Leduk Sesi I: Mencapai Kebahagiaan: Ilusi atau Realita?

  • January 20, 2012

Leduk Sesi 1, 17 Desember 2011

Pendahuluan
Pertama-tama, saya ingin menyapa Anda semua yang sudah hadir di sini. Ini merupakan kesempatan yang luar biasa sekali bagi kita untuk berkumpul di sini, baik yang hadir secara fisik di dalam ruangan ini maupun yang sedang mendengarkan dari kejauhan melalui webcast. Dikatakan luar biasa karena kita semua memiliki kesempatan untuk mendengarkan ajaran Buddha, terutama ajaran Mahayana.

Sebagaimana kita ketahui, dahulu kala ajaran Mahayana menyebar luas, tapi seiring dengan berjalannya waktu, ajaran ini pun merosot dan menghilang. Penyebabnya antara lain dikarenakan karma orang-orang itu sendiri. Akan tetapi, kita semua di sini, sekarang, di negara yang dulunya berkembang ajaran Mahayana dan kemudian merosot ini, sekali lagi memperoleh kesempatan untuk mendengarkan, merenungkan, dan memeditasikan ajaran Buddha ini.

Doa yang terkabul
Kenyataan bahwa kita semua sudah berkumpul di sini untuk mendengarkan, merenungkan, dan memeditasikan ajaran Buddha bukanlah sebuah kebetulan, tapi merupakan hasil dari kebajikan dan karma baik yang sudah dikumpulkan di masa lampau. Ini juga merupakan hasil dari doa-doa yang dipanjatkan di masa lampau, yang sudah kita niatkan untuk berbuah dalam kondisi seperti sekarang ini. Di mana, kapan, dan bagaimana kebajikan itu kita kumpulkan sehingga bisa berbuah dalam kondisi seperti sekarang ini adalah sesuatu yang tidak diketahui. Tapi, yang pasti, kita sudah membangkitkan dan mengumpulkan kebajikan tersebut pada suatu saat di masa lampau. Itulah sebabnya kita bisa sekali lagi berkumpul di sini untuk mendengarkan ajaran Buddha.

Jadi, sekali lagi, apa yang kita kehendaki di masa lampau sudah berbuah dalam kondisi di sini dan sekarang. Di masa lalu tersebut, kita sudah melakukan kebajikan dan kebajikan itu kita dedikasikan untuk pencapaian pembebasan sempurna, dengan kata lain, Kebuddhaan. Jika kita belum mampu mencapainya dalam satu kehidupan tersebut, maka kita berdoa agar bisa dilanjutkan pada kehidupan berikutnya. Di masa lalu kita telah berdoa semoga kita mendapatkan kehidupan sebagai manusia yang bebas dan beruntung. Kalau kita menilik isi doa tersebut, kita akan mendapati bahwa isi doa tersebut sama dengan kondisi yang sudah kita dapatkan sekarang ini.

Di sini, sekarang, kalau dipikir-pikir sedikit aneh dan ajaib juga, di mana orang-orang dari berbagai belahan dunia bisa berkumpul di sini. Bahkan, ada beberapa orang Tibet di sini, berikut orang-orang yang berasal dari negara lain. Kenyataan bahwa orang-orang tertentu ini saja, yang datang dari negara-negara tertentu, yang ada di sini, berarti orang-orang inilah yang memanjatkan doa yang sudah dijelaskan tadi. Kita semua sudah berkumpul di sini untuk mendengarkan ajaran selama 2 hari dan setelah didengarkan akan dipraktikkan. Itulah cara berpikir yang harus muncul pada setiap orang yang hadir di sini sekarang.

Doa semua orang sudah terkabulkan di sini. Kita sudah mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan ajaran Dharma. Ini adalah sesuatu yang menggembirakan, tapi kita jangan hanya bersuka-cita saja. Yang perlu kita lakukan adalah memusatkan perhatian dan berupaya untuk mencapai tujuan dan target kita. Dengan tujuan seperti itulah, sekarang kita akan mendengarkan Dharma.

