Bunga Para Dewa

Inilah yang pernah saya dengar: Sang Buddha berdiam di kota Sravasti, Biara Jetavana di Taman Anathapındıka bersama dengan sekelompok Sangha yang berjumlah seribu dua ratus lima puluh biksu. Pada saat itu, di negeri itu, lahirlah seorang anak laki-laki yang tampan dan menarik dari seorang ibu rumah tangga dari kasta tertinggi, bunga dari para dewa bertebaran dari langit dan memenuhi rumah, anak tersebut diberi nama Bunga Para Dewa.

Ketika dia sudah cukup umur, dia pergi menemui Sang Buddha, melihat Sang Buddha yang diberkati dengan tanda-tanda yang tak ada bandingannya, dia membuat permohonan dan berpikir: “Saya telah dilahirkan di dunia di mana saya bertemu dengan yang terbaik dari semua yang terhormat. Saya harus mengundang Sang Bhagava dan Sangha,” dan berkata: “Bhagava, besok saya akan menyiapkan persembahan makanan di rumahku. Dengan tujuan mencapai Kebuddhaan, saya memohon kepada Sang Bhagavā dan Sangha untuk datang.” Sang Buddha melihat keinginan murni dan bersih anak itu, berkata: "Kami menerima undangan Anda."

Kemudian, anak yang bernama Bunga Para Dewa kembali ke rumahnya dan di dalam rumahnya secara ajaib muncul sebuah singgasana besar penuh perhiasan dan tempat duduk yang lain, dan tempat tinggal itu dihiasi dengan berbagai dekorasi.

Lalu Buddha dan Sangha datang, dan ketika mereka sudah duduk sesuai dengan senioritas, anak itu berpikir: "Sekarang saya harus mempersembahkan berbagai jenis makanan." Berkat kebajikannya, muncul berbagai jenis makanan dengan sendirinya dan dia mempersembahkan makanan ını kepada Bhagava dan Sangha.

Ketika Buddha telah mengajar Dharma pada anak itu, rumah itu dipenuhi oleh bunga-bunga dari para dewa dan anak itu memohon ızın orang tuanya untuk menjadi seorang biksu. Orang tuanya setuju, dia pergi kepada Buddha, bersujud di kakiNya, dan berkata: "Bhagava, saya memohon untuk ditahbiskan.” Buddha berkata: "Selamat datang, bhikku," rambutnya dengan sendirinya terpotong dan dia mengenakan jubah merah. Dengan bantuan Dharma dari Buddha, dia mencapai tingkat arahat.

Ketika Ananda melihat hal ini, dia berlutut dan berkata: "Bhagava, Bhiksu Bunga Para Dewa dengan melakukan perbuatan baik apa sebelumnya sehingga bunga-bunga, sınggasana indah dan segala jenis barang yang indah muncul? Saya mohon kepada Bhagava untuk memberitahukan alasannya."

Buddha berkata: "Ananda, jika kamu mendengar hal ini, dengarlah dengan baik. Berkalpa-kalpa yang lalu, ketika Buddha Kâsyapa berada di bumi dan mengunjungi kota-kota orang kaya, seorang perumah tangga darı kasta tertinggi dan dihormati membuat persembahan untuk Sangha. Ketika seorang pengemis melihat Sangha, kepercayaan yang tinggi muncul dalam pikırannya dan dia berpikır: 'Saya tidak memiliki apapun yang dapat dipersembahkan kepada Sangha. Dia mengumpulkan berbagai macam rumput dan bunga dengan pikiran yang dipenuhi rasa percaya, bersujud, dan memuliakan Sangha.' Ananda, Biksu Bunga Para Dewa adalah pengemis yang pada saat itu membuat persembahan bunga-bunga. Karena dia memperlakukan Buddha dengan pikiran yang murni dan penuh percaya dan mengumpulkan bunga-bunga dan memberikannya kepada Sangha, selama enam puluh kalpa, di manapun dia dilahirkan dia selalu tampan dan menarik dan diberkahi dengan apapun yang ingin dia makan dan minum. Karena hasil dan kebaikannya, dia memperoleh kebahagiaan ini. Oleh karena itu, Ananda, ketika seseorang memberikan sesuatu, janganlah ia berpikir itu tidak menghasilkan kebajikan apapun, meskipun itu sangat kecil. Seperti halnya Bunga Para Dewa, buah akan datang dengan sendirinya." Kemudian Ananda dan kumpulan Sangha percaya apa yang diajarkan Bhagawa dan bermudita cita.


Share