Permohonan pada Guru dalam Guru Puja
Guru Puja adalah praktik guru yoga yang mendalam dan menyeluruh terkait Je Rinpoche. Praktik yang juga mengandung poin-poin intisari Sutra dan Tantra ini ditulis oleh Panchen Losang Chökyi Gyaltsen (Panchen Lama ke-4, kelahiran kembali dari Gyalwa Ensapa).
Praktik ini menjadi penting karena dalam menyempurnakan kualitas batin menuju Kebuddhaan, setiap makhluk membutuhkan bimbingan Guru Spiritual. Dalam Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan (Lamrim Chenmo), Je Rinpoche juga menegaskan bahwa bertumpu pada Guru Spiritual adalah akar dari jalan (spiritual).
Bahkan, kesuksesan praktik Tantra tertinggi membutuhkan Guru Yoga sebagai dasarnya. Guru Yoga harus menjadi nyawa semua praktik spiritual. Y.M.S. Dalai Lama XIV juga mengatakan bahwa praktik ini dapat menyirami batin kita yang kering dan menjinakkan batin melalui berkah dari Guru.
Guru Puja sebaiknya dilakukan oleh mereka yang telah menerima abhiseka Anuttarayoga Tantra agar mereka bisa mempraktikkan dan memperoleh pemahaman ajaran Tantra ini sepenuhnya.
Praktik ini telah dipraktikkan oleh banyak praktisi, mulai dari para Guru besar, biarawan dan biarawati di biara monastik utama Gelug, biksu, biksuni, umat awam, orang tua, hingga anak-anak di Tibet selama berabad-abad.
Menurut aturan Tantra Ibu, setiap siswa harus melaksanakan Guru Puja dan Ganacakra, setiap tanggal 10 dan 25 penanggalan Tibet.
Lihat jadwalnya di Kalender Kegiatan KCI.
“Engkau adalah Guruku, Engkau adalah Istadevataku, Engkau adalah para Dakini dan Pelindung Dharma. Sejak saat ini hingga pencerahan, aku tidak akan mencari perlindungan lain selain dari-Mu. Di kehidupan ini, bardo, dan semua kehidupan mendatang, tangkap aku dengan kait welas asih-Mu; Bebaskan aku dari ketakutan samsara dan nirwana anugerahkan semua pencapaian, tetaplah menjadi sahabatku dan bebaskan aku dari segala gangguan.”
—Bab VII Permohonan pada Guru dalam Guru Puja
Guru Puja menanamkan seluruh jalan Kebuddhaan pada arus pikiran kita, mempererat hubungan dengan Guru sehingga memungkinkan kita untuk mengumpulkan kebajikan dan memurnikan ribuan karma negatif. Praktik ini juga erat kaitannya dengan memberikan persembahan kepada Guru.
Guru Puja ini menjadikan praktik bertumpu pada Guru Spiritual sebagai fondasi. Cara kerja praktik ini tidaklah transaksional: berkah, inspirasi, peningkatan kualitas baik, dan sebagainya tidak berasal dari pengulangan pujian yang kita berikan pada Guru Spiritual; melainkan dari praktik bertumpu pada Guru Spiritual yang kita lakukan.
Pada akhirnya, menyenangkan Guru Spiritual bukanlah dari pemberian fisik. Meningkatnya kualitas baik serta berkurangnya karakter buruk kita sesungguhnya adalah praktik sejati.