Membangkitkan motivasi
Bagi kita yang penganut ajaran Mahayana, itu berarti kita tidak sekadar memikirkan kebahagiaan sendiri, tapi kita juga memikirkan kebahagiaan semua makhluk. Kita berkeinginan supaya semua makhluk bebas dari segala jenis penderitaan berikut mendapatkan kebahagiaan yang sejati, murni, dan stabil. Untuk mencapai tujuan tersebut, kita sendiri harus mencapai tingkat Kebuddhaan terlebih dahulu. Untuk tujuan inilah, sekarang kita akan mendengarkan Dharma.

Bagi Anda yang bukan pengikut Mahayana, atau pun yang bukan Buddhis, bahkan yang tidak memiliki keyakinan atau kepercayaan agama tertentu apa pun, tetap saja Anda memiliki keyakinan tertentu yang Anda pegang. Jadi di sini, terlepas dari tujuan apa pun, baik yang mengejar pembebasan pribadi dari samsara, Kebuddhaan, hingga tujuan-tujuan pribadi tertentu, Anda semua sudah berkumpul di sini.

Sebagai buddhis, yang dimaksud dengan praktik spiritual adalah mempelajari dengan cara mendengarkan, kemudian merenungkan dan akhirnya memeditasikan dharma. Tujuannya untuk menenangkan batin yang kasar, bergejolak, dan mengalami masalah, supaya batin menjadi tenang, jinak, dan seterusnya. Dasar pemikirannya adalah apabila seseorang sudah mencapai kedamaian di dalam batinnya, ia akan lebih mampu untuk bekerja demi semua makhluk.

Sebagai buddhis, tugas kita adalah mendengarkan, mempelajari, merenungkan dan memeditasikan ajaran-ajaran Buddha. Akan tetapi, ajaran Buddha adalah ajaran yang sangat luas. Tidak mudah bagi kita untuk mempelajari seluruhnya. Sebagai contoh, Tripitaka mengandung begitu banyak karya-karya di dalamnya. Kita tidak memiliki kebajikan dan waktu untuk mempraktikkan keseluruhan Tripitaka.

Instruksi yang mencakup pokok-pokok ajaran Buddha
Untuk alasan tersebut, kita sudah sangat beruntung bisa bertemu dengan sebuah instruksi yang mencakup keseluruhan pokok-pokok ajaran yang pernah diberikan oleh Buddha. Instruksi ini sudah disusun sedemikian rupa, mudah untuk dipraktikkan, yang dipaparkan dari permulaan hingga akhirnya berkembang setahap demi setahap. Instruksi ini juga merangkum keseluruhan poin-poin kunci ajaran Buddha, sedemikian rupa sehingga bisa keseluruhan poin-poin tersebut bisa kita praktikkan.

Instruksi-instruksi tersebut terangkum dalam teks akar berjudul Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan yang disusun oleh Guru Atisha Dipamkara Shrijnana. Teks akar ini di kemudian hari mendapatkan ulasan-ulasan dalam bentuk karya-karya penjelasan, yakni berupa teks-teks Lamrim-Tahapan Jalan Menuju Pencerahan untuk ketiga jenis praktisi. Dalam karya-karya Lamrim inilah, instruksi-instruksi yang terangkum dalam teks akar Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan dibabarkan.

Di sini kita tidak memiliki banyak waktu, jadi yang akan saya lakukan adalah memberikan transmisi dan penjelasan dari karya yang berjudul Baris-baris Pengalaman oleh Je Rinpoche. Karya ini merupakan salah satu karya yang sangat penting karena merangkum semua pokok-pokok Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan karya Guru Atisha. Karya ini juga mencakup karya-karya Je Rinpoche lainnya, antara lain Lamrim Besar dan Lamrim Menengah.

Sebelum mendengarkan ajaran dan menerima transmisi, sangat penting sekali untuk membangkitkan motivasi yang bajik. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar tapi sebagai pengingat, Anda semua bisa melakukannya dengan cara berikut. Renungkanlah pada diri Anda sendiri:

”Apa yang saya inginkan sekarang? Saya ingin sebahagia mungkin dan tidak ingin menderita walau sekecil apa pun bentuk penderitaannya. Tapi saya juga harus ingat, keinginan ini bukan hanya milik saya seorang, tapi juga merupakan keinginan semua makhluk hidup. Selanjutnya, semua makhluk ternyata bukan orang lain, tapi mereka semua adalah sahabat-sahabatku yang terkasih di masa lampau. Walaupun saya tidak bisa mengenalinya lagi karena semua telah berubah bentuk, tapi mereka semua adalah orang-orang yang saya sayangi dalam banyak kehidupan, berkali-kali hingga tak terhitung. Sesungguhnya, mereka semua pernah menjadi ibu-ibuku dan menunjukkan kebaikan-kebaikan tak kunjung henti kepada diriku.”

Dengan cara seperti itu, Anda mengingat bagaimana Anda dan semua makhluk memiliki hubungan. Sama halnya Anda ingin bahagia dan tidak ingin menderita, semua makhluk juga memiliki keinginan yang sama. Dari situ, Anda membangkitkan niat untuk mempersembahkan kebahagiaan kepada mereka sekaligus mengakhiri penderitaan mereka. Untuk tujuan ini, Anda sendiri harus menjadi seorang Buddha. Jadi, sekarang Anda bertekad untuk mencapai Kebudhaan. Dengan tujuan mencapai Kebuddhaan inilah, Anda sekarang akan menerima transmisi dan juga penjelasan ajaran secara keseluruhan.

Mengingat kebaikan semua makhluk
Kita harus senantiasa mengingat dan menyadari betapa semua makhluk telah begitu baik kepada kita, sejak waktu tak bermula hingga saat ini, dan akan terus berlanjut di waktu yang akan datang. Kita harus sadar bahwa dalam rangka mewujudkan kebahagiaan bagi semua makhluk, kita harus mengubah kehidupan saat ini, yang akan kita mulai sekarang juga, hingga pada saat kita mencapai Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna. Semua pencapaian ini adalah sesuatu yang bisa kita lakukan, sedang dilakukan, dan akan terus dilakukan berkat kebaikan semua makhluk. Kalau tidak ada makhluk lain, mustahil kita bisa mencapai apa pun juga.

Kalau kita sudah bisa melihat betapa semua makhluk sudah sedemikian baiknya kepada kita, segala hutang kita kepada kebaikan-kebaikan tersebut, maka kalau kita masih menginginkan kebahagiaan pribadi, mengejar-ngejarnya dan berupaya menghentikan penderitaan diri sendiri saja, tentu saja sikap ini mencerminkan pemikiran yang sangat sempit, jahat, dan sangat egois. Sikap mengabaikan dan melupakan kebaikan yang sudah diberikan oleh semua makhluk kepada kita adalah sikap yang harus kita kesampingkan.

Sebaliknya, kita harus membangkitkan niat untuk memberikan kebahagiaan berikut menghentikan penderitaan-penderitaan kepada mereka. Untuk ini, kita harus membangkitkan keberanian dan semangat untuk terus mengejar tujuan ini, sampai kita bisa membangkitkan tekad yang benar-benar kokoh, yang disebut ‘tekad agung’ untuk mengambil tanggung-jawab pribadi di atas bahu kita sendiri untuk menghentikan penderitaan semua makhluk dan menuntun mereka semua pada kebahagiaan.

Membalas kebaikan semua makhluk
Bagi Anda yang terlahir di negeri ini dan berada di sini sekarang untuk menerima ajaran buddhis Mahayana, berikut Anda yang terlahir di negara-negara lain tapi juga memiliki kesempatan untuk mendengarkan ajaran buddhis Mahayana, ini semua bukanlah kebetulan. Anda semua memiliki kecenderungan Mahayana yang kuat, yang terekam dalam jejak-jejak karma dari praktik Mahayana yang dilakukan di masa lampau.

Kalau dilihat dengan sudut pandang demikian, walaupun Anda belum bisa membangkitkan cinta kasih dan welas asih yang murni dan spontan kepada semua makhluk, tapi kenyataan Anda berupaya membangkitkan niat-yang masih membutuhkan upaya—untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan dan menuntun mereka pada kebahagiaan, ini pun sudah termasuk membangkitkan cinta kasih dan welas asih tersebut. Kalau Anda terus melatih niat ini dan membangkitkannya terus-menerus, tentu saja ini akan berbekas dalam arus kesadaran Anda, yang pada gilirannya akan meninggalkan jejak-jejak karma. Selama Anda terus berupaya melatih perasaan dan niat ini, maka jejak-jejak ini akan bertumbuh semakin kuat, dan kalau dilatih terus-menerus, inilah yang pada akhirnya akan menghasilkan kualitas cinta kasih dan welas asih yang sesungguhnya dalam batin Anda.

Pada kondisi sekarang, walaupun Anda membangkitkan semangat besar untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan dan menuntun mereka pada kebahagiaan, tapi semangat tersebut hanya pada tataran niat. Pada tingkatan sekarang, niat ini bukanlah sesuatu yang realistis untuk diwujudkan. Dari situ, kita melihat bahwa cara satu-satunya untuk mencapai tujuan tersebut adalah mencapai tingkat Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna. Untuk tujuan inilah, Anda sekarang akan mendengarkan ajaran yang akan saya berikan berdasarkan Baris-baris Pengalaman karya Je Tsongkhapa.

Pertama-tama saya akan memberikan transmisi teks ini dan kita akan istirahat sebentar.
(Rinpoche memberikan transmisi)

Jeda sebentar – 11:08

Keistimewaan sabda-sabda Buddha
Dalam rangka menolong semua makhluk, yakni mengakhiri penderitaan dan menuntun mereka pada kebahagiaan, Buddha membabarkan dharma secara meluas. Semua ajaran yang diberikan oleh Buddha bertujuan untuk ini, semuanya tanpa pengecualian. Tak satu pun kata Buddha yang diutarakan yang tidak dimaksudkan mengakhiri penderitaan dan menuntun semua makhluk pada kebahagiaan.

Dalam sebuah pujian kepada Buddha, Je Rinpoche mengatakan,
“Semua ajaran yang telah Engkau berikan, berdasarkan sebab-musabab yang saling bergantungan, diajarkan untuk memungkinkan semua makhluk terbebaskan dari penderitaan.”

Jadi, walaupun hanya beberapa kata yang diucapkan oleh Buddha, itu semua dimaksudkan agar semua makhluk bisa mendapatkan kedamaian.

Mengapa semua kata-kata Buddha ditujukan untuk mengakhiri penderitaan dan menuntun semua makhluk pada kebahagiaan? Jawabannya, karena kedua tujuan itu merangkum semua tujuan yang dimiliki oleh semua makhluk. Kedua tujuan inilah yang mendasari keinginan semua makhluk. Jadi, untuk kedua alasan ini pulalah, Buddha mengajarkan metode-metode untuk mencapai tujuan tersebut.

Kalau kita melihat ke dalam diri sendiri, berikut melihat orang-orang di sekeliling kita, yang diinginkan oleh semua orang adalah kedua hal ini, yakni semua orang ingin bahagia dan tidak ingin menderita. Ambil contoh, semua orang yang berada di dalam ruangan ini. Tak seorang pun di dalam ruangan ini yang menginginkan penderitaan dan tidak menginginkan kebahagiaan. Terkecuali seseorang mengalami sakit mental, maka tidak mungkin ada yang seperti itu.

Jenis-jenis Kebahagiaan
Tapi, kebahagiaan seperti apakah yang kita inginkan? Tentu saja ini berbeda-beda jenisnya. Sebagai contoh, ada yang menginginkan kebahagiaan pada kehidupan saat ini saja, ada juga yang menginginkan kebahagiaan pada kehidupan yang akan datang.

Sehubungan dengan jenis kebahagiaan kedua, yakni kebahagiaan pada kehidupan yang akan datang, ini bisa terbagi lagi, misalnya, kebahagiaan dalam bentuk kelahiran kembali sebagai manusia, dewa, dan seterusnya. Ada juga yang melihat bentuk kelahiran seperti ini bukan merupakan kebahagiaan yang sejati dan bisa diandalkan, oleh karenanya ia mengincar kebahagiaan yang lebih tinggi dalam bentuk pembebasan samsara yang memberikan kebahagiaan yang lebih stabil. Namun, masih ada kemungkinan lebih baik lagi dalam bentuk kebahagiaan tertinggi yang bisa dicapai, yakni Kebuddhaan. Seorang Buddha adalah makhluk yang sudah bebas dari semua kesalahan dan ketidaksempurnaan dan di sisi lain sudah menyempurnakan kualitas-kualitas bajiknya.

Dari situ, kita bisa melihat adanya 4 kemungkinan jenis kebahagiaan, artinya 4 tingkatan kebahagiaan yang bisa dicapai oleh seorang manusia. Apa yang membedakan tiap orang terhadap masing-masing jenis kebahagiaan yang diinginkannya bergantung pada keinginan masing-masing individu, seberapa terbuka pikirannya, seberapa jauh jangkauan pikirannya, yaitu jangkauan pikiran menuju masa-masa yang akan datang.

Empat Jenis Kebahagiaan
Pada tingkatan pertama, memang ada orang yang tidak bisa memandang lebih jauh daripada kebahagiaan pada kehidupan saat ini saja. Berikutnya, pada tingkatan kedua, ada orang yang melihat bahwasanya kebahagiaan pada kehidupan saat ini saja adalah kebahagiaan yang cakupannya sangat pendek. Orang-orang seperti ini menginginkan kebahagiaan yang melampaui kehidupan saat ini, artinya juga mencakup kebahagiaan pada kehidupan mendatang. Dibandingkan dengan orang yang pertama, tentu saja pemikiran orang yang kedua ini sudah lebih jauh cakupannya dan juga jauh lebih bermanfaat.

Berikutnya, ada juga orang-orang yang melihat jenis kebahagiaan kedua ini, yakni kelahiran-kelahiran kembali yang baik di dalam lingkaran keberadaan, merupakan kondisi yang baik, tapi kebahagiaan ini masih memiliki batasan. Salah satunya adalah keterbatasan waktu, karena kebahagiaan jenis kedua ini tidak berlangsung selama-lamanya. Walaupun seseorang sudah bisa mencapai kebahagiaan jenis kedua ini, ia masih memiliki resiko besar setelah kelahirannya yang baik tersebut berakhir untuk jatuh ke alam-alam rendah dan akibatnya harus mengalami penderitaan yang sangat serius dan berat. Dengan melihat bahwa kebahagiaan jenis kedua ini sesungguhnya juga tidak bisa diandalkan, mereka tidak mengincar jenis kedua ini. Sebaliknya, orang-orang ini beraspirasi untuk mencapai kebahagiaan yang sudah tidak berubah dan tidak merosot, artinya sepenuhnya bebas dari samsara.

Ada juga kategori orang-orang yang menyadari bahwa pembebasan samsara adalah pencapaian yang luar biasa, tapi belum merupakan pencapaian tertinggi yang bisa dicapai. Mengapa? Walaupun jenis ketiga sudah mencakup pembebasan dari samsara, tapi belum berarti di tingkatan ini seseorang sudah mengatasi semua kesalahan dan ketidaksempurnaan, pun tidak berarti ia sudah mencapai kebahagiaan superior yang tertinggi. Kebahagiaan yang dirasakan oleh makhluk yang sudah mencapai pembebasan pribadi dari samsara bukan merupakan tingkat kebahagiaan tertinggi yang bisa dicapai, oleh karena itu adalah makhluk-makhluk yang beraspirasi mencapai tingkat kebahagiaan tertinggi, yakni kebahagiaan pada tingkat Kebuddhaan.

Sikap mendengarkan ajaran yang baik
Banyak di antara Anda semua yang sudah pernah mendengarkan penjelasan ini sebelumnya. Banyak pula yang sebenarnya sudah memahaminya. Tapi kalau Anda mendengarkan dengan pemikiran, “Ya, ya, saya sudah tahu. Penjelasan ini sudah pernah saya dengar dari Guru ini pada waktu ini di tempat ini,” maka apa yang Anda dengar barangkali bisa berfungsi sebagai pengingat, tapi tidak akan memberikan manfaat yang sesungguhnya. Sebaliknya, apa yang bisa Anda pikirkan ketika mendengarkan penjelasan ini adalah Anda bisa menyetujui atau sepakat dengan penjelasan yang diberikan.

Anda bisa memikirkan apa yang sedang disampaikan dan benar-benar memikirkannya sehingga Anda benar-benar paham dan benar-benar sepakat dengan apa yang dijelaskan. Inilah yang akan semakin memperkuat pemahaman Anda, secara harfiah dalam bahasa Tibet istilahnya adalah “mempertebal” pemahaman Anda. Dengan cara seperti ini, tindakan mendengarkan ajaran akan memberikan manfaat bagi batin Anda, untuk menghasilkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Sebaliknya, kalau misalnya Anda melulu berpikir, “Ya, ya, ya, saya sudah tahu,” maka sikap seperti ini ibarat menuangkan air ke dalam batu. Tak peduli seberapa banyak air yang diteteskan, ia tidak akan meresap ke dalam batu. Jadi, sama halnya, kalau sikapnya seperti, tak peduli seberapa banyak ajaran yang disampaikan, ia tidak akan benar-benar masuk ke dalam hati dan pikiran.

Jika Anda mendengarkan penjelasan dengan sikap yang pertama tadi, yaitu berpikir, “Ya, saya sudah tahu. Setelah penjelasan ini, pasti akan masuk ke penjelasan itu…”dst, maka tak peduli seberapa banyak ajaran yang didengar, ia tidak akan membawa perkembangan. Artinya, Anda tidak mengizinkan penjelasan itu untuk menggugah hati Anda. Anda tidak membuka hati terhadap penjelasan yang diberikan sehingga Anda tidak akan mencapai tujuan yang diharapkan dari mendengarkan penjelasan dengan sesungguhnya.

Cara lain yang seharusnya diterapkan adalah Anda mempertebal pemahaman hingga pada titik jalan berpikir Anda bisa selaras atau sejalan dengan cara berpikir Guru. Artinya, Anda bisa memikirkan hal yang sama dengan yang dipikirkan oleh Guru. Dengan cara seperti inilah, batin Anda akan tergugah. Jadi, walaupun Anda mendengarkan penjelasan yang sudah pernah didengar sebelumnya, tetap saja penjelasan itu akan menambah pemahaman Anda, mengembangkan serta memperdalam hingga akhirnya membawa perubahan nyata pada diri Anda.

Kalau Anda masih mendengarkan dengan cara yang pertama, artinya berhenti sampai di telinga saja dan tidak masuk ke dalam hati, bagaimana mungkin bisa terjadi perubahan? Sebaliknya, kalau Anda mendengarkan dengan telinga kemudian memasukkannya ke dalam hati, maka cara inilah yang bisa menghasilkan perubahan dan perkembangan yang lebih baik. Itu sebabnya ada sebuah nasihat yang menyarankan bahwa kita lebih bisa mencapai realisasi spiritual yang sejati kalau menghadiri sesi pelajaran seperti ini dibandingkan kalau kita bermeditasi sendiri di rumah masing-masing. Tentu saja dengan catatan kalau kita menerapkan cara mendengarkan yang baik yang sudah dijelaskan di atas.

Terlahir pada kehidupan yang baik
Kembali pada jenis kebahagiaan yang pertama, yaitu kebahagiaan pada kehidupan saat ini, tentu saja kebanyakan dari Anda sudah memahami apa yang dimaksud dengan kebahagiaan ini. Ini merujuk misalnya pada kesehatan yang baik, bebas dari penyakit, kondisi tubuh yang bagus, berikut kondisi kebahagiaan secara umum lainnya. Termasuk di dalamnya memiliki harta kekayaan yang cukup untuk dinikmati, dikelilingi oleh anggota keluarga dan sahabat-sahabat yang baik, memiliki rumah atau tempat tinggal yang bagus dan nyaman. Itu hanyalah beberapa contoh dari bentuk kebahagiaan yang bisa kita nikmati pada kehidupan saat ini dan itu adalah kebahagiaan yang diidamkan oleh kita semua.

Contoh lain kebahagiaan pada kehidupan saat ini misalnya memiliki reputasi yang baik, menjadi orang yang terpandang dan dianggap oleh orang lain, menjadi orang yang terkenal, mendengarkan kata-kata yang menyenangkan yang diucapkan oleh orang lain mengenai diri kita. Itulah beberapa contoh lain kebahagiaan yang bisa kita capai dan nikmati dalam kehidupan saat ini dan itu semua berasal dari kebajikan/ karma baik yang sudah kita ciptakan di masa lampau.

Tidak ada salahnya kalau kita hendak menikmati kebahagiaan-kebahagiaan tersebut, tapi kita harus berhati-hati. Dengan kata lain, kalau misalnya kita menikmati dan kemudian menginginkan kenikmatan itu berjalan terus, maka di situ sudah muncul kemelekatan. Artinya, kita sudah melekat pada kesenangan tersebut. Apa yang diakibatkan oleh kemelekatan tersebut? Ia akan menyebabkan kita menciptakan sebab-sebab untuk terlahir di dalam samsara. Jadi, kalau sampai kita menyerah pada kemelekatan dan terus-menerus menginginkan kesenangan yang tanpa akhir, maka itulah yang akan memperpanjang waktu kita di dalam samsara. Oleh sebab itu, kemelekatan ini adalah sesuatu yang harus kita waspadai dan hindari.

Bagaimana menyikapi kebahagiaan pada kehidupan saat ini?
Sebagai makhluk yang sudah terlahir kembali di alam yang tinggi, kita menikmati sejumlah barang kepemilikan/ harta benda. Kita bisa menikmati dan menggunakan sumber daya tersebut hingga menghasilkan perasaan bahagia, kondisi yang menyenangkan, dan sebagainya. Tapi, bagaimana kita menyikapi kebahagiaan serta kondisi menyenangkan tersebut?

Secara umum, kita bisa menyikapi kebahagiaan dengan 2 respon: Pertama-tama, kita bisa menggunakannya untuk memperkuat keyakinan kita terhadap hukum karma dan akibat-akibatnya, artinya mengingatkan diri sendiri bahwa semua kebahagiaan dan kenyamanan tersebut bukanlah sebuah kebetulan, tapi dihasilkan oleh kebajikan dan karma baik kita sendiri. Hanya sebab-sebab yang bajiklah yang bisa menghasilkan buah yang bajik berupa kebahagiaan. Dengan kata lain, kita melihatnya sebagai kesempatan untuk merenungkan kepastian hukum karma.

Kemungkinan lain yang bisa kita renungkan ketika menikmati kebahagiaan adalah mengingat bahwa tidak semua makhluk bisa menikmati kebahagiaan. Artinya, masih banyak makhluk yang tidak bisa menikmati kebahagiaan yang kita rasakan. Kalau kita bisa menyadari hal ini, maka ini bisa menginspirasi kita untuk berpikir: “Alangkah baiknya kalau semua makhluk bisa merasakan kebahagiaan sebagaimana yang saya rasakan ini. Semoga mereka semua bisa mendapatkan sebab-sebab kebahagiaan dan merasakan hasilnya. Saya akan berupaya memastikan bahwa mereka semua mendapatkan sebab-sebab kebahagiaan ini.” Dengan kata lain, kita mengambil kesempatan ini untuk membangkitkan cinta kasih.

Berikutnya, masih ada kemungkinan bentuk perenungan lain yang bisa kembangkan. Yakni, kita bisa berpikir, “OK, saya sekarang sudah menikmati sejenis kebahagiaan tertentu, tapi masih banyak orang dan makhluk lain yang tidak bisa menikmatinya. Bukan saja mereka tidak bisa menikmati kebahagiaan, tapi mereka justru harus merasakan penderitaan, bahkan ada begitu banyak jenis penderitaan yang harus mereka alami.” Dengan perenungan ini, kita bisa berpikir: “Alangkah baiknya kalau semua makhluk bebas dari penderitaan dan sebab-sebab penderitaan. Semoga mereka semua bebas dari penderitaan. Saya akan berupaya memastikan bahwa mereka semua bebas dari sebab-sebab penderitaan.” Di sini kita memanfaatkan kondisi kita untuk membangkitkan welas asih.

Lanjut lagi, sesungguhnya masih ada satu langkah lebih jauh yang bisa kita renungkan. Kita bisa merenung: “Dikarenakan begitu banyak makhluk yang tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang mereka inginkan, dan justru harus mengalami begitu banyak penderitaan, maka saya memutuskan untuk mengambil tanggung-jawab pribadi untuk melakukan segala upaya yang mesti dilakukan dalam rangka memberikan kebahagiaan dan membebaskan semua makhluk dari penderitaan.” Kemudian, kita sampai pada kesimpulan bahwa satu-satunya cara bagi kita untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mencapai Kebuddhaan, maka kita membangkitkan niat yang tulus untuk mencapai Kebuddhaan demi semua makhluk. Di sini kita sudah membangkitkan apa yang disebut batin pencerahan.

Menerima dan menerapkan instruksi
Sebagai makhluk yang sudah terlahir di alam yang tinggi seperti kita ini, kita memiliki banyak kesempatan untuk menikmati kebahagiaan dan merasakan kesenangan-kesenangan. Bentuknya bisa bermacam-macam, misalnya menikmati makanan yang enak, tinggal di rumah yang bagus, memiliki teman dan sahabat yang baik, dan seterusnya. Bahkan, dalam waktu satu hari, tersedia begitu banyak kesempatan bagi kita untuk menikmati hal-hal yang bagus dan menyenangkan. Dengan demikian, ada begitu banyak kesempatan bagi kita untuk memanfaatkannya dalam meditasi kita. Tadi kita sudah membahas empat macam perenungan yang bisa kita lakukan ketika berada dalam kondisi yang bahagia atau menyenangkan tersebut.

Barangkali penjelasan yang saya berikan ini sudah pernah Anda dengarkan dan bahkan sudah dipraktikkan. Bagi yang sudah, saya menganjurkan Anda untuk meneruskan praktik ini supaya praktik Anda bisa semakin kuat. Bagi yang sudah pernah mendengar tapi belum begitu memberikan perhatian kepada instruksi ini, Anda bisa berpikir, “Inilah saatnya bagi saya untuk berubah dan saya harus memanfaatkan kesempatan bagus ini dengan sebaik-baiknya untuk membangkitkan salah satu dari keempat instruksi cara berpikir yang sudah dijelaskan.”

Demikian selesai sesi kita untuk hari ini.

*End of Session-1*

Dirangkum dari catatan tangan penerjemah Bahasa Indonesia,
diselesaikan di Bandung, 14 Januari 2012.
Foto-foto oleh Angga Wong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *